Kembali ke Artikel
Nasi Campur Prapatan Ilustrasi warung makan nasi. (Bukukas.com)
05 Nov/2020

Nasi Campur Prapatan

05 Nov 2020 Cerita

Oleh: Indrayani Indra

 

Penampakkan wajah perempuan paro baya itu lebih banyak merupa kerut cemberut. Jika dia melayani pembeli, selain menanyakan berapa bungkus dan apa lauknya, untuk pesanan nasi campur dagangannya, sisanya hanyalah hening di sela-sela nyanyian sendok bertemu dinding panci yang dia ketukkan berkali-kali. Setelah menunaikan tugasnya membungkuskan pesanan pembeli dan menyurungnya melalui etalasi yang memberi sekat antara ; pembeli dan penjual. Setelah itu diapun diam  tidak memulai bicara sedikit jua, seakan tutup mulut adalah keterampilan yang dirawatnya dari dasar sampai mahir. 

 

Lalu bagaimana dengan jumlah harga yang harus dibayar oleh pembeli ? Dalam penutupan transaksi, perempuan yang kerudungnya selalu di bawah pinggang itu lebih memilih menunggu hingga pembeli bertanya tentang harga. Lantas dia menyebut sejumlah rupiah dan uang diserahkan. Sampai di situ selesailah urusannya melayani satu pembeli dan pembeli lainnya. Namun pada suatu pagi, saya mendapatkan pemandangan lain yang ditampakkan sang penjual nasi campur perempatan di sebuah jalan di kota itu.

 

 

Kendaraan pada pagi menjelang siang di jalan lapis kedua itu agak lengang. Badan saya masih menyisakan aroma sabun mandi dan parfum wangi apel, pergelangan tangan licin dan lembut akibat body lotion yang saya usapkan setelah mani dan berpakaian. Saya memarkir kendaraan secara paralel tepat di depan warung nasi campur prapatan. Disebut prapatan gegara letak penjual menggelar lapak hanya sejarak dua bangunan toko dari tiang lampu merah perempatan. Pemilik warung itu, walaupun penampakkan wajah penjualnya lebih banyak sendu, namun hidangan nasi campur olahan tangannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Masakannya kaya bumbu dan padat rempah ditambah santan pekat dan keseimbangan rasa asin asem dan manis gula merah. Jika tidak sadar kaki pembeli mampir pertama kali, sekali mencicipi nasi campurnya mereka akan datang lagi dan lagi.

 

 

Pagi Sabtu dia membungkuskan satu porsi pesanan saya, tepat ketika dia memberi karet dan memasukkan ke dalam plastik bening, saya terperanjat, tidak mengira dan menjadi gugup seketika. Bagaimana bisa, tetapi itu yang terjadi sebenarnya. Saya sendiri benar-benar tidak menyangka, dompet yang saya bawa tidak terdapat lembaran uangnya. Rupanya perilaku terburu-buru membuat saya menarik dompet yang berbeda. Dengan perasaan gelisah dan panik yang berkunjung tiba-tiba, saya merasa bersalah sekaligus tidak sanggup mengangkat muka. Maka sambil tangan sibuk memohon keajaiban, siapa tahu dompet ini ada uang duapuluh ribuan barang selembar. Lalu secara sepihak saya batalkan pesanan, untungnya saya datang agak siang, jadi pembeli di sana hanya ada saya seorang.

Namun sekalipun sendirian, situasinya tetap saja tidak menyenangkan. Saya menduga perempuan berwajah cemberut itu akan marah atau memaki-maki. Atau dia tetap diam sambil menyimpan pesanan saya dengan kesal.

Atas apapupun reaksinya saya menyerah seraya akan memohon maaf untuk segala silaf. Tanpa disangka dan saya tidak menduga, rupanya dia tetap menyerahkan pesanan. "Jika bukan sekarang besok atau lusa bisa mampir untuk membayar." katanya dengan nada datar. Saat mendengar ujarannya yang membuat pulih tenaga, saya merasa harus mohon ampunan kepada Tuhan untuk dua kesalahan. (*)

Article Lainnya


Diam Mama

Diam Mama

Oleh: Inui Nurhikmah* Bagaimana asal mulanya, tak seorang pun tahu.Tidak Anton, tidak...

Cara Mengucapkan Maaf

Cara Mengucapkan Maaf

CERITA : Oleh Indrayani Indra Ruangan supermarket itu luasnya setengah lapangan sepak bola ...

Pagi di Hari Pilkada 

Pagi di Hari Pilkada 

Oleh : Indrayani Indra Sinar matahari dhuha mengganggu mataku. Kuningnya menyilaukan. Penda...

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Cerita oleh : Indrayani Indra Bulir-bulir padi berwarna emas. Batangnya bergerak disepoi an...

JELAJAH