Kembali ke Artikel
Tema Kafe Dakwah
07 Oct/2021

Tema Kafe Dakwah

07 Oct 2021 In Way

Inway#159

 

Oleh : Rusmiati Indrayani

 

Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri Sang Hidup yang rindu akan dirinya sendiri.

 

Mereka lahir melalui engkau, tetapi bukan dari engkau

 

Mereka ada padamu, namun mereka bukanlah milikmu.

 

Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu.

 

Bait indah syair di atas adalah kalimat yang ditulis oleh Kahlil Gibran, Maestro kebijaksanaan. Saya mengutip tanpa meminta izin tetapi dengan atau tanpa izin, saya yakin Sang Maestro mengikhlaskannya. Dia menyedekahkan kilau berlian sebagai resonansi jiwa. Hingga memberikan kesejukan jiwa. Sejuk yang berasal dari pikiran terang dan hati yang lapang.

 

Kafe dakwah, seperti dalam tulisan edisi sebelumnya, merupakan program sosial keagamaan berbasis masyarakat. Program besutan FORUM DA’IYAH KOTA BONTANG.

Program yang mengusung konsep perbincangan interaktif ini dikemas dalam model pengajian  mini. Disebut pengajian karena unsur pendukung utama datang dari kelompok pengajian ibu-ibu yang tersebar di seluruh Kota Bontang. Cara bergabung sebagai pendukung acara ini adalah  tim admin  mendata identitas sebuah kelompok pengajian, atau ketua kelompok pengajian mendaftarkan majelis ta’limnya di nomor kontak WA (081347524222). Kemudian mereka diundang tampil secara bergantian setiap Jumat per dua pekan.

Konsep acara menyerupai kegiatan pengajian aktual namun dalam kapasitas jamaah terbatas.

 

Proses kreatif terjadi setiap rekaman siaran.

 

Dalam acara ini, pengurus  menghadirkan satu orang narasumber yang bertindak sebagai ahli atau pemateri dan satu orang host atau pemandu acara. Inilah ikon program yang menjadi pesona kafe dakwah. (Daiyah dan host). 

 

Dai’yah adalah seseorang yang memenuhi syarat untuk mensyiarkan ajaran agama atau penyampai keilmuan yang dikuasainya. Mereka menguasai bidang keilmuan secara professional dan menjalani aktivitas kemasyarakatan.

Secara sederhana konsep program Kafe Dakwah digambarkan sebagai “Rumah Belajar Bagi Kaum Ibu.”

 

Selerti kita tahu, seorang ibu bertanggung jawab dalam menguatkan pendidikan adab bagi keluarganya. Dalam pelaksanaannya tidak selalu mulus. 

 

Di sana-sini kerap terjadi konflik. 

 

Contoh  hubungan antara anak perempuan dengan ibunya yang tidak jarang menuai konflik. Tersenggol sedikit memicu gejala serangan salah paham dan kecewa. 

 

Sebuah kasus situasi rentan konflik yaitu situasi pagi yang berlangsung di rumah tangga.  Ketika setiap anggota bergegas untuk berangkat sekolah atau menuju tempat kerja. Ini keadaan sibuk yang menuntut tingkat kewarasan seorang ibu tetap tegak. Seorang ibu perlu mengembangkan sikap kasih sayang yang lebih besar dari ukuran badannya.

 

Karena anggota membutuhkan sikap bijaksana seorang Ibu menangani situasi kritis.

 

Rumah adalah ebuah tempat yang paling aman  untuk menjadi diri sendiri. Oleh karena itu salah satu fakta yang tidak bisa disangkal adalah keluarga adalah sebuah tempat tentang segala drama kehidupan. Sepanjang hari dari bangun tidur hingga tidur lagi. 

 

Di dalam keluarga orangtua menjadi sosok guru dalam kepemimpinan keluarga. Mereka seharusnya mampu mengajarkan pendidikan nilai-nilai melalui pembiasaan sekaligus menjadi model melalui teladan sikap dan perilaku yang ditampilkan.

 

Sayang sekali, tidak serupa sekolah yang memiliki panduan pendidikan  dan pengajaran seperti kurikulum. Belum ada kurilukulum yang memandu orangtua menjalankan pendidikan keluarga, walaupun lembaga ini adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anak. 

 

Metode pengajaran paling umum adalah meniru pola pengasuhan dari orangtuanya.

 

Nah. Di sini kami (program kafe dakwah) ada untuk mengisi celah itu.

