Kembali ke Artikel
Penulis di Medan Perang
15 Jun/2021

Penulis di Medan Perang

15 Jun 2021 In Way

Inway #146

 

Oleh ; Rusmiati Indrayani

 

Mengingat ketidaksibukan yang membuatku sibuk, hampir saja aku menunda “lagi” untuk mengirim tulisan inway minggu ini. 

 

Maksudku tidak sibuk adalah karena kesibukan itu sendiri. Sepintas memang tidak banyak yang kuurusi. Pekerjaan rumah misalnya. Di rumah setengah minggu ini hanya kami bertiga. Aku Fatima, dan Fuad. 

 

Fatima sudah membulatkan diri menggeluti usaha keluarga dengan berkantor di lantai dua. Sedangkan Fuad, anak lelaki sulung kami yang sudah memboyong ijazah dan menetap di Bontang—karena di Surabaya urusannya sekolahnya sudah selesai—juga mulai meniti karier meneruskan jalannya perusahaan yang dirintis orangtua.

 

Dengan dua anak dewasa yang sudah “tidak disuapi makan dan dimandikan pagi dan siang dan sore”, seperti periode kanak-kanak, praktis pekerjaan sebagai ibu yang berkutat dengan kebutuhan fisik anak tidak lagi ada dalam daftar kegiatan. 

 

Selebihnya urusan merapikan rumah adalah tanggung jawab Fatima. Dengan begitu bukankah aku termasuk seorang ibu dengan beban pekerjaan rumah yang ringan ?!  

 

Eh kecuali memasak dan menyuguhkan menu makanan, itu memang sulit digantikan oleh orang lain. Selera anak-anakku adalah tangan ibunya. Masakan rumahan. Apa saja yang ku hidangkan di meja makan menurut mereka semua enak. Entah lah pada aspek mana indikator kelezatannya. Tapi yang pasti, masakan ibu selalu istimewa di lidah anaknya. Bahkan jika hanya telor dadar biasa, tetaplah istimewa sebab aku dan para ibu memasak mengandalkan satu merk penyedap rasa bernama; cinta. 

 

Kembali pada perkara ketidaksibukan yang membuat sibuk. 

 

Secara resmi aku sudah lepas teori setelah ujian kompre (komprehensif) namun menyandang gelar kandidat (doktor) ini rupanya cukup berat. Sebuah keharusan yang dipersyaratkan oleh siapa saja yang berada di jalur pendidikan S-3 adalah beban menyelesaikan tugas akhir. 

 

Menyiapkan tulisan disertasi lebih menyita waktu ketimbang mengerjakan tugas harian semisal pekerjaan rumah tangga, atau mengajar, atau membimbing mahasiswa.

 

Membuat proposal disertasi tidak senyaman membayangkan berkendara di jalan tol . Jika ada yang bermimpi  dalam waktu sebulan kelar proposal disertasi,  Sungguh Itu Baik Sekali, sebab jika hanya menuliskannya tentu tidak memakan waktu terlalu tamak. Namun ini disertasi. Beratnya tiga kali lipat menggarap skripsi. Tentu saja ada perasaan berat sekali, namun itulah seninya mengejar mimpi. 

 

Baik. Intinya semata-mata karena modal semangat saja aku bisa sampai di titik ini. 

 

Ini sama sekali bukan bermakna keluhan. Melainkan (semoga) dapat dijadikan sebagai 

alasan bertahan menuju sebutan selesai. Husnul khotimah. Karena dalam jenis pekerjaan apapun, sempurna adalah bayangan semu yang membuai. Ia laksana fatamorgana. Indah dari kejauhan tetapi semua maya. Jadi alih-alih mengerjar sempurna yang nyaris tidak ada itu, maka sebaik-baik pekerjaan adalah yang bisa dilaksanakan dan selesai. Selesai adalah kata kunci untuk sempurna.  Dengan selesai kita bisa merangkul kemalasan diri menjadi termotivasi melaksanakan pekerjaan yang dibebankan. Sempurna dalam bahasa sederhana adalah gabungan dari kebaikan dan kekurangan yang bercampur menjadi satu. 

 

Hidup disebut sempurna bukanlah karena selalu berdiri di atas kebahagiaan, namun dalam hidup, seseorang juga tumbuh bersama masalah dan kesulitan. Setiap masalah ditangani sesuai porsinya dan setiap kesulitan dihadapi dengan mata terbuka. Dari kemampuan mengelola masalah lalu menyulapnya menjadi senyum kebahagiaan itulah sejatinya kesempurnaan.

