Kembali ke Artikel
Respect Yourself : Non Fiksi yang Lebih Memikat dari Novel sumber gambar : medium
16 Oct/2020

Respect Yourself : Non Fiksi yang Lebih Memikat dari Novel

16 Oct 2020 Buku Gaya

Patricia Spadaro adalah seorang praktisi spiritual. penulis dengan predikat pemenang penghargaan buku nasional di Amerika Serikat. ia bukan peneliti pemilik banyak gelar. hanya seorang sarjana ilmu psikologi. mungkin itu jawabannya mengapa membaca buku ini serasa membaca novel. karena bahasa yang mengalir cenderung seperti paparan seorang teman. dengan dukungan jurnal ini itu. ia praktis, karena sambil membaca pembaca juga otomatis merasa. 

 

jika novel bercerita tentang kisah tokoh lain, maka buku ini me-novel-kan perasaan diri sendiri. relatabilitas yang tinggi membuat aktivitas membaca non fiksi ini lebih memikat dari novel.

 

buku ini adalah tentang seni memahami paradoks dalam mencintai diri sendiri tanpa kehilangan peran bagi dunia. keterampilan mengatur tempo kontribusi. tentang kapan harus memberi dan menerima. melihat jauh dalam diri. menerima dan bersyukur sebagai pondasi untuk memberi lebih banyak.

 

Merayakan Sebuah Akhir dan Melanjutkan Hidup

 

dimulai dengan tiga pertanyaan sederhana : apakah kita bahagia ? jika tidak bahagia, mengapa tidak melakukan sesuatu untuk menyelesaikannya ? mengapa tidak berjuang untuk menolong diri sendiri ? 

 

kebanyakan jawabannya adalah berupa penjelasan tentang rintangan. 

 

batu sandungan terbesar dalam upaya mengubah situasi yang kacau balau dalam hidup kita menuju arah yang benar  adalah karena kita merasionalkan bahwa kita tidak punya pilihan lain selain menoleransi apa yang tidak bisa ditoleransi. bahkan sebagian dari kita menoleransi situasi yang benar - benar berbahaya karena kita tidak percaya bahwa kita layak mendapatkan yang lebih baik.

 

kita berhak untuk membebaskan diri kita dari hal yang menyakiti dengan mengatakan tidak dan menyingkir. kita bisa menanggapi serangan orang lain dengan menghargai diri sendiri melalui cara berhenti menyalahkan diri sendiri atas tindakan orang lain yang tidak pantas. 

 

memilih untuk menghargai keinginan hati dan membebaskan diri dari satu situasi yang mungkin tepat bagi orang lain namun tidak tepat bagi kita sama sekali tidak buruk. dunia tidak akan berakhir hanya karena kita mengungkapkan keinginan dan mengatakan “maaf, tapi saya tidak bisa”.

 

jika sepatunya cocok, pakailah. tetapi jika itu dilemparkan kepada kita untuk dipakai dan kita merasa tidak cocok, kita tidak perlu berpura - pura menganggap itu cocok dan nyaman dipakai. kehidupan bukan formula satu ukuran yang sesuai untuk semua. mengucapkan selamat tinggal pada sebuah situasi yang tidak sesuai artinya kita menciptakan celah bagi keberkahan baru untuk masuk ke hidup kita. celah bagi tuhan untuk menciptakan keajaibannya.

 

Belajar Menghargai Hari Ini

 

kita semua tahu bagaimana rasanya dikuasai oleh perasaan kita. perasaan dapat secara tiba - tiba memicu ledakan kenangan yang menyakitkan dari masa lalu atau ketakutan akan masa depan. sebelum kita menyadarinya, kita melakukan perjalanan waktu. kita tersesat dalam kisah lain. alur cerita yang panjang dan berkelok dalam kepala berperan sebagai kenyataan. 

 

tapi masa lalu sudah berlalu dan masa depan belum terjadi. tidak satu pun dari hal tersebut merupakan kenyataan. ketika pikiran kita mengembara kemana - mana dan tidak berada di sini di hari ini, saat itulah kita hanya mengejar bayangan.

 

kaum bijak mengatakan bahwa kita tidak akan pernah menemukan kedamaian dengan meratapi masa lalu  atau mereka - reka masa depan. jawaban - jawaban yang kita cari selalu ada di masa sekarang. tetapi kita tidak bisa mengenggam keberkahan masa sekarang bila kita berputar - putar di masa yang lain.

