Kembali ke Artikel
Ramadan Kareem (Part III)
12 May/2021

Ramadan Kareem (Part III)

12 May 2021 In Way

Inway #141

 

Oleh : Rusmiati Indrayani

 

Qiyamul Lail, Malam ke 29 Ramadan 1442 Hijriah /2021 Masehi.

Hari ini puasa ke 29. Jika penanggalan Sya’ban bulan lalu adalah 29 hari, maka puasa Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari. Alhamdullillah. Puji syukur pada bagian satu hari perpanjangan ibadah puasa Ramadan. Namun syukur kerap tidak kekal, selalu ada sesal menyertai sepenggal kepedihan karena alasan perpisahan. Perpisahan dengan bulan Ramadan pada akhirnya disudahi dengan sebuah pengharapan ; semoga panjang usia hingga bertemu Ramadhan tahun depan. Amin. 

Amin saya untuk semua yang mengharapkan perjumpaan dengan Ramadhan 1443 H.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagai seorang perempuan yang masih mengalami masa haid setiap bulan, saya belum pernah tunai menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Dalam menerima “tamu tetap bulanan” , siklus haid saya sedikit bermasalah, rata-rata satu minggu bahkan lebih. 

Jadi sudah biasa memiliki beban utang puasa Ramadan. Selebihnya semata-mata karena pertolongan Allah saya dapat menggoda puasa tertinggal dalam tahun berjalan sebelum bertemu masa puasa berikutnya. Tadi malam, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya dan keluarga menjalani ritual ibadah malam di majelis ilmu tempat kediaman Guru. Guru adalah sebutan bagi pembimbing spiritual keagamaan kami sekeluarga. Dalam kurun hampir dua dasa warsa saya mengaji ilmu agama yang menggunakan kitab klasik di sana. Ketika anak-anak masih di bawah umur, mereka hanya tahu orangtuanya pergi mengaji ke tempat Guru. Kemudian ketika anak-anak memasuki usia remaja akhir, saya mulai mengajaknya ikut serta, duduk mendengarkan pelajaran agama. Adapun sumber  rujukan belajar adalah kitab kuning berbahasa Arab sebagaimana yang dipergunakan santri di pondok pesantren. Stressingnya adalah pendekatan tasawuf yang berfokus untuk mengasah jiwa dan membersihkan hati dalam menghadap Ilahi Robbi.

 

Si kembar, sejak mereka pindah kuliah dari Surabaya ke Samarinda bisa mengikuti kegiatan pengajian di majelis ilmu saat libur kuliah dan berada di rumah. Sementara kedua adik lelaki mereka belum aktif sebagaimana kakak perempuan mereka. Dalam hal ini saya bermohon kepada Allah kiranya ke-empat anak kami juga mengikuti kegiatan Pembinaan Mental Keagamaan Secara Istiqomah Sepanjang Hayat. Kehadiran Murabbi Musyid atau Guru Batin yang mumpuni menempatkan beliau dalam posisi orang tua setara orang tua kandung dan mertua. 

 

Meskipun ritual sholat sunat pada malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadan selalu berulang, Guru akan mengulang kembali kaifiyat atau tata cara peribadatan seperti yang diajarkan dalam kitab fiqh. Hal ini dimaksudkan sebagai penguat agar  jamaah semakin mantap mengerjakan amaliah sunat dengan kemurnian ilmu. Adapun ibadah sunat terdiri dari zikir, petuah ilmu dan sholat sunat. Sholat sunat yang dikerjakan antara lain ; tahajjud, taubat, hajat dan tasbih. Khusus untuk sholat sunat tasbih sebanyak empat rakaat dikerjakan dengan dua kali salam. Satu kali salam dua rakaat dengan jumlah tasbih sebanyak 75 kali setiap salamnya. Pelaksanaan sunat tasbih menuntut waktu sekira 30 menit untuk dua kali salam. Ibadah sholat malam ditutup dengan sholat sunat witir sebanyak tiga rakaat dengan dua kali salam. Meskipun Ramadan berakhir, kiranya amaliah ibadah malam tetap menjadi kebiasaan personal dalam perjalanan waktu dari Ramadan ke Ramadan berikutnya. 

 

Sholat malam dilakukan pada keheningan buta. Saat manusia dalam gelombang otak teta. Di sana hanya hutan bakau dan hitam yang mengelilinya. Salah satu janji Allah kepada manusia yang rela mendirikan badan untuk menghidupkan malam, baginya adalah “maqoman mahmuda” atau iming-iming derajat terpuji

 

Dalam penjelasannya beliau mengabarkan warta gembira tentang adanya “hadiah” Allah yang diberikan kepada orang yang ikhlas menjalani ibadah Ramadan. “Allah akan menghargai amal kebaikan seorang hamba seberapapun adanya. Walaupun sepersekian bagian dari pecahan butiran pasir di pantai, pada saatnya semua akan menyaksikan manfaat kebaikan yang dilakukannya.”

