Kembali ke Artikel
Ziarah Masa Lalu Gua Telapak Tangan di Gunung Mengkuris Karst Sangkulirang-Mangkalihat Dinding Gua Telapak Tangan dan gambar prasejarah yang terdapat di permukaannya. (Abdi/Paradase.id)
05 Jul/2020

Ziarah Masa Lalu Gua Telapak Tangan di Gunung Mengkuris Karst Sangkulirang-Mangkalihat

05 Jul 2020 Feature

PARADASE.id – Mobil  melaju di atas jalan tanah berkerikil. Kanan kiri berjejer rapi ribuan pohon kelapa sawit sepanjang mata memandang. Perkebunan sawit perusahaan ratusan hektar luasnya dan cahaya petang mengepung.

 

“Harus lewat jalan tembus ini. Lewat sawitan, tapi saya gak hapal jalan. Tapi pasti mobil travel kita yang menuju Desa Karangan ini hapal jalan,” kata Tio, rekan pemandu  yang disahut Akbar, sesama anggota dari Backpacker Sangatta.

 

Wajar cemas menghampiri. Sebelumnya, satu truk kandas di tanjakan Desa Pengadan, Kecamatan Karangan. Ban truk pengangkut sawit itu selip kala jalan licin diguyur hujan dari sore hingga tertahan di Jembatan Kadungan.

 

Tujuan arah menuju Desa Batu Lepoq di Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur. Dihuni masyarakat suku Dayak Basap yang pada masanya hidup berpindah-pindah mencari daratan di hulu sungai. Tim liputan dan sembilan rekan lainnya yang berangkat dari Bontang menempuh lima jam perjalanan setelah melintasi Sangatta, ibu kota Kabupaten Kutim, untuk sampai di tujuan. Berbeda bagi dua kolega pewarta dari Samarinda yang harus menembus delapan jam jalan darat.

 

Pukul 19.05 WITA, Desa Karangan Dalam menyambut setelah berjam-jam berada di medan jalan. Beruntung benar, Polres Kutim meminjamkan mobil 4x4 selama ekspedisi. Di persinggahan ini, Tetua Adat Desa Karangan Izam memberikan izin menuju tujuan ekspedisi yang sebenarnya, Gua Telapak Tangan di Gunung Mengkuris. Mengkuris masuk dalam bentang Pegunungan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang menyimpan misteri peradaban puluhan ribu tahun lamannya.

 

Saran Pak Izam, rombongan ditemani warga lokal sebagai pemandu jalan jika akan menuju gua. Tim menyodorkan nama Pak Minggu, pria 52 tahun yang disebut sebagai sang ‘juru kunci’ Gua Telapak Tangan. Ia juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Batu Lepoq, Kecamatan Karangan.

 

"Tepat sudah kalau kalian didampingi Minggu karena memang dia yang jaga gua itu. Pesan saya hati-hati di sana dan saling jaga diri," pesan Pak Izam.

 

Desa Batu Lepoq jadi tujuan selanjutnya. Selama kurang lebih satu jam perjalanan sampai tiba di desa. Minggu dan sejumlah anggota Pokdarwis telah menunggu kami di permandian air panas, salahsatu tempat wisata andalan baru desa ini.

 

Dalam rendaman air panas alami, Minggu bercerita bagaimana awal mula sumber air panas ini dapat dinikmati. Saat masih berusia 12 tahun, Minggu ditunjukkan orangtuanya jika aliran air berasal dari sebuah gua yang berada tepat di atas permandian.

 

“Itu ada sumber air panas dari mulut gua dan itu merupakan peninggalan nenek moyang kita yang bersejarah. Air ini juga bisa langsung dikonsumsi. Dari saya umur 12 sampai sekarang 52 tahun, deras aliran airnya tidak berubah. Pada saat kemarau panjang selama enam bulan di tahun 1982 airnya juga tidak kering,” kisah pria yang telah menjadi Ketua Pokdarwis Desa Batu Lepoq sejak 2016 itu.

 

Pengunjung hanya perlu membayar 5 ribu perak untuk beredam. Uang masuk itu digunakan sebagai dana perawatan dan upah bagi anggota Pokdarwis yang mengelola permandian.

 

“Pengunjung kita kenakan biaya Rp 5 ribu untuk masuk permandian dan Gua Telapak Tangan  untuk biaya perawatan dan gaji teman-teman karena tidak ada honor dari pemerintah. Yang ramai itu saat lebaran puasa dan haji serta tahun baru. Pernah sampai 1.000 pengunjung yang datang,” ucapnya.

Puas berendam, lalu berjejak menuju Pos Pusat Informasi yang didesain sebagai basecamp para pendaki. Pos ini berdiri di kaki Mengkuris, difungsikan untuk beristirahat sejenak sebelum pendakian menuju puncak. Dari permandian, menghabiskan waktu sekitar satu jam lamanya.

