Kembali ke Artikel
Lupa yang Dirindukan
22 Mar/2021

Lupa yang Dirindukan

22 Mar 2021 In Way

Inway # 138

 

Oleh : (Candidat) Dr. Rusmiati Indrayani, M.Pd.

 

 Satu-Satunya Cara untuk Melupakan Lupa adalah dengan Mengingatnya

 

(Indrayani Indra)

 

Paradoks. Mungkin. Namun hanya itu yang bisa saya katakan untuk menyerdehanakan beberapa keluhan yang dianggap masalah oleh mahasiswa saya.

 

Di kelas bimbingan konseling, sambil belajar kami juga bermain. Bermain pikiran untuk mengingat-ingat pengalaman atau peristiwa hidup pribadi yang pernah terjadi.

 

Mungkin karena bimbingan dan konseling ini lebih dekat tentang diri sendiri, maka ada pada satu sessi materi saya mendapatkan mic peserta kuliah daring terbuka bersamaan. Ada sekira 3-5 orang ingin mengajukan pertanyaan. Saya pikir interaktif tersebut berjalan sesuai harapan dengan indikator lebih dari tiga orang ingin mengajukan interaksi timbal balik.

 

Hari itu meski dibatasi waktu, salah seorang meminta perpanjangan  kuliah dan saya setuju.

 

Ada dua pertanyaan mendesak dan mendasar dari beberapa masalah yang dibawa dalam diskusi kelas.

 

Pertama tentang malas. Rata-rata menyebutkan “Saya malas belajar, Bu.” yang lain bilang malas membaca dan temannya juga mengiyakan kalau malas adalah masalah umum generasi dulu, kini dan nanti.

 

Virus malas menghinggapi saban generasi hingga kini. Ternyata saya juga mengalami. Ada masa jeda di antara membaca dan menulis dan ada kalanya saya malas melanjutkan membaca untuk menulis. Namun mengingat bahwa pekerjaan menulis di kanal inway ini tidak bisa diwakilkan kepada orang lain maka segunung uhud pun rasa malas wajib saya pindahkan. Pernah karena kesibukan, saya mengirimkan tulisan inway setelah hari senin dan terbit hari berikutnya. Untuk sekadar menjarak dari rayuan rasa malas, atau karena sibuk atau malas sekalipun saya tetap menulis untuk inway meski tertunda masa. Jika sungguh-sungguh tidak sempat akibat kesibukan atau sebab lain, kifaratnya adalah menqodho tulisan untuk senin yang ditinggalkan. Seberapa pun besaran  malas atau sibuk, tidak membelakangi kewajiban mengirim tulisan. Komitmen menulis untuk media arus utama adalah sesuatu yang tidak bisa diabaikan.

 

Dari masalah malas yang saya alami, solusinya tergambar jelas dalam penuturan di atas. Antara masalah dan jawaban terbit beriringan, mengantre tanpa harus mendahului.

 

Alhasil tetap menulis.

 

Jadi solusi menangani rasa malas adalah melakukan kebalikannya.

 

Satu-satunya cara melenyapkan malas adalah berperilaku rajin. Rajin yang dituntut oleh sebuah pekerjaan. Masalah malas membaca diatasi dengan rajin membaca. Rajin perlu dipancing dengan umpan.

 

Umpan yang saya letakkan untuk menarik rajin menulis adalah : Kewajiban. Tuntutan pekerjaan mengharuskan seseorang menyingsingkan tangan untuk bekerja. Seberapa pun malasnya dia.

 

Seorang kepala keluarga tidak bebas malas bekerja, kenapa ?

 

Karena mencari nafkah adalah kewajibannya. Kewajiban jika tidak dilaksanakan akan mendatangkan efek lemah secara langsung, yaitu ; kesulitan nafkah keluarga yang melebar pada persoalan kebutuhan hidup dan kehidupan. Biaya makan dan dana pendidikan selain itu juga dapat memengaruhi rasa percaya diri. Untuk segala dampak miring yang tidak diharapkan, maka sekuat tenaga kepala keluarga mengusahakan kecukupan nafkah agar setiap anggotanya dapat menjalani hidup normal dan wajar.

 

Masalah kedua dalam diskusi kelas yang perlu dirundingkan solusinya adalah ; lupa.

 

“Saya orangnya pelupa banget, Bu. Bagaimana menangani ini ?” kata seorang mahasiswa putri. Sebelum menjawab dan melemparkan kepada forum kelas yang sudah siap beraksi, saya menanyakan kepada yang bersangkutan tentang usahanya menghadapi masalah lupa. Dia tersenyum. Ada lesung pipit di sepasang pipinya. Saya tidak lupa akan senyumnya yang memesona.