 

Menulis draft pertama disertasi tidak sama lajunya dengan mengetikkan huruf untuk tulisan inway. Ada persamaan tetapi bedanya curam sekali. 

 

Dengan inway, aku bisa menuangkan ide spontan. Validasi eksternal tidak harus ada karena hanya kata-kataku saja. Namun menulis sebuah karya ilmiah dituntut menyertakan sumber, dan data yang dicantumkan harus bisa diverifikasi siapa saja. Apalagi dengan adanya aplikasi turnitin, indikasi plagiasi dalam tulisan terlacak seterang cahaya matahari. Ini juga masalah tersendiri. 

 

Menulis karya ilmiah adalah kemampuan seseorang menyulam pikiran sendiri berdasarkan benang yang dirajut dari tulisan orang lain yang mendukung tema. Jika menghendaki jalinannya terlihat rapi, maka penulis karya ilmiah perlu membubuhkan kalimat transisi yang serasi supaya keutuhan pokok pikiran antar paragraf berjalam halus dan enak dinikmati. Ini tentu membutuhkan keterampilan khusus lagi.

 

Menulis karya ilmiah dengan bobot kerumitannya adalah ladang jihad. Dalam memasuki “medan pertempuran” ini,  Penulis harus menang melawan diri sendiri. 

 

Dalam upaya memenangkan perang lawan pribadi, kemauan meluangkan waktu lebih lama untuk duduk membaca teori, merangkum hasil penelitian orang lain melalui artikel jurnal terbuka (OJS) adalah napas baru yang menuntut pembiasaan dan disiplin tingkat tinggi. Mengerjakan semua ini bagi seorang kandidat doktor harus nyali menomorkan duakan kegemarannya mengunjungi akun media sosial, menonton tayangan netplix, dan menunda acara keluarga yang (mungkin) sebelumnya telah menjadi agenda.

 

Sementara tenaga juga tidak segagah ketika lulus sarjana. 

 

Apapun bagian kekurangan dari aspek fisik, warta terbaiknya adalah aku menyenangi pekerjaan ini. Menulis disertasi artinya mengasah kemampuan metodologi yang seringkali kuucapkan di  hadapan mahasiswa. 

 

Saat ini ujiannya adalah diri sendiri. Lebih gampang memaparkan teori yang terdapat dalam materi tentang cara menemukan masalah penelitian, menyusun draft proposal, penggunaan teori, hingga analisis data dan penarikan kesimpulan. Lebih dari itu, penggunaan paling nyata dari semua teori tentang metodologi penelitian adalah dengan melaksanakan penelitian itu sendiri.

 

Sampai di sini, sepertinya aku yang terlihat tidak sibuk ini semakin bertambah sibuk.

 

Berkurang waktu istirahat, turunnya frekwensi jalan-jalan ke Bontang Kuala, dan lemahnya intensitas pembicaraan panjang lebar adalah konsekwensi dari pekerjaan menyenangkan ini. Dengan meningkatnya kebutuhan bacaan untuk mendukung teori dan asumsi penelitian, mengharuskan diri mengakrabi layar laptop lebih lama. 

 

Kenapa layar laptop ? 

 

Karena sumber ilmu dari hasil penelitian orang lain melalui OJS (open Jurnal System) dapat ditemukan melimpah dalam satu ketukan jari tangan.

Article Lainnya


Lima Daerah Dengan Serapan Dana Covid-19 Tertinggi dan Terendah, Ini Rinciannya

Lima Daerah Dengan Serapan Dana Covid-19 Tertinggi dan Terendah, Ini Rinciannya

PARADASE.id - Kementerian Dalam Negeri membeberkan realisasi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Bela...

Fungsi Orangtua di Pagi Hari

Fungsi Orangtua di Pagi Hari

Inway #148 Oleh Rusmiati Indrayani Sungguh, seandainya setiap orangtua memiliki pi...

Berlaku Hingga 8 Agustus, Delapan Daerah di Kaltim Level 4

Berlaku Hingga 8 Agustus, Delapan Daerah di Kaltim Level 4

PARADASE.id - Setelah Balikpapan, Bontang dan Berau masuk pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan ...

Patungan ASN Bontang, Salurkan 150 Paket Sembako buat Warga Isoman

Patungan ASN Bontang, Salurkan 150 Paket Sembako buat Warga Isoman

PARADASE.id - Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup pemerintahan Bontang memberikan 150 paket semba...

JELAJAH