Kembali ke Artikel
Popularisme Politik Empati Ilustrasi. (cultureforum.eu)
11 Dec/2020

Popularisme Politik Empati

11 Dec 2020 Feature

Oleh: Rusmiati Indrayani*

 

RANGKAIAN proses pemilihan kepala daerah (pilkada) hampir memasuki tahap akhir. Sejumlah daerah masih dalam proses penghitungan suara. Dalam kuliah virutal bersama mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Mulawarman (Unmul), Prof. Arismunandar mengatakan inti dari kepemimpinan adalah kepercayaan.

 

Kuliah Guru Besar Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Makassar yang digelar pada semester ganjil itu bertepatan masa kampanye Pilkada Serentak 2020 yang lalu.

 

Dalam bahasa manajemen, kepemimpinan adalah sentra dari semua fungsi manajemen. Fungsi manajemen seperti perencanaan, pengordinasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi memerlukan kecakapan seorang memimpin dalam menggerakkan sumber daya orang untuk mencapai tujuan.

 

Sebaik-baik rencana adalah yang dilaksanakan. Rencana yang tidak terlaksana selebihnya hanya teronggok jadi wacana di laci meja. Sedangkan sebaik-baik pelaksanaan adalah yang selesai dilaksanakan. Namun bagi pemilik kepribadian perfeksionis atau Tuan Sempurna, selesai saja belum usai. Harus sempurna segalanya dituntut istimewa. Namun istimewa ada di saat-saat tertentu saja.

 

Dalam prinsip ketersediaan berlaku canda; yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada. Menuntut segalanya harus berjalan sempurna sah-sah saja, namun faktanya akan tersandung dua masalah teknis yaitu; kurang pasokan material dan kelelahan atau lemahnya strategi. Dua hal tersebut tidak bisa diabaikan sebagai syarat mencapai kesempurnaan dalam segala bidang. Faktanya juga jika perilaku seseorang lebih santai berjalan, bisa jadi dia tidak mengalami semacam ngos-ngosan atau keletihan untuk mencapai tempat tujuan.

 

Filosofi “perlahan tapi pasti” membuat setiap inci langkah yang melibatkan perhitungan dilakukan secara terukur dan teratur. Dalam upaya mengarahkan orang-orang untuk mencapai tujuan, seorang pemimpin dikuasai oleh gaya kepemimpinan yang menjadi ciri khasnya.

 

Kekuasaan dan Kepemimpinan

 

Ada perbedaaan mendasar dalan konsep kekuasaan dan kepemimpinan. Kekuasaan berjalan di jalur paksaan (melalui peraturan atau tata tertib) sedangkan kepemimpinan berjalan atas dasar kerelaaan nan seksama. Tidak semua kekuasaan dilandasi keterpaksaan, seperti dinyatakan Daft (1999) yang  menyebutkan ada lima sumber kekuasaan, di antaranya legitimasi, referensi, penghargaan, paksaan, dan keahlian.

 

1. Legitimasi

Kekuasaan yang bersumber dari posisi manajemen formal sebuah organisasi. Mereka yang menduduki jabatan pucuk pimpinan dalam sebuah lembaga pendidikan misalnya, adalah orang-orang yang mengantongi legisi untuk membuat wewenang. Kepemimpinan mereka distempel oleh sebuah surat keputusan( SK) jabatan. Contohnya ; kepala sekolah adalah pimpinan di sebuah sekolah hingga masa tugas yang tentukan berakhir. Berakhirnya sebuah peran kepemimpinan bisa datang karena purna waktu atau sebab dipindahtugaskan menduduki jabatan baru. Selama memimpin sebuah lembaga, peran kepemimpinannya menjadi  strategis dalam membuat kebijakan untuk menetapkan arah dan menjalankan nilai organisasi.

 

2. Referensi

Kekuasaan jenis ini berasal dari karakteristik kepribadian yang dimiliki oleh sang pemimpin. Pesona diri yang kuat mengokohkan referensi menjadi sosok pemimpin yang perilakunya ingin diikuti oleh para bawahan. Kuatnya kepribadian seperti integritas diri dan integritas moral menjadi ciri perilaku sang tokoh.

 

3. Penghargaan

Kekuasaan jenis ini adalah semacam jargon “tak gentar membela yang bayar.” Penghargaan melahirkan upah, gaji, atau kenaikan jabatan, uang lembur, bonus plesir ke lima benua di Eropa. Sementara bagi karyawan sebuah perusahaan atau institusi negara kekuasaan yang menerjemahkan penghargaan dapat berupa pemberian fasilitas rumah dinas, kendaraan atau ajudan/pengawal.

 

4. Paksaan

Kekuasaan ini hadir dalam bentuk paksaan. Misalnya pemaksaan terhadap pekerja tambang bawah tanah. Pengawas memiliki mata elang yang siap melecut pungung pekerja yang ketahuan malas atau enggan melaksanakan kewajibannya. Dalam banyak kebijakan yang dituangkan dalam peraturan, peraturan itu sendiri hakikatnya adalah paksaan. Contoh kewajiban guru dan tenaga kependidikan yang harus datang tepat waktu. Siapa terlambat akan menerima sanksi berupa pemotongan gaji sejumlah waktu yang terabaikan. Peraturan dibuat untuk memaksa pelakunya taat. Contoh lain. Dalam aturan berlalu lintas ; kendaraan harus berhenti saat lampu merah menyala di cabang jalan. Pelanggaran terhadap aturan akan mendapatkan hukuman. Hukuman menjadi alat yang memaksa pengendara untuk menertibkan perilakunya  di jalan raya.

