Kembali ke Artikel
Kartu As Ibu
07 Jul/2020

Kartu As Ibu

07 Jul 2020 In Way

Inway #103

Anda yang hampir putus asa menjadi orangtua, jangan kuatir. Itu masalah kita bersama. Saya juga mengalaminya. Namun selain rasa kurang percaya diri yang tidak pernah penuh, pengalaman menjadi orangtua sebenarnya telah mengokohkan orangtua dalam menjalani perannya. Sadar atau tidak, menjadi orangtua berguna. Satu-satunya penghargaan bagi orangtua adalah ketulusan anak mengetahui betapa dia butuh orangtua dalam mengawal masalahnya. Walaupun anak selalu berhadapan dengan kenyataan bahwa ibunya sangat menyebalkan tetapi perasaan bersyukur menjadi anak ibu adalah pengakuan paling jujur sekaligus mengharukan. Dan saya tahu itu setelah Fatima membawa apa yang disampaikan Riffat tentang saya.

Tidak bisa dipungkiri, konflik hubungan ibu dan anak perempuan rentan terjadi. Menjalani hidup bersama dengan anak-anak yang telah dewasa saya rasakan jauh berbeda saat mereka di rentang waktu kanak-kanak. Ketika mereka kecil, saya bisa memaksa mandi dengan mengangkat tubuhnya dan mengangkutnya ke kamar mandi. Pemberitahuan awal terlihat dari gelagat selembar handuk tersampir di bahu saya. Suka atau tidak dengan saya berdiri bak raksasa di hadapan kurcaci belia, mereka akan menurut saja. Jika keberatan pun paling jauh reaksi mereka adalah meronta namun saya tetap menggiringnya ke kamar mandi lantaran hari sudah sore. Atau menunjukkan keharusan mandi dengan menutup hidung, aroma keringat yang menguar dari tubuh mereka tidak bisa saya tahan. Ketika itu ;  ancaman mandi sore sebelum adzan maghrib atau tidak sama sekali (hingga terbit matahari pagi berikutnya) menjadi mantra ajaib. Anak-anak memilih mandi sebelum kumandang adzan maghrib ketimbang harus semalaman mencium bau keringat sendiri. Di bagian ini pengasuhan ibu-anak berkaitan dengan urusan fisik. Kartu ada di tangan saya.

Namun di masa mereka berada pada usia dewasa, melakukan tindakan yang sama untuk memaksa mandi sudah basi. Saya pasti mendapat tertawaan karena melakukan perintah konyol. Jadi untuk urusan mandi saya percaya anak-anak sudah membuat komitmen pada diri sendiri. Syaratnya tidak mandi saat adzan maghrib berkumandang. Selebihnya biarlah mereka menentukan sendiri kapan harus mandi, gosok gigi, dan ganti baju. Sebab akan kewalahan dan sangat tidak penting jika saya masih meributkan perkara mandi pada mereka. Fuad, dengan kesibukannya membantu urusan pekerjaan penghijauan di lapangan, soal mandi tentu saja sudah dia antispasi dan pikirkan masak-masak. Mau mandi atau tidak, dan kapanpun waktunya monggo saja, Mas. Silahkan selama air di bak mandi masih tersedia.

Begitu juga dengan Riffat, anak perempuan yang sedikit agak malas mandi ini, kemajuannya luar biasa. Ini  karena perubahan zaman yang mengirimkan keberadaan dirinya harus stay di kota Balikpapan. Di kota yang berbeda dengan tempat tinggal kami orangtuanya ini, tuntutan pekerjaan menghendaki Riffat selalu mengawasi aroma rambut, wangi parfum tubuh, dan mengendalikan keringat dengan deodorant. Pelengkapan seperti parfum dan deodorant yang bermanfaat memertahakan rasa percaya tetap bagus harus tersedia dalam tas sedekat seseorang dengan handphone pintarnya. Riffat mengatakan bahwa kebiasaan memerhatikan diri sendiri adalah pelajaran berharga yang saya tanamkan—Nah. Di bagian ini mulai tampak gunanya orangtua.

