Kembali ke Artikel
Maulid Nabi: Cara Anak Mengenal Tuhan Ist
30 Nov/2019

Maulid Nabi: Cara Anak Mengenal Tuhan

30 Nov 2019 Liputan Khusus

PARADASE.ID. Maulid junjungan. Nabi  Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam diperingati saban tahun. Di Indonesia juga di beberapa Negara muslim di dunia.

 

Bagi orang dewasa. Apalagi masyarakat awwam. Agaknya kegiatan Peringatan Hari Besar Islam ini. Biasa saja. Terlalu biasa. Seperti  menjadi sebuah rutinitas belaka. Bulan Rabiul Awwal penanda peringatan maulid lagi. Nasi kotak lagi. Telur lagi.

 

Namun bagi pertumbuhan jiwa agama pada masa kanak-kanak. Bulan Rabiul Awwal menyemburkan makna luar biasa. Bulan memeringati maulid ini menunaikan tugasnya membentuk tatanan aspek spiritual anak. Manusia mungil masa awal-awal hidupnya.

 

Maulid identik masjid, langgar, surau. nasi kotak, orang-orang berkumpul, mengenakan kostum warna-warna. Telur maulid pohon pisang. 

 

Lagu-lagu religi melalui corong pengeras suara masjid. Lantunan syair maulid yang dilagukan. Khas dan menyentuh hati,. Walaupun sepi pemahaman makna. Namun pekasih sebuah syair, menyihir pendengaran hingga bertahun-tahun. Bahkan dibawa anak sampai masa dewasa.

 

Peringatan yang sederhana pun menghajatkan prasyarat. Nasi kotak, telur maulid, panitia, penceramah, dan hadirin. 

 

Warga sebuah pemukiman menggelar acara.  Di desa, kota, perumahan elit maupun kampung pesisir laut. Semarak maulid bergema, setara gema syiar yang terlantun dalam syair.

 

Dalam setiap kegiatan maulid. Orang tua mengajak anaknya ikut serta. Anak-anak warga sebuah lingkungan atau perumahan tertentu yang tempat tinggalnya berdekatan  lokasi masjid. 

 

Mereka, anak-anak itu. Datang paling awwal. Mendahului marbut dan  panitia yang menyiapkan acara. Anak-anak dengan cirinya yang gemar bergerak. Berlarian ke sana-sana kemari. Bermain tiada henti. Dalam ruangan masjid atau di sekitarannya. 

 

Beberapa orang tua baik orang tuanya sendiri atau orang dewasa yang bertugas menyiapkan acara, membiarkan tingkah laku mereka. 

 

Selain bergembira dengan teman sebaya. Anak-anak tersebut adalah pelengkap paling bersemangat menyukseskan acara. Di beberapa tempat, panitia sengaja menyelipkan uang kertas nominal kecil, pada pohon pisang yang dihias. Juga makanan ringan dan permen. Sedangkan telur maulid tetap saja jadi primadona. 

 

Saat acara berlangsung, ada yang anteng di samping mamanya. Ada yang berkeliaran saja. Selama panitia tidak menertibkan. Anak-anak akan bermain merdeka.  Sesuka hatinya. Kalau tertib, hanya sekira angka menit. Berisi,  khasnya anak-anak kambuh lagi. 

 

Penceramah yang sedikit menyelami psikologi anak, biasanya memainkan jurus memantik perhatian. Anak-anak dilibatkan. Diberi arahan permainan atau selingan tertentu. Atau ujaran keramahan tentang kemahabaikan Tuhan. 

 

 

Siapa yang tertib duduk, lalu ikut berdoa. Maka penceramah mengabarkan. Hajatnya dikabulkan. Permintaannya diterima. 

 

Meskipun tidak ada jaminan durasi waktu doa terkabul. Hati anak terlanjur percaya. Tidak sedikit diantara mereka merapikan duduk, menyediakan telinga  mengiktuti rangkaian acara. Harapan paling nyata dari hadiah tertib adalah telur maulid.

