Kembali ke Artikel
Sang Bos Ilustrasi. (Google Image)
23 Sep/2020

Sang Bos

23 Sep 2020 Cerita

Kami bernyanyi mengikuti irama musik sambil mengerak-gerakan kepala dan tersenyum. Benar-benar tersenyum. Satu lagu selesai, diikuti lagu berikutnya dan seterusnya hingga satu-satunya penumpangku ini kelelahan. Ketika hening datang di antara kami berdua dan kulirik kepalanya mengelayut keluar dari sandaran kursi berlapis bulu rusa, aku mengulangi tersenyum. Tetapi kali ini sambil menaklukkan rasa getir dengan gemetar. Sabuk pengaman menahan badannya dan mata sembabnya tidak bisa merahasiakan bahwa dia telah mengevaluasi niat kerjasama. 

 

Sebelum kami, aku dan Laras menyanyi dan tertawa, dia sudah membasuh pipi dengan cerita dan pahitnya cairan airmata. Merah yang tertinggal di batas kelopak mata yang membengkak dan ingus yang ditarik dan sisa sedan menyela di celah dia tuturkan cerita. Aku melirik matanya yang tertutup bersama rasa iba. Terbit belasan kasih paling jatuh saat menangkap kemampuannya menerima realita. Itu semacam tamparan sekaligus mengokohkan takdirnya mengurus jalur bisnis keluarga. Ketika hanya ada dia bersama tim lapangan, tidak terduga pimpinan perusahaan itu masuk menggunakan cara tiba-tiba, maksudnya sekadar memeriksa kesiapan tim menunaikan tugas. Namun seperti seseorang yang mengenal latar belakang tamu yang ada di situ.  Sang bos meneliti.  “Siapa namamu ? katanya mengamati data diri Laras. “Ya, ya, ya…saya kenal orangtuamu. Tetapi mengapa ada dalam bisnis ini ? Ah jangan-jangan kemitraan cuma kedok supaya kamu bisa mencuri data kami untuk membesarkan perusahaanmu sendiri.” kata sang bos menyayatkan mata belatinya ke jantung harga diri Laras.   

 

Mataku menyorot alroji di tangan yang menyengkeram lingkar kemudi lantas membayangkan rasa sakit anakku.  Sambil menghela napas berat daguku terangkat, mendongak. ….diseruduk babi buta menyakitkan tetapi dicurigai akan mencuri data perusahaan. Ah. Rasa sakit memang tidak bisa dibuat-buat. Aku katakan pada Laras, perlakuan yang kamu terima bukan tentang kamu melainkan seseorang yang berkonflik dengan dirinya sendiri. Benar saja. beberapa bulan kemudian kami  mendapatkan kabar, sang bos dipenjara dengan  tuduhan menyalahgunakan data perusahaan untuk kepentingan pihak ketiga.

Article Lainnya


Sang Penatap

Sang Penatap

Oleh : Indrayani Indra “Pergi gak, gak, pergi, pergi gak ya. Kalau pergi gimana kalau...

Tragedi Minum Susu

Tragedi Minum Susu

Oleh : Indrayani Indra Umurku sekira enam saat itu. Saat doa terkabul hingga aku bertemu pa...

Pelajaran Mengarang

Pelajaran Mengarang

Cerita Oleh : Indrayani Indra Ruangan kelas bersalut riang sebelum dia datang. Sepasang dau...

 Menulis Setelah Luka

Menulis Setelah Luka

Cerita Oleh : Indrayani Indra Membuat karangan ? Meskipun tema bebas, itu tetap saja harus ...

JELAJAH