Kembali ke Artikel
Merayakan Banjir di Hari Kemenangan Banjir di perumahan Bontang Permai, Kelurahan Api-Api, pada Juni 2019 lalu. (Dok. Paradase.id)
10 Aug/2020

Merayakan Banjir di Hari Kemenangan

10 Aug 2020 Feature

KETIKA media ini menurunkan laporan utama dengan isu banjir yang kuat, pikiran saya menuas ke pusaran banjir meradang. Banjir malam lebaran yang melecut komplek Bontang Permai serupa kampung mati. Sebuah komplek perumahan di pusat kota yang mendadak ditinggal penghuninya pergi mengungsi. Pengungsi banjir musiman ini telah mafhum harus menyimpan diri ke tempat mana, rumah siapa dengan perbekalan a la kadarnya yang meng-cover kebutuhan mereka hitungan jam.

 

Sebagaimana sebuah peristiwa alamiah, saat air sungai di Km 8 perbatasan kota ini sudah mencetak jalan arah masuk kota mengarus. Warga di sini hanya mengantongi waktu delapan jam untuk berkemas. Ketinggian air banjir yang membludak di sungai batas kota akan menentukan seberapa besar potensi bahaya. Biasanya air hanya menumpang lewat dari daerah tinggi melintasi kota untuk berakhir di laut Bontang Kuala. Dalam keadaan rata-rata kawasan perumahan menerima kiriman banjir yang menengok ruangan dalam rumah sekira batas mata kaki. Warga masih bersabar jika ketinggian air dalam  rumah berkubang setinggi dengkul lelaki dewasa. Namun kiriman air sungai di malam takbiran idulfitri setahun lalu sungguh terlalu.

 

Sebagaimana lazimnya setiap keluarga menyambut moment lebaran, warga perumahan yang menjadi bagian suku Indonesia wilayah buras  dan ketupat juga telah menyiapkan hidangan santap lebaran. Istilah wilayah Indonesia buras adalah suku-suku bangsa yang memiliki zona waktu Indonesia tengah seperti Kalimantan dan Sulawesi, sedangkan wilayah Indonesia bagian ketupat adalah anak suku yang berasal dari pulau Jawa dan Sumatera. Walaupun tidak semua berlindung di bawah panji buras dan ketupat namun kehadiran lebaran tetap disambut dengan suka cita sajian kuliner setengah berat; seperti bakso atau soto atau tekwan atau rujak mie. Memang buras dan sokko tumbuk dan madu mongso dan lontong sayur masih kelompok elit di sektor makanan yang tampil di meja keluarga.

 

Puasa hari terakhir, pagi hari halaman belakang rumah air sudah penuh. Saat matahari pukul sepuluh, air dengan kecepatan prima menggenangi bagian lantai rumah utama yang sudah ditinggikan. Ini menerbitkan kecemasan baru. Rumah kami berada pada kontur tanah yang lebih tinggi dibandingkan rumah tetangga, jika air sudah nyaman mengacak ruang kamar utama yang bersebelahan dengan kamar kerja, artinya harus siaga. Semua barang lalu diamankan ke teras belakang yang menyerupai gazebo. Pada siang sekira ba’da zuhur, air tidak bisa lagi diajak main mata.  Air sudah kesurupan. Air di lantai gazebo bertiang kayu ulin yang tingginya satu meter dari muka tanah, saat itu memetik dengkul. Lantai ulin berendam tiada henti dan air bernyanyi dan menari. Air membentuk arus sekaligus bernada. Alirannya menerabas celah jalusi pintu kayu yang tersambung dengan rumah utama. Di dalam rumah, air berteriak di taman indoor yang terdapat tangga ulir untuk mengakses lantai II. Ketinggian air dalam rumah menjangkau dada lelaki dewasa pada sore hari. Keadaan ini memaksa keluarga mengamankan hidangan lebaran ke lantai II.

 

Ruangan yang sehari-hari berfungsi sebagai kantor media dan perusahaan keluarga untuk sementara menjadi ruang mengevakuasi anggota keluarga dan  tempat menyelamatkan barang makanan jadi yang rentan basi. Maka adalah sebuah pemandangan buram, saat mata dihadapkan pada warna hitam dari jalan berarus deras,. Keadaan sekeliling dikepung warna gelap. Listrik sudah mati sejak pagi. Kalau lantai dua terlihat benderang itu berasal genset yang menggerung menggantikan penerangan listrik. Di sana kami sekeluarga berbuka puasa, melaksanakan sholat maghrib berjamaah dan melantunkan takbir lirih dalam suasana yang berbeda.

 

Pukul 22.00, mesin genset mati. Bensin tidak bisa dicari. Jalan perumahan adalah sungai yang aliran airnya sedang marah. Tidak mungkin pergi ke luar rumah. Di luar bahaya menghadang. Menembus arus dalam gelap bukan pilihan yang aman. Saat air membagi diri dengan sangat keterlaluan, ular-ular tanah hanyut, mengapung dan sering tersangkut di perabotan. Pemandangan di luar rumah berserak resah, sesekali terdengar suara kaki menyibak air. Suara-suara petugas penanganan bencana yang prayitna /siaga menghalau perahu karet untuk mengeluarkan warga yang terjebak banjir dalam rumahnya. Keadaan mencemaskan ini hampir kami alami saban musim hujan tetapi banjir idulfitri adalah yang terhebat dan dahsyat.  Saya sempat lupa bahwa pagi itu seharusnya kami berbahagia. Dan saya lupa ternyata masih mengenakan daster di hari raya.

