Kembali ke Artikel
Mendidik untuk Kebajikan
08 Jun/2021

Mendidik untuk Kebajikan

08 Jun 2021 In Way

Inway #145

 

Oleh : Rusmiati Indrayani        

 

Dalam pendidikan  karakter tri pusat pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) harus terlibat. Perbaikan karakter anak bangsa dewasa ini menjadi beban semua orang. Berbagai kalangan sudah saatnya bergandengan tangan setelah menundukkan kepala, merenungkan jalan keluarnya.

 

Seorang teman saya, ia adalah guru yang mengajar di kecamatan Sangkulirang pernah menyampaikan keluhan terhadap akhlak salah satu siswanya.

 

“Suatu pagi saya jatuh dari motor ketika menuju sekolah karena jalanan licin dan berkerikil. Ada beberapa siswa di sana. Bukannya menolong, saya malah mendengar salah satunya berkata “kapokk”. 

 

Oh, nilai karakter hormat sekarang ada di mana ?” katanya sendu, membuat langit mendung semakin kelabu.

 

Cukup hanya mendengar ceritanya, saya merasakan nyeri dalam dada. Jika mengurutkan pada proses pola moral, seharusnya siswa tidak melontarkan kata-kata “senang atas penderitaan orang lain.”  

 

Tindakan moral sejak dalam pikiran menyuruh bergegas menolong guru dan memberikan perhatian yang diperlukan. Jauh panggang dari api. Tidak ada pertolongan.

 

Mengetahui seorang siswa berkata “sarkas” yang efeknya menyakitkan adalah sebuah pemandangan yang membuat siapa saja melongo. Ada apa dengan akhlak siswa ? Lebih ke hulu lagi, bagaimana model tingkah laku berkarakter yang diteladankan Guru di sekolah ?

 

Guru tersebut, selain mengajar juga membidangi urusan kesiswaaan. Entahlah perilaku seperti apa yang dia tampilkan sehingga ketika seharusnya dia mendapatkan uluran bantuan yang terjadi malah perlakuan tidak menyenangkan.

 

***

 

Dalam dunia pendidikan, anak dititipkan oleh orangtua ke sekolah dengan harapan yang tinggi; supaya berbakti. Secara sederhana kata berbakti bisa diartikan dengan melakukan perbuatan terpuji sesuai hati nurani. Jika ada pemikiran, sikap, dan perbuatan yang menyimpang maka selama di sekolah guru dan staff, dan tenaga kependidikan harus bertanggung jawab meluruskannya.

 

Terlepas dari apapun persepsi anak terhadap guru, saya ingin mengatakan satu hal, bahwa : anak adalah peniru ulung. Sejak dalam keluarga anak melakukan kelakuan yang disaksikannya dari orang dewasa. Sedikit sekali mereka mau dengan sukarela melakukan apa yang “diperintahkan”. Artinya, teladan atas sikap yang ditampilkan orang dewasa dalam kehidupan anak akan ditirunya, spontan tanpa membutuhkan pikiran.

 

Keluarga memang lembaga paling bertanggung jawab terhadap akhlak anak. Sayangnya keterbatasan pemimpin keluarga menangani pendidikan moral dan karakter putra-putrinya menuntut mereka mengantarkan anak ke sekolah. Di sekolah tumbuh kembang potensi anak diasah dan cemerlang. Harapan memiliki anak yang dapat dibanggakan di tengah masyarakat adalah keinginan bawah sadar dari para orangtua.

 

Kerjasama sekolah dan keluarga dalam pembentukan akhlak mulia mutlak diperlukan. Pola pendidikan keluarga, minim sekali menutrisi sisi kognisi (pengetahuan) anak. Walaupun aspek afeksi (nilai/perasaan) dan psikomotorik (perlaku) juga belum optimal dikembangkan oleh orangtua.

 

Umum kita lihat, dalam kehidupan keluarga para Bunda mengeluhkan masalah sepele. Contoh kasus, Handuk Basah Bekas Dipakai Mandi. Habis dipakai, handuk “dibuang”.

