Kembali ke Artikel
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp15.000 Per USD Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) (Foto: sindonews.com)
06 Jul/2022

Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp15.000 Per USD

Paradase.id -  Rupiah akhirnya tidak kuat menahan tekanan dari gejolak pasar keuangan global. Setelah beberapa hari, Dolar Amerika Serikat (AS) kini bertengger di level Rp 15.000.

 

Rupiah membuka perdagangan hari ini di Rp 14.990/US$ atau melemah 0,03% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Setelahnya rupiah sempat menyentuh Rp 14.995/US$, sebelum berbalik menguat tipis 0,03% ke Rp 14.981/US$.

 

Rupiah tak kuasa menahan tekanan dan akhirnya menyentuh Rp 15.000/US$ pada pukul 09:06 WIB. Level tersebut merupakan yang terlemah dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

 

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Edi Susianto memberikan penjelasan lengkap kepada CNBC Indonesia, Rabu (6/7/2022) mengenai kondisi rupiah terkini.

 

Edi menuturkan, kondisi ini berasal ketidakpastian perekonomian global yang semakin tinggi. Pelaku pasar, menurutnya khawatir dunia akan masuk ke resesi. AS dan sederet negara kini sudah hadapi lonjakan inflasi.

 

"Pasar global khawatir akan terjadinya perlambatan lebih jauh atas ekonomi global bahkan khawatir bisa masuk ke kondisi resesi, khususnya ekonomi AS dimana data yang terkini sepertinya mendukung terhadap kekhawatiran tersebut," jelasnya.

 

Sehingga opsi yang dipilih adalah mengamankan modal ke tempat yang dianggap paling aman, adalah dolar AS dan US Treasury. Maka dari itu penguatan dolar AS kini sudah mencapai level tertinggi sejak 20 tahun terakhir.

 

"Artinya dari pergerakan nilai tukar, banyak mata uang non USD khususnya mata uang EM (Emerging Market) mengalami pelemahan, tentunya termasuk Rupiah," paparnya.

 

Akan tetapi, Edi menyampaikan, posisi rupiah masih lebih baik dibandingkan dengan mata uang Thailand, Malaysia, Filipina, India, dan Korea Selatan.

 

Edi menuturkan, kondisi ini berasal ketidakpastian perekonomian global yang semakin tinggi. Pelaku pasar, menurutnya khawatir dunia akan masuk ke resesi. AS dan sederet negara kini sudah hadapi lonjakan inflasi.

 

"Pasar global khawatir akan terjadinya perlambatan lebih jauh atas ekonomi global bahkan khawatir bisa masuk ke kondisi resesi, khususnya ekonomi AS dimana data yang terkini sepertinya mendukung terhadap kekhawatiran tersebut," jelasnya.

 

Sehingga opsi yang dipilih adalah mengamankan modal ke tempat yang dianggap paling aman, adalah dolar AS dan US Treasury. Maka dari itu penguatan dolar AS kini sudah mencapai level tertinggi sejak 20 tahun terakhir.

 

"Artinya dari pergerakan nilai tukar, banyak mata uang non USD khususnya mata uang EM (Emerging Market) mengalami pelemahan, tentunya termasuk Rupiah," paparnya.

 

Akan tetapi, Edi menyampaikan, posisi rupiah masih lebih baik dibandingkan dengan mata uang Thailand, Malaysia, Filipina, India, dan Korea Selatan. (CNBC Indonesia)

 

[FRM]

Article Lainnya


Sejumlah Sekolah di Bontang Keluhkan Sapras yang Tidak Layak Pakai, Ini Tanggapan Dewan

Sejumlah Sekolah di Bontang Keluhkan Sapras yang Tidak Layak Pakai, Ini Tanggapan Dewan

BONTANG - Sejumlah sekolah di Bontang hingga kini masih mengeluhkan banyaknya sarana prasarana (sapr...

Rencana Pemkot Bontang Beri Penghargaan Pahlawan, DPRD Sambut Positif

Rencana Pemkot Bontang Beri Penghargaan Pahlawan, DPRD Sambut Positif

BONTANG-- Rencana Pemerintah Kota Bontang yang berencana memberi penghargaan kepada tim sebelas pemr...

Bakhtiar Wakkang Minta UPT Maksimalkan Fungsi Pelayanan ke Pedagang Pasar Tamrin

Bakhtiar Wakkang Minta UPT Maksimalkan Fungsi Pelayanan ke Pedagang Pasar Tamrin

BONTANG - Anggota Komisi II DPRD Bontang, Bakhtiar Wakkang meminta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar...

Agus Haris: Revisi RTRW Bontang Berdampak Pengembangan Investasi Industri

Agus Haris: Revisi RTRW Bontang Berdampak Pengembangan Investasi Industri

BONTANG---- Menyambut pemindahan Ibu kota negara (IKN Nusantara) ke Kalimantan Timur Wakil Ketua DPR...

JELAJAH