 

 

Air Juga Meruah di Luar Rumah

 

Apakah anda pernah sariawan?

 

Saya Pernah.

 

Sariawan tidak bisa dikatakan berbahaya seperti penyakit kanker stadium akhir atau seseorang yang kena serangan jantung. Namun menderita sariawan tetap saja siksaan. Ia melahirkan perasaan tidak nyaman, semacam gangguan ringan walaupun penderitanya belum bisa disebut sebagai seorang pesakitan.

 

Sejauh ini banjir belum pernah sampai menenggelamkan rumah warga, pun waktu yang dibutuhkan air singgah juga paling lama hitungan sehari-dua, beberapa malah cuma mampir bertandang dalam kisaran jam sebelum air bertemu di titik kumpulnya di perairan Selat Makasar. Itu kalau siklus di darat dan di laut sedang aman. Laut surut sehingga buangan air yang menyerang darat cepat larut  melaut. Namun banjir tahun lalu yang datang bersama takbir senja idulfitri adalah yang paling tinggi sepanjang 36 tahun terakhir. Banyak orang terdampak banjir tidak menyangka air akan setega itu.

 

Di kediaman keluarga, kami sudah meninggikan perabotan di atas satu meter dari lantai kamar-kamar nyatanya lidah air masih menjilat dengan jejak cokelat yang ditinggalkannya. Untuk barang-barang seperti almari dinding, tetap dibiarkan di tempatnya setelah menuang isi bagian bawah dan tengah, sementara di ruang duduk lemari TV dan sofa berbahan jati berenang seenaknya.  Di teras depan, air mencelup pagar besi setinggi lebih dari satu tengah meter sehingga yang terlihat dari permukaan air hanyalah bagian paling atas yang melengkung dengan beberapa mahkota.

 

Banjir bandang Kota Bontang tahun lalu datang setelah tiga hari sebelumnya langit mencurahkan ingusnya. Pagi hari ketika air tiba, kota diguyur oleh hujan sedang sepanjang malam. Kedatangan air menjadi kalap dan terkonsentrasi di darat gegara situasi laut sedang pasang. Tidak banyak yang bisa dilakukan dalam keadaan air sedang meradang. Ia mengepung sudut kota hingga pojok lemari makan. Ia memuntahkan isi sungai yang bersatu dengan air buangan limbah rumah tangga. Malam Idulfitri, suasana kampung perumahan lebih mencekam dari komplek pemakaman. Sekitarnya senyap dari gema takbir dan lantai mushola yang dipenuhi air dalam keadaan terkunci. Padahal siang sebelumnya ketua takmir mengumumkan melalui TOA. “Warga yang ingin mengungsi bisa mengandalkan mushola.” Satu jam kemudian ketua takmir mengabarkan lantai mushola telah terendam setinggi lutut orang dewasa.

 

Selain ada orang dewasa yang cemas, beberapa anak remaja memanfaatkan situasi banjir dengan gembira. Air yang datang dan berarus menjadi arena kolam renang alami. Letaknya bersebelahan dengan kawasan taman kolam renang komersial milik swasta. Selalu ada yang bisa ditertawakan. Tidak terkecuali dari kegiatan perenang amatiran.

 

Jika di luar rumah terlihat remaja yang berenang dengan hati gembira. Di dalam rumah kaum ibu hanya bisa mengerutkan senyum cuka. Walau sudah berusaha namun banjir idulfitri benar-benar murka. Kulkas rumah tangga yang masih   terjangkau air berpaling dari tempatnya semula, mengambang, berenang dan memburaikan bumbu rendang dan biji-biji bakso menjadi berhamburan terbawa air yang mengurung ruangan. 

 

Sariawan dan banjir memang tidak saling mengenal. Namun hidup berkawan ancaman banjir musiman menyisakan sebuah ketegangan batin. Setiap memasuki akhir tahun hingga pergantian tahun baru, ada semacam ketakutan irrasional terkait banjir. Saya dan beberapa tetangga mengalaminya. Tengah malam mendadak terbangun karena hujan yang turun tidak biasa. Kecemasan yang terus berulang setiap hujan deras datang atau memasuki puncak musim hujan. Pengalaman pribadi menemukan ketika bangun subuh hari karpet bulu yang digelar di ruang tengah telah berenang di permukaan air banjir. Banjir tengah malam datang tanpa diundang memang membuat gusi sehat langsung sariawan. (*)

 

Penulis: R. Indra

Article Lainnya


Diary of Auckland : Meet The Heroine

Diary of Auckland : Meet The Heroine

Menjadi berbeda pun, Tuhan beri jalannya.... Nun jauh di negeri kiwi sana. seseorang mengan...

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PAD Kian Susut di Tengah Laju Ancaman Corona di Bontang

PARADASE.id -Lesunya sendi-sendi perekonomian akibat pandemi, tentunya berdampak pada penurunan Pend...

Pomodoro

Pomodoro

Inway #115 Selamat Hari Ulang Tahun Si Kembar. Tulisan ini terlambat. Seharusnya t...

Hari Pertama Bertugas, Pjs Wali Kota Bontang Riza Kumpulkan Kadis, Camat dan Lurah

Hari Pertama Bertugas, Pjs Wali Kota Bontang Riza Kumpulkan Kadis, Camat dan Lurah

PARADASE.id - Riza Indra Riadi mengajak seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Camat da...

JELAJAH