Kembali ke Artikel
Kepak Kormoran
30 Sep/2020

Kepak Kormoran

30 Sep 2020 Cerita

Sayapnya mengembang. Kepala menukik ke bawah permukaan air dan “cup”, paruhnya memangsa seekor ikan mas sekira setengah kilogram. Dari sebuah rakit bambu, nelayan tradisional berjangkut putih dengan topi bambu yang menudungi kepalanya menunggu dengan percaya diri. Lelaki renta pelaku tradisi yang setia menanti. Burung kormoran menjatuhkan ikan hasil buruan pada keranjang sang tuan. Bukan tuan yang lain meskipun dua nelayan rapat bersisian. Bermodal rakit bambu, selembar jala, pencahayaan temaram dari lampu minyak tanah dan burung kormoran yang bertengger awas mengintai korban. Burung pemburu ikan yang lebih patut disebut peliharaan. Sang nelayan membesarkan kormoran seperti ia merawat buah hatinya menderaikan kasih sayang.

 

“Sungai Li, adalah saksi sebuah tradisi masa lalu yang tidak lekang dimakan peradaban.” nelayan desa Xing Ping menangkap ikan tanpa kail dengan pola ramah lingkungan.” ujarku memberikan pengantar pertemuan dalam sebuah kelompok pemuda karang taruna. Mengimbau supaya mereka tetap memiliki ladang ikan dengan perhatian serius  menjaga kelestarian lingkungan. “Seberapa ramah penduduk desa melestarikan tradisi ?” kata seorang peserta. Nadanya mendua karena ia seorang nelayan terpandang di antara para peserta. Aku lulusan fakultas pertanian dan perikanan dan bukan seorang nelayan hingga boleh saja ia menganggapku gagap medan. Atau, mungkin ia menyangka cara mendapatkan  ikan yang salah tidak berdampak buruk bagi kehidupan anak-anak ikan yang hidup di akar-akar bakau.

 

Desa tua di Xing Ping, tradisi mereka lestari sejak sebelum tahun 1000 Masehi. Rumah kayu berlantai tiga sampai empat menjulang dengan latar belakang gunung Fanjing. Pucuk bangunan menyerupai kuil jadi ciri khas yang mencolok. Arus sungai jernih mengalir dengan volume dangkal di sekujur badan sungai menjadi alasan ikan-ikan nyaman hidup di sana. Aku mengajak masyarakat nelayan memihak lingkungan. Mengubah cara pandang seorang nelayan lebih sulit dari perjalananku mengunjungi sebuah desa di negeri China. Aku menunjukkan video youtube tentang nelayan tua yang mengharap rezeki di pagi buta. Mereka melakukannya dengan pasti walaupun kemampuan kormoran membawa ikan terbatas empat kilo setiap pagi. Tetapi ke mana seorang nelayan yang bertanya pada pertemuan pertama ? Lantas dari ketua kelompok aku tahu, si pemuda penguna boom ikan untuk menggemukkan keranjang tangkapan.

Article Lainnya


Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Sawah dan Hutan Karet yang Tergadai

Cerita oleh : Indrayani Indra Bulir-bulir padi berwarna emas. Batangnya bergerak disepoi an...

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Lelaki yang Pernah Berjaya di Masanya

Bangunan kampus itu tetap sama seperti saat ia ada di sana, empat pilar utama berwarna hijau pupus m...

Ayunan

Ayunan

Oleh : Indrayani Indra Ratih dan Jamali sepakat berbagi tugas pengasuhan. Ratih akan menidu...

Nasi Campur Prapatan

Nasi Campur Prapatan

Oleh: Indrayani Indra Penampakkan wajah perempuan paro baya itu lebih banyak merupa kerut c...

JELAJAH