Kembali ke Artikel
Masalah Pencari Kerja
21 Sep/2020

Masalah Pencari Kerja

21 Sep 2020 In Way

Inway #113

 

Oleh : Rusmiati Indrayani 

 

Pada setiap lapisan zaman mendapatkan pekerjaan adalah masalah pertaruhan. Pertaruhan antara kemampuan (skill) yang dimiliki dan kebutuhan pasar pencari kerja dan kesempatan yang bisa diraih. Beberapa orang menyebutnya sebagai “hoki”. Apapun dan di manapun, setiap pekerjaan selalu diiringi risiko yang melekat dalam beban kerja. Sehingga  barang sekecil debu selalu ada persoalan di balik tabir perjalanan melakoni pekerjaan. Tidak ada pekerjaan yang bebas masalah. Seperti sebuah keniscayaan, risiko pekerjaan dimulai dari cara mendapatkannya.

 

Minggu kemaren, ketika dalam perjalanan berkendara dalam kota, saya “didesak” harus menjumpai kamar kecil. Meskipun menahan dengan kemampuan sedang namun hukum makruh mengempet hajat menyuruh saya menghampiri toilet terdekat. Laju mobil mengarah ke sebuah masjid besar, sekalian wudhu dan sholat dhuha di sana. Sesampai di depan lokasi masjid dari arah pintu timur, masalah menyambang, portal besi terpasang diikuti sebuah peringatan tentang jadwal melintas. Saya adalah seseorang penyandang status pendidikan akademik paling tinggi, tentu saja pandai membaca. Dapat memahami larangan yang dimaksudkan dalam kalimat peringatan. Badan mobil saya putar dan menepikannya di bawah sebatang pohon yang menaungi tubuh mobil dari sengatan panas pukul sebelas.

 

Sebelum menetapkan hati menaruh roda empat di sana, saya sempat memertimbangkan balik badan, ke luar komplek masjid mencari lokasi masjid lain atau pulang ke rumah sekalian. Namun tanggung, sudah tinggal sejangkauan tangan orang dewasa, massa mau berpayah repot pulang ke rumah. Kuatnya gerakan hati menuju toilet masjid tentu dikendalikan oleh kehendak kuat dari Sang Maha Menggerakkan nadi. Jika itu yang terjadi, mampir di sini pasti memiliki misteri yang belum terjangkau oleh akal memikirkan energi kebaikan yang sedang dipersiapkan. Aku sekadar menerka.

Dengan gerakan langkah kaki lebar saya meloncat, menyeberangi parit selebar 80 centi untuk mendapatkan sisi jalan dan menerabas masuk komplek masjid. Langkah itu berhasil dan mata saya tidak terhalang mengawasi mobil yang parkir di bawah pohon mahoni. Sampai di situ tentu beres urusan ke toilet. Bonusnya saya mendapatkan pintu ke arah timur dari lingkungan toilet masjid yang mewah, dan terawat. Ini memerpendek jarak keluar memupus jarak memutar. 

 

Ketika sedang menunggu, di kabin mobil berpenyejuk udara saya buka laptop untuk menyicil tulisan inway. Dari arah belakang lalu ke depan, seorang perempuan sekira 66 tahun melintas. Sesuai protokol kesehatan dia mengenakan masker dan saya tidak mendapatkan gambaran utuh orang tua tersebut mirip siapa. Dia minta diantarkan ke luar komplek masjid. Katanya dia telah berjalan kaki kurang lebih enam kilometer dari rumahnya. Saya berpikir tentang kemampuan si orangtua. Dengan postur tubuh ringkih dan penglihatan kurang awas, berjalan di bawah cuaca panas kota ; tidak banyak orang rela melakukannya, tidak terkecuali saya. Kepada saya dia meminta diantar balik kembali ke sisi pintu gerbang yang terhubung jalan raya,  rasanya patut dicap durhaka apabila saya menolak permintaannya. Lantas layar laptop berisi 107 kalimat ditutup karena menulis bisa saja ditunda untuk mendahulukan kepentingan sang orang tua. Untung saya mengabulkan hajatnya untung dia melipat jarak tempuh kakinya sekira dua kilometer. Namun perkara untung-untungan atau berhitung tentang pahala Allah maha benar dalam meneliti setiap penilaian hitungan langkah.

 

Saya menyetir, di tempat duduknya dia tidak henti-henti melempar doa kebaikan “semoga adik panjang umur dan sehat badang (logat daerah suku tertentu lazim menyertakan huruf GE dibelakang huruf EN untuk mengucapkan kata ; badan). Saya merasa sedikit asing namun menangkap kesan tulus dalam doanya. Jika boleh minta tambah, selain panjang umur dan sehat badan saya ingin didoakan ; ringan setiap ingin menulis artikel jurnal dan proposal disertasi. Ups.

 

Sebelum tiba di sisi jalan raya, sekali-dua kali dia menyuruh saya menurunkannya.

 

Kemudian kami berpisah dan saya mulai paham setelah menengok dari kaca spion arah langkah orangtua itu. Dia tidak menunggu angkot jurusan ke kota  searah dengan rumahnya melainkan masuk kembali ke daerah pemukiman karyawan sebuah perusahaan negara dengan satu tujuan utama : mencari kerja.

 

Andai jikalau, pintu depan rumah saya yang dia singgahi untuk mencari kerja. Dengan ciri-ciri pencari kerja seperti  orang tua dalam karakter cerita ini, ah, entahlah. Pasti lidah saya telah terlilit sebelum berucap. Dia butuh kerja di rumah tangga sebagai pesuruh mencuci pakaian dan menyetrika. Usia tidak menyurutkan langkahnya melakukan upaya pencarian kerja. Masalahnya apakah pemilik rumah tega menugaskan pekerjaan yang dia minta ? Kalau jawabannya adalah iya. Bisa jadi karena alasan ; mungkin kasihan atau mungkin seseorang butuh teman di dalam rumah atau seseorang hanya butuh memastikan ada manusia lain di dalam rumahnya selain sang pemilik.

 

Dia butuh satu pekerjaan untuk menghidupi diri karena anak lelaki satu-satunya yang dia ikuti di kota ini sudah setahun tidak ada penghasilan pasti. (*)

Article Lainnya


Dinding Bata dan Sesap Kopi

Dinding Bata dan Sesap Kopi

Inway # 118 Oleh :Rusmiati Indrayani Di masa pandemi bisnis penjualan ...

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

Hingga 2021 Disnakertrans Kaltim Gencarkan Pelatihan Pemasaran

PARADASE.id - Program pelatihan pemasaran bagi para pelaku usaha sedang digodok oleh Dinas Tenaga Ke...

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

Umbi Porang Jadi Potensi Ekspor Kalimantan Timur

PARADASE.id - Potensieksporkomoditas non migas dan batubara terus dikembangk...

Kiat Menjual Tanaman Hias Daring

Kiat Menjual Tanaman Hias Daring

Oleh: Inui Nurhikmah PARADASE.id - Demam tanaman hias melanda Indonesia lagi. Jika tahun 20...

JELAJAH