Kembali ke Artikel
Selamat Hari Ibu
22 Dec/2020

Selamat Hari Ibu

22 Dec 2020 In Way

  Inway #126

 

“Sesekali perlu mengabaikan diri untuk dapat melewati hidup. Konsentrasilah pada hal-hal kebaikan dan semuanya akan baik-baik saja.”

 

Kalimat tersebut dikutip dari perjalanan menonton serial The Crown yang memilmkan kehidupan Ratu Elizabert di channel Netflix. Kata-kata yang lahir dari drama kejatuhan Churchill yang lelah dan patah. Di usianya ke 80 perdana menteri Inggris yang Begawan sekaligus guru Sang Ratu itu mengundurkan diri karena usia dan merapuh.

 

Dalam tulisan ini tentu saja tidak fokus pada lelah, layu dan patah melainkan menyambut gembira semangat yang tetap menyala sebagai seorang ibu. Ibu yang berharap menjadi bijaksana dalam memandang hidup dan mencintai anak-anaknya.

 

Selamat Hari 22 Desember 2020

 

Sebelum tanggal 22 tiba, di atas sajadah bersila pasca butir tasbih teruntai, saat vibrasi ketuhanan melangit, saya merenung dan memikirkan tentang anak-anak. Kali ini bukan si kembar dan kedua adik lelakinya. Anak kandung yang saya lahirkan dan besarkan dengan segenap cinta. Namun berpikir tentang anak-anak yang lain.  Mahasiswa. Baik mereka yang bertemu dalam tatap muka di ruang pembelajaran atau mahasiswa bimbingan yang sedang menggarap skripsinya.

 

Menjadi dosen adalah ajang pengembangan diri sejak tahun 1995 mulai di Univesitas Kutai Kartanegara Tenggarong.

Lalu perahu hidup membawa merapat di sebuah perguruan tinggi milik Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.  Sangatta kota tercinta yang jaraknya empat jam perjalanan darat meluncur ke Ibu Kota provinsi.

 

Sebagai  “Ibu” mereka, saya upayakan mengajar secara professional sesuai kemampuan. Melibatkan semua sumberdaya. Tentu  saja dalam menjalani peran tersebut banyak kesalahan yang tergoreskan. Sudahlah kemampuan terbatas, silaf kata dan keliru lidah ternyata tidak dapat disangkal adanya.

 

Saya pernah merasa tidak nyaman dengan mahasiswa yang menginginkan supaya skrispinya cepat dibaca. Padahal yang bersangkutan baru dua hari mengirim soft file via email dan sudah percaya diri mendesak. Lalu saya keluarkan kata “maaf,” dan menyebut bahwa hari tersebut adalah akhir pekan. Di akhir pekan sepertinya dosen juga butuh hiburan untuk menjeda diri dan pikiran dari pekerjaan. Jauh di ke dalaman sesungguhnya terkirim isyarat Allah melalui mahasiswa si empunya kelakuan, dosen ini harus perlu menyediakan waktu untuk memberikan catatan dan pembimbingan dalam durasi sepekan berjalan.

 

Di lain mata kuliah, ketika pembelajaran virtual, ada juga mahasiswa yang nyelonong memotong penjelasan, bukan dengan maksud bertanya melainkan langsung mengingatkan untuk ganti mata kuliah. Padahal saya melakukan Clossing Statement. Di sini juga berlaku penampakkan wujud JALAL Nya, yang mengingatkan hendaknya dosen perlu alarm semacam menggunakan teknik “Pomodoro” dalam memberikan penjelasan materi kuliah.

 

Mahasiwa lain, dalam percakapan pengantar tugas melalui WA pribadi, membubuhkan kata-kata “Ini tugas yang ibu tagih sebelum waktunya.” Ehem, saya tersedak karena tugas tersebut seharusnya diserahkan dua minggu sebelumnya.  Adapun “sebelum”  waktu yang dia maksudkan adalah waktu untuk penyerahan tugas individu, itu pun saya beri kelonggaran hingga menjelang UAS berlangsung.

Menghadapi ini dosen seperti saya butuh melatih jurus relaksasi. Terlebih dahulu  angkat napas perlahan lalu buang dengan cara paling lembut, kemudian katakan “tenang-tenang-tenang” dengan lirih tapi memastikan telinga zahir mendengar bunyinya.  Ini masalah sikap dan penerimaan,  dan saya perlu meluruskan  perintah. Bukan kesalahan sebuah komentar disertakan, sayalah yang dituntut berdada lebar.

 

Untuk beberapa hal tersebut dan semacamnya, secara manusia saya agak gerah. Walaupun cuma agak, sepertinya segelas air putih diperlukan demi menyiram kerongkongan yang mendadak kerontang. Pada beberapa hal juga, saya butuh kunci mobil guna berkendara, melonggarkan isi kepala meluaskan ruang dada untuk udara. 

 

Mau mengeluh atau marah ?  Kepada siapa tumpukan masalah saya hamburkan ?

 

Tidak ada, kecuali menelan sendiri dan mengabaikan diri supaya dapat survive menjalani hidup dan memertahankan nyala semangat mengabdi pada profesi agar tidak meredup.

