Kembali ke Artikel
Pagi di Hari Pilkada  Ilustrasi. (Google Image)
10 Dec/2020

Pagi di Hari Pilkada 

10 Dec 2020 Cerita

Oleh : Indrayani Indra

 

Sinar matahari dhuha mengganggu mataku. Kuningnya menyilaukan. Pendarnya mengulik dari balik jendela kaca, menembus langsung ke jantung meja kerja. Pada pagi itu aku duduk di situ dan membiarkan matahari bercanda melemparkan hangat di wilayah wajah. Aku merapatkan pantat di kursi. Kursi itu, ketika digunakan bersandar maka badannya masih tersisa melampaui batas kepala. Kursi itu bisa diputar 360 derajat. Di kursi berlengan kokoh itu kerap ku titipkan tangan yang kadang gemetar, tangan yang setiap menghadap meja selalu terangkat untuk menggapai papan huruf di teras laptop. Laptop yang berfungsi untuk mengikuti kuliah dan memberi kuliah.

 

Sejak pukul enam aku duduk di sana tetapi hingga waktu dhuha memancarkan cahaya belum kuputuskan untuk mengerjakan tugas mata kuliah apa. Tugas yang tidak selesai dibabat sekali duduk. Adakalanya butuh berdiri berkali-kali lalu duduk lagi, mengerjakan lagi hingga menemukan rasa diri dalam tulisan yang diciptakan. Meskipun pekerjaan menulis yang terbentuk dari tangan sendiri hanyalah hasil jahitan dari sekian artikel jurnal yang ditulis orang lain, namun pekerjaan membaca dan menyimak dan memeras inti sari yang akan dijadikan bahan tulisan sendiri adalah sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang datang dari sumbangan pikiran orang lain yang memecah gagasan dalam bentuk tulisan mandiri.

 

Namun, hei, kemana sinar matahari pagi ? Sinar pagi yang tadi mengganggu mulai memudar, aku menjeda bermain kata dan menatap ke luar jendela. Kubujuk sinarnya supaya jangan merajuk, kuberikan tatapan empati agar dia tidak mengecilkan diri.

 

“Kita berangkat pukul berapa ?” kata suara di balik ruang kerja. Aku diam saja sambil mataku mencari di mana kira-kira sinar pagi yang mengganggu tadi. “Jangan telat, atau kita akan kehilangan suara.” katanya sembari suaranya mendekati ruang kerja namun tidak membawa diri merapat ke meja kerja. Di sana di tempat duduk, aku tidak menyahut dan tidak memberi isyarat untuk berangkat tergesa-gesa. Masih pukul tujuh. Masih dua jam lebih hingga waktu merapat di pukul setengah sepuluh.

 

Antara keinginan membujuk matahari agar tidak merajuk dan keinginan tidak memberi suara dalam pikada berkonflik sama kuatnya. Namun sebelum memutuskan untuk memberi suara pada siapa, aku merasa matahari benar-benar harus dikasihani, diberi hati supaya bersinar kembali.

 

Pagi tadi, baru beberapa menit lalu sinarnya percaya diri berada mengusap ujung wajah, namun sekejab tiupan angin pendarnya berubah. Dia seperti seseorang yang dilanda kesepian. Ada apa gerangan?

 

Jika ada satu orang atau beberapa orang di dunia dewasa sana mengeluhkan pemerintah. Itu persoalan biasa. Umum terjadi di mana-mana. Sebab mana ada seluruh rakyat mendapatkan kepuasaan atas pelayanan sebuah pemerintahan. Tidak ada. Dari beberapa yang belum merasa puas itu mereka memiliki tiga hasrat politik, satu ; tidak menyoblos, dua ; memilih pasangan calon pesaing, dan ; tiga tetap memilih pertahana dengan bekal omelan yang bersambung seperti gabungan beberapa gerbong.

