Kembali ke Artikel
Senjakala Kuntau di Guntung, Kesenian Silat Kutai yang Terpinggirkan Ilustrasi silat kuntau. (galeribudaya.com)
16 Dec/2020

Senjakala Kuntau di Guntung, Kesenian Silat Kutai yang Terpinggirkan

16 Dec 2020 Liputan Khusus

MENYAJIKAN gerakan tangan yang indah dan gemulai menjadi salahsatu ciri bela diri Kuntau. Gerakan yang dalam dunia silat ini acap disebut sebagai kembangan. Sejatinya, kembangan setiap perguruan Kuntau berbeda baik dari gerakan maupun makna. Mempelajari Kuntau, baiknya mengenal gerak langkah karena merupakan dasar utama dalam tradisi bela diri ini.

 

Sejak lama, kesenian Kuntau hidup di tengah masyarakat Suku Kutai, Kalimantan Timur. Namun, perlahan Kuntau semakin ditinggalkan dan tergerus zaman.

 

Padahal seni bela diri ini pernah dilakoni sejumlah pesilat Kutai di Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang. Sekitar tahun 1974 atau masa-masa awal Bontang menjadi tujuan perantau, kesenian Kuntau juga ikut melebur.

 

Di kala layar tancap populer saat itu, ada beberapa tokoh adat yang mempraktekkan Kuntau di area pemukiman warga Kutai itu. Ketua Dewan Adat Kutai di Guntung, Hamid Badu’i mengisahkan sejumlah seniman Kuntau terdahulu. Ada Johar, sang guru bela diri dan sejumlah muridnya seperti Hadoi, H. Amir dan nama-nama lainnya.

 

“Sudah puluhan tahun lalu meninggal. Terakhir H. Amir meninggal sekitar empat tahun lalu. Jadi saya termasuk yang terakhir,” kata Hamid Badu’i sambil bersila di teras rumahnya pekan lalu, Kamis (3/12/2020).

 

Mulanya, Hamid menjelaskan, Kuntau diperkenalkan para tetua dari Kampung Panji, Kelurahan Melayu, Tenggarong di Kabupaten Kutai Kartanegara. Di antara orang-orang itu, ada Datok Ali. “Dulu Datok Ali  itu selain guru bela diri kuntau, beliau juga selaku pemuka agama di Guntung,” kenangnya.

 

Dahulu, para guru Kuntau merupakan tokoh masyarakat terpandang dan disegani. Bagi para tetua Suku Kutai ini, menekuni Kuntau tak membuat pribadi menjadi sombong. Kuntau lebih ditonjolkan sebagai kesenian dan tradisi budaya masyarakat Kutai.

 

“Jika ada yang mengaitkan dengan hal-hal sakral itu menjadi urusan individu masing-masing dan saya tidak dapat menyalahkan. Karena setiap orang memiliki pemahaman tersendiri,” beber Hamid.

 

“Kuntau memiliki ruh tersendiri dalam suku kutai,” imbuhnya.

 

Ketua Dewan Adat Kutai di Guntung, Bontang, Hamid Badu'i. (Abdi/ Paradase.id)
Ketua Dewan Adat Kutai di Guntung, Bontang, Hamid Badu'i. (Abdi/ Paradase.id)

Kuntau memang kerap dijadikan kesenian yang acap kali menjadi tontonan di acara-acara besar seperti pernikahan, sunatan dan lainnya. Di mana dua orang pe-kuntau (pesilat Kuntau) saling beradu jurus yang setiap geraknya seirama tabuhan iringan gendang dan gong.

 

Jika ditampilkan satu orang, Hamid mengatakan aksi ini justru sekedar praktek seni bela diri Kuntau. Bela diri ini juga terbagi pada dua aliran utama, Kuntau Silat dan Kuntau Sendeng. Kuntau Silat, kata Hamid, memperlihatkan gerakan serangan kepada musuh namun bak menari. Titik serangan menyasar saraf musuh. “Sedangkan Kuntau Sendeng lebih kepada benturan fisik.”

 

“Kalau saya pribadi jika untuk praktek InsyaAllah masih bisa, hanya kalau sendiri jatuhnya hanya praktek bukan kesenian Kuntau.  Kalaupun ada yang bisa memainkan alat musik dan irama dari kesenian Kuntau, untuk sekarang tentu gerakan tidak selincah saat muda dulu untuk mengimbangi irama musik,” aku Hamid.

 

Kuntau mengajarkan kuda-kuda yang kuat sebagai pondasi agar tidak mudah dijatuhkan serangan lawan. Bahkan terkadang digunakan mandau dalam pertunjukkannya. Kemudian diiringi gendang dan gong sebagai penanda irama gerakan. Sayang, semua alat-alat ini musnah akibat musibah kebakaran di Guntung beberapa waktu lalu.

