Kembali ke Artikel
Pameran Mandau 2019: Kilau Cinta dalam Kilatan Mandau
16 Nov/2019

Pameran Mandau 2019: Kilau Cinta dalam Kilatan Mandau

16 Nov 2019 Feature

PARADASE.ID. Museum Samarinda. Letaknya di bilangan bundaran Taman Samarendah. Area publik. Ruang terbuka hijau di kawasan kota. Tempat warga berkumpul, bercengkerama dengan keluarga. Menghabiskan sore. Menikmati udara kota yang sejuk dari helai daun diembus semilir. 

 

Hutan buatan yang memacak pohon penghijauan. Taman yang berada di perempatan jalan arteri ini dapat dicapai dari arah jalan Awang Long, Basuki Rahmat atau dari jalan Pahlawan. 

 

Di sudut jalan yang tadinya adalah komplek sebuah sekolahan. Berdiri megah. Sebuah Museum. Museum  Samarinda. Bangunan berlantai dua berkonsep arsitektur rumah adat Suku Dayak KalimantanTimur.

 

Mengusung kearifan lokal dalam ornamen jamak pilar sebagai penegas. Tangga berundak untuk mencapai ruang utama pameran yang dikawal pilar-pilar tangguh pada kedua sisinya.

 

Di ruang pamaren utama Museum Samarinda. Terhitung tanggal 15-17 November 2019. Digagas event yang menyajikan menu utama “Pameran Mandau Kalimantan Timur.”

 

Acara yang dibesut oleh Gerakan Dayak (Gerdayak) Kalimantan Timur ini. Pada kenyataann menampilkan mandau—senjata tradisional Kalimantan—. Mandau milik masing-masing suku asli yang ada di Kalimanatan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

 

“jenis mandau yang dihadirkan, melampaui perkiraan kami.”kata Wawan. Tim panitia sekaligus narator atau guide pengunjung yang membutuhkan informasi lebih.

 

“slot yang disediakan 100. Realitanya lebih tinggi dari angka itu.”kata Wawan sumringah. Pemuda asli Suku Kutai yang mengenakan lilit kepala kuning ini, menyebut dari sisi isi pameran. Panita terbilang berhasil menyukseskan acara.   Menghimpun minat pengrajin dan pemilik senjata memajang benda pusaka-nya.

 

Menurut Wawan yang menamatkan SLTA pada SMK Tunas bangsa kota Bontang ini. Mandau sebagai   senjata asli Suku Kalimanatan adalah jejak budaya. Artefak yang hingga kini masih bertahta depan mata. Dapat dinikmati dan tetap diminati para pengrajinnya. 

 

Meskipun senjata serupa— yang berfungsi sebagai alat pencaharian hidup— mendominasi lahan kehidupan. Mandau sebagai senjata asli dipertahankan. Dilestarikan.

 

Bagi warga pribumi. Mandau terlalu lekat dalam pengetahuan dan informasi budaya. Mandau tetap menyuguhkan pamor.

 

Pada zaman ini fungsi mandau lebih seksi dijadikan buah tangan. Tapi taji mandau sebagai alat budaya tetap saja menagih rasa penasaran.

 

Pameran budaya kali ini, menampatkan mandau sebagai menu utama. Tidak disangkal, beberapa orang anak zaman millineal baru mengenal mandau melalui informasi lisan. Dari orang tua atau Guru kesenian.

 

Pameran mandau 2019 ini menjadi sarana. Moment tepat mengajak generasi muda mengenal senjata tradisional Kalimantan secara dekat.

Wawan dalam wawancara dengan media ini berharap ;kearifan lokal yang diusung dalam pameran senjata lelulur mendekatkan masyarakat akan kecintaan budaya.”Kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikan budaya.”

 

Dituturkan Wawan, pra acara pamaren. Sebelum dinyatakan terbuka untuk umum. Panitia telah melakukan rangkaian ritual adat. Mandau sebagai senjata “bertuah” tidak asal dipampangkan begitu saja.

 

Terkait sejarah mandau dan keeratannnya dalam sistem kekerabatan dan sistem mata pencaharian hidup suku Dayak. Menampilkan senjata untuk dikonsumsi umum menghajatkan ritual khusus. 

 

Seorang Memang atau pawang yang dianggap memiliki askes komunikasi dengan orang-orang”dunia atas” tampil merafal mantra. Mendahului seluruh rangkaian acara. Memang bertugas “meminta izin” kepada penguasa yang menguasai fisik dan sesuatu yang tidak kasat mata. Sesuatu yang melekat atas mandau sebagai alat senjata.

 

Keberadaan mandau tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang laku budaya Suku Dayak. (Indrayani:Pusaka BAKUDA; 2018), menyebutkan mandau terhubung erat kuat dengan tradisi kuno. Ngayau. Upacara perburuan kepala manusia yang sekarang sudah dinyatakan terlarang. 

