Kembali ke Artikel
Pengalaman Berlayar Menumpang Kapal Pesiar dokumentasi pribadi
10 Oct/2020

Pengalaman Berlayar Menumpang Kapal Pesiar

kia ora !

 

waktu ke Samarinda di April 2019 kami ingin sekali naik Kapal Pesut Mahakam. namun keinginan itu tidak diijabah oleh Allah. di bulan Oktober suami mengusulkan untuk melakukan perjalanan dengan kapal pesiar sebagai “tawar dingin” pelipur lara.

 

Auckland - Sydney adalah rute terdekat dari kami dengan tarif sesuai tabungan receh kantong mahasiswa tulang punggung keluarga ini. mengarungi laut Tasman perairan Australia, selama empat hari tiga malam. berangkat dari pelabuhan Auckland dan merapat di pelabuhan Sydney. kemudian kembali ke pelabuhan Auckland.

 

biayanya adalah seribu dollar New Zealand per orang (sepuluh juta rupiah lebih sedikit). dengan harga tiket segitu mencakup biaya transportasi, akomodasi, makan tiga kali sehari di restoran kapal, menikmati berbagai fasilitas kapal, dan jasa seorang kabin kru pribadi. nama kapalnya Princess Cruises.

 

kami menempati kamar menghadap laut. di dek nomor 15 (Aloha Deck) kamar nomor A310. kamar balkon yang upgraded ke tengah badan kapal. kamarnya serupa hotel bintang 5. ada TV, lemari, kamar mandi dengan heater, AC (tentu saja), meja rias lengkap dengan cermin dan kursi (tapi justru saya pakai buat laptopan), telepon, ranjang King Size dan amenities standar lain seperti handuk, sprei, hanger, dan lain sebagainya.

 

kami lalu diberikan kunci akses berupa kartu yang dicetak dengan nama kami. kartu yang juga berfungsi untuk membeli sesuatu yang belum termasuk dalam tiket kapal. seperti saya yang memberi es krim seharga satu dollar di luar jam makan dan bukan di restoran. juga suami yang membelikan kalung kupu - kupu di toko Swarovski di dalam mall kapal. (iya, kapal ini punya mall) total bill akan kita bayar setelah kita berada di terminal kedatangan selesai berlayar.

 

saya bertemu anak buah kapal asal Indonesia. kebayakan mereka berasal dari Jawa. ingin tertawa rasanya ketika mereka reflek bertanya “bapaknya kerja apa di Samarinda ?” begitu mengetahui saya berasal dari Samarinda, tinggal di Auckland, dan sedang kuliah S3 di New Zealand. mereka hanya tidak tau sejarah hidup saya.

 

kapal pesiar adalah istana mewah terapung. fasilitas di dalamnya ada perpustakaan lengkap dengan permainan catur dan puzzle. ada ruang teater dimana setiap malam disuguhi pertunjukan cabaret dan teatrikal. ada carnaval pula. restoran dan kafe, swedish spa yang terkenal itu, serta fasilitas gym. tak lupa pemandangan nyata mewahnya menyaksikan mentari terbit dari laut.

 

tidak ketinggalan kolam renang yang memiliki pertunjukan film siang dan malam. jika malam, kami menonton film di bawah taburan bintang - bintang. kami diberi selimut dan coklat hangat sebagai pelengkap kegiatan menonton. ada bermacam - macam kolam renang di sini. baik kolam renang dewasa maupun kolam anak - anak. semua airnya hangat. serta ada handuk yang selalu tersedia untuk dipakai.

 

banyak para lansia yang memilih untuk menghabiskan masa tua sebagai penumpang kapal pesiar. menurut mereka di sini lebih mengasyikkan daripada panti jompo. bagaimana tidak, makan terjamin, kamar selalu rutin dibersihkan, banyak pilihan hiburan dan ada private cabin attendant yang akan melayani kapanpun kamar ingin dibersihkan maupun permintaan personal lain seperti ingin sarapan disajikan di kamar.

 

jadwal saya adalah bangun pagi untuk tahajud sampai ke shubuh. membaca surat yasin dan mengirimkan pahalanya kepada almarhum mama. melakukan amaliyah standar orang banjar pada umumnya. menunggu fajar kidzib dan fajar shodiq dari balkon kamar. jika cuaca lagi dingin, kami rapatkan pintu kaca dan menyaksikan mentari dan laut Tasman dari ranjang saja.

 

masuk waktu sarapan kami berangkat menuju dek. penyajian makan di kapal pesiar adalah prasmanan standar hotel - hotel berbintang pada umumnya. saat sarapan selalu ada pastry yang enak. kita juga bisa minta omelette dan jamur atau sunny side up (telur mata sapi setengah matang, red) yang enak. oh, salmon juga selalu tersedia. tentu saja kopi, teh, dan buah yang free flow.

 

setelah sarapan saya memilih untuk kembali ke kamar membaca novel atau bisa juga berjalan - jalan menjelajah kapal yang super lengkap dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang sudah gratis. saat menjelajah saya sering bertemu dengan Anak Buah Kapal asal Indonesia yang paling kooperatif mengambil foto kami berdua.

 

masuk ke jam makan siang, kami makan siang di restoran kapal. ada beberapa menu yang bisa dipilih. biasanya lebih ringan dari sarapan. sepulang makan siang kamar kami pasti sudah rapi. dibersihkan oleh private cabin attendant asal Filipina bernama Blister Juan. kapanpun kamar kami ingin dibersihkan, kami cukup tekan bel dan gantung tanda kamar ingin dibersihkan pada pintu dan Blister Juan akan datang. luar biasa. kapal pesiar ini cocok sekali untuk kaum rebahan yang ingin dimanja dan menyenangkan hati. suasana nyaman, makan terjamin, tidak perlu kemana mana.

