Kembali ke Artikel
Rumah Tidak Membakar Kenangan Ilustrasi dari cover buku 'A House in Memory' karya David Helwig.
11 Sep/2020

Rumah Tidak Membakar Kenangan

11 Sep 2020 Cerita

Sebuah rumah tinggal asal belum dilahap api walaupun berlumut dan bagian kayu dinding dan lantainya sudah lapuk dimakan usia dan tiangnya juga ruyung dan pagar teras berbahan  kayu pembatas dengan halaman tetangga sarat lubang di sana sini, rumah tetaplah sebuah tempat kediaman yang menampung seribu tujuh macam kenangan. Kenangan selama menempati rumah yang bisa dijangkau panah ingatan terjauh  hingga menyapu masa paling  kecil. Lalu cerita tentang rumah terus berulang. Kenangan yang terbangun dan bertumbuh dengan rumah tidak pernah bosan dibagikan diberbagai kesempatan berkumpul bersama sanak saudara.

 

Adzan maghrib sudah luruh lima belas menit lalu namun aku masih duduk dan menikmati bernapas lega lepas dari haus dahaga. Sementara kipas yang tergantung di langit-langit ruang duduk berdesing, aku tidak enggan meluluskan bunyi sendawa. Sendawa mengampu ruang udara pada rongga dada. Sehabis berbuka puasa hari Senin, aku tidak langsung menunaikan sholat maghrib. Usia mulai menuntut supaya memilih rehat sejenak sebelum memulai aktivitas ibadah yang akan selesai setelah melaksanakan dua rokaat sunat lepas sholat isya. Semoga Tuhan mengampuni shalat maghrib yang ku kerjakan pada pertengahan waktu hari itu.

 

Hari Senin kendati tidak janjian, semua anggota rumah menunaikan laku puasa. Sementara duduk di sebuah sofa, aku menuruti kehendak mata mengitari ruangan rumah, dan “Rumah keluarga kita itu luar biasa panjang, ya Mi,” kata Fatima anak perempuanku. Kami duduk berhadapan, dia sambil tersenyum menerbangkan ingatan pada rumah Nenek-Neneknya. Rumah keluarga kami, maksudku baik dari pihak suami atau dari pihak aku sendiri. Rumah kami dibangun orangtua dalam ukuran besar dan longgar dan minim ruangan. Porsi paling luas direbut oleh bagian ruang tamu yang mirip gedung pertemuan karena ukurannya. Mengambil tempat di rumah kami itu beberapa kegiatan penting dilaksanakan seperti acara pelantikan pengurus organisasi sosial keagamaan dalam skala kabupaten, saat itu ibuku menjabat sebagai ketua. Pertimbangannya karena ruang tamu rumah kami dapat menampung manusia sekira dua ratusan orang dan lebih.

 

Di ruang tamu  rumah itu, beberapa kali  lomba peragaan kebaya digelar dalam  peringatan hari kartini. Acara pengajian yang mendatangkan penceramah dari luar kota tidak terhitung jumlahnya. Pengajian kitab klasik saban minggu adalah kegiatan rutin di rumah itu. Ibuku sebagai pengajarnya. Pada malam hari saat penerangan ruangan diredupkan, melintas di ruang tamu untuk mendapatkan ruang keluarga menjadi semacam uji nyali bagi yang menabung perasaan takut gelap. Itu adalah aku. Lalu jalan pintas menuju ruang keluarga dihubungkan oleh sebuah ruangan pada bagian sisi rumah. Ibu memungsikannya sebagai kantor sekretariat organisasi sosial keagamaan yang dipimpinnya.

 

Rumah kami dengan ukuran bagai aula kantor pemerintahan itu, masih memiliki dua buah kamar tidur di lantai dua berukuran masing-masing 5x5 meter, kamar dengan teras luar menyerupai balkon pada kedua sisinya.

