Kembali ke Artikel
Menyewa Tukang Adzan Ilustrasi. (Google Image)
09 Sep/2020

Menyewa Tukang Adzan

09 Sep 2020 Cerita

DUA minggu ini selalu teriakan Alpiansyah yang memekak telinga melalui alat pengeras suara musholla. Alpian lagi. Lagi-lagi Alpian.

 

“Blas. Tidak enak. Sama sekali jauh dari merdu.  Eneg rasa di perut,” guman Zakiya dalam bersila membuang suara yang hanya didengar untuk dirinya.  Padahal hampir saban waktu kumandang suara itu berseru. Lazimnya sebuah panggilan menuju sholat lima waktu namun menjadi sesuatu yang mengganggu.

 

Dari alas sajadah tempatnya berzikir menunggu sholat maghrib, Zakiya membunyikan sendiri alunan musik tarhim. Senandung pujian sebelum sholat dan ketika TOA musholla sejarak selemparan mangga dari rumahnya berseru, dia  mengarahkan pendengaran pada bunyi rekaman suara adzan versi Brunei yang disetelnya dari aplikasi Youtube. Atau telinganya melacak ajakan adzan dari keempat penjuru rumah yang paling menawarkan ketepatan bacaan. Ada satu masjid di daerah timur, hinggap sayup-sayup menyusup sampai ke dalam ruangan kamarnya. Sebuah panggilan sholat dari muadzin yang berlatar belakang qori atau setidaknya guru mengaji atau seseorang yang paham hukum bacaan. 

 

Saat muadzin dari masjid yang suaranya tertangkap sayup itu mengumandang, Zakiya sampai-sampai menjeda rafalan kalimat alhamdulillah dalam rangka mengikuti bacaan muadzin. Ia ikut khusyu’ memanjatkan doa di sela-selanya hingga munajat khusus setelah adzan dengan meninggikan kedua tangan sementara untaian tasbih yang dipegangnya berjuntai.

 

Kamu boleh saja menyebut perilaku spritual Zakiya keterlaluan. Atau menamakan seseorang yang sebut saja kurang ajar akibat mengabaikan suara muadzin di musholla. Sebuah rumah ibadah  terletak bersampingan rumah terpisah jarak lima meter dari ujung pagar rumah Zakiya.

 

Hatinya menggerutu. Sudah kerap sekali ia mengambil ancang-ancang sikap lancang, lalu ingin mengujarkan kepada seorang pengurus ta’mir musholla supaya menyewa seorang muadzin. Zakiya mengeluhkan seorang tukang adzan, lebih tepatnya beberapa muadzin atau hampir semua muadzin yang menggemakan adzan. 

 

Dia baru marasa sedikit lega apabila mendengar suara dua orang. Pertama suara ustad taslim dan kedua suara Haji Karim. Suara Ustad Taslim terpuji akibat ia seorang guru mengaji. Sementara bacaan Ustad Taslim fasih menepati hukum tajwid. Sedangkan suara Haji Karim mendapat pujian lantaran imam  tersebut jebolan pondok pesantren dan  pernah dikontrak menjadi imam sholat di sebuah masjid di negara Arab. Selain itu Haji Karim adalah penghafal al-qur’an yang memiliki dua orang istri. Zakiya merasa istimewa jika salah satu dari dua orang tersebut yang melantunkan adzan. Zakiya fokus pada suara adzan bukan perihal istri kedua kepunyaan Haji Karim.

 

Namun baik Ustad Taslim atau Haji Karim, keduanya hanya sesekali menghadiahkan suara. Kesibukannya di luar yang berhubungan dengan pembinaan guru al-quran dan pelatihan kader muadzin, menyela banyak waktu hingga menjadi semacam kehormatan bagi warga di sekitar musholla apabila keduanya sedang lapang dan menyumbangkan lantunan adzan. Apabila sedang beruntung, warga sekitar musholla akan mendengar kader-kader muadzin bersuara empuk mengumandangkan adzan zuhur atau ashar ketika mereka menggelar latihan di musholla sana.