 

Bagaimanapun, itulah hidup. Hidup yang terdiri dari dua sisi ; baik dan buruk. Keduanya adalah sumber ujian namun dalam kacamata santri di jalan sufi, sesungguhnya ; baik dan buruk adalah sama baiknya. Tidak ada yang buruk kecuali awan pikiran menggulita menutupi permukaan  hati yang tenang. Walaupun berterus terang menulis hal kecil dari perilaku mahasiwa, namun tidak ada risau tersangkut di sana. Saya memaafkan dengan atau tanpa permintaan maaf sebab karena mereka sebuah kedirian mewujud nilai dan harga.

 

Akan halnya kelakuan mereka. Mereka adalah anak-anak saya. Anak-anak yang lahir dari rahim pendidikan dan persalinan ilmu yang dilakukan secara sadar, sengaja penuh dedikasi. Mereka sama seperti anak kandung, bedanya mereka lahir dari pemikiran dan idealisme sang guru. Jadi ketika setiap diri mereka menggantungkan harapan, amin terbaik ibunya ini untuk segala doa baik dan kemudahan jalan pembelajar mencapai tujuan. Mereka adalah anak-anak manis yang membutuhkan aliran ilmu dosennya.

 

Dalam semester ini, pada maka kuliah metodologi penelitian kualitatif , beberapa mahasiswa berkeras datang bertemu. Sesungguhnya sikap tepat jika menolak. Secara, masa wabah belum berubah. Rasa tidak tega melihat ketulusan dan antusias mereka, kedirian saya tergugah dan menyambut mahasiswa yang datang dari Sangatta.

 

Sulit menyempurnakan kata untuk ungkapkan rasa. Rasa terharu tentu saja.

 

Mereka yang datang itu bukan mahasiwa lulus SMA tahun kemaren, melainkan wanita bersuami dan memiliki anak. Ibu-ibu dengan semangat bara menghadap dan membawa niat belajar. Mungkin karena berada di kota berbeda maka setiap kehadiran mahasiswa di teras belakang rumah senantiasa menjejakkan kesan istimewa dan mewah.

 

Kemudian di lain kesempatan ketika menutup pertemuan virtual sebagai pamungkas kuliah, seorang mahasiswi mengangkat tangan dan mohon izin bicara. Setelah mendapat izin ternyata dia memulai pertanyaan dengan mengata “Selamat hari Ibu, untuk  dosen kami, Ibu Indrayani”.

Speechless.

Terdiam walaupun tanggal yang disebutkan belumlah di hari 22 Desember, dihaturkan lebih awal ketika berucap tepat tidak sempat.

Tidak lama berselang, mahasiswi tersebut izin left karena kondisi kesehatannya masih pemulihan pasca opname di rumah sakit.

Saya adalah ibu yang gampang tersentuh, penghargaan sekecil apapun yang sampai di hati memantik airmata keluar tanpa disadar.  Air jiwa yang mengalir berani dan berarus sendiri.

Mungkin terlihat hanya ucapan. Dibagian ini berlaku kata ; ibumu, ibumu, ibumu… senangkan hatinya niscaya kau dapati isi dompet, isi hati dan isi air mata keluar bersama-sama.

 

 

 

Dok : Ist
Dok : Ist

 

Satu paragraf lagi tentang mahasiswa. Kemaren siang ketika saya akan memulai kuliah virtual, tetiba pesan WA masuk dan seseorang mengharapkan doa ibunya. Anak bimbingan saya sedang antri sidang skripsi.

Sebelum memasuki ruang sidang, dia menyempatkan mengingat satu nama. Mungkin beberapa orang lain juga menerima terusan pesan darinya. Di hati saya, di antara orang-orang penting di saat genting, itulah saat bongkah jeritan keberpihakan padanya pecah dalam amin yang berserak jamak.

Apa yang dilakukannya barangkali biasa saja karena wajar seseorang mengharapkan doa mendukung perjuangannya. Ringan yang dilakukannya berat sampai di hati dosennya.

Meminta doa adalah hal sepele, maka tidak semua tergerak hati mendahulukannya. Tidak semua anak bimbingan meminta amin dosen pembimbing untuk ujian yang berada di depan matanya.

Ketika yang sedikit itu bergerak melalui mata batin maka ibunya meluruh airmata dalam amin, “mendesak” Tuhan dan mengharapkan yang terbaik untuk semua urusan.

 

Sang Ibu, kepada anak yang tidak lahir dari rahimnya namun berani menunjukkan apreasiasi, tentu saja kesan baik tertinggal di hati.

Memang untuk urusan bakti, anak selalu punya cara tersendiri memerlihatkannya. Akan terpuji andaikata niat baik mewujud nyata, sebab cinta hanya tertinggal tentang kata tanpa makna sebelum ada rangkaian bunga dan cincin permata sebagai buktinya.

 

Selamat Hari Ibu.

Sungguh karena kasihnya Ibu teramat pandai mengurung luka dengan untaian airmata yang kerap dibunyikan dalam munajat sepi kepada Tuhannya.

Ibu hanya tahu satu hal, yaitu memberikan satu-satunya miliknya paling berharga kepada anak-anaknya. Hati IBU genap dengan denyut ketulusan hingga akhir usia dan saat dia menutup mata, selamanya.

Article Lainnya


Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

PARADASE.id - Penetapan jam malam dalam rangka pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di...

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

PARADASE.id - Pemerintah Kota Bontang mewacanakan kembali membentuk Tim Percepatan Pembangunan Kilan...

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

PARADASE.id - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Bontang dimulai hari in...

28 Warsa Bersama

28 Warsa Bersama

Inway # 129 Oleh : Rusmiati Indrayani Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi hari sebel...

JELAJAH