Kembali ke Artikel
Merawat Kenangan
14 Dec/2020

Merawat Kenangan

14 Dec 2020 In Way

Inway #125

 

Pada  inway edisi lalu saya menulis tentang refleksi akhir kuliah untuk melecut semangat. Melangkah dengan pasti di atas kedua kaki. Tetap memiliki motivasi belajar. Motivasi internal atau motivasi yang lahir dari dalam diri. Peran motivasi pada banyak penelitian menyebut ; berpengaruh kuat menggerakkan perilaku untuk mewujudkan harapan. Walaupun kedua jenis motivasi internal dan eksternal sama tenaganya dalam memberi daya pada tindakan, motivasi internal adalah mesin yang menggaungkan suara untuk memanggil motivasi eksternal. 

 

Akhir pekan kemaren saya menemui seorang rekan. Kami satu kelas kuliah S-2 dan beliau telah menyelesaikan studi S-3-nya. Tentu saja, selain maksud melepas rindu karena delapan tahun tidak bertemu, kami terlibat percakapan seputar pekerjaan calon disertasi (saya). Di sela-sela perbincangan akhir pekan yang riang, saya juga disambar oleh wajah kedukaan. Teman tadi berkabar suaminya meninggal  tiga hari sebelum pelaksanaan sidang terbuka atau promosi doktor dirinya.

 

Lalu ada dua orang dosen kami telah pergi menghadap ilahi. Pertama Dr. Linda dan kedua Prof. Ichrar. Prof. Ichrar beliau adalah salah satu pembimbing ketika saya menyelesaikan tesis (S-2). Keduanya adalah promotor yang bersangkutan. Doktor Linda beliau merupakan salah seorang dosen yang mengajar di kelas kami. Secara pribadi saya mengenal ibu Linda sebagai orang pertama yang menyebut nama seperti Terry dan Deming dengan PDCA. Bapak Ilmu Manajemen, George R. Terry yang terkenal dengan bukunya Principle of Manajemen. Dalam buku disebutkan bahwa manajemen adalah sebuah proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.Terry adalah tokoh manajemen kelas dunia yang teorinya nyaris tidak pernah ketinggalan dirujuk oleh pemerhati manajemen.

 

Sedangkan PDCA. PDCA, singkatan bahasa Inggris dari "Plan, Do, Check, Act" (Rencanakan, Kerjakan, Cek, Tindak lanjuti), adalah suatu proses pemecahan masalah empat langkah umum yang digunakan dalam pengendalian mutu. Dalam perkembangannya, metodologi analisis PDCA lebih kerap disebut “siklus Deming”. Melaui Ibu Doktor Linda kami berkenalan dengan Deming. Belajar dari rencana hingga pengawasan dan evaluasi lalu kembali ke rencana lagi. PDCA menyakinkan bahwa proses harus dijalani secara alamiah, teratur dan terukur. Dalam perjalanannya proses perbaikan terus menerus menjadi kata kunci yang harus dicermati. Pada akhirnya jika  menyebut frase perbaikan terus menerus, keterlibatan karyawan, fokus pada pelanggan, kepemimpinan hingga daftarnya mencapai angka delapan, maka genaplah semua elemen yang dibutuhkan dalam konsep TQM (Total Quality Manajemen) atau Manajemen Mutu Terpadu (MMT). 

 

Sekarang saya akan menulis refleksi malam mingguan kami. Tentang merawat sebuah kenangan.

 

Ketika mengenalkan diri untuk memulai percakapan dengannya via WA, saya menyebut nama dan mengirimkan foto. Menyusul sebuah kata khas yang menggambarkan dirinya. Sebelum menekan tombol send pada layar hape, saya berpikir apakah sikap tepat tetap menyebutnya dengan julukan yang akrab dengannya. Ada rasa sungkan namun  saya teruskan mengirimkan. Setelah itu dia membalas dengan emoticon senyuman lebar. 

 

Ketika saya sampai di rumahnya dia mengatakan alangkah susah mengingat memori ; nama Indrayani namun setelah membaca julukan dirinya, seketika dia tertawa dan mengatakan. AHA. Indrayani ; kawan saya di kelas S-2.

