Kembali ke Artikel
Sebuah Buku Sejarah Kota Bontang
02 Sep/2020

Sebuah Buku Sejarah Kota Bontang

02 Sep 2020 Buku Gaya

SETELAH acara webinar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DpK), Launching buku Indahnya Berbagi Masyarakat Mandiri dan workshop menulis buku pada 12 Agustus 2020, Kepala Dinas DpK, Ir. Retno Febriaryati mengobrol dengan saya. Obrolan tentang dunia buku sampai juga ke buku Sejarah Bontang. Bu Retno ingin ada sejarah Bontang. Saya jawab, “Bukannya sudah ada buku sejarah Bontang?” Saya lalu cerita kalau tahun 2002 pernah mengantar sejarawan dari Unpad, Prof Dr. Nina Herlina Lubis untuk mencari data dan menulis buku sejarah Bontang. Bukunya pun sudah terbit tahun 2003 dengan judul Kota Bontang, Sejarah Sosial Ekonomi. Ada nama lembaga, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dan sudah diadakan acara seminar di Bontang dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

 

Saya ingat, saya punya bukunya. Sambil mencari bukunya saya searching ke web untuk mencari bukunya. Ternyata masih tersedia bukunya di Tokopedia. Saya jadi tertarik kembali menulis tentang buku yang ditulis Prof Dr. Neni H Lubis dan kawan-kawan karena saya ikut menemani beliau melakukan wawancara dan penggalian data selama di Bontang. Hanya sekedar mereview.

 

Prof. Dr. Nina Herlina yang dikenal dengan nama Nina Herlina Lubis, menerima Habibie Award  pada 23 November 2015. Nina adalah Doktor sejarah wanita pertama di Jawa Barat, dan yang ketiga di Indonesia, asli berdarah Sunda. Nama Lubis dari almarhum suaminya, dari Mandailing, Livain Lubis.

 

Dilahirkan di Bandung tanggal 9 September 1956. Sekolah di SD Negeri Cibuntu Bandung pada 1962-1968. Lalu SMP Negeri I Bandung tahun 1969-1971, dan SMA Negeri 3 Bandung tahun 1972-1974. Sempat kuliah di jurusan Tehnik Industri ITB (1975-1977), akhirnya keluar dan memilih Program S-1 Jurusan Sejarah di USU sesuai minatnya. Kuliah sarjana diselesaikan di Universitas Padjadjaran Bandung tahun 1984.

 

Selesai kuliah bekerja sebagai staf pengajar di almamaternya, Unpad. Melanjutkan kuliah S-2 Bidang Studi Sejarah di UGM tahun 1990 dengan lulus cum laude. Tesis yang disusunnya berjudul Bupati R.A.A. Martanagara; Studi Kasus Elite Birokrasi Pribumi di Kabupaten Bandung (1893-1918). Kuliah program S-3 bidang studi sejarah di UGM dan lulus tanggal 11 Juni 1997 dengan yudisium cum laude. Disertasinya berjudul Kehidupan Kaum Menak Priangan (1800-1942) dan diterbitkan oleh Pusat Informasi Kebudayaan Sunda (1998). Buku tersebut dianggap sebagai buku klasik oleh sejarawan senior Prof. Dr. Taufik Abdullah, dan dijadikan bacaan wajib bagi mahasiswa S3 Sejarah oleh Prof. Dr Leirissa dari UI.

 

Dia sudah menulis banyak sekali buku sejarah. Di antara buku karyanya: Tradisi dan Transformasi Sejarah Sunda, Konflik Elite Birokrat, Sejarah dan Budaya Politik, Si Jalak Harupat, Biografi Oto Iskandar di Nata, Biografi HA Nasuhi, Biografi Himendra Wargahadibrata, PETA Cikal Bakal TNI, 13 Pahlawan nasional asal Jawa Barat, Sejarah Provinsi Jawa Barat, Sejarah Provinsi Banten, Sejarah Kerajaan Sunda, Sejarah Kerajaan Talaga, Sejarah Kebudayaan Sunda, Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat. Juga buku: Sejarah Kota Bontang, Sejarah Kabupaten Lebak, Sejarah Kabupaten Karawang, Sejarah Kabupaten Sumedang, Sejarah Kabupaten Ciamis, Sejarah Kabupaten Bandung, Sejarah Kota Cimahi, Sejarah MPR/DPR, Sejarah G 30 S.