 

masa depan memang penting. tapi masa kini sama pentingnya dengan gambaran besar di masa depan. tindakan kita dan definisi diri yang kita pilih hari ini adalah hal yang memberi masa depan makna dan momentum. berusaha mencapai tujuan jangka panjang dan tetap terhubung dengan masa kini bukan dosa. yang satu tidak merugikan yang lain. keduanya berjalan secara sinergis.

 

mari belajar mengapreasiasi indahnya hari ini. hari ini meminta kita untuk berhenti tergesa - gesa melewati momen untuk berlomba mencapai garis tujuan. hari ini mengajak kita untuk sabar melewati proses. hari ini menjaga kita untuk tidak kehilangan kemampuan menikmati perjalanan akibat berusaha keras menyamai langkah orang lain. 

 

pada akhirnya, hari ini menyampaikan pesan kuat bahwa ketergesaan hanya akan menciptakan penyesalan. tidak ada kepuasan hakiki dari mencapai garis akhir hanya untuk menengok ke belakang  dan melihat jalan bertaburan dengan orang - orang yang terluka karena kita jegal, dorong ke samping, atau kita abaikan.  tidak ada rasa bahagia sejati dengan kesuksesan di garis akhir karena ambruk setelah bertahun - tahun mengalami tekanan tanpa henti dan tidak memiliki kekuatan untuk menikmati apa yang telah kita hasilkan di akhir perjalanan.

 

Keluar dari Jebakan Distorsi Perasaan

 

bersikap terbuka dan baik bukan artinya kita harus menempatkan diri dalam situasi berbahaya. ada perbedaan antara hati yang terbuka dan kebodohan.

 

perasaan memang bisa mendistorsi dan membuat kita jatuh. dalam ranah emosi, ada paradoks bahwa perasaan dapat membimbing dan menyesatkan kita bila kita membiarkannya lepas kendali. maka dari itu, alih - alih sama sekali mengabaikan perasaan atau membiarkannya membanjiri kita. ada jalan tengah yang dapat kita tempuh : kita bisa belajar menyambut perasaan tersebut dengan hati terbuka. kita bisa mengakui perasaan kita tanpa membiarkannya mengatur kita. menerima emosi artinya kita menerima diri apa adanya.

 

walaupun terdengar bertentangan. dengan membuka diri terhadap pengalaman tidak menyenangkan dan menerima diri apa adanya. maka kita akan bisa bergerak dengan mudah melewati jebakan distorsi perasaan. hal ini karena kita tidak lagi membuang tenaga untuk melawan, menyerang, bersembunyi, dan menyangkal apa yang terjadi. pada saat kita menerima perasaan sebagaimana adanya, kita telah mengambil langkah besar menuju penghargaan diri. tidak melakukan perlawanan membuat kita bebas untuk mengambil tindakan praktis yang diperlukan untuk membantu diri sendiri dan orang lain.

 

bisa dipahami mengapa kebanyakan dari kita kesulitan menerima perasaan apa adanya. karena secara alami ketika melihat apapun yang tidak nyaman, menyakitkan, atau membuat stress di hadapan kita, kita terdorong untuk mengesampingkannya. melarikan diri atau dengan putus asa memperbaikinya agar hal tersebut menghilang. otak kita langsung mengambil kesimpulan tanpa memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi. otak mendesak reaksi melawan dan menghindar untuk mengambil alih.

 

reaksi ini menciptakan jeram emosi negatif yang terus berbenturan. menumbuhkan lebih banyak agitasi dan lebih banyak hal untuk ditentang. sementara harfiahnya adalah dimana ada agitasi, maka di situ pula tidak ada kedamaian.

 

jadi, harus bagaimana ?

 

hadapi pengalaman itu dengan perhatian tenang dan terfokus. kenali dan terimalah keadaan sebagaimana adanya saat ini. kemudian lakukan cara - cara praktis untuk membuat diri anda nyaman sebagaimana yang anda lakukan terhadap anak sendiri atau teman yang sedang kesulitan. saran Dr. Jeffrey Brantley, pendiri dan direktur Program Pengurangan Stres Berdasarkan Kesadaran Penuh di Duke University Centre untuk Pengobatan Integratif.

 

mengapa begitu sulit keluar dari posisi tenggelam dalam pikiran dan perasaan negatif ? salah satu penyebabnya adalah karena kita memiliki perasaan intens seperti kecemasan dan ketakutan. pada saat itu terjadi, sulit memisahkan apa yang kita rasakan dari apa yang sebenarnya. ujar Dr. Brantley. maka saat momen itu kita harus terus mengingatkan diri bahwa kecemasan dan kepanikan yang kita rasakan bukanlah diri anda sesungguhnya. 

