Kembali ke Artikel
Keputusan Laras Ilustrasi. (Google Image)
18 Sep/2020

Keputusan Laras

18 Sep 2020 Cerita

SORE hari sehabis diguyur hujan, latar diri merapi melaharkan wibawa. Guratan cokelat tanah yang menyela hijau dari pucuk hingga perut gunung mengulum decak. Jalanan menurun yang membawa arah ke kota lembap akibat hujan yang membasuh bumi kaliurang tadi siang. Sesaat sebelum matahari tenggelam, punggung gunung mengirimkan terang lembut ditingkahi sisa kabut. Bersemayam rasa hangat disematkan dari pelatihan selama seminggu di sana. Pekan yang menentukan perubahan menjelujur sisa waktu selama di Yogya. Sebelum mendelosor kan pulang atas satu perintah, untuk mengatakan aku menyerah terhadap sebuah desakan. Atau aku lebih baik membangkang ketimbang menerima dijodohkan.

 

“Laras boleh menuliskan jawaban kapan saja, sebanyak waktu yang Laras butuhkan ; untuk memantapkan aku sebagai...” kata Rusdian dalam sebuah pesan SMS. Aku tahu lanjutan yang diberi tanda titik tiga. Ia telah melisankan niatnya. Melamar secara tersirat atas dasar yakin terhadap pilihannya. Segaris gelojak rasa menimpa hatinya, aku mengaku : aku jatuh cinta dan cintaku tertinggal di kaki gunung merapi dan aduhai sakit menghanguskan perpisahan dengan seseorang yang berhasil mengajakmu jatuh cinta. Jika sebelumnya aku tidak mengaminkan permintaan menjadi mentor dalam Latihan Dasar Kepemimpinan anggota baru, mungkin aku melentik pulang liburan semester depanyang kurang dari waktu satu bulan bagiku untuk menjalini ikatan pertunangan. Namun pergerakan waktu satu minggu menampilkan wajah jawaban menautkan simpul pilihanku sendiri. Saat berduet dengan Rusdian dan memandu simulasi di akhir pelatihan menyeret kerepotan langkahku melerai degup yang berloncatan tidak beraturan. Kerap salah tingkah dan gagal fokus sehingga dosen junior mantan ketua PMII itu harus turun tangan mengendalikan keadaan. Sementara di sampingnya aku mengurus perjalanan keluar masuk napas dengan cara merapikan keseimbangan pikiran.

 

Liburan akhir tahun, aku menguatkan tekad pulang mematuhi perintah kedua orangtua. Bersama kedatanganku, meja makan dari kayu jati berlapis kaca dipenuhi menu istimewa. Ibu berdandan tipis namun manis, mengetatkan kebaya dengan bross berlian bermata tiga. Lalu ayah, beliau mengenakan jas koko warna senada dengan kebaya ibu. Ruang tamu berhias  sofa baru. Sebuah jam besar dari kayu jati berukir menempati sebuah sudut ruangan. Wangi kayu di ruang tamu dan opor ayam di meja makan meluaskan ruang lapar. Tetapi sebelum keduanya menodongkan pertanyaan, aku bersiap dengan dua kemungkinan jawaban, satu : Akan melanjutkan kuliah S-2 dan membuka nama Rusdian. Kami berdua, aku dan ibu berjalan bersisian, sambil meraih punggung dan membaui parfumku, Ibu membisikkan hasutan pulang untuk acara pertunangan:  kakak lelakiku.

Article Lainnya


JELAJAH