Kembali ke Artikel
Mawar Putih Persahabatan Ilustrasi. (Google Image)
10 Feb/2021

Mawar Putih Persahabatan

10 Feb 2021 Cerita

CERITA : Oleh Indrayani Indra

Rumpun bambu bergesekan diterpa angin pukul 16.00. Daun bambu yang hijau pucat serupa dengan wajah Walkimi  yang pasi. Derak bilah bambu menbalurkan retak ke atas konsentrasi. Walkimi menarik napas dan mengembuskan secara perlahan. Dia mengatup sepasang bola mata. Serupa ingin melumpuhkan pikiran tentang yang terjadi antara dia dan Anisa, sahabatnya. Lamat namun susah ditolak lalu semakin tegas aroma yang terbit dari bau dari bangkai tikus menguar singgah di penciuman. Walkimi mengucek mata, walaupun mestinya dia menutup hidung apabila ingin menghalangi bau busuk yang menusuk.

 

Walkimi belum keluar dari deraan pikiran dan rasa bersalah. Di teras belakang yang lantainya dari kayu ulin, dia mengempaskan badan ke permukaan kayu, dari posisi semula yang duduk menghadap hutan bambu. Walkimi menautkan perekat untuk hatinya yang tidak nyaman. Dia sama sekali tidak menyangka, Larissa akan bercerita kepada Anisa tentang apa yang dilihat Walkimi di rumah Anisa.

 

Ketika membaca pesan yang dikirimkan Anisa melalui WA, membuat perasaan Walkimi  bergidik. Perasaannya terganggu, rasa damai semula sebesar balon udara mengempes tak bersisa. Ia telah kehilangan seluruh daya bicara. Alasan apa saja yang ditarik Walkimi untuk membela diri di hadapan Anisa, tetap saja dalam dirinya tidak membenarkan. Walaupun ada celah kebenaran pada maksud yang diucapkannya, tetapi dia merasa telah membuat luka baru dalam perasaan sahabatnya.

 

“Sudah petang, kamu belum makan.” kata umi menghampiri putri ketiga yang satu-satunya anak perempuan dalam keluarga Faizal. Dua kakak Walkimi telah berkeluarga dan mereka tinggal terpisah dari orang tua. Ayahnya yang seorang guru selalu ada di rumah kecuali akhir pekan. Sabtu dan Minggu ayah suka ke kebun untuk mengurus tanaman buah rambutan dan durian dan kambing-kambing yang dipelihara oleh penjaga kebun. Selebihnya, kehidupan normal dijalani Walkimi bersama ayah dan ibunya. Selama masa belajar daring dan di rumah saja, Walkimi mengambil tanggung jawab merapikan ruangan rumah  dan menyapu halaman depan dan belakang. Sesekali membantu ibunya menjalankan usaha jualan olahan ikan dan udang yang dibekukan. Toko online milik ibunya dikelola sendiri dengan bantuan satu orang admin yang melayani pesanan dan mengirimkan ke alamat peminat melalui jasa pengiriman barang swasta.

 

“Sepertinya ada yang menggangu pikiran Kimi ? “ kata umi yang mengambil duduk di sisi anaknya. Umi mendekati Walkimi  yang tidak mengubah pandangan dari rumpun bambu.  Sinar matahari mulai temaram di antara batang tanaman perdu. Bilah bambu sudah lebih tenang dibandingkan terang lepas ashar saat Walkimi mengawali duduk di situ. Angin berdesau lembut, kulit menjadi terharu menerima sentuhan mengusap lembab sisa keringat. Umi membawakan pisang goreng bersalut madu asli dari kebun sendiri. Walkimi tidak menanggapi namun memberikan umi sebuah hela dari napas yang menanggung beban.

 

“Anisa akan membenci Kimi, dia pasti melakukannya.” Nada gadis kelas tujuh yang menjadi lulus dengan nilai tertinggi sekabupaten itu melenguh nyaris menangis.

 

“Mmmh. Apakah umi juga berpendapat sama ?” katanya mencari dukungan yang dibutuhkan untuk memberi rasa nyaman.