 

Kemudian bagai memancing di kolam ikan yang lapar.

 

Partisipan pertama menyampaikan pendapatnya tentang ; lupa. “Saya akan berjalan mundur. Start pada titik di mana saya lupa.” katanya. Suaranya mantap alamat kalimat tersebut datang dari peristiwa hidupnya. Mic lain terbuka dan keluar suara “ saya membuat jadwal harian dan akan mengeceknya pada malam hari tentang apa saja yang sudah saya lakukan.”

 

Pelupa adalah hasil pemahaman terhadap potensi diri. Memahami diri yang menjadi salah satu tujuan Bimbingan Konseling mengajak mahasiswa untuk menengok rumah dalam jiwa. Dari sana mereka akan mengenal, dari mengenal mereka lalu belajar memahami selanjutnya mengembangkan potensi baik secara maksimal dan mengendalikan potensi kekurangan diri menjadi baik. Potensi baik dan kelemahan diri akan diubah supaya sama-sama berfaedah.

 

Lupa  sebagai potensi. Bahwa lupa adalah kesempurnaan penciptaan. Lupa itu sempurna. Sempurna menjadi manusia. Lupa seperti pisau bermata dua. Lupa itu baik dan lupa itu tidak buruk. Tinggal pengunaannya saja. Jadi menjadi pelupa adalah bagian pemahaman terhadap diri yang telah dimaknai oleh pelakunya. Lupa akan bernilai ketika seseorang menyadari bahwa dirinya adalah pelupa. Untuk banyak keadaan lupa berada di posisi baik. Lupa tidak buruk walaupun ada yang memiliki pengalaman buruk tentang lupa.

 

Lupa adalah sebuah keistimewaan penciptaan. Melalui aksi lupa manusia bisa mengingat bahwa dia  mengabaikan sesuatu secara tidak sengaja. Akibat lupa maka tergugah meminta rela dan bersujud memohon ampunanNya. Lupa menjadi jembatan guna bersikap hati-hati dan waspada.

 

Dalam menjalani kehidupan normal lupa sangat dibutuhkan. Lupakan kesan buruk terhadap seseorang bermulut longgar. Lupakan bahwa kita pernah memberi bantuan yang dihajatkan. Dengan lupa telah berbuat baik maka diri sendiri terhindar akan desakan pamrih atau nafsu mendapatkan terima kasih. Namun pada satu tahapan waktu tertentu kita membutuhkan ingatan masa lalu setelah melupakannya dalam waktu yang berlalu. Tentang lupa, kerap kenyataan memberi bukti bahwa kita telah melupakan banyak hal justru saat mengingatnya.

 

Mengatakan masalah diri adalah seorang pelupa menunjukkan bekerjanya fungsi pemahaman untuk memaksimalkan potensi.  

 

Ini menjadi pengetahuan dasar yang patut dikembangkan guna membantu orang lain atau anak didik mengenali diri sendiri. Memahami diri dimulai dengan cara menerima apa adanya. Menerima kelebihan dan kekurangan lalu membantu diri tumbuh dan hidup bersama potensi yang dimiliki. Seorang pelupa pun masih membutuhkan lupa hingga akhirnya dia berhasil mengingat sesuatu.

 

Tentang lupa atau setelah ingat lalu lupa lalu ingat lagi. Saat ingat, terserah kepada yang bersangkutan saja akan mengubah seperti diri apa dirinya yang pelupa tersebut.

 

Betewe, bukankah kehidupan kita memang seperti itu ya.

 

Jika lupa terhadap janji yang dibuat, lalu besok baru ingat lalu buru-buru minta maaf. Coba kalau ingat di hari sebelumnya tak akan ada permintaan maaf. 

Article Lainnya


Rantang Kasih Untuk Bontang

Rantang Kasih Untuk Bontang

Inway#137 Oleh : Rusmiati Indrayani Perbincangan dengan Hj. Najirah Adi Darma ...

Ratapan Sang Ambulance

Ratapan Sang Ambulance

Inway # 136 Oleh : Rusmiati Indrayani Setiap ratapan ambulance menyiarkan tiung-ti...

Tiga Rahasia Kelemahan kita Disertai Tips Mengatasinya

Tiga Rahasia Kelemahan kita Disertai Tips Mengatasinya

Inway # 135 Oleh : Rusmiati Indrayani (Indrayani Indra) Masa perkuliahan semester ...

Ayam Bersalut Sayang

Ayam Bersalut Sayang

Inway # 134 Oleh : Rusmiati Indrayani Buka Rabu. Mulai pukul : 7.00 WITA. ...

JELAJAH