Kembali ke Artikel
Tahun 2021
04 Jan/2021

Tahun 2021

04 Jan 2021 In Way

Inway #127

 

Oleh : Rusmiati Indrayani

 

Meskipun 2021 dimulai sejak empat hari lalu, saya masih ingin mengucapkan selamat tahun baru. Lazimnya sebuah rasa gembira menyambut awal tahun, bersama-sama mereka yang berharap, saya juga menaruh harapan besar atas kebaikan yang terjadi di sepanjang tahun, sepanjang hari.

 

Tulisan inway dalam edisi  ini, seyogyanya publish minggu lalu. Namun saat saya akan mengirim tulisan ke pihak redaksi, jaringan internet benar-benar tidak bisa diajak kerjasama. Lalu satu hari tertunda dan laptop ketinggalan ketika saya berangkat ke Samarinda. Berkendara di ujung tahun mulai melakukan kegiatan yang berhubungan dengan proses pekerjaan disertasi. Dengan tertinggalnya laptop, praktis tulisan tersebut jadi file yang selama beberapa hari hanya menunggu dilihat kembali.

 

Dengan tidak mengurangi nilai apapun, saya berharap tulisan yang seharusnya menjumpai pembaca inway minggu lalu, publish di minggu ini. Tidak ada yang saya ubah dari redaksi kalimat atau judulnya. Tetap seperti naskah yang dipersiapkan sebelumnya. Karena bagi saya inway bukanlah tentang arus isu sebuah topik tertentu, tulisan inway adalah tentang renungan dan hanya tentang itu.

 

Semoga pembaca berkenan serta maafkanlah atas kekurangan saya.

 

PERKEDEL AHIR TAHUN

 

Tahun 2020 tinggal hitungan hari dengan sebelah jari. Di rumah, ramai suara selain suara Fatima. Riffat kembaran Fatima sudah beberapa hari ada di rumah. Farhan juga. Meskipun masih kuliah dan masih menggunakan sistem daring, paling tidak untuk sementara pekerjaannya membantu di laboratorium tanah kampusnya bisa ditinggal. Hanya Fuad yang jauh dari rumah. Kata adiknya “salahnya abang tidak pulang liburan.” Fuad bilang bukan ia tidak mau balik untuk liburan, hanya saja skripsinya butuh asistensi intensif dengan dosen pembimbing. Kalau sesuai harapan, Februari Fuad yudisium dan Insyaallah April wisuda. Jika kesampaian mengenakan toga, dengan lulusnya anak lelaki sulung berarti ada tiga orang lulusan fakultas teknik sipil yang membantu pekerjaan ayahnya mengurusi perusahaan keluarga.

Si kembar dan Fuad, tiga sang kakak tentu bergotong royong mencurahkan daya upaya yang dibutuhkan supaya adik bungsu mereka ; Farhan juga dapat menyelesaikan pendidikannya di fakultas teknik sipil.

 

Sebagai Ibu, bagi saya liburan kali ini sama saja. Sama karena pola selalu berulang. Siklus kehidupan anak-anak, demikianlah pergerakannya. Saya kira selama salah satu atau dua dan semuanya belum berkeluarga, rumah dan kami orang tuanya ada di dalamnya maka rumah menjadi tujuan pulang yang sempurna. Jadi sekali sempat, biarlah anak-anak menikmati suasana rumah dengan segala gaya dan pembawaannya yang unik .

 

Dengan ketidakhadiran Fuad (surabaya), Riffat dan Farhan di Balikpapan, maka rumah hanya tentang Fatima. Dan kabar baik karena  Fatima mulai menampakkan minat akan ruang dapur. Saya selangkah di bawah si gadis urusan kerapian. Malah, jika sempat membuat hidangan menu makanan, justru  si kembar membereskan masalah yang saya timbulkan. Namun sabar si kembar mulai mengembang, baginya urusan kesempatan memasak yang dilakukan ibunya dalam kesempitan sudah cukup berguna.