Pernah Hamid berniat menghidupkan kembali kesenian Kuntau bersama warganya di Guntung. Tetapi minim bahkan tidak adanya peminat menguburkan semangat itu. “Sempat mau dihidupkan kembali. Tapi seperti para pemusik atau penabuh gendang dan gong minimal harus ada 3 orang dan pe-kuntaunya harus ada 2 orang sudah tidak lengkap lagi,” kisahnya.

 

Di era modern ini, Hamid akui sulitnya mengenalkan Kuntau khususnya pada generasi muda. Mayoritas anak muda semakin berjarak dengan tradisi budaya seiring kemajuan teknologi informasi. Tak ayal, Kuntau hanya hadir sebatas kenangan dan cerita turun-temurun bagi anak cucu kelak.

 

Penampilan kesenian bela diri Kuntau oleh pesilat di Tenggarong, Kukar. (Foto: Awang M. Rifani)
Penampilan kesenian bela diri Kuntau oleh pesilat di Tenggarong, Kukar. (Foto: Awang M. Rifani)

Tetap Lestari di Tenggarong

 

Meredupnya Kuntau di Guntung berbanding terbalik dengan yang terjadi di Kelurahan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kukar. Seni bela diri ini masih terjaga dan dipraktekkan sejumlah perguruan bela diri. Di Perguruan Pelancar Silat Mangkurawang, Kuntau merupakan salahsatu sub dari seni bela diri silat.

 

Seperti Silat Macan di Sumatera dan daerah lainnya, Kuntau dilestarikan di bumi etam sebagai kesenian bela diri silat. Setiap perguruan silat memiliki teknik dan jurus berbeda-beda.

 

“Alhamdulillah untuk seni bela diri kuntau untuk di Tenggarong khususnya mangkurawang masih ada dan terjaga serta masih rutin latihan, satu minggu dua kali. Salah satunya saya sendiri,” ungkap salahsatu pesilat Pelancar Mangkurawang, Ay, kepada Paradase.id, Jumat pekan lalu.

 

Atas alasan tertentu Ay enggan nama terangnya disebutkan. Dalam pengalamannya, mempelajari Kuntau adalah bagaimana cara untuk bertahan. Teknik kembangan akan terbentuk dengan sendirinya sesuai ajaran guru secara naluriah ketika mendalami Kuntau.

 

Mun ade yang beniat mandik beik bila inya belajar kuntau, lihati hak pastinya mandik lawas belajar kuntau dan pasti inya berenti sorang. Paling lawas tiga bulan maha tu. (Kalau ada orang belajar kuntau dan  memiliki niat tidak baik pasti orang itu akan berhenti dengan dengan sendirinya untuk belajar kuntau. Paling lama cuma tiga bulan itu),” kata Ay.

 

Pelancar Silat Mangkurawang dipelopori seorang tetua yang disapa Nenek Abdul Hamid pada awalnya. Warga Mangkurawang menyambut ajaran nenek Abdul Hamid. Uniknya, setiap perguruan Kuntau memiliki gerakan dan jurus yang khas tergantung tradisi yang diajarkan setiap perguruan.

 

Sejumlah informasi menyebutkan, para orangtua kerap belajar Kuntau dari berbagai perguruan berbeda. Ilmu yang dikumpulkan itu lalu dikolaborasikan menjadi satu gerakan khusus kemudian diajarkan di kampung halamannya.

 

“Seperti saya pribadi, gerakan Kuntau saya dan rekan saya satu perguruan di Pelancar Silat Mangkurawang belum tentu sama dan pasti berbeda. Walaupun berbeda gerakan namun tetap disebut Kuntau karena dalam Kuntau memiliki gerakan dasar yang sama,” jelas Ay yang telah berlatih di perguruan itu sejak 1993.

 

Pelancar Silat Mangkurawang sudah berdiri sejak tahun 1943 hingga sekarang. Dalam gerakan kuntau di Pelancar Silat Mangkurawang ada yang namanya Bunga-bunga Berbuah. Pada saat itulah fase dalam pengembangan tehnik atau jurus dan jati diri terbentuk secara naluri dan menyatu dengan diri yang belajar kuntau.

 

“Jadi kuntau itu secara naluri. Tidak dapat dipaksakan. Belajar kuntau akan membuat orang menjadi rendah diri, bukan malah sebaliknya.” (*)

 

Penulis: Aji Sapta Dian Abdi

Editor: Umil Surya

Article Lainnya


Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

PARADASE.id - Penetapan jam malam dalam rangka pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di...

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

PARADASE.id - Pemerintah Kota Bontang mewacanakan kembali membentuk Tim Percepatan Pembangunan Kilan...

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

PARADASE.id - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Bontang dimulai hari in...

28 Warsa Bersama

28 Warsa Bersama

Inway # 129 Oleh : Rusmiati Indrayani Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi hari sebel...

JELAJAH