 

makan malam kami biasanya berupa fancy dinner di restoran hotel. itu lho makan malam formal dengan set menu : appertizer, main course, dessert. dengan baju formal dan sapaan hormat awak kapal. salah satu menu kami adalah makanan pembuka dengan udang yang yummy sekali, kemudian dilanjutkan dengan makanan utama berupa salmon with crispy skin (wow masterchef sekali namanya), kemudian ditutup dengan makanan penutup berupa cheese cake dan es krim. menu begini selalu berganti setiap hari.

 

merapat di pelabuhan Sydney. disana terpampang nyata Gedung Sydney Opera House yang amat terkenal itu. kami pun dipersilahkan untuk turun dari kapal dan keliling kota Sydney. di sini kami sempatkan mengunjungi museum Madame Tussaud.

 

kami sangat menikmati saat - saat di Sydney. kebanyakan orang yang kami temui di kapal maupun sepanjang jalan di Sydney ramah dan baik. saya menemukan di Sydney banyak restoran Indonesia dan tidak sulit mendengar orang bercakap - cakap dalam bahasa Indonesia. makanan halal pun banyak bahkan saya melihat billboard Indomie dengan bahasa Indonesia. saya makan nasi goreng ditemani es cendol yang rasanya mendekati otentik. senangnya, serasa pulang kampung.

 

malamnya pun terasa berbeda. dengan pemandangan kerlap - kerlip lampu Negeri Kanguru. berlatar pencakar langit Sydney dengan Harbour Bridge dan The Opera House sebagai ikonnya. suami, bapak Haji Russel Cruch mengajak saya makan malam di Sydney Showboats Cruise. yang katanya wisata makan malam di kapal paling terkenal di dunia. cantik sekali pemandangannya. makanannya enak. dan ini yang terpenting : bisa pesan halal menu yang sama enaknya.

 

tak terasa kapal berlayar menuju Bay of Islands dan kembali merapat ke pelabuhan Auckland. saya pulang dengan menyimpan pengalaman hebat. salah satu mimpi saya diijabah oleh Allah.

 

kembali ke rumah. menemui realitas hidup sebenarnya. sambil berdoa kiranya tuhan mengabulkan perjalanan naik Kapal Pesut Mahakam Samarinda.

 

Dan Pesta Itu Pun Berakhir

 

setelah pulang dari pesiaran, kami memasuki episode rumah sakit, kemoterapi, radiasi, operasi. hari demi hari bahkan akhir minggu kami lalui di rumah sakit. tidak jarang tengah malam saya menelpon perawat, meminta morfin tengah malam karena tidak tega melihat suami kesakitan. hati serasa teriris melihat ia dimasukkan kapsul radiasi. atau melihat lubang stoma di perutnya. dan menyadari kami harus hidup dengan suami yang dipasang kantung stoma.

 

foto di atas diambil sebelum kami memulai treatment kanker. saat itu saya belum memiliki pekerjaan tetap (masih sebagai karyawan kontrak), beasiswa habis, suami yang diharap bisa menjadi tumpuan hidup saat beasiswa habis justru kena kanker. jadi saya harus bekerja untuk keluarga sambil mengerjakan PhD.

 

Tuhan Bersama Orang - Orang yang Sabar

 

saat itu kami merasa mungkin sudah habis “jatah kebahagiaan” yang diberikan tuhan pada kami. tersisa episode panjang kesedihan dan air mata. namun kini, setahun kemudian suami sudah dinyatakan sembuh. saya mendapat visa permanent resident, dan mendapat pekerjaan tetap yang cukup membiayai kami berdua sembari terus melanjutkan PhD saya. pernikahan kami tambah indah, tambah dekat, dan kami sudah tidak lagi menemui drama dengan stoma yang rewel.

 

mungkin terdengar klise. tapi benar tuhan bersama kami. bersama orang - orang yang dijebak dalam situasi sulit sehingga satu - satunya pilihan adalah bersabar dan tawakal. jangan pernah putus asa jika tuhan mentakdirkan kita dalam suatu kesulitan.

 

jika ditanya apa rahasia saya. jawaban saya adalah berprasangka baik pada tuhan. karena kita ini hanya makhluk. hanya pencipta yang paling tau apa yang terbaik untuk masing - masing kita.

 

percayalah, dibalik kesulitan yang besar, terdapat kemudahan dan kebahagiaan yang besar pula di baliknya.

 

 

Cerita : Nurul Kasyfita

Narator : Faizah Riffat

Editor : Umil Surya

Seri : Diary of Auckland 

Article Lainnya


Dinding Bata dan Sesap Kopi

Dinding Bata dan Sesap Kopi

Inway # 118 Oleh :Rusmiati Indrayani Di masa pandemi bisnis penjualan ...

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

PARADASE.id - Program pelatihan pemasaran bagi para pelaku usaha sedang digodok oleh Dinas Tenaga Ke...

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

PARADASE.id - Potensieksporkomoditas non migas dan batubara terus dikembangk...

Kiat Menjual Tanaman Hias Daring

Kiat Menjual Tanaman Hias Daring

Oleh: Inui Nurhikmah PARADASE.id - Demam tanaman hias melanda Indonesia lagi. Jika tahun 20...

JELAJAH