 

Judul Buku : Kota Bontang, Sejarah Sosial Ekonomi. ISBN : 979-96353-8-1. Cover buku bergambar menara Masjid Al-Misbah, Bontang Kuala yang merupakan salah satu bangunan lama. Penulisnya Nina H Lubis, Ade Makmur, Abdurrahman Patji dan Awaludin Nugraha. Tebalnya 261 halaman. Penerbit CV Satya Historika Jl. Tentram 23 Bandung. Cetakan pertama Juni 2003. Ada kata pengantar dari Dirut Pupuk Kaltim, Omay k Wiraatmadja, karena Ppupuk Kaltim yang mengundang Prof Dr. Nina. Ada sambutan Walikota Bontang, dr. H. Andi Sofyan Hasdam Sp. S yang mengucapkan terima kasih pada Lembaga Penelitian Unpad dan Pupuk Kaltim atas terbitnya buku ini.

 

Ada prakata dari penulis yang datang pertama ke Bontang pada September 2002. Lalu ada ucapan terima kasih penulis kepada Dirut Pupuk Kaltim, Omay K Wiraatmadja dan direksi lainnya. Juga kepada Prof Dr. Taufik Abdullah, Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Pusat. Kepada Dr. Yekti Maunati MA yang memberikan masukan berharga pada seminar sejarah Kota Bontang. Kepada Ir. Zulkifli Arman MM, Sekretaris Perusahaan PKT dan tim pendamping Ir. Sunaryo Broto. Juga kepada karyawan Pupuk Kaltim lainnya, Ir. Sulais Kepala Biro Humas, Ir. Nurhadi Budi Santosa, Ir. Prabowo, Ibramsyah.

 

Terima kasih penulis juga kepada Sultan Haji Adji Mohammad Salehoedin Ii, Sultan Kutai Kertanegara, Drs. Asli Amin, Ketua Masyarakat Sejarawan Cabang Kalimantan Timur yang telah menyelenggarakan seminar. Nama lain yang disebut, Drs. Artahnan Saidi MM, Asisten III Bidang Pemerintahan Bontang, Drs Nasir Makkaraka BA yang telah menulis sejarah awal Bontang, Drs. H Amir Hamzah Idar, Manan, Abdul Haris Tundang, Cak Ali, Acil dan para tokoh masyarakat Bontang yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

 

Buku terdiri dari 7 Bab. Bab I, Asal usul Bontang dengan mitos dan sejarah dari Kerajaan Kutai dan Perkembangan wilayah Bontang. Bab II, tentng industry besar yaitu industry gas bumi dan pupuk. Bab III, tentang perkembangan social ekonomi yang bercerita tentang Masa awal kehidupan social ekonomi, masyarakat agraris, masyarakat industry, pasar dan perdagangan. Bab IV, Industri dan perekonomian daerah yang bercerita tentang konsep hubungan kerja sama, pembangunan daerah, pola pekerjaan industry dan ketenagakerjaan, industry dan usaha ekonomi masyarakat. Bab V, Kependudukan dan tata ruang. Bab VI, pemerintahan dan kehidupan social politik bercerita  tentang dari kampung ke kota, otonomi daerah dan prospek social ekonomi, partai dan LSM. Bab VII, kehidupan social dan budaya tentang pendidikan, kesehatan, kehidupan keagamaan dan kesenian.

