Kembali ke Artikel
Rantang Kasih Untuk Bontang
15 Mar/2021

Rantang Kasih Untuk Bontang

15 Mar 2021 In Way

Inway#137

 

Oleh : Rusmiati Indrayani

 

Perbincangan dengan Hj. Najirah Adi Darma 

(Wakil Walikota Bontang terpilih 2021-2024) 

 

Teras belakang rumah yang dipayungi daun jati yang terdapat kolam tanah yang membentang jembatan kayu ulin di atasnya yang di kolam tersebut mekar merdeka batang melati air yang di sisi kolam dipadati helai daun pandan yang daun pandan itu untuk aroma teh yang disesap saat senggang untuk menikmati pemandangan halaman belakang, halaman belakang yang bersolek dan menampilkan moleknya yang memesona sebagai area komersil destinasi wisata kuliner. 

 

Mengusung ikon pusat sarapan pagi  kota Bontang mewajibkan PUJA JATI ALAM menggalakkan kegiatan promosi. Puja jati adalah tujuan wisata  keluarga, dari insan berkarya juga awak media membidik tempat tersebut sebagai wadah nongkrong pilihan. Varian menu makan menjadi santapan yang repot ditangkal walaupun alarm perut baru setengah membutuhkan.

 

Sebuah pagi di akhir pekan ketika langit pukul sembilan membinarkan cahaya terang, saya sudah setengah jam merapat di sebuah tempat di sudut puja jati yang langsung membidik potensi semilir mengipasi. Layar laptop terbuka dan huruf-huruf siap ditambahkan menyusun draf pertama. Namanya draft pertama kata apa saja boleh dinaikkan, otak penulis melakonkan peran. Setengah halaman tulisan, belum terlihat urat nadinya. Di saat menjeda saya mendongak ke atas, menarik napas melalui hidung dan mengembuskannya pelan-pelan dengan cara mengeluarkan udara melalui hidung sambil mengagumi sisi langit yang bisa dijangkau. 

 

Aroma bumbu pecel meningkahi penciuman dan suasana hati dan membersitkan keinginan sarapan. Gurihnya nasi bersantan dengan campuran kunyit dan serai dan daun salam memalang ide mengembang. Suara awak peniaga mencapai meja kayu purba tempat saya berada, tapak kaki yang mondar mandir dari lapak ke area pelayanan, desis air jerangan bersuhu maksimal memberitahu air mendidih yang diiringi suara kaki berlari dan tombol kompor diamankan. 

 

Saya menggegaskan menggarap draft pertama, lalu sebuah mobil warna bibir remaja menghentikan roda di pintu masuk puja. Dari kabin roda empat yang menguarkan aroma terpenting dan desing halus mesin nyaris tanpa suara, menyembul sosok seorang puan paroh baya, walau tidak berkostum kebaya kurungnya dari tempat duduk saya bisa menebak siapa dia.

 

Pak suami yang duduk di kursi terpisah tetapi masih di area sama menyiratkan kode melalui pandangan mata dan gerakan kepala supaya saya menyambutnya. 

 

Lalu kami berdiri di tempat masing-masing, saling bertukar tatapan dan salam. Tangan terlipat di dada dengan masker yang merahasiakan bagian muka.

 

Kepadanya saya menempatkan diri sebagai rakyatnya, Tidak salah tingkah namun juga tidak menghemat bicara. Berlangsung apa adanya lantaran dia tergolong irit kata. Saya duduk di sebelah kirinya dan kami bercakap sambil menyuap sendok demi sendok nasi berwarna emas dengan sambal merah ceria membalut olahan ikan dan ayam.

 

Selanjutnya adalah penuturan ringan yang lirih dan nyaris berguman. 

 

Pasca kepergian suaminya yang adalah kandidat orang nomor satu dalam kontestasi pemilu KADA 2020, dia angkat tangan pada perbuatan takdir dan ketentuan penciptanya.

 

“Sampai saat ini saya masih belum percaya terpilih menjadi sosok Bontang II” katanya menatap mata saya menyuguhkan kejujuran yang dalam. Serupa ingin membagikan sesuatu yang dipendam. Diksi yang dia hantar lebih dominan domain spiritual. 

 

Saat dia mengatakan menjadi pemimpin karena keadaan, saya ingat pernah menulis di media ini tentang power of empathy yang dia alami. Sebuah kalimat yang diucapkan oleh janda mendiang Nino Aquino saat dirinya terpilih sebagai presiden Filipina menggantikan sang suami yang dipanggil Tuhan secara tiba-tiba ; Qorry Aquino presiden terpilih itu menyatakan ; “saya tidak paham politik, saya ada di sini karena suami saya. Meskipun tidak sepenuhnya memahami namun saya sama sekali tidak membenci.”

 

Kesamaan antara Najirah dan Qorry adalah keduanya adalah istri. Mereka tampil sebagai pemimpin yang memukau nurani rakyatnya.