 

Masih ada beberapa jam sebelum pendakian dimulai. Beberapa kawan memanjangkan badan di pembaringan, sementara lainnya ada yang mengecek ulang perlengkapannya. Menunggu pagi, Pak Minggu mengisahkan sesosok wanita bernama Siti Fatimah yang diutus Kerajaan Kutai pada masa lampau. Kerajaan mengembankannya tugas mensyiarkan agama Islam kepada Suku Dayak Basap yang saat itu masih menganut animisme. Siti tidak sendiri. Suaminya, Ibnu Ali Al-Mengkurisi merupakan salahsatu petinggi Desa Batu Lepoq yang membantu tugas mulia Siti.

 

“Nama Ibnu Al-Mengkurisi ini yang akhirnya menjadi cikal bakal penyebutan Bukit Mengkuris atau Gunung Mengkuris ini,” kata Pak Minggu.

 

Tak terasa sudah pukul 04.30 WITA, waktunya meniti pesona Mengkuris. Pak Minggu memimpin rombongan di depan. Di titik pertama, di kaki bukit, Pak Minggu mengumpulkan kami sesaat. Mulutnya bergerak-gerak seperti merapalkan bacaan khusus dalam bahasa adat. Ia menjelaskan, dirinya meminta izin pada leluhur agar ekspedisi ini berjalan lancar hingga kembali pulang. “Nanti kalau ada mendengar suara apapun saya minta jangan ditegur, dan kalau liat binatang yang aneh jangan disentuh ya,” ucapnya.

 

Permukaan gunung yang dipijak terasa runcing dan licin. Khas batuan karst. Sering pula jalur menyempit dan terjal. Jangan tanya apa yang terlihat dan terdengar selama perjalanan, semua kami simpan sendiri sampai pulang.

 

“Wow keren. Indah banget pemandangannya,” kata Fitri dari atas dinding yang curam. Tanda ia sudah sampai di puncak. Satu per satu kami mantap berada di atas. Perjalanan ini tidak sia-sia, pemandangan indah nan elok memanjakan mata. Keindahan alam semesta dengan pemandangan hutan belantara yang belum tersentuh tangan jamak manusia tersaji apik.

 

Pak Minggu mengatakan kecepatan pendakian kami terbilang cepat. Sekitar 47 menit. Jika tadi tak pakai istirahat 10 menitan di tengah pendakian, bisa lebih cepat lagi. Umumnya, kata dia, butuh waktu paling lambat 45 hingga 60 menit untuk sampai puncak.

 

Masing-masing mengambil posisi untuk menikmati keindahan yang disuguhkan alam semesta. “Jangan terlalu dipinggir nanti jatuh.” Minggu memberi peringatan. 

 

Puncak Mengkuris, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutim.
Puncak Mengkuris, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutim.

Puas melempar kagum, ekspedisi dilanjutkan menuju Gua Telapak Tangan yang tak jauh lokasinya. Lebar mulut gua kiranya selebar 4 sampai 5 meter. Terlihat jelas dari luar gua batu tunggal yang berdiri menyatu antara dasar dan langit-langit gua. Warnanya hijau dengan kepekatan berbeda dari batuan lainnya. Pak Minggu bilang, batu itu akan berubah warna secara alami menjadi seperti warna butiran pasir saat siang.

 

Memasuki gua, gambar cap telapak tangan terlihat di sisi kiri dinding. Belum jauh ke dalam, cap telapak tangan lainnya juga terdapat pada sisi kanan dinding gua. Sekira satu meter jarak dari dinding, pembatas dipasang agar orang tak tidak menyentuh gambar. Tinggi langit-langit mungkin lebih 20 meter.

 

Gua Telapak Tangan memiliki ruang-ruang yang terpisah. Untuk mencapai ruang atau lantai yang lebih tinggi, harus memanjat dinding gua dengan berpengangan pada rotan sebagai alat bantu. Di sini, ada relief gambar menyerupai manusia, babi hutan maupun katak atau binatang melata.

 

“Di sini ada gambar telapak tangan, kodok, babi, dan goresan gambar lainnya,” tambah Minggu.

 

Pak Minggu dan yang lain selalu menjaga kelestarian Gua Telapak Tangan. Hampir setiap hari ia meninjau gua. Jika ada yang ingin memasuki situs pra-sejarah tersebut, hendaknya mendapat restu darinya. Jika pengunjung belum mendapatkan izin, dipastikan tidak diperbolehkan memasuki gua.

 

Sekitar tahun 1934, Gua Telapak Tangan sudah menjadi perkampungan bagi leluhur. Ayahnya, meminta Pak Minggu untuk menjaga peninggalan leluhur yang ada di dalam gua. Dibuat pula sejumlah larangan yang tidak boleh dilanggar pengunjung.  

