Kembali ke Artikel
Sentuhan Manis Politik Andi Faiz Andi Faizal Sofyan Hasdam.
10 Sep/2020

Sentuhan Manis Politik Andi Faiz

10 Sep 2020 Berita Utama

SAMPAI tahun lalu, atau paling tidak tiga tahun terakhir, eksistensi seorang Andi Faizal Sofyan Hasdam dianggap hanya “menenteng” nama besar di belakangnya. Andi Sofyan Hasdam adalah Wali Kota Bontang pertama dan terpilih kembali melalui Pilkada tahun 2006 silam. Selain ayah, menyusul sang bunda, Neni Moerniaeni yang sepak terjang politiknya tak kalah moncer.

 

Neni mengikuti Pileg 2009 dan terpilih sebagai Ketua DPRD Bontang periode 2009-2014. Karir politiknya melejit usai terpilih menjadi anggota DPR RI di Senayan pada Pileg 2014. Puncaknya sejauh ini, Neni memenangkan Pilwali Bontang 2015 setelah sebelumnya gagal pada 2010.

 

Tapi siapa Andi Faizal Sofyan Hasdam?

 

Bisa dibilang, tahun 2019 menjadi capaian politik terbaik Faiz –panggilan santai Andi Faizal. Ia terpilih menjadi anggota DPRD Bontang dengan 4.640 suara dari Partai Golkar, caleg peraih suara terbanyak pada Pileg setahun lalu. Pendatang baru di legislatif Bontang ini bahkan dipilih menjadi Ketua DPRD Bontang periode 2019-2024 melalui Sidang Paripurna Pelantikan Unsur Pimpinan dan anggota DPRD Bontang.

 

Performa politik Faiz tak berhenti. Ia berhasil menggenggam pucuk pimpinan partai dalam Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Partai Golkar Kota Bontang secara aklamasi sejak 4 Agustus 2020 lalu. Duduk sebagai ketua DPRD serta menguasai Golkar yang notabene partai dominan dalam perpolitikan Bontang, Faiz sudah berada di puncak karir politiknya di tingkat daerah.

 

Golkar identik sebagai partai penguasa paling tidak 10 tahun terakhir. Pada Pileg 2015 dan 2019, partai berlambang beringin ini mendudukkan lima kadernya ke parlemen. Selama dua periode ini pula, jabatan ketua selalu dipegang Partai Golkar.

 

Sebagai newcomer dalam medan politik daerah, mahfum ditemui anggapan miring yang ditujukan pada sosok Andi Faiz. Salahsatunya menjelang Pileg 2019. Faiz disebut kader karbitan.

 

Ketua Harian Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Bontang Achmad Faizal membantah opini yang terkesan negatif tersebut. Ia mengatakan, Faiz telah menanam benih politiknya sejak 2016. Pasca Musda ke-VI DPD II Golkar Bontang tahun 2015, Faiz ditunjuk sebagai Wakil Ketua Harian Bidang Pemuda dan Olahraga.

 

Posisi tersebut otomatis menjadikannya sebagai Ketua AMPG Bontang. Di tangan Andi Faiz, AMPG mulai dikenal dan semakin membesar.  Achmad Faizal atau Ical, menyebutkan banyak pemuda tidak tahu AMPG yang merupakan organisasi sayap dari Partai Golkar sebelum dipimpin Andi Faiz.

 

"Salah kalau dianggap karbitan, yang bilang seperti itu orang yang tidak mengenal Andi Faiz. Buktinya selama empat tahun terakhir dia membesarkan AMPG di Bontang," ujar Ical saat ditemui di rumahnya, Kamis (03/09/2020).

 

Selama empat tahun dipegang Faiz, Ical mengklaim AMPG banyak digandrungi pemuda yang ingin berkarir di bidang politik. Di awal kepengurusannya saja, tak kurang 5 ribu kader baru bergabung dan terus bertambah. Struktur kepengurusan dibentuk dari tingkat kota hingga kelurahan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Bontang.

 

"Itu salahsatu bukti kualitas Andi Faiz dalam memimpin," kata Ical.

 

Rustam, kolega Andi Faiz sekaligus seniornya di Partai Golkar Bontang, juga tak mempermasalahkan narasi dinasti politik yang kerap dilontarkan publik. Sistem demokrasi yang dianut Indonesia, memungkinkan siapapun dapat menduduki jabatan tertentu sesuai dengan pilihan rakyat.

 

Dalam penilaiannya, jika ada yang menyoal perilaku dinasti politik sebaiknya mengajukan revisi perundang-undangan terkait yang berlaku. Karena selama aturan itu berlaku, maka siapapun bisa menjadi pemimpin.

 

"Kalau ada yang mempersoalkan itu wajar, tapi kan aturannya jelas. Siapapun boleh menduduki posisi sebagai pejabat asalkan dipilih oleh rakyat," kata Ketua Komisi II DPRD Bontang ini.