 

Dalam pikiran Walkimi, Anisa bisa saja akan memutuskan hubungan persahabatan mereka yang terjalin sejak kelas empat SD. Jika itu terjadi, semua adalah salahnya. Tidak salah lagi. Dia yang bersalah. “Ya Allah, aku bisa apa sekarang ?” kata Kimi sembari menyembunyikan wajah dibalik kedua telapak tangan yang menutupi mata, hidung, mulut dan sebagian dagu. Ia lancang sekali dan merasa menjadi  seseorang dengan kebodohan paling sempurna.

 

Betapa naif dirinya berhadapan dengan seorang Anisa. Gadis yang menyembunyikan penyakit diabetes tipe satu dengan seluruh kemampuan. Selama ini selain keluarga Anisa yaitu ayah, ibu dan satu orang kakak lelakinya, tidak ada yang mengetahui alasan Anisa berpantang terhadap madu dan gula pasir dan karbohidrat dari nasi dan varian tepung.

 

Sampai ketika secara tidak sengaja Walkimi mampir ke rumah Anisa untuk mengisi tumbler dengan air putih. 

 

Seketika Walkimi tercekat, dia hampir saja menumpahkan air putih dalam botol isi ulang yang dibawanya ke mana saja.

 

“A a apa yang kamu lakukan ?” kata Walkimi dengan lugunya. Dia tidak berencana bertanya namun kalimat pernyataan meluncur begitu saja.

 

Di tempat duduknya Anisa terperanjat, tidak menyangka Walkimi memergoki ritual suntik insulan yang akan dilakukannya.

 

“A a aku, ah. tidak-tidak apa.” kata Anisa gugup dan kecewa. Tanganya seketika menyusupkan jarum suntik di bawah karpet. Rasa dalam dada berkecamuk. Antara menyimpan amarah dan rasa malu yang melanda hatinya. Serangan kaget datang berkecepatan kilat. Bagai acting drama yang menyimpang dari arahan draft. Tetapi yang dialami Anisa bukanlah drama. Menderita penyakit gula di usia dini adalah sebuah lakon hidup yang harus diterimanya. Namun Anisa tidak ingin ada orang lain tahu, tidak juga sahabatnya Walkimi. Namun sekarang kejadiannya sudah di depan mata. Mereka berdua terpaku di tempat masing-masing. Rasa kikuk menimpakan serangan dengan serta merta.

 

Di teras belakang yang menghadap hutan bambu, Umi dan Walkimi dibalut diam. Mereka lebih bisu dari batu yang teronggok di sudut sebuah gazebo keluarga.

 

“Apakah Anisa akan memaafkan Kimi, Mi ?” katanya menoleh sisi wajah bagian kiri dari ibunya. Umi dapat diandalkan dalam menenangkan perasaan.

 

Wanita terbaik dalam hidup Walkimi mengerutkan kening. Cukup dengan menilik sekilas, rasa percaya diri Walkimi menciut dari sebesar kacang menjadi serpihan debu yang berterbangan.

 

“Apakah Larissa mengejek Anisa ?” kata ibunya setelah menyomot pisang goreng dengan ucapan Basmallah. Ucapan yang samar namun masih terdengar. Umi membaca doa basmallah sebelum memasukkan pisang goreng ke mulut. Walkimi tahu itu cara umi memberi teladan dan mengingatkan supaya dia selalu membaca basmallah setiap makan dan minum. Sekalipun minum air putih.

 

“E e e…sama sekali tidak. Risa cuma bertanya Nisa sakit apa ?” kata Kimi menyebut dua temannya Larisa dan Anisa.

“Lalu…?”

“Masalahnya adalah, Larissa menyebut mendengar cerita dari Kimi.”

 

Uhuks… Umi menahan suara batuk dan meraih gelas berisi air putih yang disiapkan dua gelas untuk mereka.

 

“Seharusnya Kimi tidak mengatakan apapun saat Risa menanyakan kabar dirinya melalui pesan WA.” kata Walkimi dengan suara bermuatan sesal.

 

“Walkimi mengatakan apa pada Larissa ?” kata umi mencari kejujuran dalam nada dan tatapan mata anaknya.

 

“Anisa sakit dan meminta Larissa mendoakan kesembuhan dan kebaikan untuknya.”

“Lalu ?”

 

“Kimi menyesal dan merasa bersalah.”

 

“Karena apa ?”

“Telah membuka perkara yang Anisa tidak suka.”