 

Tentang asal usul Bontang menyita 29 halaman. Yang menjadi pertanyaan besar adalah  bagaimana asal usul tempat yang bernama Bontang? Ada dua versi. Keduanya versi lesan. Versi pertama, dulu ada pedagang China yang menawarkan barag yang dibeli sebagai, bon dari pembeli. Lama-lama bon semakin banyak dari para nelayan dan peramu hutan. Ini dialami oleh masyarakat sekitar muara Sungai Api-Api. Kemudian melahirkan olok-olok, “tidak bisa bayar bon jadi utang.” Dengan kata lain, kata “Bontang” berasal dari olok-olok yang tidak bisa membayar bon dari utang yang dibuat. Versi kedua, berasal dari semakin banyaknya pendatang yang bermukim di daerah tempat tinggal Aji Pao, di daerah yang kemudian bernama Bontang. Berasal dari perpaduan kata Belanda, bond yang berarti perkumpulan dan tang, sebagai kependekan dari kata “pendatang.” Mana yang benar dari kedua tradisi lesan itu? Biarlah menjadi “bayangan realitas” untuk melanjutkan kompetisinya he..he.. Siapa Aji Pao? Seorang kerabat Sultan Kutai Kertanegara yang memutuskan untuk mencari daerah baru bersama pengikutnya untuk menjangkau masa depan yang penuh harapan. Kutai sendiri pertama kali disebut dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1365. Disebutkan bahwa daerah itu adalah salah satu vassal Majapahit yag setiap tahun mengirim upeti. Kisah panjangnya ada di buku itu.

 

Buku ini disertai banyak foto, catatan kaki dan daftar pustaka. Catatan kaki pertama tentang asal usul Kota Bontang, M Natsir Makkaraka, Bontang dalam Hikayat : Sebuah Study Pendahuluan tentang petumbuhan dan perkembangan Bontang ditinjau dari segi adat dan budaya (Bontang, 2001). Yang kedua wawancara dengan Sayid Albi dan M Tahir tanggal 26 Oktober 2002. Dan seterusnya. Daftar pustaka ada 33, termasuk penerbitan internal perusahaan, Buletin, Koran Kaltim Post dan Kompas. Ada daftar wawancara dan tanggalnya pada bulan Oktober 2002 pada sekitar 16 tokoh masyarakat. Di antaranya  Sultan Haji Adji Mohammad Salehoeddin II, Abdul Haris Tundang, Acil, Cak Ali, Artahnan Saidi, M Nasir Makkaraka, Muin Ali, Ibamsyah, Prabowo, M Tahir, Manan, Purwonadi, Sahar Adoy, Sayid Albi, Yusran dan Badiah. Rasanya komplet pencarian data dan refrensinya.

 

Memang menarik mendampingi penulis yang menulis buku sejarah Bontang. Ternyata dari datang pertama pada September 2002 dan wawancara pada Oktober, bukunya baru bisa terbit Juni 2003. Delapan bulan kemudian setelah diolah dan diresapi. Metodenya ilmiah ala sejarawan dan melibatkan organisasi Masyarakat Sejarawan Indonesia. Saya senang meski hanya mendampingi, setidaknya menjadi saksi tentang salah satu buku sejarah di kota tempat saya tinggal, tempat lahir dan sekolah anak-anak saya selama hampir 29 tahun. Bontang bagian dari kampung saya. (Sunaryo Broto, Bontang, 1 September 2020)

Article Lainnya


Kondisi Membaik, Marc Marquez Tambah Porsi Latihan untuk MotoGP 2022

Kondisi Membaik, Marc Marquez Tambah Porsi Latihan untuk MotoGP 2022

PARADASE.id - Pembalap Tim Repsol Honda, Marc Marquez, mengaku kondisinya saat ini sudah membaik, ba...

Persiapan Haji 1443 H, Kemenkes Sudah Rekrut 1.827 Petugas Kesehatan

Persiapan Haji 1443 H, Kemenkes Sudah Rekrut 1.827 Petugas Kesehatan

PARADASE.id - Meski kepastian penyelenggaraan ibadah haji tahun 1443 H/2022 M belum pasti, namun Kem...

Harga Tanah di Sekitar Ibu Kota Baru Melonjak 10 Kali Lipat

Harga Tanah di Sekitar Ibu Kota Baru Melonjak 10 Kali Lipat

PARADASE.id - Harga tanah di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, melonjak lima hi...

Kronologi Ghozali Jadi Miliarder karena Selfie hingga Ditagih Pajak

Kronologi Ghozali Jadi Miliarder karena Selfie hingga Ditagih Pajak

PARADASE.id - Sultan Gustaf Al Ghozali alias Ghozali Everyday mendadak viral usai berhasil menjual g...

JELAJAH