Kembali ke Artikel
Merindukan Guru dan Sekolah
17 Nov/2020

Merindukan Guru dan Sekolah

17 Nov 2020 In Way

Inway #121

 

Oleh : Rusmiati Indrayani

 

Masa pandemi ini entah kapan dinyatakan selesai. Meskipun hidup santai berkawan virus yang masih mengintai, kebutuhan dasar akan pendidikan adalah masalah mendesak yang tidak bisa ditunda. Dua semester telah dilalui dengan mode pembelajaran daring. Ada kelebihan namun kekurangan lebih terlihat karena pada hakikatnya kita semua sedang menjalani perubahan. Perubahan kegiatan pembelajaran yang tidak pernah diantisipasi sebelumnya.

 

Perubahan paling nyata di masa ini adalah teralihnya tugas pendidikan dari sekolah kepada keluarga. Orangtua memikul tanggung jawab ganda berganda. Tugas orangtua sebagai pendidik utama menampakkan wajahnya sedemikian rupa. Jika sebelumnya anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dan menemukan kegembiraan saat liburan semester atau kenaikan kelas, selama pandemi berlangsung anak-anak dianjurkan lebih baik di rumah saja termasuk belajar juga dilaksanakan dari rumah. Di rumah setiap hari membuat anak-anak merasa bosan belajar.

 

Beberapa hari lalu, saya duduk berbincang di teras tetangga. Kelompok dasa wisma kami akan mengadakan acara maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dengan undangan terbatas dan tetap mematuhi ketentuan kesehatan. Di samping saya duduk seorang ibu dan anak perempuannya berusia 10 tahun. Sambil mengawasi panci yang menjerang kuah soto, saya bertanya kepada si ibu tentang anak-anaknya. Anak sulungnya mereka yang kuliah di pulau Jawa sudah dua semester melaksanakan pembelajaran daring. Mahasiswi semester tiga yang setiap hampir tidak pernah keluar rumah menyapa matahari langsung. Sedangkan adiknya, gadis kecil kelas empat sekolah dasar sehari-harinya lebih banyak bermain daripada belajar. “Bagaimana dengan tugas mata pelajaran sekolah ?” kata saya kepada keduanya. 

 

Sang ibu mengatakan kalau mulutnya sudah berbusa-busa menyuruhnya anaknya belajar dan mengerjakan tugas pelajaran. Menurutnya sang anak cukup cakap menuntaskan tugas namun sayangnya kemampuan mengatasi pelajaran sekolah kalah dengan kemaun yang lemah. Menyuruh saja ternyata belum menutupi tuntutan peran yang dipikul oleh orangtua. Rasa malas dan rasa bosan adalah jawaban yang saya dapatkan dari anaknya.

 

Berjalan pulang ke rumah, jawaban tentang rasa malas dan bosan masih tergiang di telinga dan pikiran saya. Untungnya ibu tersebut memiliki pilihan bantuan untuk anaknya dengan cara mengirim ke rumah guru les. Untuk sesaat si ibu bisa bernapas lega. Namun bagaimana jika rasa bosan kembali menghinggapi perasaan anak ?

 

Bagaimanapun dunia maya tidak pernah bisa setara dengan alam nyata. Tatap muka secara virtual tetap saja menyisakan banyak masalah komunikasi. Tatap muka dalam pembelajaran langsung menjadi kegiatan mewah yang tidak tergantikan.

Article Lainnya


Patroli Penegakan Prokes, Masih Banyak Masyarakat Bontang Acuh Protokol Kesehatan

Patroli Penegakan Prokes, Masih Banyak Masyarakat Bontang Acuh Protokol Kesehatan

PARADASE.id – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kota Bontang melakukan patroli gabunga...

Lilin Itu Kini Menjadi Mercusuar

Lilin Itu Kini Menjadi Mercusuar

Pada 30 September 2020, Faizah memulai kolaborasi kami dalam Diary of Auckland. Masih teringat jelas...

Cegah Penularan Meluas, Pemkot Bontang Canangkan Tes Swab Massal

Cegah Penularan Meluas, Pemkot Bontang Canangkan Tes Swab Massal

PARADASE.id – Angka kasus positif Covid-19 kembali meningkat selama pekan terakhir. Pemkot Bon...

Kasus Positif Bontang Melonjak, Penertiban Ketat Bakal Diberlakukan

Kasus Positif Bontang Melonjak, Penertiban Ketat Bakal Diberlakukan

PARADASE.id - Peningkatan angka kasus konfirmasi positif virus corona di Bontang membuat Tim S...

JELAJAH