 

Oleh panitia pelaksana. Telur-telur maulid diperebutkan usai acara—lantaran ada beberapa yang membiarkan hadirin membancak telur ketika syair “asyrakal “ berlangsung. 

 

Asyarakal merupakan pelantunan syair maulid yang dibaca jamaah dalam posisi berdiri. Dari sebelumnya duduk. Pada perpindahan dari posisi duduk lalu berdiri. Kesempatan itulah, dipercaya berkah maulid ada padanya. Pada telur-telur.

 

Ada pemahaman religi tersendiri dari kehadiran telur-telur maulid. Selain berguna menarik perhatian anak kecil. Telur-telur ini dipercaya mengandung berkah Rasululullah. “Kehadiran” Rasulullah  pada setiap peruingatan maulid yang di sana disebut nama sang Baginda. 

 

Dengan pergeseran waktu dari tengah acara kepada setelah pembacaan doa. “rebutan” telur maulid berlangusng lebih tertib.

 

Suhaimi kepada media ini mengungkapkan pengalaman masa kecilnya mengikuti maulid nabi.

 

“saya senang sekali bertemu teman sebaya di masjid.” kata Suhaimi. Seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Sangatta. Selain menunggu pembagian telur maulid. Suhaimi kecil merasakan dapat menahan diri, tidak menangis. Diam anteng selama acara berlangsung. Menuruti kemauan Mamanya yang menyuruh tetap duduk. Tidak berlarian atau bermain dalam ruangan masjid.

 

Sedangkan menurut Winda. Setiap kegiatan maulid. Ibunya selalu sibuk. Kesempatan yang digunakan Winda bermain bebas bersama teman sebaya.

 

 “karena sibuk, Ibu tidak terlalu mengiraukan saya.” kata gadis semampai berkulit bersih itu. Bagi Winda. Puncak kegembiraan yang ditunggunya adalah pembagian telur maulid dan nasi kotak. Walaupun untuk mendapatkannya Winda harus rela menelan rasa jenuh selama mengikuti acara. 

 

Dikatakan Winda. Dia hanya bermain jika ada teman. Kalau sendirian atau tidak ada teman yang dikenal, maka Winda manut saja mengikuti acara. 

 

Winda yang berstatus mahasiswi ini, menyangkutkan pesan kepada panitia acara, kiranya peduli pada anak-anak. Kesempatan menyaksikann kemeriahan dan keuinikan hiasan telur maulid, merupakan kegemaran anak mengikuti upacara kegiatan agama.

 

Sedangkan rekan Winda. Windy mengaku masa kecilnya terlibat mengikuti acara maulid hanya demi telur dan nasi kotak saja. “saya tidak menyimak acaranya. 

 

Waktu kecil saya berpikir betapa bangganya jadi personel panitia. Apalagi panitia yang mengurusi kotak dan membagikan.” Windy kecil bercita-cita jadi panitia acara maulid, supaya terlibat menyalurkan nasi kotak. Sebab menurut Windy alur distribusi nasi kerap tidak merata. Dominasi orang tertentu saja. Keinginan Windy menjadi panitia adalah guna memberikan pemerataan jatah konsumsi.

 

Mengikuti upacara keagamaan, bukan saja menghadiahkan kesenangan berupa hadiah nasi  kotak dan telur. Pengaruh tidak langsungnya adalah pendidikan jiwa keagamaan dalam diri seorang anak. 

 

Menumbuhkan rasa cinta kepada sang baginda nabi. Sosok mulia yang mengenalkan iman dan islam. Sebagai umatnya, anak butuh asupan nutrisi jiwa agama sejak dini. Dan peringatan maulid nabi merupakan  salah satu jalur  mendidik jiwa anak untuk mencintai Nabinya. Nabi muhammad shallahu alihi wassalam. Utusan Allah ta’ala. 