 

Perilaku anak terhadap handuk sangat mudah ditebak. Handuk bekas pakai ditaruh di sembarang tempat dalam kamarnya. Bisa teronggok di sisi lemari, di atas tempat tidur, atau jika jatuh ke lantai maka akan dibiarkan saja, begitu seterusnya. Kemudian sore hari datang dan handuk akan digunakan. Anak menanyakan kepada ibunya “di mana handuknya ?”

 

Sang Bunda mengerutkan kening. Menurutnya setiap hari dia telah mengatakan kepada anak agar menaruh handuk bekas pakai di sebuah tempat yang ditentukan.

 

Tetapi kenyataan berulang, selalu saja masalah handuk menjadi persoalan. Bunda melafalkan maklumat perintah setiap hari di hadapan anak. Didengar telinga namun setiap menurunkan titah, entah terbang ke mana perasaan anak  sehingga selalu tidak “ngeh” memerlakukan handuk pasca pakai.

 

Lihat. Anak tidak melakukan apa yang dikatakan.

 

Mari ajari anak sedikit nilai hormat dan tanggung jawab.

 

Bunda, sangat penting pikiran anak memahami dan menyadari bahwa urusan handuk (atau kaos kaki, atau tas, atau raket, bola tenis, atau buku bacaan) adalah  wujud perasaan hormat dan tanggung jawab anak terhadap diri sendiri. Mengamankan barang pribadi adalah bagian tindakan moral untuk bertanggung jawab. Memikirkan pentingnya sikap bertanggung jawab adalah pondasi rasa hormat.

 

Menaruh barang pada tempatnya niscaya meringankan pencarian saat barang tersebut akan digunakan lagi. Tentu saja ini menuntut pengertian, pemahaman, dan kesadaran anak. Selanjutnya diberikan ruang latihan menjadi “anak baik”. Menjalani proses latihan menuju pembiasaan melibatkan disiplin kedua pihak. Anak dan Emak.

 

Diawal, Bunda mungkin perlu menggelar diskusi terbuka di ruang keluarga atau di meja makan dengan anak untuk menemukan kunci kesepakatan. Kesepakatannya adalah : urusan handuk basah adalah tanggung jawab diri sendiri. Anak harus melakukan gerakan untuk mengamakan handuk pasca pakai hingga siap untuk dipakai kembali dalam waktu yang berbeda. Di sini nilai hormat dimulai. Pada bagian ini, pastikan dulu bahwa anak memiliki cukup pengetahuan dan pemahaman konsep. Lalu berikan teladan perilaku supaya anak mudah mengimitasinya. Bunda memerlukan waktu guna mengawal kebiasaan anak mengamakan handuk. Jika masih ditemukan kesalahan dalam peletakkan handuk maka Bunda akan mengoreksi kesalahan dengan cara menunjukkan kembali tempat handuk supaya anak tidak salah letak. Begitu seterusnya. 

 

Pada beberapa kesempatan, Bunda mungkin  tergiur untuk memarahi karena jengkel anak melakukan kesalahan yang sama. Namun alih-alih menyalahkan, mengapa tidak Bunda lakukan perbaikan perilaku yang salah dengan alternati pemgganti hukuman ?

 

Bunda bisa menyebutkan bentuk akibat sebagai kompensasi atas setiap kesalahan meletakkan handuk. Misalnya jika Bunda menemukan handuk basah diletakkan bukan pada tempatnya, selama tiga kali berturut-turut, maka handuk yang Bunda bereskan tersebut harus “ditebus”. Caranya bisa dengan  membeli handuk kepada Bunda dengan harga tertentu. Ini risiko. Akibat kelalaian yang dilakukan maka anak harus membayar kelalaiannya dengan “uang pengganti.”

 

Mengisi sisi kognisi anak, tentu saja Bunda harus melakukan pertemuan lagi.

 

Bunda berbicara saat anak siap mendengarkan. Pekerjaan ini membutuhkan trik tersendiri. Saya menyebutnya Seni Mendidik untuk Kebajikan.

