Kembali ke Artikel
Lilin Itu Kini Menjadi Mercusuar dokumentasi pribadi
24 Jun/2021

Lilin Itu Kini Menjadi Mercusuar

Pada 30 September 2020, Faizah memulai kolaborasi kami dalam Diary of Auckland. Masih teringat jelas peristiwa bagaimana bidadari saya direnggut karena si laki - laki merebut hak atas anak kandung saya sendiri. Sebuah peristiwa pahit karamnya kapal pernikahan yang, ternyata justru membawa saya terbang atas keberkahan mencari ilmu.  

 

Di India, ingin saya menyerah. Karena sakitnya dipisahkan paksa dengan darah daging sendiri. Saya hanya tau Najwa (bidadari saya) tinggal dengan ayahnya. Di Samarinda. Dilarang bertemu saya, dan didoktrin ibunya adalah perempuan jahat yang rela menukar anak sendiri demi ambisi pendidikan tinggi.

 

Sampai kemudian takdir membawa saya ke New Zealand. Pada Agustus 2018, saya dengan suami, Haji Russel Crurch diundang Allah untuk berhaji. Di depan ka’bah dengan kiswah hitam nya, saya meraung. Saya adukan kisahku. Saya minta Ia (Allah) menurunkan bala bantuannya. Saya bahkan menantangNya dalam doa itu. Saya berteriak “Ya Allah, bukankah engkau maha besar ? mudah bagiMU mengembalikan anakku. Kembalikan Najwa ya Allah ! kembalikan Najwa ! kembalikan anak saya !” raung saya histeris di tengah gemuruh jama’ah thawaf.

 

Lalu saya berteriak lagi di padang Arafah. Saya tidak peduli apapun. Yang saya tahu Allah berada sangat dekat sekali dengan saya. Saya merasa di hari itu Allah sedang menatap intens hambanya yang wukuf. Dan saya ada di sana.

 

Ini kesempatan langka. Saya merasa berada di hadapan meja direktur yang akan menandatangani surat permohonan saya. Kembali saya berteriak “kembalikan Najwa padaku ya Allah ! bukankah engkau maha kuasa ? mudah bagimu !

 

Setelah dua momen menggedor alam malakut itu, saya pulang bersama jama’ah lain tanpa pernah berpikir doa itu akan kau ijabah. Apalah saya ini. Hanya hambamu yang koboy dengan konsep beriman yang tak biasa. U’d unii astajib lakum katamu. Berdoalah, maka akan engkau kabulkan. Itu janjimu dalam Al-Qur’an. Aku hanya sampai pada U’d Uni. Berdoa. Perkara dikabulkan atau tidak, itu urusan engkau.

 

Pada juni 2019, tak sampai setahun setelah ibadah haji. Najwa mengirim direct message pada saya lewat instagram. “Ma, ini Awa.” begitu bunyi teksnya. Saat itu bulan ramadhan dan saya bersimbah air mata. Komunikasi kami yang bertahun tahun putus kini tersambung. Cukuplah percakapan instagram rahasia kami saya syukuri sebagai bentuk Allah mengabulkan raungan saya di Baitullah tahun lalu.

 

Agustus 2020, banyak orang menghubungi saya. Ayah Najwa meninggal. Najwa dibawa pergi entah kemana. Komunikasi kami kembali putus. Ketika tersambung, hidup Najwa berubah. Ia dibawa oleh salah satu saudara ayahnya. Berjualan nasi goreng di pasar. Memakai sendal butut. Tidur di lantai, terus bersembunyi di bawah meja. Masak mie goreng diambil. Beli chiki diambil. Dimarahin disuruh membersihkan rumah. Tidur diganggu. Dilarang makan dengan banyak lauk. Banyak nasi saja agar cepat kenyang. Uang tabungannya diambil dan disumbangkan ke masjid atas nama almarhum ayahya.

 

Saya yang sudah pasrah menelpon supervisor saya. Menyampaikan keinginan saya untuk ke Samarinda untuk menyelamatkan Najwa. Supervisor saya menanggapi dengan “itu terserah kamu Nurul, kalau kamu berangkat, saat ini border sedang ditutup dan kamu tidak bisa kembali. Semua bangunan mimpimu di sini hancur. Kamu akan stuck di sana (Samarinda). Tetap di sini, bangun masa depan untuk Najwa.

 

Jangan menjadi lilin. Jadilah mercusuar. 

 

Saya resapi kalimat supervisor saya. Saya membangun tekad baru. Alih - alih pulang ke Samarinda, saya akan membangun jalan untuk Najwa ke Auckland. 

