Kembali ke Artikel
Kesedihan Terbaik Ilustrasi. (mypurohith.com)
21 Sep/2020

Kesedihan Terbaik

21 Sep 2020 Cerita

Kota tempat alamat aku lahir itu lebih dari lima dasa warsa ku tinggalkan. Mukim di luar daerah, meskipun masih satu daratan dan bisa dijangkau menggunakan kendaraan roda empat— dengan kondisi muka jalan yang tidak bisa disebut baik, menjadi kambing lezat dituding sebagai pembenaran ; kami jarang pulang. Dahulu secara rutin keluarga mudik dua kali setahun. Liburan dan lebaran. Liburan berbahagia di rumah nenek  adalah saat yang ditunggu anak-anak. Setiap tiba liburan sekolah, mereka meraih seratus persen kebebasan ; turun ke sawah, mandi di sungai dan sore hari mengekor pamannya menggelandang kambing ke kandang. Namun suatu ketika, saat berkendara pulang di antara libur lebaran dan liburan dan pulang tanpa mengajak anak-anak, aku menemukan pengalaman berisi ; kesedihan terbaik.

 

Lepas memastikan mobil diparkir maju dalam posisi tepat, aku mendatangi seorang laki-laki yang duduk menghisap  batang rokok di teras dan berjongkok sebelum mengarahkan pandangan kepadaku. Bau tembakau tubuhnya meruap mengganggu hidungku. Aku bertanya dan sebaiknya bertanya. Meskipun yakin ; telah benar-benar ada di sana dan menjejak lantai kayu teras depan rumahnya. Tapi percayalah, bertanya tidak pernah salah kendati kamu mengantongi kebenarannya. "Apakah ini rumah Kiki ? kataku masih terendus logat asli seseorang yang berasal dari kampung sini. “Benar, Ibu siapa, dari mana ?” katanya resmi sekali. Menggelikan sekaligus menyedihkan mendapatkan perlakukan begitu. Namun Lelaki dengan berewok tidak terurus tersebut sama sekali salah mencucurkan pertanyaan ;  andai Ia meneliti lebih awas paras wajahku, suaraku cengkok bahasa daerahku. Lelaki itu memanggil nama istrinya melalui sekali pengumuman. Ia bersuara setengah berteriak, memastikan seruannya diterima dari ruang kamar tempat istrinya menyusui bayi mereka.

 

Aku menguak daun pintu dan masuk tanpa menunggu dipersilahkan dan memberi salam kepada ruangan. Warna putih cat ruang tamu diperbaharui, hiasan dinding dari kulit kerang yang dibeli dari pulau Batam tetap tertancap di tempatnya dan sebuah sepeda tua parkir di sudut  ruang tengah dan hei... pot keramik yang kami bawa dari berpergiaan ke  negeri China terjaga dalam lemari kaca, terawat dan tetap kinclong. Aku menyusuri ruangan tanpa dipandu, tidak perlu dipandu sebab kukenali detak jantung rumah itu sebaik sang empunya. Di kamarnya Kiki aku duduk. Kami berpelukan, dia menangis, mungkin gembira atau beberapa perasaan lain yang saling berkelindan. Saat kami bertukar kabar, aku menimang-nimang sang bayi lalu membuai ke dalam pangkuan. Kepada bayinya Kiki berucap tentang aku ; Adik kandung Ayahnya yang tidak mesti  setahun sekali bertandang ke rumah mereka.

Article Lainnya


Siasat Nabila

Siasat Nabila

Malam melintas seperti biasa, saat perjalanannya menuju subuh suasana ruang tengah penuh oleh kepani...

JELAJAH