 

Tidak seperti rumah kediaman keluarga di masa kini. Lazimnya rumah-rumah di daerah perkotaan. Dibangun di atas lahan terbatas dengan konsep padat ruang. Sehingga meskipun bentuknya minimalis, ruang-ruang yang wajib ada dalam sebuah rumah pasti terpenuhi seperti ; kamar tidur utama dan kamar tidur anak yang disekat tegas dengan dinding bata. Ruang tamu yang kerap berfungsi sebagai ruang keluarga atau ruang makan bersatu ruangan dapur  dengan lemari dinding yang menampung barang kebutuhan memasak berikut peralatannya. Setiap rumah butuh toilet dan sekedar pengetahuan saja ; Hindari membangun toilet dengan dudukan bertatapan searah kiblat sholat. Pamali. Fakir adab terhadap Tuhan. Pun jika malaikat tidak mencatatnya sebagai dosa, tetap ingat satu saran : sebaiknya hindari membuat dudukan kloset dalam posisi menghadap kiblat layaknya seseorang akan beribadah sholat. Orang berakal bisa membedakan antara sedang sholat atau buang hajat.

 

Rumah kediaman kami berukuran 10x12 dengan kelebihan tanah 20x20 meter pada bagian belakang. Tiga tingkat di bawah ukuran rumah masa kecil. Rumah tinggal yang kami tempati ini adalah sebuah bangunan rumah berlantai dua yang dimanfaatkan untuk tempat tinggal dengan konsep padat ruangan. Walaupun ruang tamu atau ruang tengah tidak memadai untuk bermain sepak bola seperti yang dilakukan anak-anak di rumah Neneknya, sebagai rumah di perkotaan rumah kami masih terbilang berukuran besar.

 

 

Rumah selalu menyimpan rupa-rupa kenangan. Dan Fatima masih membanding-bandingkan antara rumah orangtuanya dengan rumah Neneknya. Rumah nenek tempat yang mereka habiskan secara gembira dengan sepupu-sepupunya bertumbuh menjemput usia dewasa.

 

“Waktu kecil, bersama sepupu-sepupu kita suka sekali main kejar-kejaran. Walaupun berteriak keras sampai suara serak, Nenek tidak akan mencampuri urusan kita. Bahkan tetangga tidak ambil pusing dengan apa yang kita lakukan.”kata Fatima.

 

Rumah kami, rumah tempat aku tumbuh dan besar dan rumah tempat anak sulungku  dilahirkan. di sanalah  tempat anak-anakku menghabiskan masa kecil, saban kami mudik liburan dan lebaran. Sebuah rumah yang mengabadikan pembahasan riwayat kehidupan. Pada saat aku dan adik-adikku masih kecil di rumah besar itu, kami pun pernah mengalami konflik hubungan bersaudara, perselisihan dan tidak saling berbicara. Sementara anak-anaknya belum bisa menangani konflik, kemudian orangtua turun tangan. Ibu kami akan mengajak duduk bersama dan membicarakan ganjalan yang membuat kami tidak sepaham. Duduk bersama mengelilingi meja makan adalah cara ampuh mengurai  kebekuan perasaan. Di rumah itu kami saling berbagi peran. Siapa mengerjakan apa. Tidak jarang jika giliran anak lelaki ambil bagian mencuci piring, mereka akan melakukannya dan perkara biasa jika baju kami yang perempuan basah setelah pekerjaan mencuci mobil di halaman depan.

 

Di ruang tamu setelah berbuka puasa dengan semangkuk tekwan olahan ikan berkuah, Fatima yang duduk di sofa lain di hadapanku melanjutkan  dengan ;

 

“Nenek tidak pernah marah dan selalu membiarkan kami bermain sesuka hatinya.” ujar Fatima masih menggenggam ingatan masa kecil bersama sepupu-sepupunya.

 

“Aku paling suka kalau main petak umpet, lawan main akan kesulitan menemukan karena butuh waktu menjelajah antar ruang. Di rumah Nenek perputaran matahari terasa singkat.” kata Fatima sambil menyisir rambut sepinggangnya dengan jari tangan dan berdesis karena kebanyakan menambahkan saos sambal dalam kuah tekwan.

 

“Hal paling menyebalkan adalah jika Paman Jadul mulai buka mulut. Ia akan menyuruh berhenti dan menghalau ke dalam kamar supaya kami tidur siang. Aku tidak suka tidur siang. “kata Fatima seperti seseorang yang menahan rasa kesal terhadap aturan sepihak yang dibuat Pamannya. Sampai sekarang pun dia jarang sekali tidur siang kecuali sangat lelah, sedang dalam masa penyembuhan atau tertidur. “Namun supaya terlihat patuh,” katanya seperti seseorang yang merasa menang,”Kami akan menurut lalu melanjutkan permainan lain di dalam kamar. Kami main pukul bantal atau melompat bahagia di atas matras ranjang. Mungkin Paman hendak memastikan perintahnya dituruti dan ketika ia memeriksa melalui lubang kunci kamar dan memergoki kami membangkang. Ia akan masuk membawa wajah garang. Bukan marah, Paman malah jadi peserta acara pukul bantal. Jika kelakuan kami diketahui Nenek, beliau tetap saja tidak marah.” Saat mengucapkan Paman menjadi peserta baru, pipi Fatima mengembang, memerah dan merasa cukup senang.

