Kembali ke Artikel
Bertanam Bibit Nilai Budaya Dari Rumah Ilustrasi
02 May/2020

Bertanam Bibit Nilai Budaya Dari Rumah

02 May 2020 Liputan Khusus

PARADASE.ID. Selamat hari pendidikan nasional. Pandemik Covid-19 telah mengubah wajah pendidikan di Indonesia. Secara fisik, kegiatan sekolah dari SD (Sekolah Dasar)  hingga perguruan tinggi diliburkan. Liburan yang kurang berkesan gegara pembelajaran tetap harus dilaksanakan. Tantangan besar dihadapi orangtua untuk menciptakan liburan berkesan dan pembelajaran di rumah jadi menyenangkan. 

 

 

Dalam anjuran “work from home” saat ini, peran orangtua orang tua sebagai pembimbing dan pendidik anak-anaknya tengah diuji. Tantangan sekaligus tamparan. Kemampuan orangtua mendidik anaknya dipertaruhkan selama masa yang disebut WHO sebagai “kriris global” bencana non alam.

 

 

Selama masa wabah corana masih melanda dunia maka peran guru di sekolah dialihfungsikan kepada orangtua. Sekolah seolah mengembalikan anak-anak ke pangkuan orangtuanya sendiri untuk didik dan diarahkan. Walaupun kegiatan “semi belajar”  menggunakan model daring (dalam jaringan) telah diberlakukan. Namun secara fisik persentuhan kenyataan dengan aktivitas keseharian bersama orang tua dan saudara telah mengambil bentuk paling nyata. 

 

 

Orangtua sebagaimana aslinya adalah pendidik utama dalam keluarga. Dan rumah merupakan madrasah ‘ula, cetak biru karakter anak. Dari rumah adab diteladankan. Rumah memang tempat sampah mengeluh. Tempat anak memuntahkan kesah hati yang bergemuruh, namun percayalah, rumah adalah sebuah tempat yang dirindukan seseorang saat jauh. Orang di dunia luar sana menyebut sebagai “home sick.” 

 

 

Rindu rumah adalah sebuah keniscayaan. Pulang ke rumah menjadi alat penyembuh paling ampuh dan obat yang tidak ada satupun sebanding dengannya. Dengan harmoni yang didawaikan orangtua, suasana kekeluargaan dalam rumah menjadi semacam antibodi paling kuat. Kehangatan keluarga dapat meninggikan immunitas yang susah dicari  duplikasi produknya. Hanya Ori tidak ada KW.

 

 

Salah satu model pendidikan dalam keluarga yang bisa dilakukan orangtua di tengah pandemik ini adalah Kembali Kepada Budaya dan Sosial Dasar Keluarga. 

 

 

Keluarga adalah tempat internalisasi dan sosialiasi nilai dan norma. Pengejawantahan aturan moral dan norma dengan orangtua sebagai pimpinan lembaga pendidikan.

 

 

Keluarga merupakan unit terkecil dari sebuah masyarakat. Warganya adalah orangtua dan anak-anak-anak yang lahir dari sebuah ikatan pernikahan sah. Hanya perkawinan jalan legal satu-satunya untuk membiakkan manusia. Anak-anak yang lahir dari keluarga inilah penentu masa depan mayapada. 

 

 

Keluarga dengan orangtua sebagai panglima, adalah sepasang manusia beda kelamin yang bertanggungjawab menyiapkan generasi tangguh masa depan. Kuat itu berasal dari rumah. Dari rumah akan lahir generasi seperkasa Isa alaihi salam dan se-mulia Nabi kita. Muhammad shallahu’alaihi wassalam. Isa tidak lahir kecuali dari rahim perempuan suci. Empu moral tertinggi. Seorang Maryam yang dijaga martabat dan mura’ah dirinya oleh Allah SWT. Kemudian, ada  (Rasullulah) Muhammad yang hanya lahir dari rahim bunda Aminah, wanita yang dimuliakan Allah.

