Kembali ke Artikel
Tugas Guru Bukan Mengajar
05 Jul/2021

Tugas Guru Bukan Mengajar

05 Jul 2021 In Way

Inway #147

 

Oleh Rusmiati Indrayani

 

“Kita membutuhkan sekolah yang tidak hanya mengutamakan aspek kognitif tetapi juga

memerhatikan sisi afektif siswa sehingga tidak terjadi kesenjangan

antara pengetahuan dan pengalaman”.

 

Saya pernah membaca sebuah ilustrasi yang menggambarkan keadaan di atas. Dalam kalimat bebas kira-kira begini. 

 

Seorang pimpinan sebuah perusahaan, muda, terpelajar, penuh gagasan brilian dan memiliki kemampuan mengembangkan sumber daya manusia di lingkungan perusahaan yang dipimpinnya. Jika anda sebagai Ibu seperti saya ; sampai di sini tentu kita bangga dengan pencapaiannya dan mengharapkan anak-anak kita seberuntung dia. Berkat perencanaan dan kemampuan manajerial yang baik, dia berhasil meningkatkan income perusahaan. Karyawan mendapatkan bonus kinerja. Penambahan asset dalam bentuk tanah, bangunan, dan investasi modal bergerak. Napas perusahaan stabil dengan tersedianya sumber-sumber dana penyokong keberlangsungan jalannya roda perusahaan jangka panjang…

 

Jika anda adalah pemilik perusahaan tersebut apa lagi yang lebih sedap diterima telinga selain mendengar kabar perusahaan berjalan sesuai rencana, gaji karyawan terbayar tepat waktu, pembagian keuntungan  perusahaan yang terima secara berkala dan pengembangan karir pegawai.

Jawab : Itu cukup !

 

Namun. Pada suatu hari di kursi yang empuk di tempat duduknya, di dalam ruang ber- AC dan berpengharum udara, sang boss merenung sekaligus memersoalkan perasaan yang dialaminya. “Mengapa setelah semua berhasil dilakukan hatinya semakin jauh dari rasa tenang.”

 

Benar apa yang dilakukannya adalah inisiasi terencana, properti yang dibeli dari uang perusahaan sendiri, kepemilikan legal, dan secara lahiriah tanpa cela karena begitulah sistem dunia ini bekerja.

 

Ketika mampu saja belum cukup, maka faktor “kemanusiaan” setali dengan aspek afektif atau nilai rasa adalah masalahnya.

 

Sang Bos menegakkan gedung baru dari hasil memaksa orang lain “menyerahkan” tanah dengan harga murah. Benar ada uang ganti untung namun selebihnya adalah pemilik yang tergusur. “Pengusiran” inilah yang menyumbang rasa resah di dalam jiwa sehingga ketenangan dan rasa damai sulit menjamah kehidupan batinnya.

 

*

 

Jika anda seperti saya, sebagai Ibu kita tentu tidak menginginkan anak-anak melukai aspek moral seperti ilustrasi di atas. Tidak ada kehormatan bagi hidup yang dijalani atas doa orang-orang tersakiti karena seperti kita orang lain juga manusia yang memiliki rasa.

 

Perasaan moral adalah dorongan untuk melakukan tindakan moral. Inilah yang kita ingin lihat dari proses perjalanan kehidupan anak-anak di masa mendatang. 

Menumbuhkan perasaan nilai membutuhkan proses waktu sepanjang umur kehidupan. Perasaan nilai harus diwariskan oleh orangtua kepada generasi di bawahnya. Pewarisan nilai-nilai ini akan membentuk karakter akhlak yang  membuat seseorang bertindak dari hati bukan semata-mata hasil pikiran pribadi. Pertimbangan moral patut didahulukan sebelum membuat keputusan. Keputusan meskipun apabila di belakang hari terdapat kekeliruan dan akan diperbaiki, namun tidak setiap keputusan dapat diperbaiki. Kecermatan menimbang berbagai faktor sebelum mengeluarkan keputusan merupakan cara kerja bagi aspek rasa.

 

Tidak ada yang melarang jual beli namun prinsipnya harus suka sama suka. Kedua pihak mesti rela, menjauhkan potensi rasa terpaksa. Jika dipaksa itu zolim namanya, jika terpaksa berarti salah satu pihak merasa diperlakukan tidak adil. 

 

Berlaku tidak adil adalah sumbatan rasa yang membuat pelakunya dijangkiti resah dan fakir memeroleh berkah.

 

Jika demikiam maka apa hubungan keadilan dengan dunia persekolahan dan peserta didik ?

 

Dewasa ini, kehidupan dunia pendidikan harus memerhatikan pengembangan nilai rasa. Ini yang nampakya butuh pembenahan dalam sistem pendidikan kita. Faktanya dunia kelas adalah sebuah situasi yang jauh dari nilai-nilai kasih kasih sayang. Kegiatan belajar mengajar terlalu fokus mengejar angka. Mengutamakan sisi pengetahuan yang menjadikan anak didik sebagai sebuah objek. Ukuran kepintaran ditentukan dari capaian nilai akademik. Guru dikejar target, anak harus meraih nilai minimal atau dalam standar. Seperti sebuah vonis, angka adalah martil yang berkuasa memberi rasa lega juga kecewa. 

