Kembali ke Artikel
Siasat Nabila Sumber : Pinterest.com
25 Sep/2020

Siasat Nabila

25 Sep 2020 Cerita

Malam melintas seperti biasa, saat perjalanannya menuju subuh suasana ruang tengah penuh oleh kepanikan ibu dan kedua kakaknya. Nabila terbangun karena suara gaduh. Di tempat tidur, Ayah kesakitan sambil menekan perut kanan bagian bawah. Meskipun disambangi keriput halus, wajah ayahnya tegar walau tidak bugar. Rintihan terbaca dari mimik muka menekan gemetar. Tangan ayah meremas tepi kelim sprei dan tangannya yang lain menindih tulang rusuk sambil menautkan sepasang bibir yang pandai berkelakar. Di sisi ayah berbaring, Ibu duduk tergugu memeluk rasa gulana di ambang gema adzan. Dalam situasi darurat, ibu sedikit panik namun belum kehilangan kewarasan. Sambil merapikan emosi dirinya ibu melempar kunci mobil kearah Fabian dan menitahnya bersiap mengangkut ayah ke rumah sakit. Ayah beringsut bangkit, ibu dan Fatian memapah sedangkan Nabila mengekor langkah mereka. 

 

Selama di rumah sakit, tidak satu jengkal pun keberadaan ibu terhalang jangkauan pandang ayah. Paling pergi kakinya singgah ke kamar mandi, itu pun dengan cara melipat-lipat waktu. Kalau bisa kencing saja diringkas. Untuk merawat raut muka tetap berseri, Ibu mandi sekali sehari pada waktu pagi walaupun ibu menyeka badan ayah dua kali sehari, pagi dan sore. Sementara ibu duduk di sofa lebar menunggui ayah, Bibi Sarmada mengurus tata kelola rumah dan melayani kebutuhan ketiga anak tuannya dengan sempurna. Pekerjaan yang telah dijalaninya sejak lama. Ketika orangtua yang kamu cintai sedang tidak berada di rumah, keadaan setiap ruang lebih muram dari sekumpulan taman batu nisan. Orangtua, bagaimanapun mereka berkelakuan menyebalkan, tetap saja menghadirkan ruang rindu yang tidak memuat orang lain kecuali mereka berdua. Sementara ayah terbaring, Nabila ingin menunggui ayah seperti ibu dan mau memijat kaki ayah dengan balsem seperti yang dilakukan tangan kekar kedua kakak lelakinya. Namun ibu tidak mengizinkan atas nama kasih sayangnya kepada si bungsu.

 

“Kepala ayah sakit ? Perut ayah ? mata ayah ?” kata Nabila menyebut mata, kepala dan perut dan meneruskannya dengan menyentuh telinga dan hidung ayahnya. Alih-alih mengibas jari si gadis kecil, ayah mencubit hidung Nabila lalu pada mulutnya terlihat deretan gigi tanggal yang merekah karena tertawa. Ibu menyunggingkan senyum, pipinya merona setelah beberapa waktu dilebur kabut kuatir. Ketakutan akan sebuah kehilangan menghidangkan diri demikian nyata, tetapi ayah tidak begitu saja ditumbang dijahit benang operasi. Saat mendapatkan senyum di wajah ibu dan kelakar di mulut ayah, Nabila merasa kesembuhan ayah hampir tiba. Dengan kemanjaan khas anak usia TK Nabila menyaruk di bawah selimut ayahnya dan menuntut sebuah pelukan. Melihat wajah ayah menerbitkan tawa lirih, Nabila merasa bahagia tengah menutupi permukaan hati dan merasa keberadaannya berguna.

Article Lainnya


Sang Bos

Sang Bos

Kami bernyanyi mengikuti irama musik sambil mengerak-gerakan kepala dan tersenyum. Benar-benar terse...

Kesedihan Terbaik

Kesedihan Terbaik

Kota tempat alamat aku lahir itu lebih dari lima dasa warsa ku tinggalkan. Mukim di luar daerah, mes...

JELAJAH