 

 

Sebuah keluarga dibangun dengan tujuan jangka panjang ; mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Kasih sayang adalah jantung keluarga. Kasih sayang yang dirawat berkepanjangan menjadi tabungan amunisi demi perkembangan mental yang sehat bagi anggota keluarga. 

 

 

Membentuk sebuah keluarga adalah perintah Allah. Seperti maklumat Rasulullah ini : Dari Anas Ibnu Malik Radliyallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam setelah memuji dan menyanjung-Nya bersabda; Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka, dan mengawini perempuan. Barang siapa yang membenci sunnahku, Ia tidak termasuk ummatku. HR. Muttafaq Alaihi.

 

 

Sebagai sebuah lembaga pendidikan informal, keluarga adalah basis pembentuk pola dasar dan keterampilan (adab/budaya) anak dengan agama sebagai acuannya. Pakar Ilmu Kesehatan Jiwa Agama Prof Dr. Hj. Zakiah Daradjat (1977) menegaskan, bahwa pendidikan moral terbaik ada pada agama. Dalam agama nilai moral dapat dipatuhi dengan kesadaran mendalam, secara sukarela, tanpa paksaaan dari luar. Perasaan rela yang lahir dari keyakinan beragama.

 

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan rumah dengan surga. “baiti jannati.” Rumahku adalah surgaku. Sebagai surga, sebuah rumah adalah tempat kembali paling menyenangkan dan berkesan. Untuk menjadikan rumah sebagai sebuah bayang-bayang surga di muka bumi. Akan ditinjau fungsi keluarga dari  aspek pendidikan, sosial dan budaya.

 

 

Implementasi Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Dalam Keluarga.

 

 

Ilmu sosial dan budaya dasar membagi nilai universal sebagai basic budaya dan sosial dasar menjadi 8 (delapan) hal, yaitu Pandangan hidup, cinta kasih, kejujuran, keadilan, tanggungjawab, keindahan, harapan, kegelisahan/penderitaan.

 

 

Nilai-nilai ini merupakan sunatullah. Jelajah garis waktu yang dilewati manusia dalam dinamika suka dan duka kehidupan. Delapan aspek tersebut saling tali menali satu sama lain. Simpulnya tergantung pada pandangan hidup, ideologi, atau keyakinan (beragama). Agama menjadikan hidup terarah dan bermakna. Makna yang diterjemahkan ke dalam sistem moral seperti kejujuran, keadilan, dan kasih sayang serta harapan. 

 

 

Sebagai sebuah ilmu dasar, pembiasaan dan latihan budaya dan sosial dasar menjadi ciri terpenting dari ketinggian nilai moral seseorang. Fungsi keluarga dari sisi pendidikan adalah lahan subur menyemai benih terpuji ini.

 

 

Ilmu budaya dan sosial dasar adalah konsep sederhana yang dapat dijadikan model pendekatan sebuah masalah. Persentuhan sosial yang kurang mengasah keterampilan dasar di atas rentan konflik dalam interaksi antar personal.

 

 

Penguasaan yang baik terhadap keterampilan ini akan melahirkan  seorang pribadi yang pandai menempatkan diri. Tepat bersikap dan cerdas bertindak.

 

 

Kejujuran atau keadilan dan kasih sayang dapat diasah sepanjang hidup manusia. Karena sebagai makhluk sosial manusia butuh orang lain dalam hidupnya. Pendekatan budaya dasar dilakukan dengan menggunakan badan budaya itu sendiri. Masalah ketimpangan atau kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat  adalah masalah keadilan. Tidak terpenuhinya hak-hak suatu pihak. Pembagian adil yang benar hanya bisa didekati dengan nilai  moral kasih sayang, cinta dan percaya pada harapan.

