Kembali ke Artikel
Lelaki dari Shift Malam Ilustrasi. (Google Image)
18 Feb/2021

Lelaki dari Shift Malam

18 Feb 2021 Cerita

OLeh : Indrayani Indra

 

Sabtu. Akhir pekan yang lengang. Jalan raya kesepian dan alun-alun kota teronggok tanpa keramaian, tidak disinggahi satu orang pun kecuali sekali-sekali melintas kendaraan petugas berpatroli. Padahal setiap hari minggu jalanan yang melingkari alun-alun digunakan secara merdeka oleh pejalan kaki. Hanya berjalan kaki aktivitas pagi untuk menyenangkan diri. Jamak warga kota berjalan kaki mengelilingi area alun-alun atau hanya berjalan setengahnya saja mereka bergegas menikmati jajanan pusat kota dengan perasaan tidak sabar. Di alun-alun orang-orang kota berkumpul. Di alun-alun pada pagi akhir pekan adalah waktu keluarga bersantai sambil menikmati jajan dan sarapan. Serupa ritual walaupun bukan sebuah keharusan. Namun pemandangan awal Sabtu, pagi pertama sejak diberlakukan aturan warga di rumah saja, membuat suasana sebuah kota seperti terbenam ke bumi. Mati. Antara mengaduk jenuh dan menjegal penyebaran virus corona sama beratnya. Meskipun pemerintah tengah menitah untuk setia di rumah saja biar aman. Di luar sana, beberapa warga ada yang nekad melanggar aturan. Mengendap-endap keluar rumah untuk urusan penting yang bukan ke rumah sakit. 

 

Di lokasi kerja. Setelah makan malam dan berangkat menunaikan tugasnya, Walmiki berjibaku dengan rutinitas pekerjaan. Shift malam membuat pertahanan mata Walmiki terasah membuka. Kantuk yang lazimnya menyerang manusia normal pada waktu istirahat sekira menanjak puncak malam, tidaklah hinggap di sepasang mata pemuda berijazah sarjana. Kantuk adalah modal yang harus dilumpuhkan. Pekerjaan menyetir mobil berkekuatan roda sepuluh di jalan khusus menuju pelabuhan laut menuntut mata siaga, tidak membolehkan kantuk menyapa. Menanggung shift malam adalah tentang menjarak dengan jarak kantuk dan Walmiki sudah terbiasa mengelolanya.

 

Usai shift malam, pagi pun menjelang. Saat Walmiki keluar kantor dengan mengendarai motor yang sudah terkelupas sebagian cat bodynya, tujuan utama adalah mendatangi alun-alun kota. Di sana tersedia aneka jajanan kue tradisional hingga  menu utama seperti nasi kapau atau ayam goreng prapatan. Sementara laju kendaraan menyusuri badan jalan raya, awan di angkasa berarak lamban. Matahari pukul enam lewat lima puluh menit menghangatkan permukaan wajahnya yang belum bertemu air bak mandi. Aroma deodorant sudah jauh meninggalkan ketiak Walmiki. Bercampur bau debu jalanan khusus angkutan batu bara, bau malam bersekutu dengan aroma tubuh yang layu.

 

Mata Walmiki melotot, tidak yakin atas pemandangan lengang alun-alun kota. Hawa sejuk terasa gerah di kulit. Di sana ia tidak bertemu siapa-siapa. Deretan lapak penjual sepi kegiatan. Uni, janda penjual nasi kapau kesukaannya juga gaib dari meja niaga di tempat biasanya.

 

“Kemana-orang-orang ? ke mana- mereka- ?  ada apa dengan warga ? apakah dunia sedang dilanda bencana ?”

 

Walmiki belum tuntas memanggil kesadaran akan keadaan. Penampilan alun-alun yang kesepian menjadi sebuah keanehan. Di samping lapak uni, sepasang pohon mahoni tegak berdiri. Daun cokelatnya berjatuhan. Batangnya yang kokoh berbading terbalik dengan keganjilan di sekitarnya yang hampa kegiatan orang-orang.

 

“Priiit.” pluit berseru. Sekali…lalu diulangi, sekali lagi. Sepasang pipi polisi kembung oleh udara yang siap meluncurkan bunyi peringatan.