 

drama dan trauma yang terjadi di sekeliling kita bukanlah diri kita sebenarnya. perasaan - perasaan tersebut hanyalah kondisi yang mengalir keluar masuk pada saat sekarang. seperti nafas, kita boleh jadi menghirup udara polusi tidak menyehatkan. tapi seiring pertukaran oksigen dalam darah, udara tersebut juga akan keluar dengan sendirinya. 

 

dengan berusaha mencapai sebuah kondisi pikiran yang tenang dan sadar bahwa ini hanya sementara dan ini bukan diri kita sebenarnya, kita akan lebih mudah membiarkan pikiran dan perasaan negatif muncul tanpa perlu tersesat di dalamnya.

 

Pendekatan Kreatif yang Berpusat Pada Hati

 

kita memiliki kebutuhan pada empat level spiritual hidup kita : fisik, emosional, mental, dan spiritual. ajak diri sendiri komunikasi dengan bertanya “bagian diri saya yang mana yang membutuhkan perhatian saat ini ?” jika jawabannya merasa rapuh secara emosional, kita mungkin membutuhkan lebih banyak istirahat atau olahraga. bila jawabannya merasa bosan secara mental, carilah stimulasi tantangan baru. mungkin dengan menghadiri sebuah acara baru, mengembangkan hobi, atau ikut kursus. bila jawabannya merasakan kekosongan spiritual dan kehilangan makna dalam hidup, lakukanlah sesuatu yang membantu untuk kembali terhubung dengan jiwa. 

 

Dennis Novack dari Drexel University Collage of Medicine mengatakan bahwa molekul - molekul dalam tubuh kita responsif terhadap lingkungan psikologis kita. kaum bijak mengajarkan bahwa hati yang tenang dapat menuntun kita menuju solusi terbaik untuk masalah apapun. ketika kita tenang, molekul dalam diri kita akan mengarah pada satu elemen terpenting yang menjadi alasan kita hidup : hati.

 

ketika kita selaras dengan hati kita, kita akan tahu kapan waktu yang cocok untuk menetapkan batasan demi kebaikan semua yang terlibat dan kapan waktu yang tepat untuk melupakan batasan tersebut. kita memang selalu harus berhadapan dengan situasi di luar jalur dan kendali kita. namun ketika kita tetap sadar dan mendengarkan hati kita, percayalah kita akan mampu melihat apa yang perlu dilakukan dengan lebih jelas.

 

pendekatan kreatif yang berpusat pada hati, akan menuntun kita menemukan hakikat kita. kita mengetahui apa yang mampu kita berikan. kita belajar bahwa, yang bisa membuat keadaan berbeda adalah tidak hanya tentang apa yang mampu kita beri, tetapi kapan dan bagaimana kita memberi. karena aktivitas hati yang kreatif tidak hanya merupakan reaktor, tetapi juga aktor. tidak sekedar imitator, tetapi juga kreator. 

 

mengapa kreator ? karena setiap hari kita dianugerahi jatah energi untuk melaksanakan apa yang kita kehendaki. energi ini yang membuat jantung berdetak. membuat kita bernafas, membuat kita memiliki stamina untuk menjalani hari. 

 

kita adalah asisten kreator tuhan. tuhan ciptakan skenario dalam bentuk takdir. dan kita diserahi tanggungjawab menakjubkan untuk melaksanakan takdir tersebut. kita bisa melakukan banyak pekerjaan yang baik dengan kelimpahan kita ketika kita menggunakan kelimpahan itu dari hati. live your life. bahagia adalah mereka yang memahami arti keberadaan diri dan menciptakan hidup sesuai keselarasan hati.

 

 

Penulis : Faizah Riffat

Editor : Ahmad Fuad

Article Lainnya


Dinding Bata dan Sesap Kopi

Dinding Bata dan Sesap Kopi

Inway # 118 Oleh :Rusmiati Indrayani Di masa pandemi bisnis penjualan ...

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

PARADASE.id - Program pelatihan pemasaran bagi para pelaku usaha sedang digodok oleh Dinas Tenaga Ke...

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

PARADASE.id - Potensieksporkomoditas non migas dan batubara terus dikembangk...

Kiat Menjual Tanaman Hias Daring

Kiat Menjual Tanaman Hias Daring

Oleh: Inui Nurhikmah PARADASE.id - Demam tanaman hias melanda Indonesia lagi. Jika tahun 20...

JELAJAH