 

Jika sistem pendidikan hanya berorientasi nilai akademik, maka kejadian dalam ilustrasi di atas adalah sebuah perkara biasa. Tidak salah karena segala sesuatu cukup dibereskan dengan angka (rupiah). 

 

Padahal tujuan utama pendidikan selain kecerdasan adalah karakter terpuji. Karakter adalah rumah bagi pendidikan moral dan akhlak. Sebagai sebuah rumah karakter tidak berdiri sendiri. Moral yang bersumber dari pikiran manusia dan akhlak yang berasal dari ajaran agama adalah media pembentuk karakter siswa. Menjadi baik bukanlah capaian melainkan keharusan yang perlu diperjuangkan. Dalam proses menjadi baik setiap orang akan dihadapkan pada persoalan moral sebelum mengambil keputusan.

Thomas Lickona yang disebut sebagai perintis pendidikan karakter menyebut tiga unsur komponen pembentuk karakter, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perbuatan moral. Meskipun dalam banyak hal antara pengetahuan, perasaan, dan perbuatan moral berjalan sendiri-sendiri namun terdapat hubungan kuat antara perasaan moral yang mendahului perbuatan moral  seseorang. 

 

Dalam kasus di atas, ada rantai yang terputus dari tiga komponen pembentuk moral. Setiap orang mengetahui kebaikan namun tidak setiap orang mau melakukan pertimbangan berdasarkan perasaan moral untuk mewujudkan perbuatan moral.

Kiranya inilah yang perlu menjadi titik perhatian kita dalam dunia pendidikan.

Di dalam kelas Guru memang bertugas membagikan ilmu yang dimilikinya, namun jangan karena fokus pada prestasi akademik, Guru lupa menjalankan fungsi penting dalam perannya sebagai pendidik, yaitu mengasihi. 

 

Adakalanya di dalam kelas guru tidak perlu mengajar (berjibaku menumpahkan materi ajar). Karena pada hakikatnya seluruh kepribadian Guru adalah teladan yang membunyikan sinyal pengajaran. Beberapa masalah anak didik butuh didekati dengan peduli dan perasaan menyayangi.  Jika anak-anak merasa disayangi maka setengah dari tujuan pendidikan telah tercapai. Anak-anak yang merasa disayang sungkan melakukan pelanggaran. Meskipun ada sanksi terhadap pelanggaran di tangan Guru yang mengasihi akan berbeda pendekatanya. Guru, dia sosok yang menyediakan telinga untuk mendengarkan. Pengembangan dari kemauan mendengarkan oleh Guru yang mengasihi adalah sikap pedulinya mengenai alasan moral di balik pelanggaran. Dengan membuka telinga dan hati (percaya saya) Guru terhindar dari perilaku menghakimi  apalagi (maaf) main hakim sendiri. 

 

Oh No.

InsyaAllah itu tidak terjadi.

 

Pada kasus pelanggaran moral, anak-anak yang merasa disayangi tidak akan sanggup menatap mata Guru. Dalam hal ini rasa bersalah telah menjalankan fungsi dalam diri anak untuk  mengambil sikap bertanggung jawab sebagai bagian dari rasa hormat. Karakter baik adalah alat dan tujuan pendidikan dalam waktu bersamaan. Jangan sampai jebakan penguasaan aspek kognitif menumpulkan pendidikan nilai afeksi. Karena anak belajar dari kehidupan. Anak adalah makhluk yang harus disayangi bukan disaingi. Prinsip menyayangi merupakan perasaan dasar yang dibutuhkan Guru sebelum memberikan ajaran.

Article Lainnya


Lima Daerah Dengan Serapan Dana Covid-19 Tertinggi dan Terendah, Ini Rinciannya

Lima Daerah Dengan Serapan Dana Covid-19 Tertinggi dan Terendah, Ini Rinciannya

PARADASE.id - Kementerian Dalam Negeri membeberkan realisasi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Bela...

Fungsi Orangtua di Pagi Hari

Fungsi Orangtua di Pagi Hari

Inway #148 Oleh Rusmiati Indrayani Sungguh, seandainya setiap orangtua memiliki pi...

Berlaku Hingga 8 Agustus, Delapan Daerah di Kaltim Level 4

Berlaku Hingga 8 Agustus, Delapan Daerah di Kaltim Level 4

PARADASE.id - Setelah Balikpapan, Bontang dan Berau masuk pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan ...

Patungan ASN Bontang, Salurkan 150 Paket Sembako buat Warga Isoman

Patungan ASN Bontang, Salurkan 150 Paket Sembako buat Warga Isoman

PARADASE.id - Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup pemerintahan Bontang memberikan 150 paket semba...

JELAJAH