 

 

Bara amarah mendingin seketika disiram sentuhan air kasih sayang. Amarah jangan dilawan dengan cara sama. Seseorang yang terlibat dalam pusaran konflik sebaiknya mengatur strategi diri dengan mundur satu langkah. Diam dan mengalah. Diam yang diterjemahkan dengan sabar nonsense terjadi tanpa kekuatan ilmu yang lebih tinggi dalam mengatasi sutuasi. Ilmu adalah cara santun menepi dari kekisruhan gejolak hati. Dalam diam (baca: sabar) seseorang yang memiliki budaya adil dan kasih sayang akan mengurai masalah secara dingin dan hati jernih. Bukankah kedalaman danau bisa diterawang dengan ketenangan ?! bukan diumbar puting Belitung mengarak riak kelindan liar.

 

 

Dalam situasi pembelajaran di tengah wabah, orangtua bisa mengadopsi konsep budaya dan sosial dasar menjadi semakin bertaji. Sebab sejatinya nilai-nilai tersebut telah ditanamkan orangtua dalam fase awal kehidupan anak-anaknya. Jika sekarang ini dunia sedang diamuk covid-19, inilah saatnya orangtua menyusuri kembali jalan-jalan kenangan yang dulu pernah ditinggalkan. 

 

 

Anjuran lebih baik di rumah adalah cara Tuhan menarik tangan orangtua supaya lebih dekat dengan keluarganya. Di rumah model pembelajaran seperti pembiasaan dan latihan terkait budaya dasar menjadi keharusan dengan orangtua sebagai assessor (penilai). 

 

 

Segudang kesibukan di luar rumah yang tadinya manjur dengan pernatara teknologi komunikasi hape, saat situasi pandemik covid boleh diabaikan. Gantinya adalah lakukan langkah nyata, di alam nyata, langsung tanpa perantara dunia maya. Saat anak anak melakukan kesalahan alih-alih menyalahkan  bahkan memghukum, orangtua bisa menggelar perundingan dengan agenda dengar pendapat. Mendengarkan adalah keterampilan lain yang masih serumpun dengan budaya kasih sayang dan keadilan. Dengan kesadaran orangtua mendengarkan, anak tertantang untuk berbuat terbaik dalam menuntut haknya dan melaksanakan kewajiban. Peran anak dan orangtua dapat diluruskan tanpa tekanan. Anak bisa menuntut keadilan dan orangtua ringan mengabulkan dengan pendekatan kasih sayang. 

 

 

Selebihnya banyak hal yang bisa dilakukan dalam rumah terkait dengan keluarga sebagai fungsi pendidikan. 

 

 

Sholat berjamaah dengan ayah atau anak lelaki dewasa sebagai imam sholat adalah pemandangan yang mendinginkan hati dan perasaan. Di mana lagi seseorang bisa berbuat senyaman hatinya selain di rumahnya sendiri. Moment Ramadhan dan Hari Pendidikan Nasional 2020 Semoga menjadi titik balik bagi orangtua dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik. Sebab di luar sana terlalu banyak bahaya. Bahaya fisik dan yang ditimbulkan efek selancar dunia maya, namun saat orangtua ada bersama kesulitan yang dihadapi anaknya, nyatalah bahwa hanya keluarga saja yang mampu memberikan kehangatan hingga menjamah bagian hati paling dalam. Rumah adalah tempat mengeluh tetapi rumah adalah tempat yang dirindukan anak saat jauh. (***)

 

 

Penulis: Rusmiati Indrayani (Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan, Universitas Mulawarman)

 

Editor: Umil Surya

 

 

Article Lainnya


Pendapatan Daerah Terimbas Pengalihan Listrik HOP ke PLN

Pendapatan Daerah Terimbas Pengalihan Listrik HOP ke PLN

PARADASE.id - Pengalihan tanggungan layanan listrik perumahan HOP Badak NGL ke PT PLN berimbas bagi ...

Dinding Bata dan Sesap Kopi

Dinding Bata dan Sesap Kopi

Inway # 118 Oleh :Rusmiati Indrayani Di masa pandemi bisnis penjualan ...

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

PARADASE.id - Program pelatihan pemasaran bagi para pelaku usaha sedang digodok oleh Dinas Tenaga Ke...

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

PARADASE.id - Potensieksporkomoditas non migas dan batubara terus dikembangk...

JELAJAH