Kembali ke Artikel
Menjenguk Hari Tua di Panti Jompo Al-Maghfirah Para penghuni Panti Jompo Al-Maghfiroh saat salat berjamaah. (Foto: Indra/ Paradase.id)
04 Aug/2020

Menjenguk Hari Tua di Panti Jompo Al-Maghfirah

04 Aug 2020 Liputan Khusus

 

MASA tua niscaya datang kalau seseorang beruntung berumur panjang. Dikatakan umur panjang jika angka usia melampaui 60 tahun. Manusia istimewa yang mendapat anugerah hidup hingga bertemu usia 60 tahun dan lebih, menarik untuk diulik sebab selain keistimewaan langgeng hidup, manusia lanjut usia ini tidak jarang dibenturkan permasalahan baik menyangkut dirinya sendiri maupun orang lain.

 

 

 

***

 

Secara alamiah fisik manusia lanjut usia mengalami kemunduran fungsi-fungsi organ yang diikuti juga oleh kemunduran psikologis, sosiologis dan ekonomi. Secara psikologis, masa senja akan berdampak terhadap kejiwaaan manusia. Masa tua adalah masa teralihnya peran seseorang kepada generasi di bawahnya akibat faktor renta. Secara pengasuhan, peran orangtua tidak lagi diributkan dengan aktivitas pengasuhan anak secara fisik. Peran orangtua pada masa ini lebih banyak sebagai pembina dan penasehat. Itu pun jika anak-anak membutuhkan masukan. Jika masalah yang mereka alami dalam pekerjaan dan rumah tangga bisa diatasi, peran orangtua ada di level pendoa. Doa dan restu orangtua menjadi semacam booster bagi jalan hidup anak-anaknya.

 

Di masa tua, peran pengasuhan yang menjadi kewajiban orangtua telah selesai. Memasuki usia petang, dalam bidang pekerjaan banyak di antara orangtua menghadapi masa pensiun. Ketika seorang memasuki usia pensiun dan memiliki waktu lebih luang bersama keluarga, justru anak-anak mereka sudah memiliki keluarga sendiri dan banyak di antaranya tinggal terpisah dari orangtua. Suasana rumah yang sunyi menyemburkan kesepian dan rasa hampa dalam diri manusia sebagai seorang pribadi. Kesepian memburuk jika salah satu pasangan sudah berpulang.

 

Beberapa manusia lanjut usia beruntung menjalani masa tua bersama keluarga tercinta, dekat dengan anak-anak dan dapat menyaksikan tumbuhkembang cucu-cucunya. Namun tidak semua manusia usia senja mendapatkan keberuntungan tinggal bersama anak dan memiliki kebahagiaan menyaksikan kelucuan laku cucu dan masih memiliki kesehatan prima dan mendapatkan jaminan hari tua yang baik dan memersiapkan bekal akhirat dengan sungguh-sungguh.

 

Di antara mereka yang tidak beruntung itu adalah seorang wanita renta bernama Rohana. Rohana hidup sebatang kara, tidak ada seseorang yang mengurus kehidupan masa tuanya.

 

Peristiwa tersebut terjadi tahun 2010. Ketika Rohana ditemukan terlunta, perempuan malang tersebut terbaring tak bertenaga di pelataran lantai sebuah los sembako pasar tradisional Lok Tuan. Keadaannya tidak terurus dengan kondisi kaki penuh luka akibat diabetes kronis dan badan lumpuh daya gegara stroke yang juga menyerangnya. Seseorang yang berbaik hati lalu mengangkut Rohana dan mengirim ke rumah Maryasih, salah satu warga setempat.

 

Maryasih, wanita kelahiran 1969 asal Banyu Urip, Purworejo di Jawa Tengah itu tidak menyangka mendapatkan “paket” seorang tua renta. Entah siapa yang mengirim Mbah Rohana ke teras rumahnya.

 

“Tidak pernah terbersit dalam benak saya mengurus manusia lanjut usia.” kata Asih kepada awak media Paradise.id sepekan lalu.