 

My Najwa's Journey of Victory Begins…….

 

Malam itu di November, saya lihat mata Bidadari tabah itu meredup. Ia kemudian berkata “Awa ndak tahu lagi sudah ma. Awa ndak tahan lagi dengan semua ini”. Di titik itu, saya bergerak. 17 Desember 2020, saya membayar tim pengacara di Samarinda untuk menjemput anak saya. Kondisi Najwa saat dijemput sangat mengiris hati. Sedih, tertekan, menangis, takut disakiti lagi. Kasus kemudian kami bangun dengan bukti dan saksi kuat ke pengadilan. Melihat risiko keselamatan Najwa, kasus kami bawa ke New Zealand. Saya menggunakan hak resident saya untuk sekuat - kuatnya menunjukkan ke imigrasi New Zealand bahwa anak saya harus dibukakan pintu agar bisa masuk dengan alasan keselamatan dan kemanusiaan.  

 

Border di New Zealand sampai saat ini masih tutup. Hanya keluarga resident, citizen, dan beberapa orang dengan alasan kemanusiaan yang diizinkan masuk. Ada juga yang bisa masuk dengan alasan bisnis (Namun alasan ini hanya diterima jika anda adalah business tycoon). Sedikit celah dibuka untuk mahasiswa PhD dan master yang sudah terdaftar (bukan yang baru masuk) untuk bisa kembali melakukan study di sini. Itupun study nya diutamakan science based yang mengharuskan untuk bekerja di laboratorium. 

 

Setiap yang diizinkan masuk harus memiliki voucher untuk karantina (yang akan ditagihkan setelah 14 hari), memiliki hasil PCR negatif sekira 72 jam sebelum keberangkatan satu satunya penerbangan internasional menuju New Zealand.

 

Membuka gerbang masuk pun luar biasa sulitnya. Pertama kami (dalam hal ini saya) diharuskan untuk membuat expression of interest. Teknisnya seperti surat lamaran. Saya harus menarasikan kasus Najwa sedemikian rupa agar imigrasi tertarik membacanya. Tidak boleh terlalu panjang. Tidak boleh pula terlalu singkat sehingga kehilangan poin penting. expression of interest saya buat, diproofread oleh kawan, submit, dan bayar 45 dollar. Di tahap ini imigrasi New Zealand bisa saja menolak expression of interest saya. Saat ini, banyak sekali di luar sana yang terpisah dengan keluarganya karena expression of interest nya ditolak imigrasi New Zealand.

 

Alhamdulillah Allah meridhoi usaha saya. One shot. expression of interest saya diterima imigrasi New Zealand. Saya kemudian diundang untuk apply. Ada nomor khususnya. Saya kemudian diminta melengkapi dokumen untuk visitor visa Najwa yang harus cocok dengan expression of interest saya dan bayar 243 dollar. Saya submit dan Alhamdulillah juga diterima.

 

Kemudian saya harus bersaing dengan untuk urusan booking karantina. Posisi sudah fully booked sampai desember 2021. Artinya jika Najwa tidak berhasil masuk di tanggal 19 Juni 2021, maka ia harus menunggu sampai Januari 2022.  Oh, jangan lupakan hasil PCR test Najwa yang harus negatif dan dikeluarkan oleh lab yang diapprove oleh maskapai penerbangan yang akan mengantar Najwa ke New Zealand dan harus berlaku 72 jam. Untuk Najwa, ada 24 jam yang terbuang karena ia harus start dari Samarinda menuju ibukota. Kalau hasilnya positif, hancur usaha kami.     

    

Alhamdulillah Najwa dinyatakan negatif. Allah kemudian mengantarkan Najwa all the way ke Auckland via Singapura. Bidadari saya ini sungguh pemberani seperti ibunya. Ini adalah perjalanan internasional pertama Najwa. Sendirian di tengah wabah COVID-19 hanya dengan instruksi mama dari internet.

 

Saya track pesawatnya semalaman melalui flight radar. Saya sujud tahajud, hajat, dan taubat. Saya sudah tidak bisa terhubung lagi dengan Najwa. Sim Card Indonesia sudah tidak berfungsi, connect wi-fi di airport belum tentu bisa, hanya doa yang menjadi penyambung saya dengan anak saya.    

 

Tidak mudah memasukkan anak dari luar ke New Zealand yang sangat ketat di tengah situasi COVID-19 ini. Mestinya saya harus menjemput Najwa melewati border. Itu aturannya. Namun untuk Najwa, Alhamdulillah syarat itu tidak perlu dipenuhi karena alasan keselamatan dan kemanusiaan.