 

Percuma Bunda “menyanyi” setiap hari jika telinga anak ada di tempatnya namun pikiran dan perasaannya sedang berkelana. Pastikan perintah Bunda didengar oleh  telinga anak, dipahami oleh pikiran dan perasaannya, dan bersiap secara sadar mengambil aksi menangani handuk.

 

Membiasakan sebuah perilaku tertentu menuju internalisasi nilai sehingga melekat menjadi sebuah watak adalah perjuangan bersama yang membutuhkan komitmen jangka panjang. Jika Bunda ingin perilaku ini berhasil, yakinkan bahwa keputusan yang dijalankan berdasarkan hasil kesamaan pemikiran antara anak dan Bunda. Tingkatkan level keputusan menjadi ketetapan atau aturan keluarga. Aturan yang mengikat semua anggota keluarga tentang handuk basah adalah tanggung jawab pribadi. Amankan dan jaga barang ini seperti halnya mengamankan barang berharga lainnya.

 

Harga handuk memang tidak semahal harga mutiara. Namun jika menyangkut nilai, baik handuk dan mutiara tentu saja tidak berbeda. Barang pribadi, apapun itu adalah tanggung jawab diri sendiri untuk membereskannya. Menimpakan urusan handuk basah menjadi pekerjaan orang lain, selain tidak sopan juga menjadi beban tambahan. Jika seseorang memberikan beban kepada orang lain maka ada tanggung jawab atau konsekuensi yang harus ditunaikan sebagai mahar.

 

Dalam keluarga, Ibu adalah pendidik utama. Beliau melakukan interaksi dengan anak lebih kerap sehubungan kewajibannya memberikan pelayanan keluarga.

 

Ibu bukan manusia sempurna yang mumpuni dalam mendidik dan menyiapkan menu makan siang. Walaupun kedua pekerjaan tersebut sering dikerjakan dalam waktu bersamaan. Bunda butuh sekolah untuk membantu mengembangkan kepribadian anaknya. Bunda percaya pada kemampuan guru di sekolah, sehingga mantap menyerahkan anaknya menjadi manusia berguna bagi dirinya dan lingkungannya.

 

Di dalam keluarga Bunda telah memulai pembentukan karakter dengan cara di atas, maka di sekolah Guru melakukan hal sama secara komprehensif dan terintegrasi dalam kurikulum, proses belajar mengajar dan budaya sekolah. Guru adalah pribadi yang diguru dan ditiru sudah seharusnya memiliki standar sikap dan teladan di atas rata-rata anak didiknya.

 

Kejadian yang dialami oleh seorang guru dalam paragraf awal tulisan ini, memberikan tamparan bagi saya sebagai seorang ibu dan seorang Guru.

 

 

 

 

Article Lainnya


Patroli Penegakan Prokes, Masih Banyak Masyarakat Bontang Acuh Protokol Kesehatan

Patroli Penegakan Prokes, Masih Banyak Masyarakat Bontang Acuh Protokol Kesehatan

PARADASE.id – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kota Bontang melakukan patroli gabunga...

Lilin Itu Kini Menjadi Mercusuar

Lilin Itu Kini Menjadi Mercusuar

Pada 30 September 2020, Faizah memulai kolaborasi kami dalam Diary of Auckland. Masih teringat jelas...

Cegah Penularan Meluas, Pemkot Bontang Canangkan Tes Swab Massal

Cegah Penularan Meluas, Pemkot Bontang Canangkan Tes Swab Massal

PARADASE.id – Angka kasus positif Covid-19 kembali meningkat selama pekan terakhir. Pemkot Bon...

Kasus Positif Bontang Melonjak, Penertiban Ketat Bakal Diberlakukan

Kasus Positif Bontang Melonjak, Penertiban Ketat Bakal Diberlakukan

PARADASE.id - Peningkatan angka kasus konfirmasi positif virus corona di Bontang membuat Tim S...

JELAJAH