Kembali ke Artikel
Referensi Judul Makanan
14 Sep/2020

Referensi Judul Makanan

14 Sep 2020 In Way

Inway #112

 

Saat mengetik kata pertama menulis inway edisi ini, saya belum menyiptakan judul. Kendati belum ada judul  sedari subuh dini hari, sederet organ paragraf berbetulan merengek minta dipadukan dalam satu tulisan. Menulis inway bagi saya menjadi semacam kanal pelepasan informasi “budaya”. Budaya pribadi, keluarga dan suku kami. Kamu tahu, kata budaya memuat selaksa makna, nilai, pengertian dan lapisan yang tidak pernah habis dikuras. Berbeda dengan kue lapis yang pasti selesai. Selama terus dimakan, tuma’ninah mencabut lembar demi lembar, cepat atau lamban pada akhirnya kue lapis di tangan lenyap berpindah ke perut. Itu tentang mengudap kue lapis. Setubuh dengan keluarga makanan, saya mengendus issu makanan adalah yang selalu mengilaukan cahaya. Apalagi sedang lapar, cukup hanya berpikir, makanan biasa terbayang begitu istimewa. Lidah sudah bias mengangkakan penilaian seturut meliurkan makanan di saat perut sedang keroncongan.

 

Dalam pilihan menata menu makan, saya beruntung tinggal di kota Bontang. Referensi menu makanan bergairah dan kaya karena di sini berdiam  beragam anak suku nusantara. Selera makan keluarga yang berakar budaya Banjar mengalami perkawinan rasa. Meskipun loyal menghidangkan masakan  kampung halaman  di meja keluarga, namun lingkungan menyediakan ruang gerak untuk menyalurkan hasrat mencicipi menu makanan suku lintas nusantara. Di kota ini mudah sekali menjebak gado-gado madura dan rujak mie palembang, ada mie aceh, soto lamongan juga rendang padang. Dari siomay bandung, lalu nasi uduk kebun kacang. Ada ayam lodo dan semar mendem. Semua dijangkau dengan sekali jalan, sekali melangkah keluar rumah.

 

Jika membincangkan kuliner yang ada di kota taman, makanan seperti coto makassar, kapurung, barobbo, pallu bassa, dan bolu pecak jangan sampai dilewatkan. Kota ini dihuni suku Bugis dan Mamuju, Dayak, Sumatera,  Jawa, Banjar Juga Melayu, Batak dan Sunda, orang Madura juga ada. Pelangi membentang dari kesatuan anak suku berbagai daerah. Mereka singgah, menetap dan tinggal hingga menggemukkan pohon keturunan dari masa ke masa.

 

Pergaulan sosial masyarakat menularkan pengaruh terhadap perkembangan budaya keluarga. Anak-anak kami yang kedua orangtuanya lahir dan besar di tanah Banjar khahuripan, dikenal kental cengkok bahasa Banjar. Tetapi si kembar hampir tidak tercetak cengkok bahasa daerah. Lantas Fuad yang liat logat Jawa Timur-nya. Mendapati Fuad berbicara, pendengar jangan terperangkap dan  menyangka  suku asalnya dari Jawa. Sekali-kali tidak, jika mereka tahu atau diberitahu tentang Fuad anak siapa. Lalu si bungsu, Farhan bercengkok “bugis” dalam tuturan. Saya belum lagi mendengar Farhan mengeluarkan satu-dua kalimat  bahasa Bugis dan ia sama sekali tidak paham aksara lontara, namun aroma Bugis singgah dalam gaya suaranya. Di bagian aksen Bugis, seperti  sebuah hukum tidak tertulis, keberadaan dialek Farhan tidak selalu dialamatkan dengan pemilik asal suku. Warna logat bahasa Bugis sangat umum ditemui pada anak-anak yang lahir dan bertumbuh besar di kota Bontang.  Farhan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Tidak menguasai bahasa Banjar sebagai bahasa ibu. Tidak juga mahir membunyikan kalimat dari kata-kata berbahasa Bugis atau Mamuju. Bahasa Jawa sedikit lancar dan bahasa Banjar harus sering mendapatkan latihan supaya lihai.

 

Dari bahasa, sekarang kita pindah ke meja makan. Referensi judul makanan anak sekarang bukan main ragamnya. Dari bahasa cakapan berkembang istilah-istilah yang mereka karang sendiri. Sebut saja piscok dari pisang cokelat atau jasuke kepanjangan dari jagung, susu, dan keju. Pipilan jagung rebus yang diberi tambahan susu kental manis dan keju parut. Makanan bergaya kekinian mengepung kuliner mereka membentuk budaya baru. Anak-anak saya, meskipun orangtuanya  anak suku asli Kalimantan, dalam urusan makanan tidak luput dari jangkauan kemajuan teknologi olahan pangan. Mereka sedang berada pada era ketika makanan melibas sekat-sekat tipis peradaban. Maksud saya. Betapa orang sekarang begitu mudah terjerembab menikmati  makanan berkonsep kekinian. Makanan kekinian itu menyerbu dapur-dapur kafe yang menjamur. Makanan dengan ornament berat melibatkan lemak tinggi, tepung, dan gula dalam penyajiannya. Sebagai orang tua, tidak sekali-dua kali saya terperanjat melongok Fatima, atau Farhan atau Fuad atau Riffat mengunyah makanan dalam mangkuk kertas yang diantar kurir ke rumah. Selain cara mendekatkannya kelewat mudah, anak-anak memiliki daya pilih tidak terbatas dalam menentukan menu makan, siang dan malam.