 

Sebagai senjata utama. Bilah mandau mendapatkan laku istimewa sebelum ditebaskan. Mandau yang diberi mantra semakin menunjukkan tajinya. 

 

Konon Mandau mendapatkan limpahan energi magis dari roh orang yang pernah dikayau. Kilatnya lapar nyawa, sabetannya haus darah, gerakannya menjilat-jilat menyemburkan racun kematian. 

 

Di tangan pemilik atau dipegang pejuang kayau yang tepat, kesaktian mandau melangit bagai memiliki barisan nyawa. 

 

Mandau sebagai senjata. Pada semua masyarakat adat Suku Dayak memiliki bentuk sama. Perbedaannya hanya dari sisi kelengkungan bilah. 

 

Ada bilah yang agak condong ke belakang. Ciri-ciri tersebut membedakan jenis-jenis Mandau Ilang yang hampir lurus. Mandau Langgi Tinggang yang melengkung ke belakang. Mandau Naibur menggunakan semacam pengait (mirip bunga kacang kacang panjang pada keris di dekat pangkalnya). Mandau Pakagan dan Mandau Bayou yang memiliki variasi bentuk sendiri.

 

Berdasarkan perbedaan jenis dan bentuk hiasan, diketahui bahwa mandau dengan ciri-ciri tertentu adalah milik Masya-rakat Dayak Maayan, Dayak Mbalan, Dayak Bahau, Dayak Ngaju, atau sub suku Dayak lainnya.

 

Dahulu, mandau atau senjata tradisional suku Dayak ini dipergunakan oleh Raja-Raja atau kepala suku saja. Karena mandau dipercaya senjata keramat yang dipelihara dan dira-wat penuh hormat. Mandau yang  satu jenis dengan parang, memiliki panjang ½ meter.

 

Adapun ciri khas senjata tradisional ini yaitu ukiran bilahnya yang tidak terlalu tajam. Banyak ditemui mandau dengan lubang ukiran tambahan pada bilahnya. Dilapis tembaga demi memperindah bilah Mandau.

 

Jika di ruang utama, pemandangan bilah mandau tersebar dimana-mana. Di teras. Serupa panggung. Pada bagian puncak unggakan tangga. Sekelompok Pemuda Suku Dayak menampilkan musik tradisional. Alat musik sampek digunakan. 

 

Sampek adalah alat musik sejenis gitar. Dawainya melahirkan nada. Suasana Adat Suku Dayak nyaring menggema. 

 

Di area panggung. Pada sisi kanan,  dan sisi kiri, sekumpulan pemuda dan pemudi mengenakan aksesori Suku Dayak. Remaja Putri. Mereka memakai manik-manik untuk mahkota. Dan para lelaki dengan ikat kepala dari kulit kayu. Corak yang kental    menampilkan keunikan  etnis secara padu.

Dalam rangkaian pameran Mandau yang berakhir 17 November. Acara akan dimeriahkan dengan suguhan kesenian Suku Dayak. Tari kawit dan tari Hudog juga mendapatkan tempat.

Budaya. Dia adalah ruh kearifan lokal. Kecerdasan, pengetahuan, dan keyakiann warga  yang menyatu dalam kehidupan mereka. Turun temurun. Lebih dari kurun waktu se-abad.

 

Menyaksikan ajang      pameran adalah  upaya nyata mendekatkan warga dengan budayanya. Budaya menjaga kekhasan etnik asli suku pribumi yang memberi warna meskipun laju zaman di luar sana berupaya melindasnya. (***)

 

Penulis: R. Indra

Editor: Ahmad Fuad

 

Article Lainnya


22 Desa di Kaltim Diusulkan Masuk Program Desa Wisata Nasional

22 Desa di Kaltim Diusulkan Masuk Program Desa Wisata Nasional

PARADASE.id - Pemprov Kaltim mengusulkan 22 desa wisata masuk dalam Program Pengembangan Desa Wisata...

Tiga Rahasia Kelemahan kita Disertai Tips Mengatasinya

Tiga Rahasia Kelemahan kita Disertai Tips Mengatasinya

Inway # 135 Oleh : Rusmiati Indrayani (Indrayani Indra) Masa perkuliahan semester ...

Ratusan Polisi di Bontang Jalani Tes Narkoba Mendadak, Apa Hasilnya?

Ratusan Polisi di Bontang Jalani Tes Narkoba Mendadak, Apa Hasilnya?

PARADASE.id - Sebanyak 242 anggota Polres Bontang menjalani tes urin dadakan, sebagai tindak lanjut ...

Merchant QRIS di Kaltim Mencapai 99.157 Unit

Merchant QRIS di Kaltim Mencapai 99.157 Unit

PARADASE.id - Jumlah merchant (toko dengan pembayaran secara elektronik) melalui QRIS (Quick R...

JELAJAH