 

Lantas kami berdua masuk ke kapsul waktu untuk menengok rumah masa lalu. Karena jumlah kawan sekelas di S-2 di atas angka 30-an, agak sukar bagi saya mengingat satu persatu. Beberapa wajah berkelebat, muncul dan saya kenal namun kami kesulitan mengingat nama pada hampir setengah jumlahnya. Untung saya mengamankan beberapa foto teman-teman dalam kegiatan kuliah melalui Instagram pribadi. Itulah satu-satunya cara terhubung ke masa lalu. File berbasis digital.

 

Belajar dari pentingnya jaring-jaring yang meninggalkan jejak perhatian untuk merawat ingatan, kali ini saya ingin meninggalkan jejak foto teman di kelas S-3, habis kuliah. Saya berharap Allah ta’ala memberi keberkahan dengan panjang usia dan ingatan yang baik. Kalau itu terjadi dan sepuluh tahun atau lebih saya ingin kembali ke titik ini, arsip tulisan inway barangkali bisa menunjukkan arah perhatian dan ingatan yang menuntun jalan pulang ke sebuah masa di belakang.

 

Secara usia sudah tidak belia dan menurut ilmu geriatri, adalah proses alamiah manusia mengalami fase kemunduran fungsi organ disebabkan pengaruh perjalanan waktu. Saya berharap saat membaca tulisan ini dan melihat foto kami bersepuluh orang dengan semangat anak muda, emosi positif memenuhi hati kembali seperti ketika menikmati kegembiraan sama bagai yang kami rasakan dalam suasana mata menatap kamera. 

 

 

 

Di akun Instagram Indrayani Fauzan, tertulis caption ; Gaya Kita di Kelas.

Keterangan foto searah jarum jam dimulai dari Indrayani, berkerudung merah dengan senyuman lebar ciri diri sendiri. 

 

Lalu ada Irianto. Nama ini cukup tersohor di kalangan warga YABIS kota Bontang. Pernah menjadi kepala SMA YABIS hingga menduduki jabatan Ketua STTIB. Irianto menurut pengakuannya adalah sebuah nama yang menjadi tanda mata sang ayah. Kenang-kenangan ketika sang ayah yang seorang tentara berjuang atas nama NKRI di pulau Irian (Jaya). Irianto pria Bugis dengan penampilan kalem sekaligus tegas ini adalah seorang personel wasit bulu tangkis yang namanya cukup diperhitungkan dalam percaturan olahraga bulu tangkis baik tingkal regional Kaltim, nasional bahkan mancanegara.

 

Lalu di sebelah Irianto, ada Satriah. Wajahnya agak terhalang punggung Irianto. Walaupun hanya terlihat setengah wajah, perhatian saya sudah genap mengenali  penampilan Satriah. Perempuan mandiri dan lembut hati asal Nusa Tengara Barat (NTB) ini adalah seorang dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta. Jam terbangnya mengabdi di STAIS menjadikan dirinya pelaku sejarah kehidupan Perguruan Tinggi Islam di Kutai Timur besutan Awang Farouk itu, dari masa ke masa. Saya terkesan setiap Satriah berbicara tentang STAI Sangatta. Isi kepalanya laksana data besar yang setiap saat bisa menguraikan secara seksama peran kepemimpinan setiap ketua STAIS dari berdiri hingga dipegang oleh ketua STAI ke-lima : Taufik Hidayat, M.Pd. Sebagai praktisi pendidikan tinggi, Satriah selalu menyelipkan “dakwah” untuk memotivasi mahasiswa dalam menuntut ilmu. Ia mengajak meluruskan niat dan menjalani proses sebaik-baiknya.

 

Apa yang dilakukan Satriah sejalan dengan latar belakang pendidikannya sebagai seorang sarjana pendidikan agama islam. Sebelum bergabung di S-3 manajemen pendidikan. Satriah menyelesaikan studi S-2 di Universitas Dr. Soetomo Surabaya dengan konsentrasi Bahasa dan Sastra Indonesia.

 

Kemudian bersisian dengan Satriah adalah Syahri Bulan. Syahri dan Bulan adalah kata yang sama. Saya lebih suka memanggilnya dengan Ibu Sari Bulan. Secara usia beliau paling senior. Namun jangan terkecoh angka karena penampilan nenek sepuluh cucu asal Muara Badak tersebut masih terbilang di lintasan semangat membaja.

