Kembali ke Artikel
Perilaku Aneh
04 Oct/2020

Perilaku Aneh

04 Oct 2020 In Way

Inway #116

 

Oleh : Rusmiati Indrayani 

 

Kelakuan anak-anak kerap menerbitkan senyum hingga tiba pada desakan tertawa. Tetapi tingkah laku mereka juga dapat meredupkan senyuman dan pada suatu sore saya pernah mengalaminya. Tersenyum se-cuka.

 

Masa perkuliahan semester gasal dimulai walau dengan proses pembelajaran online. Mahasiswa kuliah lagi. Meskipun dilakukan dalam jaringan tetap saja yang saya lakukan adalah mengajar. Mengisi kelas daring mahasiswa akhir pekan. Artinya setiap jadwal mengampu matakuliah harus ditunaikan apapun bentuk aplikasi yang digunakan.

 

Zoom adalah yang populer, sesekali saya juga melibatkan WhattApp Group untuk absensi kehadiran dan mengondisikan tugas. Pekerjaan  yang harus dikerjakan mahasiswa saat itu atau sampai limit waktu tertentu. Sudah pasti rutinitas ini mengharuskan persiapan terkait perencanaan pembelajaran, pelaksanaannya hingga evaluasi mandiri. Maksud saya adalah saban akan tidur biasanya tergiang kembali saat mengajar tadi siang saya menjelaskan materi apa kepada mahasiswa. Mengajar online jika dipergoki seseorang yang belum paham aplikasi teknologi, boleh jadi disebut berperilaku aneh karena bicara sendiri di hadapan layar laptop dengan kamera mahasiswa yang dipastikan terbuka.

 

Sore lepas mengajar, saya butuh menghela udara segar. Kabar sedapnya karena cukup dengan cara menguak daun pintu belakang dan berjalan turun melalui tangga dari kayu ulin, didapatkan latar tempat dengan suasana kafe di halaman belakang yang berpayung daun jati. Usai memberi kuliah, saya angkut laptop ke salah satu meja di sana lalu meneruskan menulis draft artikel jurnal. Sedang musim senang-senangnya berlatih menulis artikel. Apapun hasil tulisan ketika selesai, realitanya menggarap artikel jurnal lebih liat ketimbang menyiapkan draft tulisan inway.

 

Saat mengetik kutipan judul dari buku berbahasa asing, saya abai terhadap riuhnya suara anak-anak yang memanfaatkan sisi kafe untuk bermain. Di sana mereka berayun atau berkejaran atau menyanyi. Aneka rupa kelakuan yang singgah di telinga namun keberadaan mereka masih terhitung tertib. Berisik tapi belum sampai membelah fokus saya menulis.

 

Di tempat itu, empat anak perempuan menaiki wahana ayunan sejarak lima depa di lokus tempat saya fokus. Duduk dengan cara mengangkat sebelah kaki, dua orang kurir ojek online mendengarkan musik dari sepasang headset yang menyumpal telinga. Tiga bocah lelaki melintas dua tiga kali di dekat saya. Meletakkan tangan pada pegangan jembatan yang menyatukan jarak antara dua parit, mereka berjingkat-jingkat beriringan lalu berlari kecil di ujung jembatan dan menaiki jembatan lain yang melintang di atas kolam buatan. Saya tidak mengubris kelakuan mereka. Biarlah anak-anak itu memiliki kenangan masa kecil bahagia. Lagipula tidak ada yang perlu dikuatirkan di sana. Menjejak lantai jembatan berpapan jarang terbilang masih aman. Lintasan pada kedua sisi jembatan dilengkapi palang kayu ulin yang dapat menahan tubuh kecil mereka terjerembab ke dasar kolam.

