Kembali ke Artikel
Napas di Ujung Prasangka Ilustrasi. (HT file photo)
21 Oct/2020

Napas di Ujung Prasangka

21 Oct 2020 Cerita

Konon, jelang regangnya antara nyawa dan raga. Seseorang datang menggoda. Menggoda sekuat tenaga dengan aneka cara. Trik yang diumpankan sampai memiripkan dirinya dengan seseorang tercinta yang pura-pura tulus mengulurkan bantuan. Tetesan embun dihampirkan pada bibir memarau di puncak rasa kehausan tetapi ketika raga tak berdaya beringsut menyambutnya. Naudzubillah seseorang yang seolah belahan jiwa itu menarik bantuan kecuali melaksanakan satu syarat.

 

“Aku melihat seseorang nenek di situ!” katanya lemah terbujur di atas ranjang pasien. Layar monitor yang mengontrol pergerakan organ vital mulai melonggar. Detak jantung melamban demikian juga tekanan darah dan kemampuan nadi menyalurkan cairan merah. “Jangan aneh, ah. Lagian apakah kamu mengenal nenek itu. Turut bersama orang tak dikenal berbahaya loh, tolak saja ajakannya.” kata Nabila menjauhkan pikiran Fabila yang mengelantur. Dengan mata terpejam dan bagian ujung kuku berubah warna dan jari-jari tangan dan kaki mendingin. Nabila dibawa pada firasat sesat yang tidak ingin dipercayainya. Lalu dia membisikkan kalimat talqin ke dalam pendengaran sang adik tercinta. Kanker mulut merenggut kesehatannya. Menurut dokter sel-sel abnormal telah merusak ginjal yang mengharuskan Fabila menjalani tindakan cuci darah.

 

Namun ketika jadwal pencucian darah oleh mesin. Nabila dan ibunya salah perkiraan. Masing-masing mengira salah satu di antara mereka ada menunggui Fabila. Sehingga sepanjang hari pasien di ruang perawatan kelas satu itu sendirian di ranjangnya. Perasaan mengantuk di bawah pengaruh obat penenang menyamarkan prasangka antara seseorang dalam keadaan koma atau hanya mengantuk tidak kuasa memerlihatkan bulatan hitam matanya. Hening di sana. Tidak terdapat seorang pun kerabat menemaninya. Lalu seorang perawat menghubungi kontak telepon Nabila. Semua tidak lagi sama. Mulai saat itu, Nabila harus terbiasa menerima kehilangan sebenarnya.

Article Lainnya


Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Cerita oleh : Indrayani Indra Bulir-bulir padi berwarna emas. Batangnya bergerak disepoi an...

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Bangunan kampus itu tetap sama seperti saat ia ada di sana, empat pilar utama berwarna hijau pupus m...

Ayunan

Ayunan

Oleh : Indrayani Indra Ratih dan Jamali sepakat berbagi tugas pengasuhan. Ratih akan menidu...

Nasi Campur Prapatan

Nasi Campur Prapatan

Oleh: Indrayani Indra Penampakkan wajah perempuan paro baya itu lebih banyak merupa kerut c...

JELAJAH