 

Aku ikut larut dalam kenangan Fatima. Rumah besar keluarga adalah tempat berbagi kegembiraan masa kecil walaupun di sana sejarah tidak melulu hal-hal berbau rasa suka dan gembira. Rumah itu adalah saksi tempat menyembahyangkan jasad Ayahku yang meninggal setelah seminggu dirawat sakit. Pertikaian antara aku dan kakak lelaki, lalu aku pergi dari rumah. Aku tidak pulang hingga malam, lalu Ayah membawa serombongan laki-laki dewasa dan menjemputku yang meringkuk  di sudut gudang tempat menaruh bilah-bilah rotan. Aku ketakutan, tetapi Ayah merasa lega. Mungkin dipikirnya aku hilang digondol hantu dan ia butuh bantuan beberapa lelaki dewasa untuk menumpas hantu, jika memang hantu itu ada. Sejak itu sikap kakak menjadi baik, mungkin ia ketakutan kalau aku benar-benar hilang dimakan hantu atau mungkin juga ia merasa bersalah pada Ayah gegara tidak becus menjaga adik perempuan yang seharusnya diurus, diawasi dan dimengerti.

 

Tetiba Fatima meloncat pergi dari tempatnya duduk. “Ayahnya keluar dari kamar dan bersiap tadarus menunggu waktu isya tiba.

 

Aku beringsut setelah merasa hangat dan memastikan darah cukup mengaliri setiap inci pembuluh. Ada kekuatan tambahan, tenaga baru hasil dari protein yang diproses dalam semangkuk tekwan.

 

Aku sholat dulu.

 

*

 

Di tempatnya yang terhubung dengan colokan untuk mendapatkan asupan daya, telepon pintar tergolek gelisah sebelum berteriak. Deringnya merobek tengah malam. Ada sesuatu yang gawat sehingga seseorang perlu mengabarkan berita darurat. Dari nyala setengah kesadaran aku tahu asal suara bukan dari alarm yang membangunkan sholat malam.

 

Benar saja, nama kakak iparku terpampang dalam layar panggilan. Belum sempat aku berkata hallo, dia sudah menggelontorkan ungkapan kepanikan dan duka tiada tara.

 

“In, Iin…rumah kita.”

 

“Kenapa rumah kita ?” kataku yang seketika membuka mata selebar daun dunia.

 

“Api. Lihat sekarang, api tengah melalap rumah kita. Asal api dari ruang tengah rumah kita. Rumah kita membara dan api memakan apa saja yang ada. Rumah tetangga juga dilahapnya.”

 

Aku duduk, tergugu, tersedu dan merasa kehilangan yang tidak bisa digambarkan dalam sebaris cerita pendek ini.  Rumah kami tidak ada lagi. Namun kenangan di dalamnya tidak turut terbakar. Api atau apapun jangan coba-coba memberangus ingatan tentang jalan panjang yang kami lalui di atas lantai rumah itu. Jangan coba-coba sebab kenangan akan selalu diperbincangkan supaya seseorang tetap punya hasrat hidup. (*)

Article Lainnya


Bunga untuk Pagi

Bunga untuk Pagi

SINAR pagi yang menenangkan belum muncul ketika aku menggeret motor, berjalan agak memiring, melalui...

Menyewa Tukang Adzan

Menyewa Tukang Adzan

DUA minggu ini selalu teriakan Alpiansyah yang memekak telinga melalui alat pengeras suara musholla....

Bulan Dalam Cangkir

Bulan Dalam Cangkir

Kafe dengan penerangan sedang itu buka lebih awal dari biasanya. Letaknya yang agak sedikit masuk da...

Balapan Liar

Balapan Liar

Sebuah balapan liar mengamuk dan membenturkan satu kepala ke pucuk median jalan di atas akar tiang l...

JELAJAH