Kembali ke Artikel
Ratapan Sang Ambulance
08 Mar/2021

Ratapan Sang Ambulance

08 Mar 2021 In Way

Inway # 136

 

Oleh : Rusmiati Indrayani

 

Setiap ratapan ambulance menyiarkan tiung-tiung yang perilakunya berlari di jalan raya yang mengejar dua tempat ; rumah sakit atau kuburan, saya yang mengetik huruf-huruf di ruang kerja sedang merasakan nadi yang menyiut. Pembuluh kerja menyempit dan mood terpapar semacam suasana berkabut. Mudah sekali sebuah semangat mengempis. Mengerucut bagai balon tanpa pengikat. Memang melejit di udara sesaat lantas mengejang, menerjang angkasa lantas bingung sebelum jatuh terhempas menimpa lantai semesta lantas lumpuh, melandai lantas kembali pada titik kejadian asal. 

 

Saya mencakapkan sebuah balon. Balon yang ditujukan sebagai atribut ulang tahun atau simbol kegembiraaan. Keadaannya mengembang sedemikian rupa. Tetapi jika peniupnya lupa membubuhkan penutup maka bingunglah keadaannya. Sebuah balon yang terlepas dari tangan kemudian melambung, dia menggemparkan kegelisahan di luar kesadarannya untuk bertekuk lutut seperti sebelum ditiup.

 

Kejadian tentang ratapan ambulance sebagaimana judul inway edisi ini bukanlah tentang sebuah balon. Keterlaluan jika saya menyetarakan antara balon udara dan akhir usia manusia.

 

Namun pergerakan warna merah di atap ambulance dan desing sirene meraung-raung dan munajat dan doa husnul khatimah dan orang-orang merafal harapan dan kesakitan dan detik-detik terakhir dan seseorang yang terbaring di kabin ambulance adalah tentang ; drama sebuah kesudahan.

 

Biarlah ambulance bergegas ke rumah sakit atau kegatannya yang lain. 

 

Di kediaman saya masih menjangkau derap keramaian lalu lintas di jalan lapis pertama. Deru kendaraan di badan jalan terdengar dari ruang kerja. 

 

Jalan Imam Bonjol adalah salah satu akses menuju komplek pekuburan pisangan (kecamatan Bontang Barat). Ketika pecahan kesedihan ditebarkan melalui tiung-tiung ambulance, pikiran penduduk sekitar jalan Imam Bonjol adalah pekuburan. Apalagi hari jumat. Hari persaksian paling keren untuk waktu perpisahan.

 

Tiung-tiung yang melintas di jalan Ahmad Yani atau Imam Bonjol bukan monopoli ambulance menyambangi jalan pisangan. Bisa jadi ambulance menembus jalan Ahmad Yani lalu ke jalan Imam Bonjol menuju RSUD Taman Husada. Kemungkinan lain adalah ambulance terburu-buru mengirim pasien ke rumah sakit Amalia di pusat kota. Namun terbuka kemungkinan bahwa tiung-tiung yang berteriak bukanlah ambulance. Jika bukan lalu apa ? Lalu melintas kendaraan pemadam kebakaran atau bisa juga mobil polisi pengawal (patwal). Antara ketiga kemungkinan tersebut tersangka paling sering memang ambulance. Kereta kencana dicat suci memuat jenazah melintasi jalan Imam Bonjol.

 

Ada tiga jenis kendaraan yang menggunakan sirene. Antara pejabat yang melintas atau pasien gawat darurat atau kendaraan pemadam kebakaran yang hendak melipat jarak menyasar inti api membakar. Dari  tiung-tiung tersebut terdapat kesulitan imajinasi sampai melihat wujudnya sendiri.

 

Tentang kendaraan mayat atau kereta kencana.

 

Dalam seminggu ini dua hari berturut-turut modin mushola Baitu Quddus mengumumkan berita duka. Mushola Baitul Quddus sejarak dua puluh langkah kaki dari teras depan dan belakang rumah. Ketua amal kebajikan mushola dengan suara khasnya ketika menyebut ; innalilahi….adalah sesuatu. Sesuatu  yang mampu menghentikan pena dari kertas dan mengatupkan mulut dari bercakap, penasaran mendengarkan kelanjutannya tentang ; siapa lagi yang telah pulang.

 

Hari pertama yang berangkat kepada Allah taala adalah warga RT sebelah. Seorang lelaki usia kakek-kakek yang menjadi kesatuan jamaah dengan jamaah mushola baitul quddus. Hari kedua berangkatlah seorang perempuan, ibu dari warga perumahan yang secara usia sangat alamiah untuk pergi selamanya. Hari ketiga pengumuman duka tersiar dari masjid RT tetangga. Masjid tersebut dipisahkan sebuah sungai namun gema adzannya jernih diterima telinga warga perumahan. Di sana yang meninggal adalah istri dari pengelola masjid tersebut.

 

Walaupun kabar kematian saya terima dari dalam rumah melalui TOA masjid, tidak urung mood baik terpapar juga. Ada perasaan kelabu bagai langit biru diterpa masalah lalu warna langit menjadi abu-abu. Jika langit menunjukkan perubahan warna saya duga dari situlah muasal lukanya rasa ceria.

