Kembali ke Artikel
Sang Penatap Ilustrasi. (Google Image)
19 Mar/2021

Sang Penatap

19 Mar 2021 Cerita

Oleh : Indrayani Indra

 

“Pergi gak, gak, pergi, pergi gak ya. Kalau pergi gimana kalau tidak juga gimana ?” kata Larissa mondar mandir di kamarnya. Mengetuk dua jari untuk menghitung kemungkinan. Sementara mengumpulkan keyakinan untuk berangkat, tangannya juga menggaruk kepala yang tidak gatal. Setelah cukup waktu yang diperlukan demi membulatkan keyakinan,  dia membuka pintu lemari dan menarik kerudung dari lipatan lalu secepatnya memasang peniti supaya ragu tidak kembali mengganggu. Di luar jendela kamar terang belum surup, jika bergegas dia masih sempat menemui anak muridnya itu di suatu tempat.

 

Di kelas lima pada pelajaran Bahasa Indonesia siang tadi, dia mendengar kidung dari tatapan mata yang mengarah padanya sebelum sang penatap membuang pandangan ke semak belukar melalui jendela. Dia ingin menghibur hati sang penatap namun urung gegara bel pulang sudah berkumandang. Sementara satu persatu anak-anak meninggalkan kelas, sang penatap memungut gumpalan kertas di sisi kakinya yang ditinggalkan seseorang kepadanya setelah  berseru “huuuu” untuk jawaban yang disampaikan tentang sebuah cita-cita. 

 

“Apa yang salah dari sebuah cita-cita ?” kata Larissa yang segera menjawabnya dengan “Tidak ada.”

 

Cita-cita ingin menjadi pahlawan bukanlah sebuah kesalahan.

 

Tidak ada yang keliru namun satu orang murid memermasalahkan cita-cita temannya melalui gumpalan kertas yang diterima pundak sang penatap sebelum gugur di tadah lantai. Larissa merasa bersalah walaupun dia tidak mencubit harga diri siapapun.

 

Setelah memasang kerudung dan mengenakan sepatu, sebuah sepeda yang tersandar di sisi lumbung padi keluarganya ditarik perlahan, dikeluarkan sambil sebelah tangannya mengusap sisa debu yang melekat di situ.

 

Jalan desa berlapis tanah yang tumbuh rumput liar di kedua sisi menghadang percepatannya.

 

Setelah berbelok memasuki jalan sejalur, mata dipertemukan dengan pemandangan sisi badan sungai. Jalan itu satu-satunya perantara mencapai rumah sang penatap. Menyusuri badan jalan di sepanjang alur sungai,  Larissa mendapati arus yang sedang ramah, warna air menyuguhkan kecokelatan yang berkilau diterpa cuaca cerah habis ashar. Udara mengirimkan sejuk melalui gerakan daun beringin yang tersipu dibelai angin. Walaupun belum pernah bertandang ke sana, Larissa mengingat sebuah tempat yang pernah dibicarakan sang penatap. 

 

“Rumahku menghadap sungai. Sungai itu bermuara ke laut.” katanya menghaturkan kata dalam senyuman. Lalu Larissa membungkuk, sambil saling menatap mereka mengulangi ucapan ;

 

“Laut adalah gambaran keluasan hati yang memaafkan.”

 

Kemudian tawa ringan pecah secara bersamaan.

 

“Adikku pasti senang jika Bu Guru datang,” kata sang penatap di sessi terakhir pelajaran. Mata mereka bertemu saat sang penatap mengucapkan harapan. Hingga berhari-hari setelah itu Larissa mengingat binar mata murid yang menginginkan kedatangannya pada suatu masa. Sekali-kali dirinya tidak menyangka jika ucapan sang penatap yang mengharapkan dia datang jadi kenyataan.

 

Mungkin rezeki muridnya mendapat kunjungan guru Bahasa Indonesia. Guru lulusan Perguruan Tinggi Islam yang memulai dan menutup pelajaran dengan berdoa dengan mengangkat tangan dan menundukkan kepala. Dia adalah guru yang menyisipkan kutipan kalimat motivasi diawal atau diakhir pelajaran.