 

Melalui flight radar, saya lega Najwa landing di tanah Auckland dengan selamat pukul 8:43 pagi. Saya tidak boleh menjemput di airport karena aturannya ia tidak boleh dijemput dan harus segera dikawal ke karantina. Komunikasi kami masih terputus, saya tidak tahu Najwa dikarantina di hotel mana. Bisa saja Najwa dibawa ke Hamilton, Rotorua, bahkan diterbangkan ke Christchurch atau Wellington dengan biaya pemerintah New Zealand. It was a crazy silent moment of Najwa. Serasa mendaratkan astronot ke bumi tapi tidak tahu kapsulnya jatuh dimana.

 

Tepat pukul 10:20 waktu Auckland, video call datang dari Najwa. Ia sudah di hotel. Kelar urusan imigrasi dan sudah ambil bagasi, sudah bisa connect wi-fi dan menelpon saya. Saya tanya di hotel mana ia dikarantina ? jawabannya “di Queen Street ma”. Masya Allah ! itu dekat sekali dengan kami. 

 

Ini adalah sebuah kebaikan Allah. Seminggu sebelum Najwa tiba di sini, saya kasak kusuk melobby Ministry of Business agar Najwa bisa karantina di Auckland. Saya sampaikan betapa anak ini kehilangan ayah, dikeluarkan dari rumahnya, ia trauma sementara ibunya harus bekerja untuk keluarga, mensupport suami yang sedang berobat pasca kanker, dan belajar untuk PhD. saya didukung oleh manager manager, dokter suami, dan supervisor yang berkenan menuliskan surat dukungan untuk saya.

 

Kala itu email saya dibalas oleh Ministry of Business dengan jawaban “itu tidak mungkin memisahkan anak anda dari penumpang lain mengingat aturan penumpang dalam pesawat yang sama harus dikarantina dalam satu hotel yang sama. Tapi kami akan melakukan apa yang kami bisa untuk mengabulkan permintaan anda”

 

Ternyata Najwa cerita bahwa sebelum mendarat sudah ada pengumuman bahwa seluruh penumpang akan dikarantina di Rotorua (empat jam perjalanan dari Auckland). Tapi Alhamdulillah setelah urusan imigrasi dan bagasi selesai, Najwa dipindahkan ke bus khusus terpisah dari penumpang yang lain. Sendirian. Ternyata hanya Najwa yang sendirian dikarantina di Auckland. Yang lain di Rotorua. 

 

Najwa After Victory

 

Saya melompat merayakan kemenangan di jalan terbesar Auckland. Akhirnya, setelah sembilan tahun. Anak saya dikembalikan pada ibunya. Seluruh permintaan saya diijabah Allah. Saya minta langit cerah saat landing. minta hotel karantina terbaik di Auckland (karena kami tidak bisa memilih). minta anak selamat dengan modal bahasa inggris moderate untuk melewati pemeriksaan imigrasi super ketat New Zealand dengan bio security plus pemeriksaan COVID-19 nya sendirian. Saya minta Najwa tiba di tanah yang sama dengan saya di 19 Juni 2021 pukul 9:20 waktu Auckland sesuai jadwal pesawat. Allah ijabah dengan pesawat najwa landing 35 menit lebih cepat. Saya minta Najwa untuk karantina di Queen Street yang berada dekat sekali dengan rumah kami pun Allah ijabah.

 

Banyak sekali keajaiban Allah dari episode bersejarah ini. Dari saya yang selama ini tidak punya akte kelahiran Najwa. Lalu menang sidang hak asuh anak di pengadilan meski saya di luar negeri. Hingga bisa mendapatkan visa masuk ke New Zealand di tengah COVID-19. Menerbangkan Najwa sendirian ke tanah ini. Hingga hotel karantinanya yang di tengah kota Auckland (bukan hotel dekat airport yang jauh sekali dari rumah kami).

 

Kini Najwa memulai hidupnya di Auckland dengan karantina empat belas hari di hotel bintang lima. Makan tiga kali sehari dengan menu halal. Mendapat welcome gift piyama dari mama. Coklat, bunga, sekeranjang snack, serta kalung swarovski white swan dari Russel.

 

Hari hari pertama Najwa dihabiskan dengan menikmati pemandangan kota Auckland melalui view jendela kamarnya. Sesekali membalas lambaian tangan Russel Chruch jika bus yang ia setiri lewat kamar Najwa. Makan cemilan apapun yang dia mau tanpa takut dirampas, tidur di kasur nyenyak alih - alih lantai yang dingin. Dan menikmati kamar mandi yang memiliki bathub. Bebas pula mengatur suhu ingin AC atau heater.