Untuk materi tertentu baik kuliah atau jadwal zooming lain, tidak jarang laptop naik di meja makan sembari nyonya menyiapkan sayur sup dan perkedel jagung dan ayam goreng dan sambel. Seperti pagi tadi, ketika mengikuti sidang promosi doktor ; kegiatan tersebut diikuti melalui layar laptop dari ruang dapur sambil memblender bumbu dan menyiapkan racikan sup ayam, tentu saja memastikan video dalam keadaan terkunci.

 

Mendayagunakan kesibukan pribadi, agaknya sifat perfeksionis saya mulai menyesuaikan keadaan. Keajaiban hidup membuat tuntutan kesempurnaan berkurang. Saya telah berani mengabaikan hal-hal kecil dengan asumsi anak-anak dapat diandalkan. Walaupun kenyataannya tidak selalu seperti yang diharapkan.

Pagi tadi ketika telinga saya fokus pada bunyi pertanyaan professor yang menguji promovendus, urusan menggoreng perkedel jagung dipegang Riffat. Saya angkut laptop ke tempat semestinya dia berada yaitu di ruang kerja dan menginginkan lepas tangan dari urusan kompor. Selang beberapa saat, ketika bergegas ke ruang dapur, Riffat asyik duduk tenang menikmati tayangan tivi dari channel netflix. Di dalam penggorengan perkedel jagung agak gosong. Belum gosong. Syukur belum gosong.

 

Ketika melihat ibunya membalik gorengan Riffat buru-buru mendatangi, saya koreksi keadaan perkedel jagung yang harusnya dipisahkan selagi basah. Perkedel dengan kematangan medium akan melengketkan hubungan antar perkedel jika penggoreng tidak turun tangan untuk memberaikan. Saya katakan “wah, kali ini anak umi belum lulus menggoreng perkedel.” Suara yang keluar dengan nada datar dengan tempo perlahan dengan tetap mengusung irama kelembutan. Setelah menimpakan koreksi, saya memberikan arahan ; sebaiknya ketika menggoreng perkedel Riffat tetap di sekitar kompor, selain untuk menjaga kestabilan api, bahan yang digunakan membuat perkedel jagung adalah telur. Kehadiran telur menyebabkan makanan yang digoreng lebih cepat matang. Sedangkan warna tepat untuk perkedel cukup sampai cokelat muda supaya kilau emasnya lebih bercahaya.

 

Riffat diam. Antara mendengarkan dan menyayangkan kelakuannya. Saya pandangi raut mukanya. Datar, tidak terjadi perubahan warna di sana. Bahasa tubuhnya terlihat dia menerima. Sikap bijaknya membuat saya bersyukur menjadi orang tua. Mungkin lain cerita andai yang terlontar adalah kata-kata seperti “mengapa salah menggoreng perkedel !” Ups. Untung bukan itu kata-kata yang mulut ucap.

 

Pada bagian nada datar dan menghargai usaha yang dilakukannya, meskipun faktanya Riffat main hape dan nonton tivi, namun terlepas dari ketidaksempurnaan perihal perkedel jagung, kehadirannya di rumah membuat hati saya seluas semesta. Kesalahan secuil bisa diperbaiki. Saya pikir bukan lagi masalah perkedel sebab jika fokus pada perkedel sebagai menu makanan, dengan daya dan dana yang ada pada mereka, si kembar lebih siap menyajikannya, bahkan lebih baik dari yang bisa dilakukan oleh ibunya.

 

 

Article Lainnya


Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

PARADASE.id - Penetapan jam malam dalam rangka pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di...

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

PARADASE.id - Pemerintah Kota Bontang mewacanakan kembali membentuk Tim Percepatan Pembangunan Kilan...

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

PARADASE.id - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Bontang dimulai hari in...

28 Warsa Bersama

28 Warsa Bersama

Inway # 129 Oleh : Rusmiati Indrayani Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi hari sebel...

JELAJAH