Kembali ke Artikel
Pasar Tamrin Mati Lampu
12 Sep/2020

Pasar Tamrin Mati Lampu

12 Sep 2020 In Way

Inway #111

 

Pasar tamrin, diresmikan sebulan lalu. Pasar yang mengusung konsep semi modern ; lantai keramik, penerangan listrik memadai dan zoning tegas los lapak lengkap dengan eskalator di sisi  utara dan selatan pasar. Dibangun berlantai empat. Area parkir kendaraan roda empat menempati lantai basement. Pasar tamrin didesain parmanen hasil rekayasa ulang setelah dua kali pasar itu menderita serangan kebakaran dalam dua dasa warsa terakhir. Perjalanan berdirinya bangunan sarat liku lengkap polemik sengketa pemilik lahan. Bangunan lantai empat itu, bagaimanapun telah melalui perencanaan rancang bangun dan review desain melibatkan perusahaan konsultan perencana berskala nasional. Tahap perencanaan merupakan situasi pelik yang mengharuskan desain sempurna. Walaupun sempurna di mata ahli perencana dalam realita ada saja pihak yang tidak seratus persen menerima. Keluhan ketidakpuasaan tidak jarang terlontar dari pihak pengguna dan pengamat yang berlaku lebih tahu daripada mereka yang menguasai ilmu.

 

Sebagai warga masyarakat pengunjung tetap pasar tamrin (pasar : Taman Rawa Indah) saya mendengar sendiri pelaku niaga membuka keluhan tidak puas. Tentu saja lebih keren diam ketimbang menanggapi, toh mereka butuh didengarkan, tidak lebih dari itu. Perkara apakah saya mengerti persoalan atau semata-mata masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri, itu masalah lain. Mereka tidak mau tahu sebab kerap sudah cukup lega apabila mendapatkan pendengar untuk buang sampah memaki pemerintah.

 

Saya kira pasar itu telah lulus tahapan panjang perencanaan dan riset mendalam. Kunjungan pihak instansi terkait ke berbagai daerah melalui perjalanan dinas dan berselancar di dunia maya guna melonggarkan wawasan pasti masuk dalam perhitungan. Pada akhirnya berdiri bangunan pasar Taman Rawa Indah berlantai empat dengan konsep pasar semi modern. Seolah merasa menikmati suasanaa setengah mall di ibukota. Pasar induk menjadi tujuan masyarakat kota berbelanja kebutuhan. Pasar tradisional tamrin mengubah diri jadi remaja lagi, berbaju putih dan masih kinclong, maklum baru sebulan geliat kehidupannya.

 

Saat pertama berkunjung ke pasar yang diresmikan bulan lalu, keluhan yang menyerbu pendengaran saya datang dari pedagang ikan. Setiap ke pasar tujuan pertama saya adalah mendatangi los ikan. Budaya suku kami menempatkan ikan sebagai lauk utama pendamping nasi. Ikan menjadi semacam syarat sahnya makan yang dilakoni pelaku budaya. Tradisi lisan yang tidak tercantum dalam kitab hukum manapun namun tanpa ikan makan belumlah sempurna. Kegiatan budaya  makan ikan menyuruh naluri saya memastikan stok ikan di lemari pendingin cukup. Setidaknya pikiran saya lapang setiap tiba waktu menyiapkan menu makan keluarga.

 

Pedagang ikan laut yang menempati los ikan di lantai dua memulai dengan menyebut ; “Seharusnya tidak begini mencetak los ikan. Kami sudah protes sampai ke gedung dewan dan walikota untuk menyampaikan aspirasi ketidakpuasaan. “ menurut seorang pemuda penjual ikan laut di los tersebut, pihaknya seharusnya diajak berembuk tentang kemauan pedagang. Sebab mereka yang berkelanjutan menduduki lapak ikan. Jadi “suara” mereka setingkat di bawah suara Tuhan. Saya berada di los ikan yang terletak di lantai dua, mendengarkan sambil mengarahkan mata pada tangan pedagang ketika ia memberaikan tubuh ikan yang kami sepakati harganya. Kegiatan selama tangan cekatannya memutilasi bagian tubuh ikan baginya menjadi waktu untuk mengeluarkan rasa tidak nyaman. Sebagai pembeli, kepentingan saya di sana sebatas menunggu ikan selesai dibersihkan lantas pergi­­. Pagi itu perasaan saya terbawa limbah emosi yang dialirkan penjual kepada pembeli. Entah apa pertimbangan si penjual mencurahkan isi hati. Walaupun  selain makanan olahan ikan, saya sekali-kali bukan seseorang yang mengerti dunia laut dan ikan-ikanan. Jadi jika memerhatikan syarat, penjual ikan yang berkeluh di depan saya itu memilih orang yang salah. Tetapi sudahlah, itu bukan masalah penting. Masalah serius ; saya butuh ikan, tanpa ikan rasanya makan nasi ada yang kurang.