Suatu saat Fatima mengeluhkan sikap saya pada Riffat. Berduaan dengan sang kembaran, apa saja bisa jadi pembicaraan. Dari perkara perdamaian dunia hingga betahnya virus korona mengawal manusia. Ketika mereka tengah khusyu’ berbagi cerita melalui sambungan seluler, saya berdoa semoga saja salah satunya masih berpikir waras. Sebab tidak jarang terjadi, jika salah satunya buang “sampah hati” dan menyeritakan keberataannya atas kelakuan ibunya, walhasil, pikiran keduanya akan sama ; memusuhi saya. Inilah keunikan memiliki anak kembar. Saya benar saja bisa disalahkan apalagi memang saya salah. Kesetiakawanan anak kembar susah ditaklukkan. Setia membela kembaran dalam benar dan salah. Namun sore itu saya melihat takdir berpihak pada ibunya.

Alih-alih terhanyut dalam gerutuan Fatima, Riffat rupanya masih terkendali dalam pusaran berpikir sehat dan bonus doa ; saya yang dibelanya. Ini luar biasa. Dalam keadaan normal anak kembar akan berpihak pada perasaan belahan jiwanya terlepas ibunya benar dan kembarannya salah.

Lepas maghrib, Fatima mengetuk pintu kamar. Saya masih bersila di atas sajadah. Bukan bersiap mau terbang bak cerita dongeng melainkan memang sudah seharusnya dilakukan oleh orang-orang dalam tentang usia saya. Berzikir dan melaksanakan amaliah sunat seperti yang diteladankan orang-orang tua yang mengimitasi kegiatan tersebut hingga mencapai garis sunah Rasul Shallahu alaihi wassalam.

“Umi, Em.”kata Riffat seperti yang ditirukan Fatima. “Walaupun kita menganggap Umi menyebalkan, namun ketahuilah bahwa beberapa kali aku mendapat apresiasi kinerja atau sikap itu lantaran Umi.”

“Kok, Umi ?” kata saya berkerut, namun sudah hafal hilir kata.

“Umi menuntut kesempurnaan dalam banyak hal, itu fakta. Namun dari situlah aku menuai keberkahan.” Bla-bla-bla.

Sebagai orangtua tentu saja saya tidak sempurna. Dalam mendekatkan kebaikan saja saya masih sering ragu  “apakah sudah melakukan hal yang benar ?”

Dalam keraguan itulah saya membawa doa sebagai satu-satunya senjata. Senjata melawan rasa tidak percaya diri.

Menjadi orangtua adalah kesanggupan belajar sepanjang hidup dan anak-anak adalah guru kehidupan terbaik. Bahkan jika melihat mereka membuat kesalahan, itulah jalan kebaikan yang Tuhan tunjukkan supaya menjadi orangtua ada gunanya. Seperti orangtua anak-anak butuh diajarkan bertanggung jawab terhadap setiap pilihannya.

Article Lainnya


DPRD dan Pemkot Bontang Sepakat Harus Ada Kajian Tandingan Klaim Aman PT IMM

DPRD dan Pemkot Bontang Sepakat Harus Ada Kajian Tandingan Klaim Aman PT IMM

PARADASE.id - Wacana pemanfaatan air dari bekas lubang tambang batu bara PT Indominco Mandiri (IMM) ...

Dalam Bayang-bayang Banjir Musiman

Dalam Bayang-bayang Banjir Musiman

MASIH kental di ingatan Romi Rizka, ia bersama warganya di RT 41 Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontan...

Salah Persepsi Hingga Abai UU Kerap Sebabkan Perselisihan Hubungan Industrial

Salah Persepsi Hingga Abai UU Kerap Sebabkan Perselisihan Hubungan Industrial

PARADASE.id – Perselisihan hubungan kerja masih kerap terjadi antara pekerja dan perus...

Kasus Narkotika Dominasi Persidangan PN Bontang, Banyak Pelaku Tak Jera Meski Dihukum Berat

Kasus Narkotika Dominasi Persidangan PN Bontang, Banyak Pelaku Tak Jera Meski Dihukum Berat

PARADASE.id – Terhitung sejak Januari hingga Juli 2020, Pengadilan Negeri (PN) Kota Bontang te...

JELAJAH