Tahu dari mana Anisa tidak suka ?”

“Larisa mengatakan pesannya untuk Anisa tidak memerolah jawaban.”

 

Larisa mengetahui sakit Anisa dan menanyakan sendiri pada yang bersangkutan ?”

 

“Nah, itu maksud Kimi, Mi.” kata Kimi meyakini ibunya memahami perasaan tidak nyaman yang dialaminya selama setengah minggu ini.

 

Lalu hening. Suara pujian mulai bersahutan melalui alat pengeras suara masjid-masjid. Jingga menyapa langit senja. Angin mendesau lembut namun lebih sejuk ketimbang yang ditimpakannya lepas waktu ashar saat terang masih benderang. Aroma bangkai tikus tidak tercium lagi, mungkin sudah ditemukan tetangga sebelah rumah dan menimbunnya dengan tanah.

 

Dalam diamnya, meskipun umi merasa yang dilakukan anaknya adalah sebuah kesalahan namun sebagai orang tua, umi dituntut mengutamakan kebijaksanaan sikap bukan memberikan penilaian. Seseorang boleh salah namun selalu ada pemakluman di belakang kekeliruan. Lebih jauh umi memahami tentang segala perilaku anaknya bukanlah perkara yang berdiri sendiri. Ucapan atau perbuatan makhluk selalu segaris dengan sifat Allah yang maha pencipta. Mulut dan suara menjadi tenaga dan berdaya guna karena kekuatan yang titipkan kepada manusia untuk melakukannya. Segala gerak, kehendak, kuasa, bahkan hidup itu sendiri adalah milik Allah yang dipinjamkan.

 

Bagi Umi hal terpenting adalah mengajarkan anaknya sikap tanggung jawab terhadap kesalahan yang dilakukan. Hadapi Anisa untuk meminta maaf. Caranya bisa dengan membawakan bunga mawar kesukaan atau kwaci biji matahari yang selalu tersedia dalam tas Anisa.

 

*

 

“Mi, Kimi mau ke rumah Anisa.”

 

“Bawakan sekalian titipan umi untuk ibunya Nisa.” kata umi mengeluarkan empek-empek Palembang dari frezzer.

 

Kemudian…

 

“Apa itu ?” kata umi melirik sesuatu yang ingin dirahasiakan anaknya.

 

“Ah. tidak ada.” Anisa menutupi setangkai mawar putih di balik rok panjangnya.

 

Ibunya tersenyum dan menitipkan doa kesembuhan untuk sahabat anaknya.

 

“Eh, tunggu…” kata umi terburu-buru.

 

“Ini kwaci biji bunga matahari.”

 

Membawa langkah tenang dan perasaan senang Walkimi mengayuh sepeda menuju rumah Anisa.

 

Sesampainya di sana, mereka bercengkrama dan tertawa.

 

Ketika berpamitan pulang Walkimi memegang jari tangan Anisa yang berkeringat dan terlalu sejuk.

 

“Maafkan Kimi, Nis.”

 

“Maaf untuk apa ?”

Walkimi salah tingkah dan menjawab sekenanya “Untuk apa saja. Untuk apapun yang membuatmu kurang kurang berkenan.”

 

Dari tempat tidur, Anisa menggenggam tangan sahabatnya.

 

“Tidak ada sebiji pasir pun yang mengotori hatiku. Kamu adalah sahabatku. Jangan bodoh.” kata Anisa menjitak jidat Walkimi.

 

“Pulang sana, sudah mau maghrib.” kata Anisa dalam sakitnya.

Article Lainnya


Sang Penatap

Sang Penatap

Oleh : Indrayani Indra “Pergi gak, gak, pergi, pergi gak ya. Kalau pergi gimana kalau...

Tragedi Minum Susu

Tragedi Minum Susu

Oleh : Indrayani Indra Umurku sekira enam saat itu. Saat doa terkabul hingga aku bertemu pa...

Pelajaran Mengarang

Pelajaran Mengarang

Cerita Oleh : Indrayani Indra Ruangan kelas bersalut riang sebelum dia datang. Sepasang dau...

 Menulis Setelah Luka

Menulis Setelah Luka

Cerita Oleh : Indrayani Indra Membuat karangan ? Meskipun tema bebas, itu tetap saja harus ...

JELAJAH