 

Masalah yang serupa juga datang dari penjual pakaian di lantai tiga. Seorang ibu berusia sekira setengah abad mengeluhkan hal sama. “Seharusnya kami, pedagang diajak berembuk.” Berembuk yang dia maksudkan bisa bermakna ganda antara rembuk desain bangunan atau urun rembuk tentang tata ruang (zoning). Pedagang pakaian jadi yang menempati lantai tiga itu mengeluhkan rancunya penataan ruang. Di lantai tiga yang seharusnya dihuni warga penjual pakaian jadi, pada los bagian tengah disela pedagang sembako yang diberi jatah lapak. Sebuah pemandangan yang agak mengganggu.

 

Namun ujung sebuah keluhan akan reda setelah pelakunya bosan bicara. Pada akhirnya bijak menerima keadaan dengan ikhlas atau pura-pura ikhlas atau terpaksa ikhlas bernilai paling nyata menegakkan sebuah hubungan.  

 

Dalam kehidupan, alam memberikan hadiah. Kadang-kadang. Pagi hari kemaren,  suami, saya, dan Fatima  ada di dalam bangunan pasar. Di luar hujan lebat. Meskipun hujan menderas kuat, mengunjungi pasar tamrin dalam keadaan alam sedang menangis bukan halangan. Di sana kendaraan roda empat aman di tempatnya walapun air menggenangi lantai parkir dari hujan yang tumpah. Dari area parkir sebuah tangga menghubungkan ke lantai satu. Di area yang masih terhubung mata dengan lantai parkir roda empat,  berderet lapak penjual makanan menyediakan ragam kuliner nusantara. Lantai ini memikat hati para lelaki. Suami saya memilih sebuah warung makan yang menyediakan nasi kuning Banjar. Ia memarkir dirinya di kursi yang menghadap meja panjang ketika saya berbelanja. Dengan jangkauan masih terhubung pandanganya antara lapak yang saya kunjungi dan letak mobil di parkiran.

 

Saya tidak belanja banyak kemaren pagi, hanya menuju los ikan dan membeli bagian badan ikan patin dan udang dan beberapa ekor ikan mas.  Fatima yang ikut ke pasar tamrin pertama kali, dia mengedarkan pandangan pada setiap ruang yang bisa dijangkau matanya. Bawah sadar sarjana teknik sipil mengizinkannya menilai dari sudut apapun tentang kualitas pekerjaan gedung. Hingga matanya hinggap menangkap sistem perlistrikan. “Bangunan ini seharusnya dilengkapi sebuah generator set untuk mem-back up penerangan darurat.” kata Fatima. Saya mengiyakan. Gedung pasar butuh cadangan listrik jika sewaktu-waktu lampu padam.

 

Kemudian, kami menaiki tangga ke lantai tiga. Baru ada tiga lapak pedagang siap berniaga, sisanya masih tutup atau belum dihuni semua. Di luar gedung pasar, dari lantai tiga kami menyaksikan air menyekat jarak pandang dalam batas yang kuat. Hujan pagi hari tidak main-main, hujan mengucurkan air dengan amukan disertai badai angin dan petir memecut. Sebuah panorama istimewa merasakan udara dingin bersemu badai. Pengalaman mengawasi tirai hujan dari ketinggian di sebuah bangunan. Belum ada hingga gedung pasar menyediakan sisi terbaiknya. Sementara, kami berdua membiarkan pikiran baik berkelana. Pekerjaan pergi ke pasar bukan melulu tentang kebutuhan berbelanja. Membiarkan diri menikmati pengalaman lain dari lantai tiga menghadiahkan rasa berbeda. Peristiwa saat hujan mengorkestra keindahan menerbitkan rasa berharga.

 

Hujan semakin kalap, menderas, lalu… di antara  raungan tangisan semesta, terdengar suara riuh bersamaan. Listrik padam. Penerangan mendadak lumpuh dan tidak terdengar suara genset untuk memback up penerangan darurat. Saat listrik mati, sekeliling gelap dan saya kelabakan.

Article Lainnya


Diary of Auckland : Meet The Heroine

Diary of Auckland : Meet The Heroine

Menjadi berbeda pun, Tuhan beri jalannya.... Nun jauh di negeri kiwi sana. seseorang mengan...

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PARADASE.id -Lesunya sendi-sendi perekonomian akibat pandemi, tentunya berdampak pada penurunan Pend...

Pomodoro

Pomodoro

Inway #115 Selamat Hari Ulang Tahun Si Kembar. Tulisan ini terlambat. Seharusnya t...

Hari Pertama Bertugas, Pjs Wali Kota Bontang Riza Kumpulkan Kadis, Camat dan Lurah

Hari Pertama Bertugas, Pjs Wali Kota Bontang Riza Kumpulkan Kadis, Camat dan Lurah

PARADASE.id - Riza Indra Riadi mengajak seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat da...

JELAJAH