 

Ketika menampung Mbah Rohana di rumahnya, beberapa tokoh masyarakat di sekitar tempat tinggal Asih berembuk. Temu mufakat tersebut meminta Mbah Rohana diurus oleh keluarga Maryasih.

 

“Lho. Kok saya? Saya tidak bias,” kata Asih sapaan Maryasih mengulas pengalamannya. “Mulanya berat sekali,” sebut Asih sambil menghela napas panjang.

 

Dalam hati yang dipenuhi bimbang dia berpikir, bisa jadi mengurus orangtua jompo menjadi jalan takdir yang harus dilaluinya.

 

“Oke, saya bersedia asal mendapat pendampingan pihak terkait,” katanya melunak membalik sikap keras yang sebelumnya menolak.

 

Semata-mata bermodal nekat, tekad, dan niat  ia terima tugas itu. Sama sekali tidak memiliki bekal pengalaman mengurus orang jompo. “Saya menerima amanah tersebut dengan cara berserah diri kepada Allah ta’ala sepenuhnya,” kata pembina 52 kelompok majelis ta’lim Kelurahan Lok Tuan ini yakin.

 

Dalam menjalani peran sosial baru menurut Maryasih, dukungan suaminya adalah kekuatan moral yang meneguhkan hati. “Rezeki Allah yang mengatur. Jika seseorang diamanahkan dalam perawatan kita maka Allah akan bertanggung jawab.” Demikian Asih mengulang kalimat motivasi dari almarhum suaminya.

 

Mengurus Mbah Rohana adalah pengalaman pertama dari ragam aktivitas sosial yang dilakukan Maryasih. Selalu ada permulaan dan begitulah alam mengajarkan kebijaksanaan sehingga bukan hanya menampung seorang jompo. Asih bahkan berkeinginan kuat membangun sebuah rumah layak huni untuk membantu para lanjut usia yang hidup sebatang kara atau yang sudah tidak memiliki seseorang yang mengurus sisa usia menuju titik tiada.

 

Menjadi tua adalah keniscayaan. Seseorang tidak pernah tahu akan seperti apa dirinya menghadapi masa tua. Langka sekali atau hampir tidak ada manusia yang bercita-cita menghabiskan masa tua di panti werdha apalagi dalam keadaan sakit dan hidup ditopang kursi roda. Pilihan ideal adalah menghabiskan masa tua bahagia di rumah sendiri bersama keluarga.

 

Berawal dari mengurus Mbah Rohana kemudian Asih juga merawat Mbah Zahra. Tak lama setelah Mbah Rohana berangkat menghadap Tuhannya.

 

Dari kediamannya yang semula beralamat di Lok Tuan, keluarga Maryasih lalu pindah dan menempati bangunan permanen berlantai keramik di KM 3 jalan poros Bontang-Sangatta. Tempat tinggal keluarga yang difungsikan sebagai rumah para manula ini dihuni Mbah Zahra, Mbah Jinem, Mbah Siti dan Mbah Ibrahim. Di rumah sekaligus pesantren manula yang diberi nama Panti Jompo Al-Maghfirah. Di tempat baru yang resmi difungsikan sejak tahun 2014 ini, Asih menyedekahkan seluruh waktunya untuk merawat kesehatan dan memerhatikan kebutuhan hidup manula menyongsong ujung usianya. Satu demi satu mereka berpulang lantaran tua dan tidak berdaya.

 

Nama Al-Maghfirah atau yang berarti pengampunan dan kasih sayang dimaksudkan dalam doa, kiranya ujung usia para manula berakhir dengan husnul khatimah atau kebahagian di masa akhir.

 

Gambaran fisik secara umum Panti Jompo Al-Maghfirah terdiri dari beberapa bagian bangunan. Bangunan utama dilengkapi dengan aula dan beberapa kamar untuk para manula perempuan dan ruang dapur/ ruang makan dan beberapa kamar mandi serta ruang servis. Menambah asri sekitar bangunan panti jompo tersebut dikelilingi oleh tanaman buah-buahan berdaun rimbun. Terpisah dari bangunan induk, di sisi lain bangunan tersebut terdapat bangunan dengan beberapa kamar yang disiapkan untuk pasangan manula dengan status suami-istri.