 

Secara umum kafe dakwah mengangkat tema “Kuat Berasal Dari Rumah.” Secara lebih khusus tema mengarah pada peran dan tanggung jawab orang dalam membentuk karakter terpuji. Dalam mengemban amanah besar mendidik anak, rumah berfungsi sebagai wadah pembelajaran sepanjang hidup bersama orangtua atau sampai mereka berusia dewasa.

 

 

Tema kemudian dijabarkan dalam materi tentang fungsi keluarga sebagai lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan. Oleh karena itu maka pengurus menyusun  materi fungsi keluarga yang dibagi dalam empat aspek, yaitu, satu ; keluarga sebagai fungsi religi, dua ;fungsi  keluarga sebagai fungsi pendidikan, tiga; keluarga berfungsi  untuk memberikan perlindungan, rasa aman, dan kasih sayang,  empat; fungsi keluarga tinjauan aspek sosial budaya.

 

Kisi-kisi sub tema 

Kisi-kisi yang dapat digunakan untuk memerkaya materi fungsi religi adalah pendekatan deduktif atau menukil firman Allah dalam al-qur’an. Seperti tanggung jawab orangtua  menanamkan keyakinan tauhid kepada Allah. Dalil yang menguatkannya dapat mengutip surah Lukman tentang konten menanamkan tauhid mematahkan syirik. Atau menguraikan penjelasan mengenai surah Al Ikhlas. Surah ini menjadi pintu masuk untuk menerangkan tentang teknik-teknik yang dapat digunakan oleh orangtua dalam upaya memurnikan akidah, dan seterusnya.

 

Sedangkan kisi-kisi untuk menguraikan secara mendalam keluarga sebagai fungsi pendidikan, antara lain pengertian keluarga dalam perspektif pendidikan, jenis-jenis keluarga menurut al-qur'an, metode pendidikan dalam keluarga, cara mendidik anak era digital vs tradisional, dampak kemajuan ilmu dan teknologi terhadap akhlak dan seterusnya.

 

Kemudian kisi-kisi fungsi keluarga dalam memberikan perlindungan, rasa aman dan kasih sayang adalah bidang garap yang dekat dengan disiplin psikologi.

Orangtua sebagai pemimpin pembelajaran dalam keluarga bertanggung jawab memberikan rasa aman dan cinta kasih. Orangtua berperan penting dalam upaya menumbuhkembangkan keterampilan anak mengungkapkan emosi dasar seperti menunjukkan simpati dan empati, dan seterusnya.

Sedangkan aspek terakhir yang menjadi tema dalam sajian menu kafe dakwah adalah fungsi sosial budaya.

Keluarga dalam hal ini adalah orangtua memegang kemudi penuh terhadap kebaikan sikap dan perilaku anak. Materi ini membahas tentang peran keluarga sebagai lembaga yang berfungsi mengembangkan sikap sosial anak, tentang interaksi, sosialisasi, dampak perubahan sosial budaya, pengembangan budaya keluarga yang sesuai dengan ajaran agama, karakter bangsa, adat istiadat.

Tema dan kisi-kisi di atas  sekadar  panduan atau instrument saja. Selebihnya, setiap narasumber bebas berimprovisasi dan memberi warna dalam menyampaikan sajian yang asyik dan menyenangkan. 

 

Para Daiyah dipersilahkan berkreasi untuk mendukung program ini. Semoga kegiatan yang kita lakukan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Article Lainnya


Diskominfo Bontang: Ada Warga yang Menolak Pemasangan WiFi Gratis

Diskominfo Bontang: Ada Warga yang Menolak Pemasangan WiFi Gratis

PARADASE.id - Kepala Bidang Penyelenggaraan e-Government Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominf...

Penanganan RTLH di Kaltim Capai 15.072 Unit

Penanganan RTLH di Kaltim Capai 15.072 Unit

PARADASE.id - Gubernur Kaltim Isran Noor, menyerahkan bantuan program Rumah Layak Huni (RLH) melalui...

Asik Main, Seorang Anak di  Kampung Mandar Lok Tuan Diserang Buaya

Asik Main, Seorang Anak di Kampung Mandar Lok Tuan Diserang Buaya

PARADASE.id - Buaya di Kampung Mandar Kelurahan Lok Tuan kembali berulah. Bocah berusia 6 tahun yang...

Tim Balap Motor Kaltim Optimis Raih Empat Medali Emas PON Papua

Tim Balap Motor Kaltim Optimis Raih Empat Medali Emas PON Papua

PARADASE.id - Tim balap motor Kaltim optimis meraih prestasi terbaik pada Pekan Olahraga Nasional (P...

JELAJAH