 

Dari tempat duduk, saya menjauhkan tangan dari laptop untuk menyapa. Saat itu, mereka sudah melampaui lantai jembatan dan berjalan di atas batu yang membentuk jalur setapak bertudung rumput gajah. Kaki mereka berada di jembatan yang ukurannya lebih mungil ketimbang jembatan di atas kolam. Aroma badan belum mandi menjejak tanah tanpa alas kaki. Salah satu dari ketiganya, seorang bocah yang berjalan di belakang lalu mengelap ingus dengan sisi siku. Lalu, “Aduh” terdengar rintih lirih. Seorang anak dengan gerakan secepat kilat menarik tangannya dari pegangan kayu jembatan dan memeriksa. Saya menduga duri kayu seukuran dua milimeter menyusup ke dalam kulitnya dan sakit yang ditinggalkannya tidak main-main. Anak yang berjalan paling depan lalu memutar badan bermaksud memberikan perhatian namun tidak menolong. Anak kecil, belum terpikir cara membebaskan bercak tulang kayu sementara rasa pedih mulai berkedut dalam irisan rasa yang tidak terbalut.

 

Satu orang menatap saya yang sedari mereka bermain di sana mengandalkan mata kuda menatap layar laptop.

 

“Halo, kamu siapa ?” kata saya memberi punggung pada kursi dan menawarkan peduli dan melepas kaca mata dan menundukkan layar yang terbuka.

 

“Ini, Dimas, saya Kevin dan itu Bryan.” kata bocah yang ada di urutan tengah, ia berbadan paling kecil di antara ketiganya dan melayangkan telunjuknya sambil tertawa.

 

Saya mengandalkan senyuman memberi perhatian dan tatap mata aman. Meskipun wilayah sekitar taman adalah area pribadi namun tempat itu boleh digunakan anak-anak bermain sesuka hati, semacam ruang publik dalam lingkup terbatas. Begitulah kira-kira.

 

Saat hendak bertanya ;  mereka tinggal di mana atau anak siapa. Pertanyaan khas orang seusia saya. Biasanya ketika mereka menunjuk alamat rumah atau menyebut nama orangtua, saya mengenali orangtuanya dengan informasi itu saya mengetahui si anak adalah tetangga dari pasangan muda bernama si A atau B dan seterusnya.

 

Belum keluar pertanyaan lanjutan untuk sebuah perkenalan. Suara salah satunya mengejutkan.

 

“Hei ! Kamu. Siapa ?” katanya tidak peduli kepada penguasa sembari melempar tatapan jauh dari dosa.  Anak itu ingin membalas pertanyaan perkenalan dengan cara ganjil.

 

 

Saya terperanjat dan seketika ada di persimpangan rasa, antara : ingin tertawa akibat merasa lucu ataukah harus mendeguk dan mengelus dada.  Jika mereka adalah anak tetangga dan cukup sering bermain di taman belakang rumah, barangkali ucapan yang keluar adalah semacam ; “Permisi, Umi. Kami boleh main ? itu yang dilakukan Dira  atau meminta izin seperti yang diujarkan Nabil dan Fika atau oleh  Al Luthfi yang datang lalu menyapa saya.

 

“Hei, Adik. Namamu siapa ? “ kata saya mencoba meraih perhatian dengan sedikit mengeraskan suara namun menjaganya tetap hikmat di telinga.

 

Sayangnya mereka berlari sempoyongan melampaui pagar depan yang terhubung jalan komplek perumahan. Di sana, di sebuah kursi kayu jati, masih ada saya tersenyum menahan rasa janggal. Prihatin untuk kemiskinan material adab. Pada beberapa keadaan perilaku anak-anak kerap mengejutkankan dan itu di luar dugaan orang dewasa. 

 

Sepertinya saya sedang dituntut menunjukkan kearifan aktual menyikapi sapaan mereka.

Article Lainnya


Pendapatan Daerah Terimbas Pengalihan Listrik HOP ke PLN

Pendapatan Daerah Terimbas Pengalihan Listrik HOP ke PLN

PARADASE.id - Pengalihan tanggungan layanan listrik perumahan HOP Badak NGL ke PT PLN berimbas bagi ...

Dinding Bata dan Sesap Kopi

Dinding Bata dan Sesap Kopi

Inway # 118 Oleh :Rusmiati Indrayani Di masa pandemi bisnis penjualan ...

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

PARADASE.id - Program pelatihan pemasaran bagi para pelaku usaha sedang digodok oleh Dinas Tenaga Ke...

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

PARADASE.id - Potensieksporkomoditas non migas dan batubara terus dikembangk...

JELAJAH