Kembali ke Artikel
Macan Layu
10 Nov/2020

Macan Layu

10 Nov 2020 In Way

INWAY # 120

 

Oleh : Rusmiati Indrayani

 

Ketika masih kecil, ibu kami sering membawakan cerita pengantar tidur. Saat beliau sibuk dan tidak bisa setiap hari menyampaikan cerita, ibu melakukannya di waktu longgar. Kadang sambil istirahat siang  atau menjelang waktu ashar. Sebuah cerita tentang seekor macan lapar yang berjalan di tepi hutan adalah salah satu yang berkesan.

 

Pada suatu siang, saat tepi hutan hanya terdengar nyanyian burung dan desah angin yang mengantuk, lalu dari rerimbun batang-batang bambu seekor macan melangkah lunglai. Dia mencari tempat rehat sambil membayangkan adanya makanan. Namun di tengah merasakan lelah bersangatan, seketika dirinya terperanjat. Di tempatnya berdiri, ia menyurungkan wajah ke arah sebuah telaga. Muka telaga siang yang minim embusan angin menampilkan diri bagai sebuah cermin. Dari penampakan dirinya itu, dia menemukan sesosok tubuh layu dan kuyu. Melihat ada makhluk berpenampilan tidak menarik serta merta hatinya mengejek. Ejekan tersebut membuat mukanya semakin tidak sedap dipandang mata.

 

Ketika macan membuka mulut dan melihat bayangan siap  memangsa maka instingnya memerintahkan bertahan menghadapi sebuah ancaman. Saat insting memberi sinyal bahaya lalu tanpa menunggu lama macan itu memiliki tenaga tambahan dan meneruskannya dengan menyerang sosok yang dikiranya adalah saingan. Bayangan rasa takut membuatnya terjerembab masuk di kedalaman air yang tenang. Tentu saja macan tersebut tidak mengira akhir cerita yang dilaluinya. 

 

***

 

Dalam pikiran saya kecil yang terlintas adalah sosok macan kelelahan yang gagal dengan diri sendiri. Ibu kami membiarkan ending terbuka. Anaknya boleh memberikan penafsiran apa saja. Bagian itu paling saya suka. Ibu akan mendengarkan pendapat kami tentang cerita yang “dikarangnya”. Pada bagian mengarang cerita, ibu adalah ahlinya. Beliau juga ahli merangkum pemikiran bebas kami dalam beberapa pesan moral kontekstual. Saya katakan kontekstual sebab Ibu akan menghubungkan kejadian yang kami lalui pada hari itu atau sesuatu yang berhubungan dengan moral cerita.

 

Saat misalnya pada siang hari kami berbeda pendapat antar saudara, ibu akan menggunakan sebuah cerita untuk menyusupkan nasihat. Dalam cerita macan lapar, ibu sangat mungkin bermaksud menunjukkan situasi tidak mengenakkan tentang ; bahaya mengejek. Dalam hal mengejek, tidak satupun terdapat manfaat kecuali keburukan yang kembali pada diri  pengejek. Pada titik terjauh Ibu akan mengatakan mengejek makhluk ciptaan Allah sama saja menghina Sang Pencipta. Dalam bercerita, ibu jarang menyimpulka, beliau  lebih banyak menghimpun pemikiran berserak dan membingkainya dalam sebuah narasi pendek, seperti memberikan penekanan bahwa cara menghargai sesuatu adalah ;tidak mengejeknya.

 

Dalam pikiran saya kecil terlintas ; keadaan macan begitu menyedihkan. Menyedihkan dalam ini adalah tidak mendapatkan satupun harapan yang dibayangkan. Tidak ada tempat rehat dan tidak ada makanan sementara perutnya kelaparan dan tubuhnya kelelahan. Secuil harapan yang tadinya tertinggal, habis ditiup angin gegara kecerobohannya memangsa diri sendiri. Macan jelas melakukan kesalahan dan penyebab utamanya adalah ego yang kelewatan.

 

Dalam kehidupan sekarang baik anak kecil atau orang dewasa akan memiliki penafsiran berbeda terhadap sebuah cerita. Macan lapar di tangan ibu bisa bermakna ganda. Ibu begitu pandai memainkan kartu dalam setiap ceritanya. Saat saya memikirkan macan tidak lagi memiliki harapan, ibu bisa saja mengatakan  “Begitulah Nak, menyangka buruk terhadap sesuatu membawa akibat buruk pada diri sendiri.”

Keburukan yang disemai dalam pikiran menuai perbuatan buruk dalam perbuatan. Pikiran yang dilapisi rasa curiga berlebihan mendorong pelakunya kehilangan rasa aman. Lalu ibu menutup dengan kalimat : sangka buruk adalah dosa. Allah tidak suka.

 

Ibu saya seperti lazimnya para ibu yang lain, beliau memedulikan sikap. Melalui cerita setiap ibu akan mengenalkan sebuah sikap baik yang dikawalnya menjadi internalisasi  nilai kebaikan dalam diri anaknya. Saya kira sebagai seorang Ibu, Anda akan melakukan hal sama. Sama sekali tidak masalah jika cara yang anda gunakan berbeda dari ibu saya.

 

 

 

 

 

 

Article Lainnya


Marak Aksi Pengawasan, Bawaslu Larang Warga Lakukan Penindakan

Marak Aksi Pengawasan, Bawaslu Larang Warga Lakukan Penindakan

PARADASE.id - Tingginya animo masyarakat dalam mengawasi jalannya Pilkada Bontang 2020 dianggap sang...

Weighted Blanket : Cara Baru Menyayangi Diri Sendiri

Weighted Blanket : Cara Baru Menyayangi Diri Sendiri

ada cara baru menyayangi diri sendiri : weighted blanket namanya. dalam situasi pandemi beg...

Survei INDO Barometer: Neni-Joni Unggul 53 Persen, Sebutkan Warga Bontang Puas Kinerja Neni Moerneini

Survei INDO Barometer: Neni-Joni Unggul 53 Persen, Sebutkan Warga Bontang Puas Kinerja Neni Moerneini

PARADASE.id - Lembaga Survei Indonesia (LSI) Indo Barometer (IB) merilis hasil survei elektabilitas ...

Jelang Natal dan Tahun Baru, Polres Bontang Siapkan 3 Posko Pengamanan

Jelang Natal dan Tahun Baru, Polres Bontang Siapkan 3 Posko Pengamanan

PARADASE.id - Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2021, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bonta...

JELAJAH