 

Ketua Harian AMPG Bontang Achmad Faizal (kiri) dan politisi Golkar H. Rustam.
Ketua Harian AMPG Bontang Achmad Faizal (kiri) dan politisi Golkar H. Rustam.

 

Diterjang Sentimen

 

Selain diterpa label politisi kemarin sore, isu dinasti politik juga mencuat dalam karir Andi Faiz. Keluarga Hasdam tak dipungkiri melekat dalam pusaran kekuasaan Bontang 20 tahun terakhir. Meski harus diakui, ayah-ibu-anak ini berhasil lewat pemilu, baik Pilkada mapun Pileg. Lewat sebuah kontes demokrasi.

 

Isu dinasti politik ini yang dibantah Achmad Faizal. Sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia memungkinkan siapapun bisa menjadi pemimpin. Dengan 4.640 suara, Andi Faiz memegang rekor baru caleg suara terbanyak selama Pemilu Legislatif di Kota Bontang. Sebelumnya, catatan ini dipegang Faisal, anggota DPRD Bontang dari Partai Nasdem, dengan 2.612 suara pada Pileg 2014.

 

"Ini kan demokrasi, mau itu anak Wali Kota ataupun orang biasa bisa jadi pemimpin. Asalkan dipilih oleh rakyat," ujar Ical, panggilan akrab Achmad Faizal.

 

Pengakuan terhadap kepemimpinan Andi Faiz berlanjut ketika ia berhasil menjadi Ketua DPD II Golkar Bontang. Menurut Ical, keberhasilan itu terlihat dalam membesarkan AMPG dan Golkar sehingga dianggap menjadi faktor paling berpengaruh menjadikanya ketua Golkar Bontang. 

 

"Buktinya dia dipercaya mengantongi tujuh dari sembilan suara yang ditentukan. Itu berarti tokoh politik Golkar Bontang percaya dengan kepemimpinan Andi Faiz," katanya.

 

Soal dinasti politik, Rustam menilai hal itu tidak dapat disoal. Sistem demokrasi yang dianut di Indonesia, memungkinkan siapapun dapat menduduki jabatan tertentu sesuai dengan pilihan rakyat. Menurutnya, jika ada yang mempermasalahkan hal tersebut harusnya lebih kepada aturan yang dianut di Indonesia. Karena selama aturan itu berlaku, maka siapapun bisa menjadi pemimpin.

 

"Kalau ada yang mempersoalkan itu wajar,  tapi kan aturannya jelas. Siapapun boleh menduduki posisi sebagai pejabat asalkan dipilih oleh rakyat," ujarnya.

 

 

Dianggap Masih Hijau

 

Di satu siang, Selasa (8/9), Andi Faizal menerima kunjungan Paradase.id di Sekretariat DPD II Golkar Bontang, Jalan Pattimura, Kelurahan Api-Api. Ia menyanggupi permohonan wawancara yang kami ajukan jauh hari. Apakah sejak awal berambisi menjadi Ketua DPRD Bontang setelah berhasil terpilih anggota dewan?

 

“Jabatan ketua DPRD itu hadiah atas prestasi yang saya raih," katanya. Ia menjelaskan maksud ‘hadiah’ itu, merujuk prestasinya memberikan suara terbanyak ke Partai Golkar dalam Pileg Bontang 2019 lalu. Dengan raihan 4.640 suara, setara dua kursi, DPP Golkar merekomendasikan dirinya menjabat Ketua DPRD Bontang. Rekom itu pun diteruskan ke pleno DPD Golkar Bontang.

 

Faiz mengatakan, tak pernah ia berniat memegang pucuk pimpinan lembaga legislatif tersebut. Sebutnya, DPRD merupakan lembaga kolektif kolegial dalam pengambilan keputusan. Semua keputusan diambil bersama. “Bukan orang per orang.”

 

Agustus 2020 lalu, anak kedua dari tiga bersaudara putra mahkota Hasdam ini menguasai Partai Golkar Bontang. Ia satunya-satunya yang mendaftar dalam tahapan pencalonan ketua DPD II Golkar. Perlu diingat, Golkar Bontang diisi banyak politisi senior yang pada periode ini kembali terpilih. Sebut saja Nursalam, Muslimin dan Rustam.

 

Rustam menyebut Andi Faiz merupakan politisi muda yang bisa dicontoh. Ia tidak menyoal partai sebesar Golkar di Bontang dipimpin sosok muda. Lantaran capaian tersebut berkat usaha dan prestasi yang dilalui sesuai mekanisme partai.

 

Ia sendiri mengaku jika namanya mencuat sebagai pesaing Andi Faiz dalam perebutan kursi ketua Golkar Bontang. Namun, pada akhirnya hanya Faiz yang mendaftar setelah mengantongi 7 dari 9 suara dukungan sah. Sementara Rustam harus gugur karena setiap kandidat harus membawa minimal tiga suara.