 

5. Keahlian

Siapa yang menguasai informasi niscaya akan menggenggam dunia. Kekuasaan berdasarkan keahlian ini dapat dilihat dari penguasaan di dunia Informasi Teknologi (IT) yang melahirkan bentuk  kekuasaan baru. Terkait keahlian ini, seperti terjadi di masa pandemi ;  beberapa orang menjadi gagap teknologi. Mereka yang kesulitan mengakses informasi digital, akan mengalami kesulitan berinteraksi di dunia virtual. Padahal sistem pendidikan konvensional tatap muka telah berubah menjadi pembelajaran daring atau online. Agar tetap mengikuti pembelajaran daring keahlian menggunakan aplikasi pembelajaran seperti WA group dan zoom meeting menjadi pusat perhatian yang memengaruhi banyak orang. Keahlian di bidang tertentu akan melahirkan kebutuhan-kebutuhan baru yang melibatkan kekuasaan.

 

Kepemimpinan dan Pemimpin Hebat

 

Berdasarkan teori kepemimpinan modern peran individu seorang pemimpin sangat penting. Kepemimpinan memerlukan kemampuan dan keterampilan untuk merumuskan visi serta mengimplementasikan visi tersebut ke dalam realita organisasi. Ini berarti bahwa seorang pemimpin harus melengkapi diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan kecerdasan yang disyaratkan manajemen untuk melakukan berbagai analisis situasi dan informasi secara mendalam. Analisis masalah yang dilakukan secara sistematis dan komprehensif menjadi bahan baku dalam pengambilan keputusan yang tepat, cepat, dan akurat. Seorang pemimpin selayaknya menciptakan situasi yang dapat menggerakkan dan menginspirasi para pengikutnya untuk mencapai tujuan yang lebih hebat dari sebelumnya.

 

Untuk memahami gambaran seorang pemimpin masa depan Greenleaf Center for Servant-Leadership (1997) mengemukakan model kepemimpinan sukses adalah kepemimpinan yang melayani. Pemimpin  bukan raja atau pemimpi yang mondar mandir ke luar negeri. Pemimpin adalah pelayan orang-orang yang dipimpinnya.

 

Teori Big Bang dan Politik Empati

 

Teori Big-Bang mengintegrasikan antara situasi dan pengikut anggota organisasi sebagai jalan yang dapat mengantarkan seseorang menjadi pemimpin. Situasi yang dimaksud adalah peristiwa-peristiwa atau kejadian- kejadian besar seperti revolusi, kekacauan/kerusuhan, pemberontakan dan  reformasi.

 

Masih segar dalam ingatan publik tentang seorang Corry dan bagaimana eskalasi politik di negari Filipina mendadak berubah dengan insiden tertembaknya  tokoh oposisi, Benigno Aquino.  Corry, seorang istri yang kehilangan suami. Aquino ditembak oleh orang tak dikenal saat keluar  pesawat di bandara Manila dalam perjalanan pulang dari Amerika. Akibat peristiwa berdarah itu, dukungan rakyat dilimpahkan kepada Nyonya Aquino.

 

Dalam perjalanannya perempuan yang disapa Cory itu menunjukkan jiwa kepemimpinannya dan dunia menyaksikan satu perempuan memimpin jutaan orang dalam pemberontakan damai untuk menggulingkan diktator Ferdinand Marcos.

 

Lahir dengan nama Maria Corazon Sumulong Cojuangco di provinsi Tarlac, 25 Januari 1933, Maria Corazon Aquino berasal dari keluarga politisi kaya. Ayahnya, Jose Cojuangco y Chichioco Sr dikenal sebagai pengusaha kondang dan politisi. Sementara ibunya, Demetria, merupakan keturunan keluarga Sumulong yang berpengaruh di negeri itu. Cory Aquino menjadi presiden Filipina. Dia menyampaikan pemikirannya tentang demokrasi, pembangunan, pemberdayaan perempuan dan hak asasi manusia di berbagai negara. Rakyat Filipina mengingat Corazon Aquino   sebagai "Ibu Demokrasi. Menanggapi sanjungan yang disematkan atas dirinya, Corry mengatakan ;  "Saya tahu keterbatasan saya. Saya tidak menyukai politik. Saya hanya terlibat karena suami saya." (Corazon Aquino).

 

Situasi yang dialami presiden wanita itu lahir dari sebuah keadaan yang memaksa dirinya tampil di depan. Seandainya suaminya tidak tertembak dan bertarung untuk menjadi orang nomor satu di Manila, takdir bisa jadi tidak mengantarkan Corry menjabat sebagai presiden. Namun perginya sang suami untuk selamanya, menjatuhkan empati rakyat kepadanya. Kekuasaan yang lahir dari empati adalah kerelaan hati yang diberikan secara pasti. Mengacu dari lima sumber kekuasaan menurut draft di atas, empati termasuk dalam kekuasaan yang datang dari sebuah penghargaan. Penghargaan moral atas nama kemanusian. (*)

 

*Penulis oleh mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Mulawarman

Article Lainnya


Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

PARADASE.id - Penetapan jam malam dalam rangka pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di...

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

PARADASE.id - Pemerintah Kota Bontang mewacanakan kembali membentuk Tim Percepatan Pembangunan Kilan...

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

PARADASE.id - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Bontang dimulai hari in...

28 Warsa Bersama

28 Warsa Bersama

Inway # 129 Oleh : Rusmiati Indrayani Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi hari sebel...

JELAJAH