Kembali ke Artikel
Pelajaran Mengarang Ilustrasi. (Google Image)
04 Mar/2021

Pelajaran Mengarang

04 Mar 2021 Cerita

Cerita Oleh : Indrayani Indra

 

Ruangan kelas bersalut riang sebelum dia datang. Sepasang daun jendela berbahan kayu agatis membebaskan udara bertandang leluasa. Semilir angin yang diterpakan  helai daun mahoni di seberang jalan, menyelinap melalui jendela yang dibuka sebelah saja. Pelajaran sejarah yang mengakhiri Senin pagi mengajak mata melanjutkan sisa kantuk semalam. Dentang bel pergantian jam pelajaran menjegal kantuk yang siap melenakan. Beberapa anak lelaki yang duduk di bangku deretan belakang sesekali berdiri meregangkan pinggang. Tangannya direntang lalu membawanya ke kiri dan ke kanan. Dari situ keluar suara krek-krek dari sambungan sendi yang digerakkan. Berdiri sejenak, mereka melemaskan otot yang ikut tertekuk setelah hebohnya sejarah Belanda bertekuk lutut kepada Jepang.

 

Sejarah kemerdekaan dan bahasa Indonesia adalah pelajaran yang unik. Membicarakan sejarah perang mengirimkan semacam suasana mencekam yang sama sekali tidak dirindukan. Seringai jiwa sekarat, darah pejuang berceceran, pekik merdeka dan takbir berbarengan di ujung dor yang mematikan. Wajah-wajah garang berseberangan dengan rupa ketakutan yang saling membayang. Pesing mesiu meningkahi angan-angan, jalan raya, dan padang ilalang.

 

Hal itu berbeda ketika kelas bahasa Indonesia, sayangnya Bu Guru Nunung termasuk pengajar yang kadang abai. Ketika jam menunjukkan pukul setengah sebelas dan saatnya masuk ke kelas kami, selalu ada saja alasannya untuk menunda. Dia akan masuk sebentar dan memberikan tugas membuat karangan. 

 

Hari Senin jelang siang adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Sudah lewat sepuluh menit bibir merah Bu Nunung belum kelihatan. Antara polesan gincu dan bias kepedasan. Anak-anak sudah saling mengadu pandang berharap jam pelajaran kosong sekalian. 

 

Kemudian di luar kelas, di depan kelas empat yang tinggal melewati kelas lima tumit sepatu  Guru yang matanya kerap dikedip-kedipkan itu terdengar menjejak lantai kayu. Dua murid perempuan yang duduk paling depan tidak lagi berpandangan, mereka menanti kedatangan Bu Guru sambil pura-pura menyiapkan buku bacaan. Aku tahu itu adalah komik beralas buku pelajaran. Mereka berdua hobi membaca komik dan aku pernah memergokinya ketika minta izin ke kamar kecil saat pelajaran matematika.

 

Ketika melewati pintu yang dekat dengan tempat duduk mereka, murid perempuan pada posisi bangku bagian dalam melemparkan pandangan ingin menggigit kupingku. Walaupun aku tidak berniat melaporkan kelakuan mereka yang suka membaca komik ketimbang menyimak pelajaran Bahasa Indonesia, aku tidak pernah mengadu kepada Bu Nunung sebab aku bukan orang dengan tabiat seperti itu. Aku tidak peduli apakah mereka membaca komik atau sedang tertarik dengan hal lain. Aku diam saja, seperti biasa. paling jauh, Bu Nunung hanya menegur kalau ada yang ketahuan membaca komik saat berlangsung pelajarannya, walaupun tidak suka tetapi dia enggan ribut dengan anak muridnya.

 

Dua anak lelaki yang tadi meregangkan pinggang, yang duduk di belakang, yang metongkati matanya supaya tetap terbuka pada pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia memberitahu Bu Nunung akan tiba di kelas. 

 

Bu Nunung suka sekali rujakan. Siang Senin dua minggu lalu, ketika dia masuk ke kelas kami dia menyilat-nyilati tangannya yang masih terdapat bercak gula merah.

 

Di depan kelas dia bersendawa, lalu

 

“ Anak-anak, hari ini kita kembali membuat karangan.” katanya seperti membuat karangan itu adalah sebuah jampi-jampi yang ampuh menghilangkan wabah.

 

 “Coba kalian ulangi apa tadi yang ibu sampaikan ?” katanya seraya memiringkan wajah dan memberikan sebelah telinganya kepada seluruh kelas. Maksudnya supaya semua murid dalam kelas bersama-sama meneriakkan kata “membuat karangan, Buuuu.” 

 

BU Nunung tersenyum. Dia mengarahkan telinga dan menahannya dengan sebelah tangan. Dengan cara itu dia berharap supaya ;  udara tidak menerbangkan satu nada pun dari korr yang diteriakkan anak-anak tentang tugas mengarang.

 

Sepanjang bulan Maret tahun itu, kelas materi pelajaran Bahasa Indonesia hanya diisi oleh tugas membuat karangan saja. Bu Nunung suka sekali menyuruh kami membuat karangan, seakan-akan dengan membuat karangan  wabah kolera yang mengamuk di sebuah kampung bisa diredam.

 

Siang itu juga begitu, sama seperti siang Senin tiga minggu lalu.

 

*

Aku sekarang, aku yang telah menjadi seseorang dengan raga dewasa akan tetap mengenang Bu Nunung dan pelajaran mengarangnya. Aku bukan dikatakan penulis cerpen kalau saja Bu Nunung yang suka sekali rujakan di ruang guru itu hanya memberikan teori tentang mengarang. Walaupun saat duduk di kelas enam aku tidak paham untuk apa seseorang mengarang.

 

Jika saja Bu Nunung berkutat tentang sejarah mengarang atau cuma mengenalkan nama pengarang seperti Hemingway atau O Henry, aku tetap tidak mengerti mengapa nama besar mereka abadi dan dikenang hingga kini.  Karya fiksi mereka memberi energi. Itu tidak terjadi jika mereka bukan pengarang.

Article Lainnya


Sang Penatap

Sang Penatap

Oleh : Indrayani Indra “Pergi gak, gak, pergi, pergi gak ya. Kalau pergi gimana kalau...

Tragedi Minum Susu

Tragedi Minum Susu

Oleh : Indrayani Indra Umurku sekira enam saat itu. Saat doa terkabul hingga aku bertemu pa...

 Menulis Setelah Luka

Menulis Setelah Luka

Cerita Oleh : Indrayani Indra Membuat karangan ? Meskipun tema bebas, itu tetap saja harus ...

Lelaki dari Shift Malam

Lelaki dari Shift Malam

OLeh : Indrayani Indra Sabtu. Akhir pekan yang lengang. Jalan raya kesepian dan alun-alun k...

JELAJAH