 

Sebagai warga negara yang memiliki hak politik, tidak memilih adalah keputusan buruk. Meskipun buruk pilihan tersebut tetap diminati oleh sebagian kecil jumlah penduduk. Bisa saja karena abai lalu tidak memilih atau karena alasan teknis seperti tidak memiliki uang untuk datang ke tempat pemilihan suara. Tidak datang karena alasan uang.

 

Uang adalah nilai tukar mewah dan menitah. Di tengah aksi kepentingan pasangan calon yang bertarung, curahan uang kepada calon pemberi suara menderas bagai air tumpah. Pengantar manisnya adalah untuk biaya transport ke tempat pemilihan suara atau sekedar tali asih atau niat berbagi kepada sesama mumpung sedang pilkada atau dengan seribu maksud yang mengalirkan uang keluar.

 

Uang yang diceburkan pasangan calon sejatinya tidak gratis. Rakyat yang berani menerima uang tali asih atau uang transport telah masuk dalam jaringan pendidikan yang tidak membebaskan. Sebagai seseorang dengan belenggu akan sulit baginya bergerak menemukan cara untuk melepaskan keterkungkungan

 

“Saatnya berangkat !” kata sebuah suara yang tadi beredar di balik ruang kerja. Saat itu wangi parfum khas lelaki menguar menyapa hidungku. Matahari pagi belum kutemukan. Sinarnya meredup dan hingga seseorang yang mengajak berangkat tadi merapat di sisi meja kerja, aku belum menetapkan pilihan untuk memilih salah satu pasangan calon penguasa.

 

Setiap pemenang pasti punya ciri dalam memerintah dan rakyatlah yang bertanggung jawab. Nasib pembangunan sebuah kota atau daerah ditentukan oleh pilkada pilihan rakyat yang akan bertengger di balai kota. Pasangan penguasa yang mengelus kagum pada tahtanya sambil menyungging senyum seribu makna.

 

***

“Siap berangkat ?” kata suara yang terdengar di balik pintu kaca.

Namun...

Handphone bergetar dan Kriiiing…seseorang memanggil dari layar.

 

“Kenapa diabaikan ?” katanya melihat aku tidak menangkap alat komunikasi segi empat. Ia yang bertanya itu sabar memandangi aku menguleskan pemulas bibir.

 

“Hari ini kuliah libur.”ujarku. “Angkat saja, siapa tahu penting.” Aku tidak menjawab dan juga tidak menerima panggilan telepon.

 

“Siapa tahu penting. “ katanya mencari diriku melalui cermin. Saat itu aku sudah aku merapikan bagian sisi luar kerudung setelah memastikan ujung peniti erat terkunci.

 

“Bu. Hari ini coblos si A, ya. Plis.” kata si pemanggil telepon dalam pesan WA.

 

Aku hapus pesan itu. Ini bukan zaman penjajahan. Belanda dan Jepang sudah pulang. Untuk bagian hak berpolitik, sudah saatnya aku dan siapa saja boleh memilih sesuai arahan hati. Nama penguasa selanjutnya sudah tertulis di alam atas.

 

“Bagaimana jika jagoanmu kalah ?” Ah, aku tidak mau menjawab sebab tidak akan ada yang bertanya siapa pilihanku dalam pilkada. Kalaupun ada yang nekad bertanya. Aku menjawabnya dengan diam.

Article Lainnya


 Menulis Setelah Luka

Menulis Setelah Luka

Cerita Oleh : Indrayani Indra Membuat karangan ? Meskipun tema bebas, itu tetap saja harus ...

Lelaki dari Shift Malam

Lelaki dari Shift Malam

OLeh : Indrayani Indra Sabtu. Akhir pekan yang lengang. Jalan raya kesepian dan alun-alun k...

Mawar Putih Persahabatan

Mawar Putih Persahabatan

CERITA : Oleh Indrayani Indra Rumpun bambu bergesekan diterpa angin pukul 16.00. Daun bambu yang hi...

Kicau Anisa

Kicau Anisa

CERITA : Oleh Indrayani Indra “Aduuuh, kenapa datang lagi ?” kata A...

JELAJAH