 

Najwa, Saya, dan Russel. Bersatu di Auckland karena cinta. Sementara Najwa melalui masa karantina, saya melobby Ministry of Education dan Alhamdulillah Najwa bisa segera masuk SMA di Auckland tanpa bukti akademik apapun. Najwa juga sudah dijadwalkan untuk konseling trauma healing untuk mendukung kesehatan mentalnya.

 

Di hari terakhir puasa nazar, saya diizinkan pulang lebih cepat oleh manager saya. Saya pergi ke calon sekolah Najwa (Auckland Girls Grammar School) sebelum mengantarkan makanan ke hotel karantinanya. Saya bertemu dengan petugas pendaftaran bernama Lily, didampingi oleh petugas khusus yang menangani refugee dari dinas sosial New Zealand. 

 

Pembicaraan berlangsung hangat. Apalagi saat mereka tahu saya mengerjakan PhD di bidang pendidikan kimia (barokah ilmu itu benar adanya !). 

 

Kami membahas apa yang sudah terjadi dengan Najwa. Raport dan Ijazah SD nya tidak ada. Yang ada hanya surat keterangan lulus Madrasah Tsanawiyah saja. Si petugas ternyata sudah biasa dengan kasus seperti ini. Banyak anak anak korban perang yang masuk ke New Zealand hanya dengan selembar baju saja.

 

Mereka tentu akan melakukan serangkaian test untuk Najwa untuk melihat sejauh mana hal yang telah dicapainya. Lalu memulai support program agar Najwa bisa mengejar ketertinggalannya.  Saya melihat seragam, gedung, kegiatan ekstrakurikuler, dan ternyata banyak juga siswa yang berhijab.

 

Akhirnya saya melakukan pendaftaran dengan link yang mereka berikan dan diminta menghubungi imigrasi untuk mentrasfer Najwa menjadi student visa dengan resident visa milik saya. Najwa akan mulai ditangani konselor dari sekolah. Dikembangkan potensinya untuk mencapai cita - cita nya berkuliah di School of Music University of Auckland. Semoga Allah terus mudahkan langkah Najwa di New Zealand. 

 

Setiap malam Najwa bertanya “ma, Awa ni ndak dikembalikan ke sana lagi kan ? Awa ndak mau sama mereka. Awa mau sama mama aja”.

 

Nak, semenjak roda pesawat itu menyentuh tanah Auckland, percayalah kau sudah tiba di tanah harapan. Meski mama mu ini bukan siapa siapa di sini, tidak menikah dengan orang kaya, tapi di sini kita semua sama. Manusia. Tidak ada lagi mereka. Hanya ada kita. Kebaikan dan cinta akan selalu menang Najwa. Selamat datang di New Zealand..

 

Lilin itu kini menjadi mercusuar (light house). Sebuah bangunan yang memberi cahaya tanpa menghancurkan dirinya. Ia berdiri tegak di tempatnya. Mengirim sinyal kepada darah daging yang sangat ia cintai di Samarinda sana. Alhamdulillah sinyal itu diijabah Allah. Anak saya berkumpul kembali dengan ibu kandungnya di tanah yang sama. New Zealand. New Hope, New Land.

 

 

Cerita : Nurul Kasyfita

Narator : Faizah Riffat

Editor : Ahmad Fuad 

Seri : Diary of Auckland 

 

Article Lainnya


Lima Daerah Dengan Serapan Dana Covid-19 Tertinggi dan Terendah, Ini Rinciannya

Lima Daerah Dengan Serapan Dana Covid-19 Tertinggi dan Terendah, Ini Rinciannya

PARADASE.id - Kementerian Dalam Negeri membeberkan realisasi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Bela...

Fungsi Orangtua di Pagi Hari

Fungsi Orangtua di Pagi Hari

Inway #148 Oleh Rusmiati Indrayani Sungguh, seandainya setiap orangtua memiliki pi...

Berlaku Hingga 8 Agustus, Delapan Daerah di Kaltim Level 4

Berlaku Hingga 8 Agustus, Delapan Daerah di Kaltim Level 4

PARADASE.id - Setelah Balikpapan, Bontang dan Berau masuk pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan ...

Patungan ASN Bontang, Salurkan 150 Paket Sembako buat Warga Isoman

Patungan ASN Bontang, Salurkan 150 Paket Sembako buat Warga Isoman

PARADASE.id - Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup pemerintahan Bontang memberikan 150 paket semba...

JELAJAH