 

"Meskipun saya sempat menjadi kandidat pesaing, namun saya menerima semua hasil yang menjadikan Andi Faiz sebagai Ketua DPC Golkar. Toh  itu sesuai dengan mekanisme partai," ujar Rustam, Selasa (1/9).

 

Didapuk sebagai ketua partai, Faiz mengakui harus berhadapan dengan asumsi sejumlah pihak yang mendiskreditkan dirinya. Tapi ia maklum. Ibunya merupakan Ketua DPD II Golkar Bontang sebelumnya. Masih hijau serta dianggap belum banyak makan asam garam di medan politik daerah.

 

Sedikit cerita, kata Faiz, pengalaman memimpin AMPG saat menjabat Wakil Ketua Bidang Kepemudaan DPD II Golkar Bontang jadi modal mengelola organsisasi. Sebagai underbow, ia mengaku AMPG Bontang eksis kembali setelah beberapa waktu. Kembali diperhitungkan baik di internal partai maupun organisasi kepemudaan lain di Bontang.

 

"Saya banyak belajar di organisasi kepemudaan dulu seperti KNPI dan Pemuda Pancasila. Makanya saya punya bekal untuk mengelola organisasi seperti AMPG," ujarnya.

 

Memimpin partai yang diisi banyak politisi senior tak lantas membuat Andi Faiz tidak percaya diri. Menurutnya, peran pemuda dianggap penting dalam partai politik. Hal itu guna menjamin sumber daya partai yang butuh regenerasi.

 

Meskipun sempat diragukan, namun dia menjawab hal itu dengan prestasi yang diraih di usia muda.  "Memang di Golkar Bontang banyak politisi senior, tapi partai juga butuh regenarasi. Meskipun masih muda, tapi saya yakin bisa semakin membesarkan Golkar di Bontang," katanya.

 

 

Warisan Politik

 

Andi Faizal menolak jika capaiannya kini karena sepenuhnya diuntungkan peran kedua orangtua. Kalau ada yang diwariskan, adalah semangat dan kepemimpinan keduanya untuk membantu masyarakat serta kemajuan daerah. Di depan matanya, ia melihat banyak hal bisa dilakukan untuk menaikkan martabat masyarakat Bontang.

 

Menurutnya, menjadi pejabat daerah dapat memberi ruang untuk lebih membantu masyarakat. Hal tersebut bisa diwujudkan melalui program yang mengarah pada kemajuan taraf hidup warga. "Kalau jadi pejabat kan lebih punya ruang yang luas untuk membantu masyarakat," ujar pria dari tiga anak itu.

 

Faiz sadar benar lahir dari dua orang pemimpin. Ketimbang minder, ia mengaku ingin lepas dari persona bapak dan ibunya. Memimpin organisasi kepemudaan dan lembaga legislatif, turun langsung dalam pengawasan hingga sosialisasi. Semua dilakukan sebisa mungkin tanpa embel-embel orangtua.

 

"Saya ingin dilepas dari bayang-bayang ibu atau ayah saya. Saya sering turun ke masyarakat," tegasnya.

 

Di akhir perbincangan, Andi Faiz mengajak kaum muda Bontang ambil peran di tengah sosial masyarakat. Berkiprah di dunia politik sehingga dapat mempengaruhi kebijakan hanya salahsatunya, ia menambahkan.

 

“Sebisa mungkin, di usia muda kita berupaya membantu masyarakat. Sudah waktunya kaum milenial bergerak aktif,” ajaknya.

 

Diragukan, minim pengalaman hingga aji mumpung adalah kritik yang kerap mewarnai perjalanan politikus muda. Tentu ada harapan generasi politisi muda ini dapat membalas sinisme yang mengarah kepada mereka. Menjadi wakil rakyat tak sekadar mengandalkan pengaruh orangtua. Bahkan, bisa saja anggota dewan milenial ini menjadi pendobrak gaya politisi lama yang lamban merespon desakan dan kebutuhan publik. (*)

 

Penulis: M. Safril

Editor: Umil Surya

Article Lainnya


Cegah Penyakit Menular, Kelurahan Tanjung Laut Gencar Gotong Royong Bersih Lingkungan

Cegah Penyakit Menular, Kelurahan Tanjung Laut Gencar Gotong Royong Bersih Lingkungan

PARADASE.id - Kelurahan Tanjung Laut di Kecamatan Bontang Selatan, Kota Bontang, menggiatkan program...

Bapenda Bakal Kaji Ulang Tarif Retrebusi Pasar Tamrin

Bapenda Bakal Kaji Ulang Tarif Retrebusi Pasar Tamrin

PARADASE.id - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bontang akan kembali mengkaji ulang tarif retri...

Diary of Auckland : Meet The Heroine

Diary of Auckland : Meet The Heroine

Menjadi berbeda pun, Tuhan beri jalannya.... Nun jauh di negeri kiwi sana. seseorang mengan...

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PARADASE.id -Lesunya sendi-sendi perekonomian akibat pandemi, tentunya berdampak pada penurunan Pend...

JELAJAH