Kembali ke Artikel
Napak Tilas Pergerakan Mahasiswa
26 Nov/2019

Napak Tilas Pergerakan Mahasiswa

26 Nov 2019 Feature

PARADASE.ID. Ratusan mahasiswa. Duduk bersila. Di halaman gedung utama. Di sebuah kampus pendidikan Islam. Perguruan Tinggi Negeri terkemuka. Di Kota Banjar Kuala. 

 

Aktivis organisasi mahasiswa ekstra kampus. Mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. PMII. Rayon Fakultas Ushuluddin dan Humaniora. Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Bertemu muka secara terbuka. Akrab bersaudara. 

 

Acara dihadiri anggota organisasi mahasiswa kelompok Cipayung PMII, GMNI, HMI, PMKRI, GMKI, dan organisasi intra kampus.

 

Adalah Ahmad Munir Mubarok.  Yang bulan Oktober pulang dari Negeri Malaysia. Mengikuti lomba Internasional Makalah Tafsir Al-Quran. Menggagas acara dialog terbuka. Mengusung Tema “Marwah Pergerakan Mahasiswa Era 4.0.”

 

Forum keilmuan. Mengadirkan praktisi keilmuan mumpuni dibidangnya. Dua pembicara. Mereka. Saudara. Satu Ayah. Satu Ibu. 

 

Kandidat Doktor Ahmad Herman dan Rusmiati Indrayani. Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Mulawarman. Dua pembicara. Calon ahli manajemen.

 

Indrayani. Lebih menyoroti dinamika dan pergeseran arah pergerakan. Peserta menyimak aktif dan melontarkan tanggapan kritis. 

 

“Era 4.0. diadopsi dari teknologi pabrik yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Zaman dahulu,”ujar Indrayani yang juga merupakan Dewan Redaksi Paradase.id ini, serba-serbi menghajatkan otot atau tenaga manusia. 

 

“Zaman PT. POS Indonesia lagi jaya-jayanya. Transaksi  di kantor pemerintah ini luar biasa aktifnya. Geliat kerja personel pendukung “burung-bung merpati” sangat intens dengan tingkat produktivitas tinggi. Semua dijalankan menggunakan tenaga manusia. 

 

Kartu pos. Warkat pos untuk mengirim berita dan uang. Disalurkan hingga pintu rumah penerima. Lalu. Surat sarana pengiriman paling hebat adalah level prangko kilat bergeser menuju zaman telegram. 

 

Dan teknologi terus melaju. Hingga dalam lima tahun terakhir ini,  orang zaman now telah berkomunikasi melalui aplikasi WA. WhatSApp. Aplikasi smartphone yang menyediakan fitur canggih. Mampu memerdekakan penjajah waktu dan biaya.

 

Era 4.0 mengandalkan internet. Jaringan sinyal dan paket data atau kouta

 

"Sehingga. Zaman sekarang orang bekerja lebih berat. Karena. Bukan saja demi harta dan wanita, tetapi juga demi kouta," demikian Indra dalam paparannya. 

 

Masih menurut Indrayani yang mantan ketua KORP PMII putri Rayon Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Teknologi hanya alat. Alat yang memudahkan pekerjaan manusia. Setiap orang, termasuk mahasiswa tidak harus mengubah haluan perhatian. Dari Tuhan menuju telepon genggam. 

 

Ketika dering telepon lebih menarik ketimbang panggilan adzan. Ini masalah gawat darurat. Kiblat perhatian seharusnya tetaplah keyakinan. Telepon genggam hanya semata-mata hiburan. Syafaat yang manfaatnya diterima langsung. 

 

Menyedekahkan banyak waktu dalam pertemanan hape, bukan saja berbahaya bisa jadi seseorang diambang sakit jiwa. 

 

Gangguan kejiwaaan dengan indikasi; macetnya hubungan pertemanan nyata. Berbanding terbalik dengan agresifnya berselancar di dunia maya. Kecenderungan anti sosial. 

 

Bertetangga dan berkawan di dunia zahir semakin melipir. Ironis. Justru saat kemudahan terjadi dalam satu jentikan jari. 

 

Orang sekarang telah ahli memanfaatkan produk teknologi. Belanja online dengan segala turunannya. 

 

Cukup kepala di atas bantal, seseorang yang lapar bisa terwujud hajat kenyang. Tinggal klik fitur go food. Lalu bukan ketukan pintu terdengar melainkan telepon yang berdering nyaring. Pesan antar. Telah menungu depan pintu. 

 

Menanggapi pertanyaan. Mengapa zaman canggih ini belum diikuti oleh gerakan mahasiswa yang lebih kreatif massif. Gerakan mahasiswa seakan kehilangan arah. Tidak berada pada satu komando. 

 

Ahmad Herman mantan aktivis gerakan mahasiswa 90-an. Menegaskan itu bagian dari kesalahan mahasiswa. Acuh. Tidak peduli sekitar. Hanya fokus diri sendiri. Sejatinya untuk membangun sebuah pilar kebangsaan yang berakar. Mahasiswa dituntut berperan aktif. Menyuarakan aspirasi kritis. 

 

Karena ketika mahasiswa “takut.” Dalam dinamika demokrasi. Mahasiswa dengan daya kritisnya adalah sepasukan akvitis pergerakan. Demo yang sangat ditakuti oleh pimpinan sebuah negeri. Sayang mahasiswa sekarang hampir kehilangan daya kritisnya.” kata Ujang sebutan untuk nama Ahmad Herman. (***)

 

Reporter :R. Indra

Edtiro: Ahmad Fuad

 

Article Lainnya


Mantan Berulah, Pukul Pujaan Hati Karena Tak Dikasih Kata Kunci HP

Mantan Berulah, Pukul Pujaan Hati Karena Tak Dikasih Kata Kunci HP

PARADASE.id - Polres Bontang mengamankan ZN (20 tahun) akibat penganiayaan yang dilakukan kepada puj...

Jatah Vaksin Tahap Kedua Buat Bontang Jauh dari Harapan

Jatah Vaksin Tahap Kedua Buat Bontang Jauh dari Harapan

PARADASE.id - Sebanyak 190 vial Vaksin Sinovac dari pemerintah pusat akan tiba di Kota Bontang pada ...

Ayam Bersalut Sayang

Ayam Bersalut Sayang

Inway # 134 Oleh : Rusmiati Indrayani Buka Rabu. Mulai pukul : 7.00 WITA. ...

Wawali Sambut Baik Keberadaan SMSI Bontang, Basri: Jangan Ada Media Abal-abal

Wawali Sambut Baik Keberadaan SMSI Bontang, Basri: Jangan Ada Media Abal-abal

PARADASE.id - Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Bontang mengunjungi Rujab Wakil Wal...

JELAJAH