 

Manusia tidak mengetahui Allah tanpa Nabi. Kecintaan suci inilah yang menumbuhkan suburnya jiwa agama pada anak. 

 

Masa kanak-kanak (3-7) tahun. Adalah masa terbaik meletakkan dasar-dasar kecintaan kepada Allah dan Rasulnya.

 

Anak bukan orang dewasa mini. Anak menerima pemahaman agama sesuai perkembangan jiwanya. Pertumbuhan jiwa pada anak-anak dipengarhui oleh lingkungan.

 

Jiwa anak ibarat selembar kertas putih. Orang tua yang akan menuliskan catatan kehidupannya. Ini adalah bunyi teori tabularasa atau nativisme yang dikenalkan Arthur Schopenhaeur (1788-1860) sebuah teori  tentang belajar. Mungkin dalam merumuskan teori ini Arthur pernah mendengar sebuah hadist Rasulullah. 

 

“Seorang anak akan menjadi majusi, yahudi, atau nasrani tergantung didikan orang tuanya.”

 

Dalam pemikirannya tentang Tuhan. Lingkungan sangat memengaruhi penerimaaan pemikiran anak tentang Tuhan. Pemikiran anak anak selalu minta dikasihi oleh Tuhan (Zakiah Daradjat :2003). Dari tindakan “kekuasaan” Tuhan Yang Maha Memberi. Mulai masuk penerimaan pemikirannya tentang Tuhan.

 

Sikap anak terhadap agama mengandung kekaguman dan penghargaan. Anak tertarik dengan upacara keagamaan yang mengadirkan keindahan dan warna aneka rupa. Termasuk di dalamnya keadaan berdoa.

 

Masih menurut Professor Zakiah. Pada masa awal kehidupannya.  Anak tidak memiliki konsep apapun tentang Tuhan. Pengetahuan tentang Tuhan adalah asing. Dengan melihat dan ikut terlibat dalam tindakan keagamaan. Dan orang-orang di luar keluarganya menyebut nama Allah. Dalam isi pikiran anak terbentuk pemahaman sebuah makna.

 

Bagi anak usia tiga tahun (zakiah daradjat:2003). Ayah adalah sosok ideal. Tuhan dalam pikirannya mirip sosok ayah. Maha sempurna. Ayah mengabulkan permintaan dan mengajak jalan-jalan. Membelikan mainan dan memenuhi apa saja yang anak butuhkan. Ayahnya sangat berkuasa memutuskan. Menuruti atau menolak permintaan.

 

Adapun hubungan anak dengan Ibunya. Seriring merangkaknya hitungan hari usia anak. Lepas angka tiga tahun, ketergantungan anak kepada sosok Ibu. Secara biologis berkurang. Namun anak tetap butuh Ibu demi membulatkan rasa aman dan kasih sayang.

 

Sedangkan kepada sang ayah, ketika anak mulai bermain di luar rumah. Dia mendengar orang-orang menyebut nama Tuhan. 

 

Dan tindakan ayah, lama kelamaan, sudah dianggapnya kurang bisa memenuhi tuntutan. Kesempurnaan yang menjadi daya tarik ayahpun melorot. Anak mulai mencari sosok Tuhan itu. Pertanyaan kritis tentang siapa Tuhan, di mana Tuhan bertemnpat tinggal. Apakah Tuhan punya jenis kelamin. Kerap dia tanyakan. Inilah alamat  keinginantahuan yang menggebu.

 

Pendidik yang memahami ilmu jiwa agama anak. Akan memberikan pengertian yang benar tentang Tuhan sebagai Zat Yang Maha Pencipta. Tentang iman dan islam. Sesuai tahapan perkembangan usia anak. 

 

Kebutuhan anak kepada Tuhan mulai meningkat. Anak belajar berdoa. Meminta pertolongan, memohon sebuah keinginan hingga mengarapkan ampunan kepada dirinya dan kepada kedua orangtuanya.

