Kembali ke Artikel
Mamanda : Persinggungan Komedi Dalam Aruh Ganal Budaya Banjar 2020. Ketua Umum KBBKT Ismunandar berbagi panggung dengan Gubernur Kaltim Isran Noor dan Presiden Banjar Sedunia Rudi Arifin dalam pembukaan Aruh Gaul Budaya Banjar. (Foto : Wahyu/Pro Kutim)
14 Mar/2020

Mamanda : Persinggungan Komedi Dalam Aruh Ganal Budaya Banjar 2020.

14 Mar 2020 Feature

PARADASE.ID. Halaman depan Gedung Olahraga (GOR) Segiri bersimbah remang. Pendar listrik berpenerangan sedang membungkus suasana sekitar yang dilahap gelap bersalut lelap. 

 

Suasana panggung utama tegak berwibawa, kharismanya memancarkan optimisme akan langgengnya sebuah budaya.

 

Kesenian sebagai irisan dari tujuh unsur budaya yang dipopulerkan Koentjaraningrat membentuk wujud tajinya (13/03) dalam pembukaan “ARUH GANAL BUDAYA BANJAR 2020.”

 

Kemudian Isran Noor pun mengayunkan pemukul gong menandai dimulainya pagelaran  budaya Banjar yang berlangsung selama tiga hari (13-15/03). 

 

Gubernur Isran yang memiliki darah suku Banjar kental, dihadapan para tetua adat, tokoh masyarakat Banjar se-nusantara dan mancanegara, serta jajaran pejabat yang hadir dalam acara pembukaan aruh ganal menyampaikan penghargaan dan rasa bangga terhadap budaya asli Kalimantan yang dijaga dan dibina.

 

Budaya adalah kebiasaan yang telah mengakar kuat di masyarakat. Hidup bersama dan membentuk kearifan lokal setempat. Budaya berkembang seperti aliran udara yang dihirup lekat. Budaya akan lekang kalau dijaga dan punah bila dipandang sebelah mata. Manusia sebagai pelaku budaya adalah pencetus nilai budaya sekaligus pemberangusnya. Tergantung dari komitmen sosial. Komitmen untuk menjaga kelestarian budaya yang diawali oleh kemauan setiap diri menjunjung tinggi nilai sebuah budaya.

 

Budaya tidak mati apabila dilestarikan keberadaannya. Ada benarnya campur tangan perkembangan ilmu dan teknologi berdampak melunturkan nilai budaya, namun beberapa fakta mengemuka ;ternyata budaya dapat bertahan di bawah gepuran  arus perkembangan teknologi yang tidak terbendung lagi. Pelaku budaya adalah pemilik budaya. Budaya bisa punah disebabkan keterputusan menjaganya.

 

Budaya masyarakat Banjar Kalimantan Selatan, hidup sealiran darah dengan budaya saudaranya di bumi etam Kalimantan Timur. Di Samarinda kota, budaya Banjar merasuk dalam kehidupan masyarakat sebagai identitas campuran yang kental corak Kalimantan Selatannya. Dari Bahasa, kuliner, sistem organisasi masyarakat, dan sistem kekerabatan. 

 

Urang Banjar Samarinda seperti ada di lingkungan asli kampung Banjar sejati. Di sini urang Banjar Samarinda hidup berdampingan dengan ragam etnis asli Kalimantan lainnya dan suku pendatang. 

 

Kehidupan sosial berlangsung alamiah, damai dalam suasana kekerabatan sebagaimana seharusnya dilakukan oleh anak bangsa.

 

PENTAS BUDAYA BANJAR DALAM LAKU ARUH GANAL.

Aruh ganal atau hajatan besar budaya yang digagas oleh organisasi etnis Pengurus Kerukunan Bubuhan Banjar Kalimantan Timur (KBB-KT)  seperti disampaikan ketua umumnya Ir. H. Ismunandar, MT yang mengusung misi “ma-angkat batang tinggalam.” 

Potensi budaya lokal dan nilai sosial dalam sistem kekerabatan urang Banjar patut disinambungkan. Jejak budaya Banjar jikalau tidak pedulikan, terpinggir hingga ujung tanduk kepunahan. Maka dalam upaya melekangkan nilai budaya, satu demi satu “artefak budaya” diangkat ke permukaan. Dipamerkan kepada khalayak ramai. Pagelaran seni musik, tari, dan teater diwadahi dalam event aruh ganal budaya Banjar.

 

KESENIAN MAMANDA DALAM GEMPURAN BUDAYA KEKINIAN.

Ibarat petarung, seni teater mamanda tidak mau menyerah diamuk  derasnya arus modernisasi. Keberadaannya yang serupa “karakap” hidup segan mati enggan, boleh diberikan acungan jempol. Dan pada malam pasca pembukaan aruh ganal budaya Banjar, lakon mamanda mendapatkan panggungnya.

 

SEJARAH MAMANDA.

Seni teater atau lakon panggung mamanda dimainkan oleh beberapa orang, konsepnya mirip lenong semacam pertunjukkan seni panggung yang mengusung tema beraliran komedi. Laku lawakan dalam mamanda pada gilirannya kalah bersaing dengan jenis komedi semacam stand up yang lagi trend di kalangan anak muda.

