Kembali ke Artikel
Pelukis Senja Ilustrasi. (GoogleImage)
09 Oct/2020

Pelukis Senja

09 Oct 2020 Cerita

Dari lantai ruang griya tawang, pemandangan di luar jendela kaca membentang leluasa. Saat itu seorang pelukis memindahkan potongan senja ke kanvasnya dengan latar tempat jembatan menyatukan dua daratan. Jalan yang menghubungkan tanah Johor ke Negeri Singapore. Dari tempat duduk mengarah ke luar jendela, pelukis itu tenggelam dalam dunianya. Seperti diserang kesurupan, tangannya menarikan kuas dan mengedarkan sapuan mencetak dua tanda  senja. Panorama jembatan di atas laut dan semburat jingga yang menerobos ruangan kamar. Namun Ia lupa ada orang lain juga  mengamati senja. Seorang perempuan yang duduk mengamati sisi wajahnya dengan cermin tangan supaya dia punya alasan hidup dan mendampingi perjalanan si pelukis.

 

“Aku ingin memotong rambutku,” katanya mematut diri di depan sebuah cermin tangan. Dia menyunggingkan sebentuk bibir yang dilapisi gincu berwarna senja. "Menurutmu apakah aku harus memotong rambutku atau sebaiknya aku biarkan panjang saja ? atau ah, sudahlah jikalau rambut ini aku jual pun kamu tidak mengubrisnya. “Rambutmu sebaiknya dibiarkan panjang. Kamu cantik dengan potongan rambut sepinggang.” Selanjutnya perempuan itu menginginkan mereka berdua segera pulang. Dia ingin menggunakan peralatan makan dari perak dan menyalakan lilin yang diletakkan pada tembaga berukir dan dia mau berkabar kepada teman-temannya supaya datang ke apartemennya dan mereka bisa bersenda sambil menikmati nasi ayam Hainan. Tetapi pelukis itu menyuruhnya diam dengan cara membaca buku atau mengamati pergerakan senja hingga matahari terlelap dan sinarnya tidak menimbulkan pendar cahaya sedikit jua. 

 

Lalu ketika matahari benar-benar redup. Cahaya lampu menari di antara batas dua negara dan tumbuhan gedung bersolek penerangan malam, pelukis itu menimbang-nimbang untuk memantaskan senja yang berkabut di bawah cahaya lampu kamar. Kemudian pintu diketuk. Seseorang memberikan sebuah catatan.  Dari tempat duduknya sang perempuan beranjak lantas mendorong sebuah koper mengikuti pegawai hotel. Pintu kamar yang ditutup dari luar dan langkah kaki menjauh adalah arti sebuah kehadiran orang lain dalam pekerjaannya. Singapura sejangkauan mata dan perempuan itu sanggup berkendara dan mengatasi petugas penjaga perbatasan. Sayangnya dia harus kembali menemui pelukis itu.

Article Lainnya


Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Cerita oleh : Indrayani Indra Bulir-bulir padi berwarna emas. Batangnya bergerak disepoi an...

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Bangunan kampus itu tetap sama seperti saat ia ada di sana, empat pilar utama berwarna hijau pupus m...

Ayunan

Ayunan

Oleh : Indrayani Indra Ratih dan Jamali sepakat berbagi tugas pengasuhan. Ratih akan menidu...

Nasi Campur Prapatan

Nasi Campur Prapatan

Oleh: Indrayani Indra Penampakkan wajah perempuan paro baya itu lebih banyak merupa kerut c...

JELAJAH