 

Jika dengan jujur Qorry menegaskan dirinya kurang daya penguasaan masalah politik, Najirah juga mengatakan hal senada “Saya tidak memiliki pengalaman menjadi birokrat.” katanya sambil menyesap teh panas dan menyusupkan ke mulut ujung sendok yang berisi nasi kuning. “Saya biasa sarapan,” katanya menjeda sebelum melanjutkan cerita di ranah kedalaman. “Setiap hari hari saya ke makam” katanya yang pagi itu usai mengunjungi pusara peristirahatan sang pujaan hati yang abadi dalam ingatan. Kunjungan ke komplek pekuburan muslimin Bontang Kuala dilakukannya saban hari, pagi atau sore. S-a-b-a-n hari.

 

 

Ist
Ist

 

Keputusan Penting Di Waktu Genting.

 

Najirah adalah Nyonya Adi Darma. Walikota Bontang periode 2011-2016 dan kandidat walikota Bontang 2021-2024. Adi Darma berpasangan dengan Basri Rase, petahana yang menjabat sebagai wakil walikota Bontang. Pasangan nomor urut satu ini menyematkan sebutan ADIBAS dan mengusung jargon “Loyalitas Tanpa Batas.” 

 

Perjalanan politik untuk kesempatan kedua memimpin Bontang dijalani sebagaimana seharusnya. Tahapan pilkada dilalui dan proses sosialisasi program dan kampanye terbuka dilewati. Namun pada suatu siang pada cerahnya langit Bontang pada penghujung September, perhatian publik dikejutkan oleh kenyataan bahwa sang kandidat Bontang satu terpapar virus yang sedang trend melanda makhluk bawah langit. 

 

Masa isolasi di Rumah Sakit Daerah Taman Husada pun dijalani untuk harapan terbesar kesembuhannya. Doa-doa dipuja-pujikan dan munajat dihaturkan dan harapan disandarkan dan dukungan moral dialamatkan kepadanya.

 

Kesembuhan bakal calon orang nomor satu yang dihibakan, menjelma dalam status kepergian dirinya mengahdap Tuhannya.  Lagi-lagi publik terhenyak, terkesima tidak mampu menuturkan perasaan yang melanda.

 

“Siang di hari kepergian Bapak (1 Oktober 2020), saya sholat zuhur di lantai kamar rumah sakit. Seperti biasa. Saya terlihat kuat semata-mata karena kekuatan yang diberikanNYa. Entahlah apakah saya sungguh kuat namun tidak ada kekuatan pada saya selain daya yang kekuatanNya. Saat itu, para perawat justru mengkhawatikan keadaan saya. Mereka bersiaga dengan tabung pasokan udara jika sewaktu-waktu kesadaran saya hilang tiba-tiba.” katanya berbicara dalam lirih. Lirihnya menegakkan bulu kuduk dan mengaduk perasaan saya yang duduk di sampingnya. Lalu hening meneriaki kami, di saat sepoi helai jati pukul sepuluh mengalunkan kidung kantuk dengan berani.

 

Kami, dia dan saya mengamati warna perasaan dan mendengarkan denyut kehilangan dan pada hidung yang masih mengendus aroma kembang kematian. Permukaan tangan saya menampilkan warna terang dengan pori-pori mengembang dan bulu-bulu halus hingga lengan. Bulu-bulu itu berdiri berhimpitan. Saya mengusap untuk memberikan rasa tenang namun reaksinya belum surup secepat yang diinginkan. Untuk banyak waktu mendengarkan ceritanya bulu-bulu halus terus menegak dan tenang lalu kembali membutuhkan perhatian demi sebuah keterpihakan.

 

Dia melanjutkan : Saya hampir tidak cukup “kesempatan” berkabung. Kekosongan kandidat calon Bontang Satu harus diisi. Koalisi partai pengusung menyediakan waktu 24 jam sejak gundukan tanah merah makam dirapikan. Pilihannya adalah ; saya atau anak saya. Setelah menggelar rapat keluarga maka diputuskan saya maju. Saya menjadi calon wakil walikota mendampingi Basri Rase sebagai calon wakil walikota menggantikan posisi Adi Darma.

 

Katanya lebih jauh : Saya kekurangan waktu menekuri kemampuan diri. Pertanyaan mampukah mengemban amanah menjalankan pemerintahan lima tahun ke depan kalah issu dengan pemahaman mendalam tentang : sebuah rasa cinta. Kecintaan Bapak terhadap kota Bontang, obsessinya yang ingin menyejahterakan masyarakat dan niat tulusnya demi menjaga Bontang tetap jaya. Saya mendengar bahasa kalbu sang calon pemimpin dalam bisu. Beliau mencintai rakyatnya. Apa saja rela ia berikan ; kerja tuntas dan cerdas dan pengorbanan. Bahkan jika kota dan rakyat ini menghajatkan maka milik hidup paling berharga yakni ; nyawanya ; akan ia pertaruhkan. 

