Kembali ke Artikel
Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai Ilustrasi. (GoogleImage)
02 Dec/2020

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

02 Dec 2020 Cerita

Cerita oleh : Indrayani Indra

 

Bulir-bulir padi berwarna emas. Batangnya bergerak disepoi angin dan sinar matahari pukul sepuluh. Semakin padat isinya semakin sopan penampilannnya. 

 

Saat menjejak muka pematang, langkah kakiku tidak seimbang menapaki jalur yang terjepit di antara rumpun yang bersenang. Namun Ardi berpaling ke arahku dan memberikan tangannya. Ia tersenyum senang seperti batang padi yang menyangga bulir keberhasilan. Batang yang menyenggol kakinya di sisi terluar jalur pematang menerbitkan rasa gatal juga menimpakan sedikit perih.

 

Kami bersisian  menuju rumah Ibu setelah menikmati suguhan alam dan keramahan pematang. Pemandangan sawah menguning yang diapit hutan karet pada empat penjurunya, aku sebut sebagai surga tersembunyi. Surga itu ada di seberang jalan, terlindung deretan rumah tetangga. Tetangga yang masih terhubung satu nenek buyut dengan suamiku. Di sisi utara sawah masih satu area dengan hutan karet, sebidang tanah alkah atau pekuburan yang beratap daun karet abadi ada di situ menyimpan jasad leluhur suamiku. Dari tiga saudaranya, ayahnya, kakeknya hingga nenek moyang trah atas berbaring dalam satu lokasi.

 

Berziarah ke makam keluarga menjadi semacam ritual yang dijalankan saat masuknya bulan puasa, ketika lebaran tiba atau pada saat mengunjungi ibu di luar waktu-waktu tersebut. 

Setiap menginjakkan kaki di rumah pusaka keluarga yang dihuni ibu mertua, kami singgah di pekuburan untuk berdoa. Mengunjungi makam keluarga jadi titik masuk kedatangan. Ibu lebih gembira mendengar cerita kami singgah di makam ketimbang langsung menghadirkan diri untuk menghaturkan salam. 

 

Awalnya aku agak keberatan diajak ke lokasi pekuburan. Jalannya sempit di samping rumah tetangga. Setiap habis hujan, tanah becek dan mengirimi penciuman aroma tidak sedap. Aroma yang berasal dari bangkai tikus atau benih palawija yang membusuk abai ditanam. Setiap menuju alkah, aku megap-megap menahan napas sembari menutup hidung hingga sampai di lokasi pekuburan. Meski harus memaksakan diri mengadaptasi kebiasaan baru di lingkungan keluarga suami, namun menyaksikan raut kebanggaan ibu, aku merasa bersalah jika tidak pandai menyesuaikan diri dengan perbedaan budaya di antara kami. Tradisi ziarah makam baru ku temui setellah menikah dengan Ardi.

 

“Assalamu’alaikum.” kata Ardi sengaja meninggikan suaranya. Padahal aku yakin tanpa salam, Ibu sudah mengetahui kedatangan kami dari mobil yang diparkir di tepi seberang jalan mengarah ke komplek pekuburan. “Assalamu’alaikum,” pemberitahuan kedua ditiupkan oleh suara barittonnya. Tidak ada sahutan. Lalu setelah melepas kaos kaki dan meletakkan sepatu pada rak dari kayu di bawah jendela di sisi dalam pintu masuk, kami bergegas menemukan Ibu. 

 

Memasuki rumah pusaka keluarga yang ditinggali ibu sendirian, membuatku menelan ludah. Rumah etnik Banjar bubungan tinggi dengan tangga ulin untuk meraih lantai utama, sebelum sampai pada ruang tamu yang luasnya menyerupai aula, kaki terlebih dahulu merapat di lantai dengan posisi lebih rendah yang disebut watun muhara.

 

Ruangan seluas setengah lapangan bola terlewati dan mata menemukan ruang sayap rumah pada sisi kiri dan kanan. Sayap kanan berfungsi sebagai ruang tidur dan sayap kiri diperuntukkan sebagai ruang pengurusan jenazah ketika ada anggota keluarga yang berpulang.

 

Aroma bayu bakar menyapa kedatangan. Ibu tengah memanggang ikan haruan (ikan gabus) saat kami masuk ke ruangan dapur. Melihat kehadiran satu-satunya anaknya yang tersisa, Ibu membentang kedua tangan dan Ardi menyerahkan dirinya dalam pelukan. Mereka ibu dan anak yang selamat dari wabah kolera yang meminta nyawa seluruh jumlah keluarga. Setelah puas meluruh rindu, ibu memberikan pelukan hangatnya kepadaku. 

 

“Bagaimana tadi jalan-jalannya ?” kata Ibu, namun melanjutkan kata-kata sebelum aku sempat menjawab pertanyaannya.

 

“Sawah dan hutan karet itu milik ayahmu ,” kata Ibu mengenggam tanganku. “Ibu titipkan pada Uwakmu untuk membiayai Ardi sekolah,” kata beliau menatapku dan membagi pandangan pada anak lelakinya.