 

Menjalani peran ibu dengan empat anak berusia dewasa, kegiatan menyediakan hidangan makanan mulai bergeser. Saya masih memasak sesekali di antara porsi waktu untuk diri sendiri, untuk menulis, membaca dan melakukan hobi. Melihat ibunya memasuki ruang “bersemedi”, secara alamiah anak-anak mengandalkan kemampuannya mengenyangi perut sesuai tuntutan rasa lapar, itu terjadi jika saya dalam situasi malas memasak.

 

Namun perkara melayani keluarga, saya kata ada dua fungsi ibu yang sulit diwakilkan. Pertama memasak dan kedua berdoa. Dengan kemajuan teknologi,  masalah pilihan makan anak-anak bisa diatasi. Tugas memasak bisa diwakilkan pada kafe dan warung makan yang menjual jenis makanan tertentu. Tetapi persoalan berdoa, sampai hari berbangkit tiba, doa saya tetap jadi jimat keramat. Saban memasak untuk keluarga bumbu rahasia yang saya tambahkan dalam masakan adalah doa dan cinta. Bumbu ini tidak diperjualbelikan. Bumbu yang diambil dari benih munajat sepanjang masa melahirkan olahan masakan sederhana menjadi sempurna. Bumbu ini merupakan sebuah resep keluarga yang tidak saya jaga ketat kerahasiannya. Artinya siapa saja boleh membawa lari dan menjadikan sajiannya sendiri.  Apabila saya berangkat ke ruangan dapur dari alas sajadah, surah sajadah dan surah khos (surah masyhur ) dalam al-qur’an terdengar lantunannya di sela desing minyak goreng atau kuah sayur yang meletup-letup. Sekalipun cuma tumis kangkung dan ikan goreng namun di lidah anak-anak saya, makanan yang lahir dari tangan ibu nya tetaplah  tiada tanding. Memang selain “bumbu khusus”, saya tentu saja menambahkan bumbu dasar seperti bawang putih dan bawang merah. Dalam mengolah kangkung, saya mengakali dengan memasukkan udang atau irisan bakso ayam diperkuat saos tiram dan minyak ikan. Bebas MSG. 

 

Pada waktu ketika ingin bermain-main di dapur. Saya menyisingkan lengan menggiling olahan daging sapi atau ikan atau ayam. Bakso ayam dan bakso sapi dan empek-empek. Semua saya siapkan sendiri mengandalkan bantuan teknologi dari produk rumah tangga berkualitas tinggi.

 

Keuntungan lain menjadi orang Banjar yang berdiam di kota Bontang adalah memiliki referensi kuliner beragam. Di lidah anak-anak, penerimaan atas masakan Jawa hampir sependirian dengan kuliner Banjar. Soto lamongan menjadi makanan kegemaran. Jika harus memberi suara untuk menu makan siang antara soto banjar dan soto ayam (lamongan), soto lamongan adalah pemenangnya. Namun kurang elok jika membelakangi soto Banjar. Makanan berkuah yang dikawal perkedel kentang dan suwiran ayam dan irisan telor rebus dan jeruk nipis dan rasa pedas dari merica dan cabe rawit ini, adalah sajian wajib untuk suguhan di hari lebaran dan perayaan.

 

Menjalani peran ibu di usia saya sekarang, kiranya menjadi bijak adalah sebuah keharusan. Saya harus tahu diri dengan keterbatasan fisik yang menjadi jarak antara makanan dan tuntutan menghidangkannya. Budaya suku Banjar lazim menyiapkan makanan segar sesaat sebelum disantap. Membuat olahan menu tiga kali sehari bersamaan dengan waktu santap makan, bukan pemandangan langka. Namun  saat ini, saya bukan lagi seseorang anak suku yang fanatik. Ada pergeseran budaya keluarga seiring tingginya kebutuhan manusia modern meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan mental. Timbunan karbo dan minyak yang mengubah diri menjadi gula sudah seharusnya diwaspadai. Pemikiran ini melahirkan kebijakan dalam manajemen makanan. Landasan dasar makan bukan lagi asal kenyang. Patokannya adalah memeriksa ; tiga JE jadwal makan, jumlah nutrisi dan jenis pilihan makanan. Sedangkan selama masa pandemi melaksanakan puasa sunat menjadi budaya keluarga yang tercipta secara tidak sengaja. Rupanya memedulikan kesehatan mental melalui laku puasa telah dinikmati manfaatnya yang begitu melapangkan jiwa. 

 

Mulut senantiasa menjerit minta disuapi. Hanya kuasa puasa yang sanggup menghentikan rongrongannya dari mengunyah sesuatu. Sesuatu, apapun itu.

Article Lainnya


Diary of Auckland : Meet The Heroine

Diary of Auckland : Meet The Heroine

Menjadi berbeda pun, Tuhan beri jalannya.... Nun jauh di negeri kiwi sana. seseorang mengan...

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PARADASE.id -Lesunya sendi-sendi perekonomian akibat pandemi, tentunya berdampak pada penurunan Pend...

Pomodoro

Pomodoro

Inway #115 Selamat Hari Ulang Tahun Si Kembar. Tulisan ini terlambat. Seharusnya t...

Hari Pertama Bertugas, Pjs Wali Kota Bontang Riza Kumpulkan Kadis, Camat dan Lurah

Hari Pertama Bertugas, Pjs Wali Kota Bontang Riza Kumpulkan Kadis, Camat dan Lurah

PARADASE.id - Riza Indra Riadi mengajak seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat da...

JELAJAH