 

Prof. Dwi Nugroho, Dosen pengampu mata kuliah Filsafat lanjutan.

 

Afrida. Adalah kepala TK Aisyiah. Perempuan 40-an yang energik dan aktif. Penuh percaya diri dan kaya pengalaman di bidang organisasi. 

 

Asriyanti. Asal Jeneponto Sulsel yang mengabdi sebagai Guru SMA Sangkulirang. Perjuangan Asriyanti dalam menempuh studi S-3 sangat berwarna, Ketika perkuliahan masih menganut sistem luring, dia saban pekan meluncur dari Sangkulirang ke Samarinda.

 

Saat bulan Ramadhan 1442 H, usai kuliah jam pertama pukul 13.30, kami dikejutkan kabar kabar duka darinya yang mengatakan Ayahnya meninggal.

Energi Asriyanti selalu baru, dalam diskusi materi kuliah di kelas, dia tidak segan berbagi pengalaman yang menakjubkan. Tentang kondisi geografis kecamatan Sangkulirang, perilaku siswa-siswa SMA-nya dan kegigihannya menjalankan peran dalam dunia pendidikan.

 

Selanjutnya ada, Samingan, Ia adalah kepala suku teman satu angkatan. Pria berkumis dengan tawa renyah yang menjadi ciri khas dirinya. Energi positif memancar dari kedalaman ilmu agama dan wawasan sosial yang dimilikinya.

  

Sungkono, Penyandang dua gelar magister (M. Hum dan M. Pd) ini pernah menjabat sebagai Dekan FKIP Universitas Borneo Tarakan Kalimantan Utara. Pria asli Yogyakarta dengan pemikiran kritis dan sistematis. Selain kritis, Sungkono dikenali dari sifat “ngemongnya”. Dia menyematkan sebuah perasaan yang membuat lawan bicaranya selalu berharga.

 

Heppy Liana. Cerdas dan Humanis. Pemerhati pendidikan anak usia dini. Kaprodi PAUD Universitas Nadlatul “Ulama Samarinda.

 

Abd Rahman. Di dalam foto, posisi dirinya berada paling depan. Pengajar SMK Sangatta jurusan alat berat ini memberi warna kecerahan yang berbeda. Kadangkala sebelum mengikuti kuliah online terdengar Maman mengajukan pertanyaan kepada salah satu siswanya, ia tidak sadar microphone zoom-nya terbuka. Darinya kami bisa mengintip dengar pertanyaan kepada siswa SMK. 

 

Pria penyuka kemeja putih lengan pendek ini mengulik pengetahuan siswanya tentang ukuran baut atau jenis-jenis oli mesin. Sesuatu yang bagi saya seperti ; mendengar percakapan  ke-empat anak saya dan ayahnya tentang ukuran baut jembatan atau kelas agregat yang dibutuhkan dalam peningkatan mutu jalan. Saya menyukainya meskipun tidak memahaminya.

 

Setelah menuliskan ciri pribadi dari sepuluh orang teman, semoga ini  menjadi tanda mata bahwa saya pernah bersama mereka. Para kandidat doktor yang memiliki peran penting dalam institusi masing-masing. Tentu saja yang saya sampaikan belum dapat dikatakan mewakili kenyataan.

 

Faktanya kemampuan mereka sangat mumpuni dibidangnya.

 

Pada bagian ini saya merasa bangga pernah ada di antara ke 10-nya.

Article Lainnya


Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

Masyarakat Bontang Patuh PPKM Hari Pertama, Diharapkan Konsisten

PARADASE.id - Penetapan jam malam dalam rangka pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di...

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

Pemkot Akui Kinerja Tim Percepatan Kilang Bontang Terhambat Pandemi

PARADASE.id - Pemerintah Kota Bontang mewacanakan kembali membentuk Tim Percepatan Pembangunan Kilan...

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

Hari Pertama PPKM di Bontang, Patroli Gabungan Diperkuat TNI-Polri

PARADASE.id - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Bontang dimulai hari in...

28 Warsa Bersama

28 Warsa Bersama

Inway # 129 Oleh : Rusmiati Indrayani Pagi tadi, sama seperti pagi-pagi hari sebel...

JELAJAH