 

Meskipun sedikit kaget dengan pengakuan ibu yang lugu, aku berhasil menata perasaan. Menjadi istri seorang anak tunggal dengan ibu tunggal aku harus siap menerima informasi masa lalunya.

 

“Ayo makan, ini ikan haruan.” kata Ibu bersemangat membagikan daging ikan yang masih hangat pada piring kami berdua. Ibu melupakan deman yang dialaminya. Haruan bakar dan sayur asem khas Banjar berwarna kuning dari kunyit dan rasa segar yang berasal dari belimbing wuluh, membuat selera makan siang  keluar kendali menu diet. “Ah, sesekali. Lagi pula di rumah mertua,” batinku meredakan kekuatiran angka berat badan menunjuk ke kanan.  

 

Kami menyantap dengan lahap rebusan daun singkong bersama sambel terasi. Sambel terasi buatan Ibu amatlah nikmat. Tentu saja sambel ulek bikinan ibu tidak bisa dibandingkan dengan saos dan sambel sachetan yang kerap kami santap sepulang kerja.

 

Aku mengamini kata-kata ibu. Sudah seharusnya kami menarik kembali tanah dan hutan karet yang tergadai. Namun Ardi tidak pernah seterus terang ibu. Pagi tadi, ia hanya mengajakku mengunjungi Ibu karena beliau sedang demam. 

Ketika pada sore hari kami kembali ke pematang sawah. Aku tidak mendapatkan penjelasan Ardi tentang sawah dan hutan karet yang dibicarakan Ibu. 

 

“Aku tidak enak denganmu,” kata Ardi saat kami duduk di atas tanah sambil memeluk lutut.

 

Kami duduk menghadap persawahan dan membuang tatapan dalam kemerdekaan alam. kami biarkan angin meniup helai rambut dan menimpakan kesejukan secara berlebihan.

Di sampingku, Ardi mengambil sebilah ranting dan mematahkan bagian ujung yang kering. Sementara aku merasakan belaian angin berembus, Ardi melempar ranting yang di pegangnya ke udara. Di luar dugaan ranting membalik lantas menimpa wajahnya. “Hup,” tangannya menangkap potongan ranting nyaris mengenai mata. Ia membuang ke samping dan mengucek perih yang di matanya. Mata elang itu merah dan berair. Aku mengusap dengan ujung tisu. 

 

Di saat itu tatapannya hanya lurus ke dapan, memerhatikan anak pipit yang mencicit berebutan mematuk bulir-bulir padi. Ardi menarik tali orang-oranang sawah untuk menghalau kelakuan pipit berandalan.

 

“Aku tidak apa-apa. Lakukan saja pembayarannya.”kataku memandang sudut matanya. 

 

Di sampingku, Ia menarik napas berat dan mengembuskan pelan-pelan dari mulutnya. Mendongak sambil memberikan tempat udara keluar secara leluasa.

 

“Tapi kamu ingin merenovasi rumah dan membangun lantai II.”

 

“Itu bisa ditunda. Lagipula kita belum membutuhkan kamar anak sekarang.”

 

Lalu hening, kicauan rombongan pipit di ujung pematang masih nyalang mencari kesempatan. Orang-orangan sawah kembali digoyangkan. Mendengar gertakan dari bunyi yang ditimbulkan, kawanan pipit terbang berantakan. 

 

Di tempat duduknya Ardi tetap tidak menatapku, ia  meletakkan kepalanya di tempat searah pemandangan sawah dan hutan karet di depannya. Tanpa penampakkan perasaan terhadap kelakuan pipit-pipit yang penasaran.

 

“Patuhi saja keinginan Ibu. Mudah-mudahan beliau senang.” kataku memberikan tatapan pada sisi rambut hitamnya. 

 

Ku luruhkan kepala ke bahunya. Napasnya terdengar lebih ringan dia hela dan jantungnya berdetak tenang. Amat menenangkan perasaan dan pikiran.

Aku merapatkan badan dan meraih tangannya lalu menggenggamkan lebih dalam. Keheningan kami pecah oleh suara gugurnya sebiji kelapa. Seekor tupai menjatuhkan kelapa kering, menggelinding dan berakhir di sisi kaki kami.

 

Untuk dua sejoli dengan kebersatuan hati, gangguan jatuhnya sebiji kelapa kering yang berlubang bagian tengahnya bukanlah sebuah ancaman.

 

Kepalaku masih luruh di bahunya. Kami merapatkan badan, aku peluk pinggangnya dan memejamkan mata. 

 

Angin meniupkan kesejukan yang setara di hati dan rasa.

Article Lainnya


Diam Mama

Diam Mama

Oleh: Inui Nurhikmah* Bagaimana asal mulanya, tak seorang pun tahu.Tidak Anton, tidak...

Cara Mengucapkan Maaf

Cara Mengucapkan Maaf

CERITA : Oleh Indrayani Indra Ruangan supermarket itu luasnya setengah lapangan sepak bola ...

Pagi di Hari Pilkada 

Pagi di Hari Pilkada 

Oleh : Indrayani Indra Sinar matahari dhuha mengganggu mataku. Kuningnya menyilaukan. Penda...

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Bangunan kampus itu tetap sama seperti saat ia ada di sana, empat pilar utama berwarna hijau pupus m...

JELAJAH