 

Hidup bersama manusia lanjut usia, Asih kudu menyiapkan diri menghadapi luapan emosi jiwa para manula yang kadang-kadang tak stabil. Perasaan diabaikan ditambah kemunduran ingatan kerap membuat para manula berperilaku layaknya seorang bocah dari masa kecil. Perangai mereka yang berada pada titik tidak sehat secara emosi, membutuhkan kesabaran dan rasa kasih sayang tinggi dari relawan yang mengasuh mereka. Selain keluasan hati menanggung beban pengasuhan, secara ekonomi pendanaan yang dibutuhkan untuk merawat manula tidak terbilang ringan. Lagi-lagi Asih kembali pada keimanannya yang menyerahkan amanah yang ditanggungnya hanya kepada Allah ta’ala.

 

“Saya melihat keajaiban jaminan Allah ta’ala di sini,” kata Maryasih yang berbicara sembari mengajak penulis berkeliling di area panti jompo.

 

Di kawasan tersebut selain rindang dengan tanaman buah-buahan, Maryasih yang berjiwa sosial tinggi ini, memanfaatkan tanah di kawasan panti dengan mengubah sisi utara pekarangan menjadi area kolam ikan. Ragam ikan air tawar hidup sehat dan siap dikonsumsi setiap saat. Ikan lele mendapat tempat yang luar biasanya jumlahnya. Selain memelihara aneka ikan. Suasana sekitar panti jompo selalu riang dengan nyanyian merdu burung-burung yang aman dalam sangkar. Di bagian belakang bangunan utama keluarga Maryasih juga mengembangbiakkan ayam dan memelihara kambing.

 

“Saya sering merenung dan menitikkan airmata syukur karena semua ini tidak masuk akal,” kata Asih. Menurut Asih logika manapun akan patah bertatapan dengan kenyataan di panti jompo.

 

“Di sini ada sembilan orang warga manusia senja, tiga-empat orang relawan,” ditambah Asih bersama suami. Tidak ada satupun pencari nafkah keluarga. “Kami semua pengangguran. Secara ekonomi tidak satu orang pun dari kami yang menghasilkan uang,” katanya.

 

Sementara persediaan bahan sembako dari beras, telur, hingga minyak goreng di lemari ruang dapur terpenuhi. Secara umum kebutuhan pangan sehari-hari mereka tercukupi. Dapat dikatakan tersedia jika bahan makanan dalam kulkas dapur seukuran lemari pakaian berdaun pintu double selalu terisi. “Ada saja hamba yang dikirimkan Allah membagikan sebagian rezekinya pada kami di sini,” ujar Asih yang segan meminta bantuan kepada manusia secara terbuka.

 

Alamat Panti Jompo Al-Maghfirah KM 3 jalan poros Bontang-Sangatta.

 

Penulis: R. Indra

Editor: Qadlie Fachruddin

 

 

Article Lainnya


Dibuka Kembali, Simak Biaya dan Aturan Umrah di Masa Pandemi dari Kemenag

Dibuka Kembali, Simak Biaya dan Aturan Umrah di Masa Pandemi dari Kemenag

PARADASE.id - Akibat virus corona atau Covid-19, Arab Saudi sempat menutup Mekkah dan Madinah. Namun...

Kaltim Terima Anugerah Bhumandala Award 2020

Kaltim Terima Anugerah Bhumandala Award 2020

PARADASE.id - Setelah berturut-turut sejak 2016, kali ini Kalimantan Timur kembali meraih penghargaa...

Gubernur Kaltim Segera Terbitkan Surat Edaran Libur Nasional 9 Desember

Gubernur Kaltim Segera Terbitkan Surat Edaran Libur Nasional 9 Desember

PARADASE.id - Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Isran Noor segera menerbitkan surat edaran ke...

Masalah Tanah Destinasi Wisata Super Prioritas Sudah Selesai

Masalah Tanah Destinasi Wisata Super Prioritas Sudah Selesai

PARADASE.id - Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengungkapkan p...

JELAJAH