 

“Gua tersebut dulunya merupakan perkampungan dari nenek moyang saya. Seperti Datuk Wangsa, Datuk Ukahan, Datuk Galungan yang turun-temurun ke nenek (kakek) dan ayah saya. Untuk didalam gua tidak boleh menyentuh situs yang ada di dinding gua. Cukup dilihat dan difoto saja,” jelas Minggu.

 

Kunjungan yang ramai oleh wisatawan yang datang ke Bukit Mengkuris dan Gua Telapak Tangan menjadikan kepuasan baginya. Namun, masih ada kecemasan jika ada pengunjung yang tak mengikuti aturan baik di puncak Mengkuris atau di Gua Telapak Tangan. Pokdarwis Desa Batu Lepoq kerap mengingatkan agar tak sembarangan menyentuh dinding gua.

 

"Pernah waktu ramai dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang saya baru bisa duduk karena mengawasi pengunjung di gua. Belum lagi harus setiap saat nelpon anggota di puncak untuk mengingatkan jangan sampai lengah. Karena kalau sampai terjadi sesuatu pasti saya yang kena karena saya penanggung jawabnya," kata Minggu.

 

Pendaki harus turun gunung jika sudah pukul 16.00. Resiko jalur turun gunung pada malam hari cenderung tinggi. Tidak ada yang diperbolehkan menginap di puncak.

 

Matahari hampir tepat di atas kepala saat kami diajak turun dan menuju ke Air Terjun Kembar Siapat. Butuh waktu kurang lebih sekitar dua jam perjalanan ke air terjun menggunakan mobil. Selanjutnya, melalui jalan setapak selama satu jam menembus hutan untuk sampai di lokasi. Tinggi air terjun kira-kira mencapai 20 meter dengan lebar arus 7 meter. Di bawahnya, kolam dangkal sebetis yang luas.

 

Dikelilingi rimbunan pohon hutan tropis, kelompok memutuskan berkemah semalam di sini. Melepas lelah sebelum kembali pulang keesokan hari. Kalau diingat-ingat, kami menemui dan melihat sudut pandang berbeda tentang bumi Kutim sejak berangkat. Hamparan perkebunan sawit, mata air panas batuan kapur, gua prasejarah dan lansekap bentang karst. Lalu air terjun sebagai penutup ekspedisi.

 

Demi Anak Cucu

 

Di sela desir air terjun yang menenangkan, kami berbincang lepas. Kepala Desa Batu Lepoq Jum’ah yang menemani kami sejak turun gunung menuju air terjun, bicara banyak soal desa yang diampunya. Ia sadar benar, kemajuan Desa Batu Lepoq bertumpu pada pariwisata. Pengembangan sektor ini seiring sejalan dengan upaya pelestarian budaya adat Dayak Basap agar tak ditinggalkan.

 

“Desa kami, termasuk Gua Telapak Tangan yang peradabannya lebih tua lagi, memiliki nilai sejarah yang sangat berarti bagi suku Dayak Basap. Semua pihak bisa ikut berkontribusi dalam kemajuan wisata di sini, perusahaan dan tentu harapan besar pada pemerintah,” kata Jum’ah.

 

Harapan Bu Kades, setiap pengunjung yang mampir bisa memperkenalkan Desa Batu Lepoq dan Karangan ke dunia luar. Bahwa ada sebuah desa dan komunitas adat yang berupaya mempertahankan tradisinya. Semua agar dapat dinikmati generasi di masa mendatang.

 

Penulis: Aji Sapta Dian Abdi

Editor: Umil Surya

Article Lainnya


Usai Diresmikan, Pasar Tamrin Dievaluasi Selama 90 Hari

Usai Diresmikan, Pasar Tamrin Dievaluasi Selama 90 Hari

PARADASE.id – Dinas Koperasi, Usaha, Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskop-UKMP) Bontang akan...

Operasi Patuh Mahakam 2020 Temukan 236 Pengendara Pelanggar Lalu Lintas

Operasi Patuh Mahakam 2020 Temukan 236 Pengendara Pelanggar Lalu Lintas

PARADASE.id – Tak kurang 236 pengendara mendapatkan penindakan dalam Operasi Patuh Mahakam 202...

Boleh Buka Sekolah, Berikut Daftar Wilayah Zona Kuning

Boleh Buka Sekolah, Berikut Daftar Wilayah Zona Kuning

PARADASE.id - Alasan dibalik rencana pemerintah untuk membuka kembali kegiatan sekolah tatap muka se...

Enam Pusat Pelayanan Publik Baru bagi Warga Bontang

Enam Pusat Pelayanan Publik Baru bagi Warga Bontang

PARADASE.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang meresmikan enam bangunan fasilitas pelayanan publik d...

JELAJAH