Mamanda seperti namanya, adalah terjemahan bebas dari kata “mamarina”. Dalam Bahasa Banjar yang lebih umum, mamarina seakar dengan paman (amang atau mamang). Akhiran “nda” dalam konteks Bahasa merujuk pada pengertian “yang terhormat”. Penyebutan mamanda yang menjadi simbol lakon adalah panggilan kepada Perdana Menteri. Kedudukan perdana menteri, biasanya disematkan kepada seseorang yang matang secara usia. Dalam arti  luas, perdana menteri bisa berfungsi sebagai seorang penasihat raja.

Konten dalam lakon mamanda terkesan monoton, hanya membawakan acting dengan setting suasana kerajaan. Raja dengan perdana menteri, wazir/khadam (harapan pertama dan harapan kedua). Improvisasi aksi mamanda tergantung spontanitas pemain panggungnya. Ornamen kesegaran suasana mengalir justru dari acting spontan (improvisasi) pelakon lawakan.

 

Pada malam pementasan seni mamanda (13/03) setting kerajaan menguat berwujud corak kostum dan dekorasi panggung. Dialog antara raja dan khadam (harapan pertama dan harapan keduanya) mengalir di bawah konsep tema. Pesan pembanguan untuk menjaga NKRI dan dialog semacam aturan moral ASN sangat kentara.

 

Di bawah tabuhan gendang yang mengiringinya, dan sesekali dipadu hentakan pedang melalui efek musik, raja memanggil wazir untuk diuji tentang loyalitas pengabdian kepada negeri.

“Harapan pertama, maju sini “ kata raja seraya menghentakkan kaki.

“jika terdapat tanda parang bersilang, apa artinya ?” 

Dung dung…musik bertabuh gendang didendang.

“Artinya, sebagai abdi negara, kami siap membela jika negara dalam bahaya. Kami siap memertahankan setiap inci tanah negeri tetap menjadi milik ibu pertiwi. Tidak boleh tersentuh apalagi dibabat musuh. Kami Aparat negeri, siap melindungi tanah tumpah darah dengan taruhan jiwa hingga nafas pamungkas.”

“Bagus,” kata raja memberi jempol. Hadirin pun bertepuk tangan.

“Sekarang, maju ikam harapan kedua.” kata raja antusias.

“bila ikam malihat karpet hijau terhampar dari pintu masuk hingga singasana raja, apa terjemahannya ?”

“ Duk duk…musik menimpali tetkala kaki harapan kedua maju menghadap raja.

“karpet hijau penanda misi kesuburan dan berlimpahnya hasil pangan. Dengan ketersedian bahan pangan, maka masyarakat merasa tenang berusaha dan menjalankan kewajiban. Karpet hijau adalah lambang kesuburan, kemakmuran juga cap meratanya kesejahtaraan masyarakat kita.” kata harapan kedua berapi-api.

“Bujur,” kata raja kembali lagi menghentakkan kaki. Hatinya yang gembira dan suka cita tidak ditutup-tutupi.

“Ikam berdua bujur. Mantul. Mantap Betul. Sekarang apa hadiah yang kalian berdua inginkan ? 

Harapan pertama minta kouta jadi Aparat Sipil Negara, atas nama putra daerah. sedangkan harapan kedua minta imbalan “kawin lagi.” Hadirin tertawa, karena paham arah sindirannya.

“Kayak ini lah,” kata raja memberi arahan.

Ikam ikuti dulu test masuk ASN. Lalui sesuai prosedure selanjutnya bisa diatur. 

Kemudian, ikam, kata raja kepada harapan kedua. “jangan sembarangan berniat kawin.” ASN itu kouta istri cuma satu. Bisa panjang urusannya jika situ bermaksud kawin lebih dari satu. Apalagi tidak memberitahu, “kata raja menyatakan terang-terangan. Hadirin bertepuk tangan akibat paham arah pembicaraan dalam lawakan. 

 

Dalam agenda aruh ganal budaya banjar selain pagelaran seni, dipentaskan juga lomba tari kreasi trasional Banjar, kreasi kekinian busana Banjar berbahan batik sasirangan, lomba cipta lagu Banjar, lomba kuliner khas Banjar, olahraga tradisonal seperti lomba sumpit dan babenteh, dan seminar Budaya Banjar menghadirkan pembicara sekaligus budayawan Banjar Ahmad Barji dan Fajrul Rahman.(***)

 

 

 

Penulis : Indra

Editor   : Umil Surya

 

 

Article Lainnya


DPRD dan Pemkot Bontang Sepakat Harus Ada Kajian Tandingan Klaim Aman PT IMM

DPRD dan Pemkot Bontang Sepakat Harus Ada Kajian Tandingan Klaim Aman PT IMM

PARADASE.id - Wacana pemanfaatan air dari bekas lubang tambang batu bara PT Indominco Mandiri (IMM) ...

Dalam Bayang-bayang Banjir Musiman

Dalam Bayang-bayang Banjir Musiman

MASIH kental di ingatan Romi Rizka, ia bersama warganya di RT 41 Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontan...

Salah Persepsi Hingga Abai UU Kerap Sebabkan Perselisihan Hubungan Industrial

Salah Persepsi Hingga Abai UU Kerap Sebabkan Perselisihan Hubungan Industrial

PARADASE.id – Perselisihan hubungan kerja masih kerap terjadi antara pekerja dan perus...

Kasus Narkotika Dominasi Persidangan PN Bontang, Banyak Pelaku Tak Jera Meski Dihukum Berat

Kasus Narkotika Dominasi Persidangan PN Bontang, Banyak Pelaku Tak Jera Meski Dihukum Berat

PARADASE.id – Terhitung sejak Januari hingga Juli 2020, Pengadilan Negeri (PN) Kota Bontang te...

JELAJAH