 

Walkimi sama sekali tidak menyangka teguran pluit polisi lalu lintas yang bertugas ditujukan pada dirinya.

 

Sang aparat mengenakan rompi cokelat dengan garis putih menyorot mata menyuruhnya putar balik dengan isyarat pluit. Putar balik adalah arah menuju rumah. Artinya lelaki  dari shift malam itu harus pulang ke rumahnya. Setuju atau tidak setuju ia harus pulang.

 

Perutnya berbunyi minta diisi. Sementara wajah Uni tidak didapati Walkimi saat ingin menemuinya. Di kamar kostnya tidak tersedia apa-apa. Persediaan mie instan telah habis sebelum waktunya. Satu bungkus terakhir  telah dijadikan makan sore bersama satu buah telor rebus yang ada di kulkas. Selebihnya di kamar Walmiki yang tersisa hanyalah satu botol air mineral yang habis dalam lima sampai tujuh kali tegukan. Belum mencukupi pelepas dahaga dan rasa kenyang dalam waktu bersamaan. Ia membiarkan jeritan perutnya yang meratapi kurangnya pasokan makanan.

 

Di sudut kamar, di ujung sisi kasur lipat yang berdempet dengan dinding battery HP pintar menujukkan 67 % daya pengisian.

 

Walmiki mengaktifkan ponsel dan memesan nasi campur prapatan melalui pesan SMS kepada kurir langganan untuk memesan nasi kapau uni. Satu nomor kontak kurir disimpann dan dimanfaatkan dalam situasi yang dibutuhkan.

 

Pesanan makan belum datang hingga siang.

 

Tuuuut…satu nada sambung dan penerima langsung mengenali suara Walmiki.

 

“Eee. maaf, Mas. saya tadi sudah menuju alamat mas untuk mengantar pesanan---“

 

“Lalu kenapa tidak daa—“

 

“Ya, masuk. Tidak dikunci” kata Walmiki dengan suara nyaring.

 

Pintu tidak dibuka sesuai perkataan Walmiki.

 

“Masuk saja…tidak dikunci.” katanya mengulangi.

 

Di ujung sambungan telepon.

 

“Iya Mas halo..halo.”

 

Lalu Tuut. Sambungan terputus.

 

Walkimiki berjalan kearah pintu yang terbuka separo.

 

Anisa berdiri di sana, saat itu mereka berhadapan.

 

Giliran Walmiki yang kikuk dan mengusap hidung lalu rambutnya yang awut-awutan.

 

“Anisa ?” katanya tidak menutupi rasa gugup.

 

“Ini kiriman Ibu. 

 

"Kenapa--?"

 

"Iya. Setiap Sabtu dan Minggu warga kota dianjurkan di rumah saja.”

 

“Ooo jadi.” kata Walmiki agak paham keadaan.

 

“Mas Miki mungkin belum tahu.”

 

Di lokasi pekerjaan, sinyal internet tidak memungkinkan Walmiki mengakses berita dari sosial media.

 

Kuah rawon membuat hidung Walmiki terkembang, warna hitam dari kluwak berpadu dengan rempah dan bumbu yang pekat. Kiriman calon mertua.

 

Belum rapat pintu kamar Walmiki lepas Anisa mengantarkan rawon untuk makan siang.

 

Tok-tok-tok, ketukan di pintu kamarnya.

 

"Masuk." kata Walmiki acuh. Namun ia tidak bisa mengacuhkan kehadiran Uni dengan bungkusan nasi kapau dan senyum yang menawan.

Article Lainnya


Sang Penatap

Sang Penatap

Oleh : Indrayani Indra “Pergi gak, gak, pergi, pergi gak ya. Kalau pergi gimana kalau...

Tragedi Minum Susu

Tragedi Minum Susu

Oleh : Indrayani Indra Umurku sekira enam saat itu. Saat doa terkabul hingga aku bertemu pa...

Pelajaran Mengarang

Pelajaran Mengarang

Cerita Oleh : Indrayani Indra Ruangan kelas bersalut riang sebelum dia datang. Sepasang dau...

 Menulis Setelah Luka

Menulis Setelah Luka

Cerita Oleh : Indrayani Indra Membuat karangan ? Meskipun tema bebas, itu tetap saja harus ...

JELAJAH