 

Dalam pikiran anak. Berdoa dan meminta ampun bukanlah tentang sebuah kesalahan yang dilakukan. Dosa adalah tentang niatan dalam hati yang mencoba-coba melanggar sebuah perintah.

 

Sebagai pribadi egosentris. Anak berdoa demi  memuaskan rasa aman dalam dirinya. Berpikir tentang kesalahan cukup menyakitkan hati anak. 

 

Dalam tahap ini pemikiran akan Tuhan adalah suatu pemikiran menyangkut kenyataan dunia luar. Dan umumnya tidak disukai anak. Namun anak perlu sedikit “menderita” untuk menyesuaikan dengan kenyataan itu. Mengalami sesuatu “penolakan” dan memahami bahwa tidak semua keinginannya segera menjadi nyata. 

 

Berdoa menjadi sarana menjalani “pengalaman” pahit. Yang menolongnya bertahan adalah sikap kekaguman anak terhadap ayahnya. Pengahargaan dan rasa ta’jub yang berfungsi meneguhkan bibit kepercayaan kepada Tuhan. 

Pentingnya Hubungan Anak Dan Orang Tua Dalam Keluarga.

 

Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga taat beragama, akan melestarikan kepercayaannya hingga dewasa. 

 

Anak yang dibesarkan di lingkungan orang tua yang acuh, kurang taat menjalankan ajaran dan membiarkan diri tidak konsisten menjalankan perintah wajib. Akan berdampak longgarnya anak menghayati kesakralan ritual ibadah wajib.

 

Teladan dari orang merupakan model pelaksanaan ibadah yang masuk dalam alam bawah pikirannya. Seiring bertambahnya usia anak, pemahaman tentang kelahiran, kematian dan keperkasaan perbuatan Tuhan, diterima sebagai sebuah keharusan moral. Tuhan melakukan ini dan itu berdasarkan kehendakNya yang bersifat absolut. 

 

Dalam upaya memberikan pengalaman beragama sejak dini. Mengikutsertakan anak dalam upacara keagamaan adalah cara paling jitu. 

 

Melalui tindakan melihat dan terlibat,  anak merasakan sensasi beribadah. Rasanya menjadi seorang muslim. Dan pengalaman tersebut akan dibawanya sampai dewasa. Sejatinya anak hanya tertarik dengan keunikan warna dan  kostum pelaku agama. 

 

Namun adanya kegiatan berdoa dan lantunan sholawat  yang dilagukan, memerkuat rasa sedap pengalaman beragama. Dan rasa itu memberi pengaruh kuat dalam pembentukan jiwa keagamaannya. (***)

 

Penulis : R. Indra

Editor :Ahmad Fuad

 

Article Lainnya


DPRD dan Pemkot Bontang Sepakat Harus Ada Kajian Tandingan Klaim Aman PT IMM

DPRD dan Pemkot Bontang Sepakat Harus Ada Kajian Tandingan Klaim Aman PT IMM

PARADASE.id - Wacana pemanfaatan air dari bekas lubang tambang batu bara PT Indominco Mandiri (IMM) ...

Dalam Bayang-bayang Banjir Musiman

Dalam Bayang-bayang Banjir Musiman

MASIH kental di ingatan Romi Rizka, ia bersama warganya di RT 41 Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontan...

Salah Persepsi Hingga Abai UU Kerap Sebabkan Perselisihan Hubungan Industrial

Salah Persepsi Hingga Abai UU Kerap Sebabkan Perselisihan Hubungan Industrial

PARADASE.id – Perselisihan hubungan kerja masih kerap terjadi antara pekerja dan perus...

Kasus Narkotika Dominasi Persidangan PN Bontang, Banyak Pelaku Tak Jera Meski Dihukum Berat

Kasus Narkotika Dominasi Persidangan PN Bontang, Banyak Pelaku Tak Jera Meski Dihukum Berat

PARADASE.id – Terhitung sejak Januari hingga Juli 2020, Pengadilan Negeri (PN) Kota Bontang te...

JELAJAH