 

Dibagian itu, baik dia dan saya kami bersama-sama menghela napas. Meski tidak menjeda namun terasa atribut duka menyelami makna. Bagi dia mungkin sedikit lega namun sampai di perasaan saya adalah perasaan iba dari seorang rakyat yang dicintai oleh pemimpinnya.

 

“Bapak sangat peduli dengan para lansia. Orang-orang yang tidak berdaya akibat usia. Raga rapuh yang mengharapkan perhatian sesama. Pada situasi tersebut pemerintah harus tampil mengambil peran sekaligus tanggung jawab menyejahterakan rakyat yang berada di pusaran sekarat. Rantang kasih untuk kota Bontang adalah tentang kecukupan sandang, pangan dan perhatian bagi orang-orang lanjut usia di masa senjanya. Mereka berharap santunan dan sentuhan kemanusiaan sebagai hak dasar dari seorang manusia. Itulah kenangan berguna sebagai cindera mata bahagia di penghujung usia mereka. Dengan begitu semoga saat terlepas dari pelukan waktu orang-orang tersebut memersaksikan sebuah pemerintahan yang adil di hadapan sidang Sang Maha Kuasa. Allah Ta’ala Yang Maha Perkasa Lagi Maha Kaya.

 

“Sebagai pemimpin saya berurusan dengan keterbatasan. Mustahil sanggup menyunggingkan senyum pada bibir semua semua orang namun saya  wajib mengusahakan ikhtiar maksimal untuk amanah agung ini. Meskipun tidak memiliki pengalaman sebagai praktisi pemerintahan tetapi karir sebagai bankir selama beberapa tahun dan pengalaman mendampingi Bapak yang pernah menjabat Sekretaris Daerah kota Bontang dan Walikota Bontang kiranya memandu jalan saya menggulirkan tanggung jawab besar mengemudikan setir pemerintahan.

 

Di usia yang tidak lagi belia, saya juga merenungkan jalan pulang. Oleh karena itu saya concen sekali dengan Pembinaan Mental Spiritual melalui kegiatan keagamaan. Kota ini dengan julukan sebagai kota taman telah melekat padanya sebuah ikon masyarakat yang agamis.

 

Untuk mewujudkan misi agamis tersebut, sebuah lingkungan religius yang dikelola secara professional mendesak dilakukan. Pertumbuhan majelis ta’lim khususnya di kalangan kaum perempuan harus ditumbuhkan dan didukung keberadaannya. Di beberapa waktu belakang kota ini amat melekat dengung dakwah melalui lantunan asmaul husna. Dari sana kita ingin mengembangkan ghirrah sekaligus syiar keagamaan melalui syair pujian kepada Allah dan Rasulullah.

 

Dalam menyikapi masa wabah yang belum usai, internalisasi bacaan asmaul husna akan disandingkan dengan munajat thibbil qulub. Sholawat thibbil qulub merupakan sarana doa yang tepat untuk memohon kekuatan dan kesehatan jiwa raga dalam menyusuri jalanan kehidupan pada iklim pandemi.

 

Semoga Allah mengalungkan kekuatan kepada semua pemimpin untuk menjalankan misi keummatan dan kemanusian guna menjadikan balad sebagai miniatur firdaus. Pemimpin yang dicintai rakyat karena keadilannya adalah salah satu alamat akan mendapatkan naungan rahmatNya pada hari kiamat. 

 

Menjadi pemimpin adalah kendaraan seseorang mencapai surga lebih cepat dari sambaran kilat. Jika amanah ditunaikan dengan berhikmat.

Article Lainnya


Kemenag Atur Skema Haji Jika Kuota Dibatasi

Kemenag Atur Skema Haji Jika Kuota Dibatasi

PARADASE.id - Kementerian Agama optimistis penyelenggaraan Haji 2021 tetap terbuka meski dengan pemb...

Pengurus Pemuda Muhammadiyah Bontang Resmi Dilantik

Pengurus Pemuda Muhammadiyah Bontang Resmi Dilantik

PARADASE.id - Ketua Umum Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Kalimantan Timur melantik pengu...

Membludak, Dishub Bontang Tambah Kapasitas Penumpang KM Egon

Membludak, Dishub Bontang Tambah Kapasitas Penumpang KM Egon

PARADASE.id - Kapal penumpang KM Egon yang dijadwalkan berlayar dari Pelabuhan Lok Tuan menuju Pare-...

Andi Faizal Pastikan Turnamen E-Sport DPRD Bontang Cup Digelar Tahun Ini

Andi Faizal Pastikan Turnamen E-Sport DPRD Bontang Cup Digelar Tahun Ini

PARADASE.id - Ketua DPRD Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam memastikan turnamen E-sport DPRD Cup ...

JELAJAH