 

Di jalur yang tumbuh rumput teki di bahu jalan, Larissa menahan laju roda sepeda dengan sebelah kakinya. Bukan karena jalan berlubang atau rumput teki yang menghadang namun Dia merasa melihat sosok seseorang. Di ujung jalan terdapat sebuah bangunan beratap daun nipah. Tiangnya ruyung. Seperti rumah yang ditinggalkan penghuni.  

 

Bukan karena menyaksikan pemandangan bangunan berdinding papan yang ruyung dia berhenti.

 

Di bantaran sungai di dekat belukar yang terdapat sebuah bangku dari selembar papan, seorang bocah duduk di situ. Tangannya menarik tali pancing namun seekor ikan lepas dari incaran setelah menghabiskan secuil umpan.

 

Larissa menghentikan langkah, memastikan pandangannya tidak salah tangkap. 

 

Sepeda disandarkan pada batang pisang yang berada samping jalan.

 

“Bu Guru, “ kata Sang Penatap merendahkan badan mencium punggung tangan menyambut kehadiran Larissa di situ.

 

“Belum dapat ikan,“ kata sang penatap tersipu mendahului pertanyaan Larissa untuk ember yang belum terisi ikan.

 

Mereka duduk menghadap tirta yang mandi cahaya. Desir air yang menyikut ranting kering membentuk irama. Aroma kayu basah yang dibawa arus menguarkan bau khas menimpa penciuman keduanya. Sinar matahari petang mengintip dari renggang daun kelapa, sejuknya menimpa kulit.

 

Dan Ups. Kail diangkat cepat. Mulut ikan menjerit tersangkut di sana. 

 

“Kita boleh merakit keyakinan untuk menjadi seorang berguna di masa depan.  Pahlawan adalah seseorang yang berjasa.”kata Larissa. 

 

Tangan sang penatap melepaskan kait ikan dan melabuhnya ke dalam ember yang lebih dari setengahnya diisi air.

 

“Saya ingin jadi pahlawan.” katanya dalam kunjungan Bu Guru Bahasa Indonesia.

 

“Sebuah cita-cita mulia,”kata Larissa mengusap rambut kepala muridnya.

 

“Saya ingin menjadi pahlawan.” katanya lalu mendadak sendu.

 

“Ada apa dengan pahlawan ?”kata Larissa mencari tahu.

 

 

 

Lalu senyap menyergap.

 

“Hanira…” kata sebuah suara dari dalam rumah yang terlihat ditinggal penghuni.

 

“Mari Bu, masuk Bu.” kata penatap mengajak Bu Guru setelah menerima panggilan sang Ibu.

 

Mereka berjalan beriringan, Larissa menenteng ember yang terdapat satu ekor ikan.

 

“Pahlawan. Bu Pahlawan dapat ikan.” kata sebuah suara lain.

 

Suaranya percaya diri namun pemilik suara tidak mampu menggeser badannya sendiri. Ia terperangkap pada sebuah kursi kayu yang memiliki sepasang pegangan tangan yang diberi roda.

 

“Pahlawan datang Bu, bersama Ibu Guru.” 

 

Sang Penatap menangkapa tubuh lemah adiknya dan menggantikan ibunya menyuapi makan.

 

Larissa terpaku.

 

Article Lainnya


Tragedi Minum Susu

Tragedi Minum Susu

Oleh : Indrayani Indra Umurku sekira enam saat itu. Saat doa terkabul hingga aku bertemu pa...

Pelajaran Mengarang

Pelajaran Mengarang

Cerita Oleh : Indrayani Indra Ruangan kelas bersalut riang sebelum dia datang. Sepasang dau...

 Menulis Setelah Luka

Menulis Setelah Luka

Cerita Oleh : Indrayani Indra Membuat karangan ? Meskipun tema bebas, itu tetap saja harus ...

Lelaki dari Shift Malam

Lelaki dari Shift Malam

OLeh : Indrayani Indra Sabtu. Akhir pekan yang lengang. Jalan raya kesepian dan alun-alun k...

JELAJAH