 

Tepat di samping kiri saya, Riffat duduk bersila di atas sajadahnya. Dia melirik lalu tersenyum lalu berbisik lalu bertanya “Maksudnya apa, Mi ?”

 

Saya menjawab dengan senyuman dan berkata dengan isyarat , bahwa Umi akan menjelaskan tetapi nanti, tidak di sini saat ini karena masih menjalani ibadah malam.

 

Kegiatan qiyamul lail berakhir pukul 3.30 sejak dimulai pukul 1.30. Jamaah berdatangan sejak pukul 00.30.

 

Dalam perjalanan pulang ke rumah Riffat tidak sabar menuntut penjelasan.

Walaupun menggariskan perpisahan namun jejak Ramadan dapat dinikmati sepanjang tahun berjalan. “Kok bisa?”

 

“ Karena itulah hadiahnya”. 

 

Hadiah yang diberikan Allah kepada hamba yang ikhlas bisa berwujud materi dan immateri. Dalam hal materi, bisa jadi Allah akan membaguskan dan mencukupkan dan melebihkan kebutuhan materi seorang hamba berserta keluarga. Ini menjadi tanda bahwa Allah berkuasa mengabulkan semua doa. Bagi yang meminta kecukupan harta benda, kebebasan dari utang piutang dan penambahan dalam kuantitas uang dan ruang usaha akan dirasakan pelakunya sepanjang tahun-tahun pasca Ramadan. Tidak berhenti sampai di situ, secara non materi Allah akan memberikan peningkatan kualitas dalam aspek keimanan dan keyakinan hamba. Dengan modal teguhnya keyakinan maka amat terbuka jalan batin bagi seseorang dalam melihat kekuasaan Allah melalui mata bashirah yang jernih lagi bening. 

 

Keuntungan dari terbukanya cahaya terang dalam perjalanan batin menuju Tuhan adalah ; keberuntungan adhim atau yang sangat-sangat besar. Dengan “hadiah” ini seseorang seperti pengembara yang memiliki kompas menjalani kehidupan. Meniti lorong-lorong spiritual dengan cepat dan tetap lurus dalam mengenal Tuhan. Hadiah ini akan berfungsi sebagai rem otomatis yang menghindarkan pelaku ibadah dari ancaman tergelincir ke jalur dosa dan maksiat. Dalam menjalani hidup di luar Ramadan seseorang dengan hadiah ini akan merasa semakin dekat dengan Tuhannya. Jika sudah dekat levelnya bertambah meningkat menjadi akrab, lalu mesra dan intim. Bayangan, kedekatan saja sudah membuat perasaan berada dalam zona yang sangat nyaman apalagi jika intensitas kedekatan tersebut semakin mantap, melekat dan menetap.

 

Selebihnya saya masih ingin menjelaskan perkara batin yang lebih rinci kepada Riffat. Namun di luar dugaan Riffat mengamati ada secuil potongan kapas menyumbat lubang telinga Abahnya yang sedang memegang kemudi.

 

“Telinga Abah kenapa ?” kata Riffat bernada khawatir, mungkin ada rasa takut jika Abahnya sakit.

 

Saya mengerti dan  saya fasih mengenali bahasa tubuh dalam gerak dan diam Bapak empat anak yang lagi menyetir. Saya merasakan suasana hatinya yang senang atau kurang berkenan. Dalam keadaan itu, saya mendadak berdoa supaya mengantuk dan tertidur saja sepanjang perjalanan menuju rumah kediaman. Penjelasan dilanjutkan di lain kesempatan.

Article Lainnya


Patroli Penegakan Prokes, Masih Banyak Masyarakat Bontang Acuh Protokol Kesehatan

Patroli Penegakan Prokes, Masih Banyak Masyarakat Bontang Acuh Protokol Kesehatan

PARADASE.id – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kota Bontang melakukan patroli gabunga...

Lilin Itu Kini Menjadi Mercusuar

Lilin Itu Kini Menjadi Mercusuar

Pada 30 September 2020, Faizah memulai kolaborasi kami dalam Diary of Auckland. Masih teringat jelas...

Cegah Penularan Meluas, Pemkot Bontang Canangkan Tes Swab Massal

Cegah Penularan Meluas, Pemkot Bontang Canangkan Tes Swab Massal

PARADASE.id – Angka kasus positif Covid-19 kembali meningkat selama pekan terakhir. Pemkot Bon...

Kasus Positif Bontang Melonjak, Penertiban Ketat Bakal Diberlakukan

Kasus Positif Bontang Melonjak, Penertiban Ketat Bakal Diberlakukan

PARADASE.id - Peningkatan angka kasus konfirmasi positif virus corona di Bontang membuat Tim S...

JELAJAH