 

Sayangnya dalam banyak kesempatan yang dominan adalah teriakan Alpiansyah, Sukiman, Yugo Pratama, atau Sukijan. Lalu ada  suara seorang bocah kelas lima madrasah ibtidaiyah. Nabil namanya. Walaupun masih anak-anak suara Nabil lumayan enak daripada bacaan Sukijan, Sukiman dan Alpian. Maksudku dalam hal ketepatan melafal tajwid dalam lafazh adzan. Suara Nabil relatif stabil dan patut mendapat pembinaan Ustad Karim supaya cengkok dan keluwesan menyambut huruf lebih terasah dan berirama.

 

Zakiya masih duduk bersila saat suaminya menggeser daun pintu kamar.

 

“Siapa yang memimpin sholat?” kata Zakiya menyambut kedatangan suaminya.

 

Yeaaahh. Desahan napas. Itulah jawaban. Berarti Haji Karim dan Ustad Taslim absen. Jika tidak, suaminya pasti menyebut satu nama imam sholat. Alih-alih hanya menjawab dengan memberikan napas berat.

 

“Serupa corong TOA di menara musholla. Martabat sebuah kampung terlihat dari siapa yang meneriakkan adzan setiap waktu sholat,” kata Zakiya menirukan ucapan gurunya di pondok pesantren Darussalam putri. Ustad Khairul guru bahasa arab yang menguasai ilmu tajwid dan nahwu dan saraf. Kendati memberikan pelajaran di kelas santri putri, Ustad Khairul menitikkan catatan penting mengenai syarat muadzin atau petugas yang mengumandangkan bacaan adzan.

 

“Sebaiknya seorang muadzin adalah lelaki dewasa.”

 

“Apakah anak-anak tidak boleh menjadi muadzin ?” kata salah satu santri putri yang duduk di sebelah Zakiya saat masih di kelas ‘aliyah.

 

“Bukan tidak boleh namun suara orang dewasa lebih afdhol.”

 

 

“Bagaimana jika bacaan adzan seorang anak lebih fasih mengalahkan suara orang dewasa ?” kata zakiya saat Ustad Khairul menjelaskan.

 

“Maksudnya mungkin dari sisi pengucapan huruf, tajwidnya lebih baik,” kata Ustad Khairul merapikan pertanyaan. “Muadzin harus menguasai beberapa syarat. Suara adzan yang dihasilkan dari bacaan tepat huruf akan membentuk irama tersendiri. Saya ingin katakan arti kefasihan menyebut huruf dan seni yang menerbitkan suara merdu. Namun paling utama tetap harus belajar ilmu tajwid.”

 

Zakiya terkekeh mengingat ujaran ustad Khairul. Sebentuk ingatan pulang ke masa lalu saat jari menguntai zikir dan telinga diperdengarkan bacaan adzan yang membikin perut mual.

 

“Apakah tidak ada seorang pun yang memberikan masukan pada ketua ta’mir?”

 

“Tukang adzan maksudnya?” kata sang suami agak peduli.

 

"Menyewa tukang adzan misalnya. Karena Tuhan belum tentu terbela oleh suara sumbang adzan mereka," kata Zakiya melepas mukena.

 

"Mau ke mana?" kata suaminya meletakkan nada kuatir. Kuatir kalau-kalau istrinya  pergi mengumandangkan adzan. (*)

Article Lainnya


Marak Aksi Pengawasan, Bawaslu Larang Warga Lakukan Penindakan

Marak Aksi Pengawasan, Bawaslu Larang Warga Lakukan Penindakan

PARADASE.id - Tingginya animo masyarakat dalam mengawasi jalannya Pilkada Bontang 2020 dianggap sang...

Weighted Blanket : Cara Baru Menyayangi Diri Sendiri

Weighted Blanket : Cara Baru Menyayangi Diri Sendiri

ada cara baru menyayangi diri sendiri : weighted blanket namanya. dalam situasi pandemi beg...

Survei INDO Barometer: Neni-Joni Unggul 53 Persen, Sebutkan Warga Bontang Puas Kinerja Neni Moerneini

Survei INDO Barometer: Neni-Joni Unggul 53 Persen, Sebutkan Warga Bontang Puas Kinerja Neni Moerneini

PARADASE.id - Lembaga Survei Indonesia (LSI) Indo Barometer (IB) merilis hasil survei elektabilitas ...

Jelang Natal dan Tahun Baru, Polres Bontang Siapkan 3 Posko Pengamanan

Jelang Natal dan Tahun Baru, Polres Bontang Siapkan 3 Posko Pengamanan

PARADASE.id - Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2021, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bonta...

JELAJAH