 

Kematian adalah masalah waktu. Tidak bisa maju atau mundur barang seperdelapan lintasan debu. Tidak bisa, sebab kontrak sudah ditekan di alam malakut. Kesepakatannya ; siap berangkat sesuai titah. Kapan saja. Baik siang atau malam dengan atau tanpa sebab, kematian menyergap tidak peduli walaupun hari masih gelap.

 

Kemaren saya tidur habis zuhur dan bangun sekira pukul 14.00. Buka HP. Pemberitahuan di group kampus mengabarkan maklumat : Ketua STAI Sangatta, lembaga tempat saya bekerja beliau telah dipanggil menghadap Robb untuk selamanya. Rumah besar Perguruan Tinggi Agama Islam Kutai Timur berduka. Waktu maklumat kematian setengah jam sebelum saya baca. Tanpa berpikir tiga kali, saya melayat menuju Sangatta dan sebelum dua jam tiba di alamat duka. Sampai di sana dari seorang pelayat memberitahu kereta kencana yang memuat jasad Pak Ketua dalam perjalanan ke Sangatta. Saya sama sekali tidak mengetahui kalau Pak Ketua dirawat di rumah sakit PKT Bontang dan mengakhirkan napas penghabisan di sana.

 

Bersama beberapa teman-teman dosen, kami membongkar kesan keterkejutan. Pertemuan terakhir yang kami ikuti bersama beliau adalah rapat sebaran mata kuliah. Saat duduk di kursi pimpinan, beliau masih bugar meskipun wajahnya tampak layu dengan kulit yang menyusut. Selebihnya terdengar kabar beliau dirawat di Klinik PKT Sangatta dan boleh dijenguk dengan peraturan yang berlaku ketat. Kami maklum sebab masa pandemi masih membayangi namun siapa yang bisa menyangka bahwa segalanya berlalu begitu cepat hingga tidak terduga.

 

Sakit bukan syarat mati. Namun saat berurusan dengan sakit sepertinya setiap detik adalah getir menuju akhir . Sekalipun tidak selalu seperti itu. Dalam minggu ini juga, Ada seorang kerabat yang dikabarkan meninggal. Anggota group WA sudah berderet menyetorkan ucapan duka, eh pada sore hari seorang anggota group mengancel kabar terdahulu. Sambungan video kepada si sakit adalah bukti bahwa yang bersangkutan masih hidup.

 

Seperti lawakan tetapi jangan tertawa berlebihan. 

 

Mati adalah perkara menutup urusan. Terkatup mata untuk selamanya dan sebuah kepergian memilukan yang hanya bisa disusul dengan kematian itu sendiri. Tidak ada penelitian tentang bagaimana keadaan orang-orang setelah mati. Dangkalnya pengetahuan tentang alam baqa mengharuskan manusia mengimaninya. Hanya dengan iman ketakutan akan kematian terselami. Dari penerimaan takdir keikhlasan dapat ditegakkan.

 

Meskipun berat badan saya dikisaran 60-an namun bisa mengecil seketika sampai merasa tidak memiliki berat badan lagi saban mendengar warta kematian.

 

Ketika berada bersama rekan penta’ziah di alamat duka dan isak pilu keluarga yang ditinggalkan dan senyum kecut kehilangan dan tatapan yang kosong dari harapan dan kebahagian yang surut seolah menjadi satu dengan ciutnya sebuah rasa. Rasa tentang kenyataan bahwa hidup sedang antre menuju titik akhir usia. 

 

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menahan denyut waktu. Apapun ditinggalkan. Bekal kekal dalam keabadian hanyalah amal. 

 

Semoga kita diberkahi panjang usia mengemban amanat taat kepada Allah ta’ala. 

 

Selebihnya semoga Allah menghandel segala urusan dengan kesudahan yang baik. Apapun itu. Kebaikan atas semua kesudahan urusan.

Ist
Ist

Article Lainnya


Kemenag Atur Skema Haji Jika Kuota Dibatasi

Kemenag Atur Skema Haji Jika Kuota Dibatasi

PARADASE.id - Kementerian Agama optimistis penyelenggaraan Haji 2021 tetap terbuka meski dengan pemb...

Pengurus Pemuda Muhammadiyah Bontang Resmi Dilantik

Pengurus Pemuda Muhammadiyah Bontang Resmi Dilantik

PARADASE.id - Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Kalimantan Timur melantik pengu...

Membludak, Dishub Bontang Tambah Kapasitas Penumpang KM Egon

Membludak, Dishub Bontang Tambah Kapasitas Penumpang KM Egon

PARADASE.id - Kapal penumpang KM Egon yang dijadwalkan berlayar dari Pelabuhan Lok Tuan menuju Pare-...

Andi Faizal Pastikan Turnamen E-Sport DPRD Bontang Cup Digelar Tahun Ini

Andi Faizal Pastikan Turnamen E-Sport DPRD Bontang Cup Digelar Tahun Ini

PARADASE.id - Ketua DPRD Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam memastikan turnamen E-sport DPRD Cup ...

JELAJAH